
Jenny memeluk dirinya sendiri, sudah hampir 1 jam dia menunggu, sebenarnya dia dipersilakan oleh dokter untuk melihat tindakan yang harus dilakukan pada Jonathan tapi dia merasa tak sanggup melihatnya, dokter mengatakan bahwa luka Jonathan tidaklah berbahaya, pisau itu tidak menusuk ke dalam, hanya melukai bagian pinggangnya, sayangnya luka itu cukup dalam memotong daging Jonathan sehingga dia harus mendapatkan jahitan.
Jenny meringkuk, melihat jam sudah hampir jam 3 pagi, untung saja perawat memberikannya selimut tebal dengan teh panas selama menunggu, jika tidak, mungkin dia sudah menggigil menahan dingin karena basah di seluruh tubuhnya, ingin mencari baju, namun tak mungkin ada toko baju yang buka pukul 2 pagi seperti ini.
Tak lama pintu ruang tindakan itu terbuka, Jonathan tampak sudah berdiri tegap seperti tidak ada apa-apa, hanya jasnya yang merah terkena darah dan sobeklah yang menandakan seberapa panjangya luka itu terbuat.
Jonathan memasang wajah kagetnya, dia kira Jenny sudah meninggalkannya, ternyata dia mendapati wanita itu meringkuk terbungkus selimut tebar berwarna dusty pink sambil memegang sebuah mug, dia melihat Jenny yang rambutnya mulai mengering, wajahnya tampak sedikit pucat, tentu, dia tidak tidur, dan harus basah-basahan seperti itu namun matanya langsung berbinar ketika melihat Jonathan di ambang pintu.
"Sudah selesai? apakah harus dirawat?" tanya Jenny yang langsung berdiri meninggalkan selimut hangatnya.
"Tidak perlu, hanya perlu kontrol luka 3 hari dari sekarang, sekarang Tuan Jonathan sudah boleh pulang," kata dokter itu pada Jenny, Jenny hanya melirik sekilas ke arah Jonathan, bahkan dengan penampilan acak-acakan dan lembab karena hujan, pria itu sungguh mempesona, pantas saja jika dia memanfaatkan hal itu untuk memikat para gadis, dia punya modal yang mumpungi, pikir Jenny yang kembali beralih ke arah dokter itu, tak ingin lama-lama menatap Jonathan.
"Baiklah, aku sudah mengurus semua administrasinya, kemana aku harus mengantarmu? " tanya Jenny pada Jontahan.
"Aku ingin kembali ke hotel saja," kata Jonathan, dia ingat dengan motornya, namun dia tidak ingin Jenny kembali ke tempat gelap itu, bisa-bisa kejadian kemarin terulang lagi, apalagi saat ini masih pukul 3 pagi.
__ADS_1
"Baiklah, ayo aku akan mengantarmu," kata Jenny biasa saja, tanpa senyum sama sekali.
"Aku saja yang menyetir, hotelku cukup jauh dari sini," kata Jonathan mengadahkan tangannya untuk meminta kunci mobil pada Jenny. Jenny mengerutkan dahinya, jika hotelnya cukup jauh dari sini, kenapa kebetulan sekali Jonathan ada saat dia di serang seperti itu? jangan-jangan Jontahan sengaja mengikutinya? Atau malah, jangan-jangan penyerangan itu adalah idenya, bisa jadi bukan?
"Tak perlu, kau masih terluka," kata Jenny yang masih menyimpan pemikirannya dalam-dalam.
"Tidak apa-apa, aku tidak merasakan sakit, dokter memberikan obat penghilang rasa sakit," kata Jonathan seadanya, tak bisa terlalu ramah dini hari seperti ini, apalagi dalam keadaan seperti ini.
Jenny memandang Jonathan yang memberikannya tatapan tajam nan serius yang bisa membuat siapapun menuruti apa maunya, Jenny pun terkena sihir itu, dia langsung menyerahkan kunci mobil itu, dan segera mengikuti jonathan yang jalan uduluan ke arah mobil Jenny.
Jenny masuk ke dalam mobilnya, suasana basah dan lembab terasa sekali karena tadi mereka masuk ke dalam mobil itu dalam keadaan basah kuyup, tak perlu banyak basa basi, setelah melihat Jenny menggunakan sabuk pengamannya, Jonathan langsung melajukan mobilnya.
"Katakan padaku, bukannya kau baru di sini? bagaimana kau hapal jalan begitu cepat? Bahkan tahu jalan dari rumah sakit kecil ke hotelmu," tanya Jenny membuka seluruh tanda tanya pada pria di sampingnya ini, pria yang terlihat mudah di tebak, namun ternyata cukup misterius baginya.
"Aku sudah sering ke sini, ibuku adalah orang negara ini, namun sejak dia SMA dia pindah ke negara Ayahku, saat dia masih hidup aku sering di bawa ke sini saat kecil, namun saat aku remaja aku harus sekolah dan pergi ke Amerika, itu membuatku jarang kembali ke sini, Abu ibuku juga dibawa ke sini," kata Jonathan tenang, bahkan tidak terterik melirik Jenny yang dari tadi menatapnya.
__ADS_1
"Oh, lalu? Kenapa kau bisa ada disaat aku di serang, sudah tengah malah, dan jalanan itu sangat sepi, " kata Jenny menyipitkan matanya ingin menangkap apapun ekspresi yang akan dikeluarkan oleh Jonathan, sehingga dia bisa menganalisanya dengan baik.
"Menurutmu?" tanya Jonathan, lagi-lagi tak punya minat bahkan untuk melirik ke arah Jenny, hanya menatap lurus ke depan.
"Menurutku? Entahlah, terlalu aneh untuk di katakan bahwa kebetulan kau ada di sana," kata Jenny mengungkapkan isi pikirannya, dia bukan tipe wanita yang bisa menutupi isi pikiran dan isi hatinya, jika ya maka dia mengatakan iya, jika tidak ya tetap akan tidak.
"Memang tidak kebetulan, aku mengikutimu.”
"Benarkah? atau jangan-jangan orang-orang tadi adalah orang suruhanmu?"
Kali ini Jonathan mengerutkan dahinya, dia melirik Jenny sekilas, lirikan mata tajam itu membuat Jenny terdiam, apa dia salah bicara? Sepertinya tidak.
"Kau wanita yang cerdas, tapi kau tidak menganalisa dengan tepat, jika mereka adalah orang suruhanku, aku hanya akan menyuruh mereka untuk menakutimu, berpura-pura melawanku lalu pergi begitu saja, untuk apa aku harus menahan sakit dan harus di jahit 14 jahitan seperti ini, satu lagi, luka ini akan berbekas, kau kira aku rela melakukannya hanya untuk mu? Terlalu pendek menganalisa seperit itu," kata Jonathan sedikit geram, untuk apa dia harus melakukan hal terhina seperti itu, untuk mendapatkan perhatian Jenny? Tak perlu seperti itu, wanita ini juga sudah masuk dalam perangkapnya, hanya saja dia masih belum menyadarinya.
Jenny memutar otaknya, benar juga apa yang di katakan oleh Jonathan, jika mereka orang suruhannya, tak mungkin dia rela mendapat begitu banyak jahitan, mungkin jika goresan sedikit tidak akan apa-apa, namun 14 jahitan, dan ya, pria macam Jonathan ini pasti sangat memperhatikan fisiknya, bekas luka itu akan sangat menganggu nantinya jika dia harus bertelanjang dada.
__ADS_1
"Baiklah, maafkan aku sudah menuduhmu, tapi untuk apa kau mengikutiku?" kata Jenny sekenanya saja, tidak merasa terlalu bersalah, setidaknya dengan begini dia tidak menaruh curiga atau bertanya-tanya.
“Aku sedang ingin pulang saat aku melihatmu masuk ke dalam mobilmu, awalnya aku tidak ingin mengikutimu, apalagi saat itu hujan sangat deras dan aku tak membawa mobil, tapi saat kau masuk ke dalam mobil, aku melihat 2 orang yang terus mengawasimu, dan feelingku benar, mereka sudah mengincarmu, aku cukup gemas melihat caramu membawa mobil, kaku dan sangat memancing, mobil mewah berjalan di tengah hujan, dini hari pula, dan pernahkah kau berpikir, kau menyalakan lampu dalam mobil beberapa kali, membuat semua orang bisa tahu bahwa kau hanya wanita dan sendirian di dalam mobil? Tentu semua orang ingin memangsamu," kata Jonathan, cukup cepat dia melajukan mobil itu, tentu, dia tak ingin berlama-lama, selain pakaiannya yang lembab, dia juga memperhatikan Jenny yang masih memakai pakaian yang lembab.