Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
185 - Tunggulah aku sebentar lagi.


__ADS_3

Archie duduk terus di dalam ruangan tempat tidur Nadia, menunggu wanita itu  lepas dari efek obat penenangnya, sayangnya yang dikatakan oleh William itu benar, sudah lebih dari 4 jam dia menunggu, namun Nadia masih saja tidur dengan sangat nyenyaknya.


"Kak, kau tidak ingin makan siang?" tanya William yang baru masuk ke dalam ruangan Nadia, dari tadi pagi dia menemani kakaknya itu.


"Ehm, aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan dan membawa makanan itu kemari," kata Gerald yang juga dari tadi menemani Archie yang menunggu Nadia siuman.


"Baiklah," kata Archie walaupun dia sama sekali tidak merasa lapar, padahal hari ini dia sama sekali belum makan.


"Sudah aku katakan dia tidak akan bangun sebelum 6 jam, jadi tidak ada gunanya Kakak duduk di sana dan menunggunya, itu juga paling cepat, kita tak tahu percis berapa lama dia akan terbangun," kata William melihat wajah manis Nadia yang tertidur tenang.


"Aku hanya ingin cepat-cepat menanyakan sesuatu yang penting padanya," kata Archie dengan wajah yang serius, sangat serius bahkan William belum pernah melihat kakaknya seperti itu.


William jadi semakin penasaran, bagaimana dan dimana kakaknya bisa bertemu dengan wanita ini? bukannya kakaknya selalu ada di lingkungan istana.


"Ehm, bagaimana kakak bisa kenal dengan wanita ini?" tanya William lalu duduk di samping kakaknya, ikut-ikutan menatap Nadia.


"Bertemu di desa saat aku melarikan diri dari istana kemarin," kata Archie singkat saja.


"Dan temannya? Ceyasa?" kata William lagi.


"Aku juga bertemu dia di desa."


William sedikit mengangguk-angguk mengerti,   lalu dia ingat racauan Nadia tentang temannya yang menjadi istri pangeran, benarkah?


"Lalu, tentang perkataannya bahwa temannya itu adalah istrimu? itu pasti hanya bualannya saja kan?" kata William sambil tertawa seolah merasa itu hanya lelucon saja.


Archie memandang wajah adiknya yang walaupun sudah berumur 23 tahun tetap telihat sangat imut, bahkan terlalu imut untuk seorang pria. Melihat tatapan Archie yang jauh lebih serius, tawa kecil William perlahan-lahan memudar dan berhenti berganti dengan wajah tak percaya, dia bahkan membesarkan matanya.


"Sial! Kau benar-benar menikah dengannya?" teriak William hingga dia terlonjak berdiri dari duduknya,  bagaimana bisa? Kabar ini benar- benar membuatnya terhenyak.


"Ceyasa," suara lirih Nadia terdengar, membuat Archie langsung bereaksi, dia langsung melihat ke arah Nadia, William yang tadinya masih kaget mendapat kabar itu juga langsung melihat ke arah Nadia, sepertinya Nadia terinduksi bangun karena teriakan William tadi.


"Ceyasa?" kata Nadia lagi namun matanya masih tertutup, dia tampak menggerakkan kepalanya, seolah melawan ingin keluar dari pengaruh obat yang diberikan padanya, William langsung berdiri di samping kakaknya yang sedang mengamati Nadia. Gerald yang baru kembali melihat Archie dan William yang ada di samping tempat tidur Nadia langsung segera mendekat, dia berdiri di sisi kaki Nadia.

__ADS_1


"Nadia, aku Cendro, dimana Ceyasa?" kata Archie dengan suara agak keras, panik.


"Ceyasa dan hujan," kata Nadia lagi meracau.


"Ya, apa yang dilakukan Hujan padanya?" kata Archie lagi.


"Siapa hujan ini?" bisik William yang masih belum tahu ceritanya pada Gerald, Gerald juga masih menunggu penjelasan Nadia yang spesifik, dia juga sudah menghubungi pihak militer untuk bersiaga, namun dia masih butuh penjelasan yang lengkap.


"Tuan Rain, dia saingan kerja Pangeran," bisik Gerald pula pada William.


"HUJAN!" teriak Nadia yang akhirnya membuka matanya, tampak kengerian, seolah sangat takut.


Saat dia baru saja membuka matanya, dia langsung berteriak kembali ketika melihat wajah Archie, William, dan Gerald yang menatapknya dengan sangat serius,  dia kaget hingga terduduk, membuat Archie, William dan Gerald juga ikut kaget, Nadia mengamati mereka dengan mata yang awas, dia baru saja bangun namun begitu bangun melihat 3 pria menatapnya dengan wajah yang siap mengintrogasi, siapa yang tak kaget, walaupun semuanya tampan, tapi tidak seperti ini juga, pikir Nadia.


"Tenang, tenang Nadia, ini aku Cendro, kau masih ingat aku?" kata Archie menatap Nadia dengan senyuman yang sangat terpaksa, William mengerutkan dahinya, sejak kapan kakaknya berganti nama.


"Pangeran! Ceyasa, aku disuruh menemuimu! Ceyasa!" kata Nadia panik hingga tak bisa berkata yang jelas.


Nadia mengamati wajah William yang memberikannya pengarahan untuk mengatur napas, dia lalu mengerutkan dahinya.


"Kau dokter gadungan yang membuat aku harus tidur seharian! Dasar kau dokter gadungan," kata Nadia meledak kesal sambil melemparkan bantalnya ke arah William yang langsung kaget melihat hal itu, kenapa wanita ini malah marah padanya? Gerald dan Archie hanya berwajah biasa saja, sikap bar-bar ini belum ada apa-apanya dibandikan kebar-baran Ceyasa.


"Hei, aku tidak tahu bahwa yang kau katakan benar, mana ada yang percaya temanmu di culik hujan dan dia adalah istri dari kakakku," kata William yang membela diri, Nadia mengerutkan dahi.


"Cendro, dia adikmu?" tanya Nadia tak percaya.


"Ya, begitulah, sekarang bisakah kita fokus, aku ingin menyelamatkan Ceyasa secepatnya," kata Archie memandang Nadia.


"Ya, Ya, Ceyasa dia dibawa pergi oleh Rain," kata Nadia.


"Bagaimana bisa?" kata Archie kaget.


"Seseorang membekapku saat aku sedang pergi berkerja, saat aku bangun aku sudah ada di rumah tahanan Rain, dia memintaku untuk menghubungi Ceyasa, tapi nomor Ceyasa sudah tidak aktif, dia menyekapku 2 hari dan malam itu Ceyasa menghubungiku, Rain langsung menggunakanku untuk mengancam Ceyasa, dia meminta Ceyasa untuk datang ketempatanya, Ceyasa setuju dengan syarat ketika dia ke sana, Rain akan melepaskan aku, saat Ceyasa datang, mereka membuatku pingsan dan saat aku bangun aku sudah ada di rumah sakit bertemu dengan dokter gadungan ini," kata Nadia dengan wajah kesal pada William, William segera salah tingkah membuang pandangannya.

__ADS_1


"Kau tahu kemana rain membawa Ceyasa?" tanya Archie.


"Tidak, aku tidak ingat apapun setelah itu, aku hanya ingat terakhir kali Ceyasa memelukku dan mengatakan East Park Residen, ya, itu dia," kata Nadia akhirnya mengingat apa yang dikatakan Ceyasa padanya namun cukup terlambat.


"Sudah pasti, Rain menculiknya," kata Gerald menatap Archie yang berwajah gabungan cemas, pusing dan berpikir.


"Ya, tapi bagaimana kita melacaknya?" kata Archie yang walaupun dia pangeran, pamannya belum memberikannya kuasa sama sekali.


"Aku sudah menghubungi pihak militer, aku akan melaporkan hal ini segera kepada mereka, meminta mereka untuk melacak di mana sekarang Rain berada," kata Gerald menjelaskan pada Archie, Archie mengerutkan dahinya, dari mana Gerald bisa berhubungan dengan pihak militer, dia memandang Gerald dengan wajah bertanya.


Gerald lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, menunjukkannya pada Archie.


"Itu?" kata Archie yang kaget melihat lencana, lencana itu adalah lencana wewenang Raja, bagaimana Gerald memilikinya.


"Yang Mulia Raja yang meminjamkannya padaku, dia bilang suatu saat kau akan membutuhkannya, dia ingin aku membantumu, karena itu dia memberikan ini padaku, aku rasa Yang Mulia Raja sudah tahu kejadian ini akan terjadi," kata Gerald pada Archie. Archie terdiam, bagaimana pamannya menyerahkan lencana yang begitu penting itu pada Gerald, kenapa tak padanya?


"Yang Mulia Raja bukan tidak mempercayaimu, dia ingin aku membantumu dan tidak terlalu membuatmu memikirkannya sendiri, lagi pula aku adalah asistenmu dan sahabatmu, aku akan melakukannya untukmu," kata Gerald yang tahu apa yang sekarang dipikirkan oleh Archie.


"Itu bukan masalah sekarang, yang paling penting adalah keselamatan Ceyasa, lakukan lah yang terbaik," kata Archie mencoba berdamai dengan perasaannya.


"Baik, Pangeran," kata Gerald memberi salam.


"Gerald, tolong kabari aku apa pun yang kau dapatkan nantinya," kata Archie menatap sendu pada Gerald yang baru saja ingin mengeluarkan  ponselnya untuk melaporkan apa yang baru saja dia dengarkan.


"Siap, Pangeran," kata Gerald lagi, dia segera melaporkan semua yang dia dengar ketika panggilannya sudah di jawab oleh markas militer.


"Cendro, Rain begitu jahat, dia awalnya ingin melukaiku, tapi kerena Ceyasa berlutut dan memohon, dia akhirnya melepaskanku, dia juga mengikat, dan menutup mata dan mulut Ceyasa, dia pria yang sangat mengerikan," kata Nadia pada Archie, Archie yang mendengar itu bertambah kalut, dia benar-benar cemas sekarang, mereka harus secepatnya menemukan Ceyasa.


"Pangeran, mereka segera akan melacak keberadaan Tuan Rain, kita hanya diminta menunggu kabar dari sana," kata Gerald.


"Baiklah," kata Archie yang sebenarnya tidak lagi sanggup menunggu, kenapa dia harus menunggu lagi, rasanya dia ingin sendiri mencari pria itu dan berbuat perhitungan dengannya, tapi dia sama sekali tidak tahu dimana Rain sekarang.


Ceyasa, tunggulah aku sebentar lagi, bertahanlah, ujar Archie dalam hati sambil menatap wajah Gerald dengan wajah yang sangat khawatir, dia khawatir dengan keselamatan Ceyasa jika dia berada di tangan Rain.

__ADS_1


__ADS_2