
Jenny
bergegas menuju ke arah IGD rumah sakit yang kakaknya katakan, dia segera berlari ketika melihat Jared yang sedang duduk menunggu di samping Ceyasa.
"Kakak!" suara Jenny memenuhi lorong rumah sakit itu, membuat Ceyasa langsung melihat ke arah wanita yang wajahnya 11 12 dengan pria disampingnya ini, namun Ceyasa mencoba untuk tidak ikut campur, jadi dia kembali diam saja sambil memengang ponselnya.
Jared langsung berdiri melihat adiknya, dia segera memeluk adiknya yang langsung terlihat menghambur ke arahnya, dia mengelus kepala Jenny. Lalu sadar dengan kehadian seorang pria seumuran dengan paman dan bibinya di belakang Jenny, merasa asing dengan wajahnya, Jared tak pernah bertemu dengan pria ini.
"Bagaimana kabar bibi? Apakah sudah ada keterangan dari dokter?" ujar Jenny.
"Belum, bibi masih ditangani," ujar Jared masih memasang wajah bertanyanya melihat pria itu, dia memberikan sedikit senyum canggung.
"Bagaimana bisa begini? Bagaimana rumahnya bisa kebakaran?" ujar Jenny diantara isak tangisnya.
"Aku juga tidak tahu, saat aku datang, bibi sudah tidak sadarkan diri, untung aku dibantu oleh dia, jadi kami langsung membawanya ke sini," ujar Jared menjelaskan pada adiknya, dia juga memperkenalkan Ceyasa pada Jenny, Jenny yang wajahnya masih sangat sedih dengan air mata berderai hanya memperhatikan Ceyasa sekilas, Ceyasa memberikan senyuman cangung sejenak, dan hilang saat Jenny tak lagi memperhatikannya, yah, siapalah dia? Benar-benar hanya orang lain.
"Dia?" tanya Jared memperhatikan pria ini, siapa dia? Sejak kapan adiknya punya hubungan dengan pria yang lebih tua.
"Oh, dia paman Liam, dia teman kuliah bibi, aku sudah menghubungi paman berulang kali, namun ponselnya tetap dialihkan, jadi aku bingung dan menelepon paman Liam," kata Jenny menghapus manja air matanya.
"Liam," ujar Liam menjulurkan tangannya.
"Jared," kata Jared membalas juluran tangan Liam, mereka bersalaman.
Tak lama, pintu UGD terbuka, seorang pria dengan setelan dokter keluar, Ceyasa yang merasa penasaran dengan keadaan wanita itu juga segera berdiri, ingin mendengar sendiri bagaimana penjelasan doker tentang keadaannya.
"Bagaimana, Dok?" ujar Jared dan Liam hampir bersamaan, membuat Jenny yang ada tengah-tengah mereka sedikit bingung hingga melihat keduanya secara bergantian.
__ADS_1
"Harus saya katakan keadaan Nyonya kritis, ini hanya rumah sakit kecil, kami hanya bisa memberikan pertolongan pertama, namun keadaan Nyonya harus dipantau intensif, kadar oksigen di darahnya sangat rendah karena terlalu banyak menghirup asap, Tuan, saya sangat menyarankan untuk memindahkan Nyonya kerumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap," kata Dokter itu menyarankan.
"Aku sudah memanggil helikopter ambulance, Rumah sakit milikku salah satu cabangnya ada di sini, mereka sudah tiba di halipad rumah sakit ini," ujar Liam langsung, membuat perhatian Jared jatuh pada pria yang walaupun berumur itu, pesonanya tak kalah dengannya.
"Baik Tuan, kami akan menyiapkan segalanya untuk perpindahan Nyonya," kata dokter itu kembali masuk lagi ke dalam UGD.
Jared terus mengamati pria itu, melihat kekhawatiran yang sama dengan dirinya dan Jenny, Jenny yang mendengar semua itu langsung memeluk Liam.
"Terima kasih, Paman, " ujar Jenny yang merasa sangat tepat dia sudah memanggil Liam.
"Sama-sama," ujar Liam mengelus kepala Jenny mencoba menenangkannya yang sejak tadi menangis.
"Terima kasih, " ujar Jared menatap Liam yang langsung melihatnya.
"Sama-sama," ujar Liam dengan senyuman terkulum.
"Jenny, jaga bibi, aku akan mengikuti kalian menggunakan mobil setalah mengurus semuanya di sini," ujar Jared memberikan perintah sesaat pada adiknya, karena dia tak mungkin ikut dengan helikopter ambulance itu.
"Iya, Kak," kata Jenny dengan wajah begitu sedih dan cemas.
"Rumah Sakit Crown, berhati-hatilah," kata Liam memberitahukan nama rumah sakitnya, dia menepuk sebentar pundak Jared, Jared yang mendengar itu hanya mengangguk kecil, setelah itu Liam dan Jenny segera mengikuti kemana ranjang Aurora dibawa.
Jared yang melihat mereka menghilang dibalik pintu lift terdiam sesaat, lalu tersadar mendengar suara panggilan dari ponsel Ceyasa.
Ceyasa yang juga kaget sampai hampir menjatuhkan ponselnya, dia melihat sekilas ke arah ponselnya, nama Gerald terlihat di sana. Dia menekuk dahinya, setelah memberikan kode untuk izin mengangkat ponselnya pada Jared, Ceyasa pergi sedikit menjauh, Jared hanya memperhatikannya, sedikit aneh melihat seorang pengantar belanjaan, memiliki ponsel keluaran paling terbaru dengan harga puluhan juta.
"Halo?" kata Ceyasa dengan suara yang sedikit dikecilkan mengingat ini adalah rumah sakit.
__ADS_1
"Nona Ceyasa, dimana Anda sekarang?" ujar Gerald dengan suara yang tak bisanya terdengar tegas.
"Oh, aku, aku sedang bekerja, ada Gerald?" tanya Ceyasa yang tak mungkin mengatakan kalau sekarang dia ada di rumah sakit, bisa-bisa mereka berpikir dia yang sedang sakit.
"Kau jangan bohong!" tiba-tiba suara Archie terdengar dengan sedikit keras dan kesal, membuat Ceyasa yang tadinya mengira itu hanya Gerald kaget, ekspresi kagetnya benar-benar terlihat, hingga membuat Jared mengerutkan dahinya melihat wanita yang sangat ekspresif ini.
"Apa maksudmu?" kata Ceyasa yang langsung pura-pura tak tahu.
"Sekarang ada mobil di parkiran rumah sakit melati, penjaga ada di luarnya, sekarang, kau keluar dan masuk ke dalam mobil itu," ujar Archie.
"Sekarang?" kata Ceyasa yang melirik ke arah Jared.
"Tahun depan! Aku bilang tadi apa?" ujar Archie yang makin kesal, kenapa Ceyasa seperti orang bodoh yang mengulang-ngulang perkataannya, apa dia tidak tahu bahwa Archie sangat cemas dan kesal dengannya.
"Ih! sabar dong, dasar pria menyebalkan! Datang-datang marah pada orang, kau pikir kau ini siapa?" kata Ceyasa tak tahan lagi, sifat aslinya muncul yang membuat Jared kaget melihatnya, namun sedikit merasa familiar.
"Aku pangeran! Sekarang! atau aku akan memerintahkan para penjagaku untuk menyeretmu keluar!" ancam Archie lagi dengan suara yang meninggi.
"Iya, iya, sabar dong, aku harus pamitan dulu," ujar Ceyasa kesal, tapi kalau dia terus seperti itu, dia takut Archie benar-benar mengarahkan penjaganya ke sini.
"Pamitan? Dengan siapa?" kata Archie yang sedikit mengerutkan dahinya, rasa penasarannya langsung terpancing mendengar hal itu.
"Seseorang," kata Ceyasa seadanya, ingin cepat-cepat mematikan panggilan ini, karena Jared terus memperhatikannya.
"Siapa?" ujar Archie dengan suara lebih meninggi, entah kenapa malah kesal karena seperti Ceyasa mempermainkannya.
"Ah! dasar kau pria menyebalkan, memangnya aku dengan siapa harus melapor padamu, memangnya kau ini siapa!" ujar Ceyasa lagi kesal hingga menghadapkan ponselnya ke depan wajahnya, berteriak seperti itu pada ponselnya.
__ADS_1