
Ceyasa membuka matanya, dia ternyata ketiduran di sofa ruang tengah rumah itu, suasana yang sepi dan juga mungkin karena dia kelelahan, hingga akhirnya tak sadar tertidur. Ceyasa langsung melihat jam ruangan itu, sudah jam 3 pagi namun Archie belum juga datang, dia juga melihat ponsel Archie, dia lupa meminta kombinasi kata sandi dari ponselnya, dan anehnya Archie juga tidak memberi kabar apapun, kenapa sekarang Ceyasa merasa cemas?
Ceyasa lalu bangkit, melihat sedikit ke arah pintu rumah itu, mengintip di sela jendela yang ada di samping pintu,suasana masih gelap dan 4 orang tentara masih setia menjaga rumah itu, namun tidak ada tanda-tanda Archie akan datang, kemana Ceyasa harus bertanya? Dia bahkan tidak ingat berapa nomor telepon Gerald.
Ceyasa mencoba untuk berpikir positif, mungkin keadaan Archie sedang sangat sibuk, atau jangan-jangan keadaan Ibunda Ratu atau Gerald ternyata lebih parah dari pikirannya, jadi karena itu Archie tak sempat menghubunginya, tapi masa hanya mengatakan bahwa dia tidak jadi datang saja Archie tak sempat, tapi kalau dipikir-pikir bagaimana dia bisa menghubungi, kan ponselnya sekarang ada pada Ceyasa, tapi ….
Terlalu banyak tapi di dalam pikiran Ceyasa sekarang, dia melihat ke arah jam lagi, masih sangat dini hari untuk melakukan aktifitas jadi dia putuskan untuk masuk ke dalam kamar utama rumah itu, dan mencoba untuk berbaring, mungkin esok pagi Archie akan datang atau setidaknya menghubunginya.
Ceyasa mencoba untuk menutup matanya, sangat susah, berulang kali dia tertidur, tapi hanya beberapa menit matanya kembali terbuka, seolah kepalanya sangat aktif sekarang, hal itu membuat tidur malah terasa melelahkan untuk Ceyasa, Ceyasa benar-benar cemas memikirkan Archie sekarang dan karena itu saat jam sudah menunjukkan pukul 4.30 dia putuskan untuk bangun dan mencoba untuk melakukan apapun yang dia bisa di rumah itu dan akhirnya dia putuskan untuk menonton TV.
Ceyasa terus menonton TV, namun sebenarnya sekali lagi pikirannya tidak ada di sana, pikirannya tetap terbang ke Archie, bahkan sudah pukul 6 pagi, pria itu tidak memberikan kabar, apa mungkin dia belum bangun karena kelelahan kemarin, mungkin saja, kata Ceyasa yang terus saja menebak-nebak kira-kira sekarang Archie sedang apa.
Suara pintu terketuk terdengar, membuat Ceyasa terlonjak seketika, namun dia ingat bukannya Archie yang membuat kombinasi pintu itu, kalau benar dia, seharusnya dia langsung masuk saja, tapi bisa juga Archie lupa kombinasinya kan? Karena itu Ceyasa langsung melangkah ke arah pintu itu lalu segera membuka pintu itu dengan senyuman sumringah, namun senyuman itu perlahan menghilang, ternyata yang ada di balik pintu bukalah Archie, melainkan seorang wanita yang membawa nampan yang berisi makanan.
__ADS_1
"Selamat pagi Nona, saya yang akan menjadi asisten Anda selama Anda ada di markas militer ini," kata wanita itu tersenyum sangat ramah.
"Oh, baiklah, silakan masuk," kata Ceyasa.
"Terima kasih Nona, saya membawakan makanan untuk Anda," kata wanita itu lagi masuk perlahan, Ceyasa tak lupa menutup pintunya, berjalan mengikuti wanita itu ke arah ruang makan, wanita itu segera meletakkan makanan itu dengan hati-hati, Ceyasa tersenyum setelah dia selesai melakukan tugasnya.
"Terima kasih," kata Ceyasa yang dibalas sebuah senyuman hangat dari wanita itu.
"Nona, apakah ada permintaan khusus? saya akan menyediakannya untuk Anda," kata wanita itu lagi.
"Oh, ehm, apakah ada baju yang bisa aku pakai, aku baru pindah kemarin dan tidak ada baju di sini, aku rasa aku hanya butuh itu," kata Ceyasa.
"Terima kasih banyak," kata Ceyasa lagi.
"Sama-sama Nona, jika Anda membutuhkan saya, Anda tinggal memanggil saya, ini nomor ponsel saya, saya akan segera kembali membawakan kebutuhan Nona," kata wanita itu kembali tersenyum, dia segera ingin pergi meninggalkan Ceyasa.
Ceyasa memperhatikan wanita itu, rambutnya di potong sangat pendek, perawakannya tidak kecil, malah cendrung seperti seorang pria, tubuh bagian atasnya terlihat sedikit lebar dari pada pinggang dan pinggulnya dan terlihat kekar, walaupun tak sekekar pria, tapi wajahnya terlihat manis.
"Ehm,Maaf, siapa namamu?" kata Ceyasa menegur wanita itu
"Nama saya Rihana Nona, Anda bisa memanggil saya Hana, saya seorang tentara wanita di markas militer ini," kata wanita itu menjelaskan siapa dirinya.
"Oh, ehm, Hana, kau kenal suamiku?" tanya Ceyasa yang bingung harus bertanya pada siapa lagi.
__ADS_1
"Yang Mulia Pangeran Archie?" tanya Hana memastikan.
"Iya, apa kau tahu kabar tentangnya, maksudku, apa ada yang terjadi di luar sana, apakah dia selamat sampai tujuan kemarin?" tanya Ceyasa yang sebenarnya juga bingung bagaimana menyampaikan rasa khawatir yang dia rasakan sekarang.
"Tidak ada laporan tentang kecelakaan atau pun masalah dari militer pusat Nona, jadi saya berasumsi bahwa Pangeran Archie sampai dengan selamat," kata Hana lagi menatap Ceyasa yang berwajah sangat cemas.
"Begitu ya," kata Ceyasa dengan suara rendah, tapi kenapa Archie tidak memberikan kabar apapun padanya?
"Apa Anda ingin saya mencari tahu tentang keadaan Beliau?" tanya Hana yang tahu keadaan Ceyasa sekarang.
"Apakah bisa?" kata Ceyasa yang seperti mendapat secercah harapan.
"Tentu Nona, saya akan memberitahu Anda jika saya mendapatkan informasi tentang Beliau," kata Hana dengan gayanya yang tampak tomboy.
"Oh, ya kira-kira apa aku boleh keluar hanya sekedar mencari udara, seharian di sini sendirian pasti sangat membosankan,” tanya Ceyasa lagi, dia memang sudah cukup penat ada di rumah itu.
"Saya rasa tidak apa-apa, markas militer ini sangat amat, tak ada yang bisa masuk sembarangan ke daerah ini bahkan sebelum mereka melewati jembatan untuk ke pulau ini, tapi jika Anda ingin keluar dari rumah ini harap Anda menghubungi saya, saya akan memberikan perlindungan untuk Anda," kata Hana lagi menjelaskan.
"Kalau begitu sekali lagi aku mengucapkan terima kasih," kata Ceyasa sedikit memberikan senyuman manisnya.
"Sama-sama Nona, saya permisi dulu," kata Hana dengan sikapnya yang sempurna, dia lalu berjalan keluar dari ruangan itu, kembali meninggalkan Ceyasa sendirian di sana.
__ADS_1