
"Apa yang dia lakukan pada Ceyasa?" bentak Archie pada Asisten Qie.
"Bukan, Tuan Rain tidak melakukannya, Nona Lidia yang melakukannya, Tuan Rain hanya tidak mengizinkan Nona Ceyasa makan," kata Asisten Qie menjelaskan lagi, bukan membela, hanya memberitahukan kenyataan.
Archie memandang wajah pucat Ceyasa, tak bisa membayangkan apa yang sudah dialaminya selama tak bersama dirinya. Hatinya sangat sedih, perih sekali melihat luka Ceyasa itu, kenapa ada orang yang tega melakukannya padanya?
Tiba-tiba suara gemuruh seperti sesuatu yang jatuh dari atas menimpah rumah itu, membuat mereka semua kaget dan refleks menunduk.
"Pangeran, kita harus segera keluar," kata tentara itu segera.
"Ya," kata Archie, dia memandang tajam ke arah Asisten Qie yang ingin kembali mendorong kursi Ceyasa, melihat tatapan tajam itu Asisten Qie langsung mundur beberapa langkah, dan Archie langsung mengantikan Asisten Qie mendorong Ceyasa dan dengan cepat mereka segera ingin keluar dari rumah itu.
Saat mereka melewati sebuah ruangan, tiba-tiba terdengar sebuah tembakan yang langsung mengarah ke arah tentara yang menjaga mereka di samping mereka, Seketika itu tentara itu langsung terkapar, bahkan cipratan darahnya langsung terkena ke tangan Ceyasa.
Ceyasa yang melihat itu langsung membesarkan matanya dan berteriak, semenjak mimpi menyeramkan itu dia sangat takut dengan darah, namun saat rasa takut Ceyasa masih belum reda tiba-tiba saja terdengar lagi suara tembakan yang memekakkan telinga, kali ini terasa begitu dekat darinya.
Kejadian itu begitu cepat dan tiba-tiba saja tubuh penjaga itu ambruk dengan luka tembakan tepat menembus mata kanannya, membuat darahnya langsung berhamburan, keluar mengalir membasahi semuanya.
Ceyasa terdiam kaku, melihat keadaan yang membuat jantungnya bahkan ingin meledak keluar, napasnya pendek dan cepat, tubuhnya bergetar hebat, dia kaku melihat semuanya, darah yang bergelimangan, apa lagi tubuh penjaga itu yang masih saja bergerak-gerak berjalan ke arah kematiannya.
Ceyasa melirik sedikit ke arah Archie, pria itu tegak berdiri dengan senjata yang mengacung ke arah penjaga itu, Ceyasa baru sadar, Archie lah yang menembak penjaga itu, dia menembak pria itu, Ceyasa tak pernah tahu Archie bisa melakukan hal itu.
"Ayo kita keluar," kata Archie terlihat tenang setelah memastikan pria itu tidak bisa bangkit lagi, Ceyasa mengangguk dengan sangat cepat dan keras, namun wajahnya masih begitu syok, apa lagi melihat tanganya yang terdapat darah dari tentara yang juga mati seketika di sampingnya, Ceyasa benar-benar gemetar ketakutan.
__ADS_1
Asisten Qie menatap Archie, benar-benar tak menyangka Archie bisa melakukan hal itu, dari tampannya yang seperti seseorang yang sangat baik itu, tak disangka dia bergitu tenang menembak seseorang, bahkan tak ada rasa takut dan ragu yang terlihat dari wajahnya, entah kenapa Asisten Qie merasa Archie bahkan lebih mengerikan dari Rain, tenang namun menghanyutkan.
Asisten Qie melirik ke arah penjaga itu, penjaga itu yang meminta izin untuk istirahat, mungkin saat semua penjaga diamankan, dia sedang tidak ada di pos, dan bangun saat mendengar suara-suara keras tadi.
Archie mendorong Ceyasa sampai ke depan pintu utama, para tentara yang berjaga di depan langsung menyambut mereka, Ceyasa bisa melihat beberapa tubuh yang bergelimpangan tidak bernyawa di depan halaman rumah itu, hanya demi dirinya begitu banyak nyawa yang hilang, kenapa Ceyasa merasa sangat sedih dan bersalah karenanya, dia semakin syok melihat hal itu, seolah trauma melihat semua darah dan tubuh tak bernyawa.
Archie yang tadinya mendorong Ceyasa segera berpindah ke depannya, kembali berlutut di depan Ceyasa, melihat ke arah wajah Ceyasa yang matanya menampilkan wajah trauma dan syok, dia bahkan tak melihat ke arah Archie, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
"Ceyasa, hei, Ceyasa?" kata Archie dengan sangat lembut, menyentuh kedua pipi Ceyasa yang gemetar dengan kedua telapak tangannya, kehangatan dan suara lembut itu berhasil membuat Ceyasa kembali melihat Archie, "sudah aman, mari kita pulang," kata Archie tersenyum manis, mencoba menenangkan Ceyasa yang sangat gemetaran.
"Ya, pulang," kata Ceyasa yang masih terlihat linglung karena mengalami hal tadi, bibirnya gemetar, suaranya juga.
"Aku akan menggendongmu di belakang, lingkarkan tanganmu di leherku," kata Archie dengan sangat lembut, membuat Ceyasa yang tadinya gemetar ketakutan sedikit tenang akan kenyamanannya, Archie segera memutar tubuhnya, membiarkan Ceyasa melingkarkan tangannya ke lehernya dan Archie segera menggendong Ceyasa di punggungnya.
"Tutup matamu sampai aku menyuruhmu membukanya, sejak detik ini percayakan semuanya padaku, aku akan menjagamu," bisik Archie sedikit menoleh ke arah Ceyasa yang tenang menyandarkan tubuhnya pada Archie.
"Ya," kata Ceyasa seraya mengangguk pelan dan langsung menutup matanya, Archie tersenyum sedikit, melangkah keluar dengan dilindungi 8 orang tentara yang siaga.
Archie tahu betapa takutnya Ceyasa melihat darah dan juga mayat-mayat yang ada di sana, dia pasti mengingat mimpinya yang sangat mengerikan itu, karena itulah Archie meminta Ceyasa untuk menutup matanya.
Mereka segera berjalan menuju ke arah helikopter mereka di daratkan, Jendral Ben segera menyuruh mereka untuk naik ke helikopter, Asisten Qie membantu Ceyasa untuk naik ke atas helikopter duduk dengan tegak di samping Archie.
"Terima kasih Asisten Qie, " kata Ceyasa tersenyum manis melihat ke arah Asisten Qie.
__ADS_1
"Sama-sama Nona," kata Asisten Qie langsung mundur karena baling-baling helikopter itu mulai berputar, Jendral Ben masuk dengan beberapa tentara, sedangkan tentara yang lain menjaga helikopter itu dari segala arah.
Ceyasa melihat Asisten Qie dengan senyuman tulusnya melihat ke arah Ceyasa seolah mengucapkan salam perpisahan, melihat hal itu Ceyasa merasa perasaannya tak enak.
Saat Ceyasa sedang melihat ke arah Asisten Qie, tangannya terasa hangat, seolah ada yang menyelimuti, Ceyasa langsung melihat ke arah tangannya yang hangat itu, ternyata Archie sudah memegang tangannya dengan erat, Ceyasa menatap Archie yang hanya duduk tegak menatap depan. Ceyasa sedikit tersenyum.
"Archie," kata Ceyasa yang terdengar pelan.
"Ya?" kata Archie melihat ke arah Ceyasa, Archie kira mungkin Ceyasa merasa sakit atau bagaimana, karena itu dia langsung tampak cemas.
"Bolehkah Asisten Qie ikut dengan kita? aku sudah berhutang budi padanya, dia yang melindungiku di sana," kata Ceyasa dengan suara sedikit memelas, terdengar pelan dan lemah, dari tadi Ceyasa sudah menahan rasa sakit di tubuhnya agar tak membuat orang-orang yang membantunya cemas dan panik, dia tak ingin merepotkan mereka.
Archie yang sudah merasa cemas itu langsung mengerutkan dahi, dia tidak punya keinginan sama sekali untuk mengajak pria itu bersama mereka, entah kenapa dia sangat risih melihat Asisten Qie, dia tidak suka melihat tatapan matanya yang sangat tampak peduli pada Ceyasa, tapi karena melihat wajah Ceyasa yang memelas, apalagi Ceyasa mengatakan dia berhutang budi pada pria itu, Archie tak enak menolaknya, hal itu akan membuat Ceyasa sangat kecewa.
"Jendral, aku mau pria itu ikut dengan kita," kata Archie langsung pada Jendral Ben yang duduk di sampingnya, Ceyasa langsung tersenyum tipis namun nampak bahagia, senyuman Ceyasa itu membuat hati Archie tak enak, tak tahu kenapa.
Jendral Ben segera memberikan kode untuk prajurit yang duduk di depannya, prajurit itu melepas headphone dan sabuk pengamannya dan segera turun dari helikopter itu, dia tampak mendekati Asisten Qie dan berbisik sesuatu, mendengar hal itu Asisten Qie menatap Ceyasa yang juga melihat ke arahnya, Archie juga melihat ke arahnya dengan wajah tatapan yang tajam, seolah mengatakan jangan coba-coba macam-macam, membuat Asisten Qie jadi mengerti apa yang ingin di sampaikan oleh Archie.
Asisten Qie dan prajurit itu segera berlari menunduk ke arah helikopter itu lagi, mereka segera masuk dan duduk di dalamnya, setelah itu mereka segera mengudara.
Asisten Qie duduk tepat di depan Archie yang menahan sikap berwibawanya, wajahnya sama sekali tidak ramah, dia lalu menggoyangkan tangannya yang mengenggam tangan Ceyasa, membuat Asisten Qie segera melihat tangan itu.
Asisten Qie mengerti, Archie sedang mempertegas statusnya pada Asisten Qie, Asisten Qie hanya tersenyum tipis sambil mengangguk, melihat Ceyasa yang mulai menyandarkan kepalanya pada tubuh Archie, terasa sangat lelah, entah kenapa dia terus saja merasa sangat lelah, hanya ingin memejamkan matanya.
__ADS_1
Archie mentap wajah Ceyasa yang sudah menutup matanya, wajahnya tampak tenang sekali, Archie tersenyum, ternyata, dia hanya butuh Ceyasa disampingnya.