
"Nona Ceyasa," Asisten Qie segera menguncang tubuh Ceyasa yang masih tertidur lelap.
Ceyasa mengerutkan wajahnya, namun tak lama dia membuka matanya kembali, dia langsung melihat ke arah Asisten Qie yang tampak sangat cemas dan serius.
"Asisten Qie, ada apa?" kata Ceyasa belum bisa berpikir dengan baik.
"Kita harus keluar, ayo, mereka sudah menjemput mu," kata Asisten Qie segera, dia harus memindahkan Ceyasa sebulum ada penjaga Rain yang lain membawa Ceyasa pergi.
"Benarkah?" kata Ceyasa yang matanya langsung terang.
Tiba-tiba terdengar suara yang seperti ledakan, tidak besar, namun cukup membuat Asisten Qie dan Ceyasa kaget, dari jendela kaca yang terlihat di sana, dia bisa melihat tiba-tiba diluar penuh dengan asap, Asisten Qie tahu itu bom asap.
"Ayo, Nona," kata Asisten Qie yang segera mengambil kursi roda yang masih terlipat dan segera membukanya.
Ceyasa dengan perlahan segera bangkit, namun baru sejenak dia ingin duduk, tiba-tiba pintu ruangan itu di tendang dan rubuh dan para prajurit dengan baju pelindung yang lengkap masuk dengan posisi yang siap menembak, mengacungkan senjata api laras panjang mereka ke arah Asisten Qie dan Ceyasa , membuat baik Ceyasa maupun Asisten Qie kaget setengah mati.
Asisten Qie yang tadinya ingin membuka kursi roda itu langsung mengangkat tangannya.
"Jangan tembak, jangan tembak, tolong, dia yang menolongku di sini," kata Ceyasa langsung, membuat para prajurit itu segera menurunkan senjatanya, Asisten Qie yang tegang hingga keringat dingin langsung merasa sedikit lega.
"Lapor, kami sudah menemukan Nona Ceyasa," lapor seseorang langsung pada alat komunikasinya.
"Baik, segera amankan," kata Jendral Ben mendengar laporan anak buahnya.
__ADS_1
Archie yang dipaksa menunggu di sekitar hutan dekat dengan tempat penahanan Ceyasa menatap Jendral Ben, dia bisa mendengar apa yang sudah dilaporkan oleh bawahan Jendral Ben.
"Aku akan menjemputnya," kata Archie dengan wajah tegasnya, membuat Jendral Ben sekali lagi tak enak untuk menolaknya.
"Pasukan, kawal pangeran untuk menjemput Nona Ceyasa, jika ada yang melawan, segera lumpuhkan," kata Jendral Ben langsung, dia menatap wajah Archie lagi, Archie mengangguk menyampaikan rasa terima kasihnya.
Beberapa tentara segera mengikuti Archie yang langsung berjalan dengan sangat cepat, langkahnya tegas namun tetap berhati-hati, pistolnya dia genggam dengan mantap, matanya awas bagaikan elang, 3 orang tentara khusus dengan siaga terus melindungi Archie, mereka berjalan melewati semak-semak sebelum memasuki halaman rumah pantai Rain yang sudah dikepung oleh pasukan khusus. saat dia ingin masuk ke dalam rumah, tiba-tiba dari arah hutan mucul helikopter yang langsung menembaki semua orang yang ada di sekitar rumah.
Para tentara yang menjaga Archie segera merundukkan tubuh Archie, 2 orang berlari dengan cara merundukkan tubuh membawa Archie lebih ke dalam, sedangkan yang lain mencoba melawan dengan menembaki helikopter tersebut.
Peluru menghantam tanah bagaikan hujan yang menusuk, suara tembakan begitu menggema, berentet membabi buta, selongsong peluru seolah lewat begitu saja di sekitar mereka, menghunus pasir yang membuat pasir-pasir itu bertebaran di udara.
Jleb…
Archie tak sempat untuk memandangnya apa lagi menolongnya karena tubuhnya terus di seret oleh tentara yang lain.
"Pangeran, masuk dan cari Nona, kami akan mengamankan bagian luarnya," kata prajurit itu yang segera bergabung dengan teman-temannya untuk membasmi penyerang itu, dia segera mengambil granat tangan yang dia miliki dan melemparkannya ke arah helikopter itu, namun melempar itu bukanlah hal yang mudah, sehingga meledak tidak di tempatnya.
Namun sebenarnya itu bukanlah misi utamanya, misi utamanya adalah agar para penembak di helikopter itu teralihkan dan tanpa sadar, prajurit yang lain yang sudah bersiap segera menembaki mereka semua, karena helikopter itu tidak dilapisi oleh baja, peluru para prajurit itu segera merusak bagian mesin dari helikopter itu dan segara membuat helikopter itu oleng dan segera jatuh menimpa bagian rumah Rain.
"Cepat, kembali ke misi," teriak prajurit itu mengarahkan teman-temannya yang tersisa.
Archie sergera masuk ke dalam rumah, di dalam rumah semua sudah kosong dari orang-orang karena seluruh penjaga rumah itu telah ditahan namun Archie tetap siaga, pistolnya tetap dia arahkan ke depan, berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, hingga sampai di suatu belokan dia kaget dan hampir saja menembak orang yang ada di depannya, untungnya tidak dilakukannya, padahal tangannya sudah hampir menekan pelatuk itu.
__ADS_1
"Ceyasa," kata Archie yang melihat Ceyasa yang dijaga oleh 4 oleh penjaga, Ceyasa duduk di kursi roda yang di dorong oleh Asisten Qie.
Tanpa pikir panjang lagi, Archie segera berlutut, mencoba mensejajarkan tubuhnya agara bisa melihat wajah Ceyasa, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini akhirnya rona wajah bahagia menghiasi wajah Archie. Menatap wajah wanita yang membuatnya bahkan melupakan segalanya, membuatnya rela mempertaruhkan bahkan nyawanya hanya untuk menjeputnya.
Ceyasa pun kaget melihat Archie, melihat wajah pria yang tampak begitu bahagia menatapnya.
Ceyasa pun tak tahu kenapa, dia juga merasa sangat bahagia melihat wajah Archie, bahkan dia tidak tahu kenapa, dia sangat bahagia hingga menangis menatap wajah Archie yang ada di depannya, apakah dia sedang bermimpi? Pria ini datang menyelamatkannya? benarkah?
"Jangan menangis, aku menemukanmu," kata Archie menghapus lembut air mata dari pipi Ceyasa yang menurutnya jauh lebih kurus, Ceyasa yang menerima sentuhan lembut nan hangat itu benar-benar merasakan kerinduan yang sangat, kenapa dia baru sadar dan baru tahu dia begitu merindukan sosok ini?
Archie yang juga merasakan hal yang sama, dia sudah memupuk rindunya sangat dalam, Archie segera ingin memeluk Ceyasa, namun segera dihalangi oleh Asisten Qie, Archie langsung kaget.
"Tuan, sebaiknya jangan," kata Asisten Qie.
"Kau?" kata Archie kaget hingga berdiri, wajahnya langsung emosi melihat Asisten Qie, dia segera menarik kerah baju Asisten Qie, sudah sangat siap untuk melayangkan bogem mentahnya ke arah Asisten Qie.
"Archie, jangan-jangan," larang Ceyasa yang langsung, Archie yang mendengar itu sedikit menahan dirinya, namun dia tetap mempertahankan sikapnya ingin memukul Asisten Qie.
"Tubuh Nona Ceyasa sedang penuh luka Tuan, jika Anda memeluknya, Nona Ceyasa akan sangat kesakitan," kata Asisten Qie dengan sedikit wajah ketakutan namun dia mencoba menjelaskan, mendengar itu Archie segera mengerutkan dahinya, menatap ke arah Ceyasa yang memandangnya sendu, Archie segera melepaskan kerah baju Asisten Qie.
"Apa yang dia lakukan padamu?" kata Archie melihat ke arah Ceyasa, memegang kedua lengan atas Ceyasa, Asisten Qie membantu menaikkan sedikit baju Ceyasa untuk menunjukkan sedikit luka Ceyasa.
Archie yang melihat luka itu segera membesarkan matanya, kaget dengan apa yang dilihatnya, luka-luka itu baginya sangat parah dan membuat hatinya sakit seketika, bagaimana dia membiarkan Ceyasa merasakan luka separah itu?.
__ADS_1
Wajah Archie tampak menyimpan emosi yang sangat, dia bahkan mengepalkan tangannya dengan sangat erat, saat ini di dalam otaknya hanya ingin membunuh Rain.