
Pagi menyingsing cepat, Ceyasa sudah selesai membersihkan setiap sudut rumah barunya, di juga sudah membersihkan dirinya, dan dia segera ingin keluar, matahari menyambutnya dengan ramah, Ceyasa menatap ke arah langit biru nan cerah, menarik napasnya dalam-dalam, berbeda dengan desanya, di kota jam segini sudah penuh dengan suara kendaraan yang berlalu lalang, wangi hasil pembakaran dari mesin kendaraan tercium sedikit menyesakkan, Ceyasa tersenyum, harus membiasakan keadaan.
Dia memakai sepatunya, menapak ke tanah yang cukup basah karena hujan rintik tadi pagi yang sedikit mengobati kegersangan tanah yang sudah lama tak di sapa sang hujan, kakinya sudah jauh lebih baik, mungkin juga karena obat penghilang rasa sakit yang diberikan dokter padanya. Ceyasa sekali lagi menarik napas panjang, dia harus keluar dari rumah ini dulu, mengelilingi keadaan tempat tinggalnya, dan mencoba mencari pekerjaan, karena bagaimana pun uang yang diberi Archie hanya akan dipakainya sebagian untuk awal sebelum dia mendapatkan pekerjaan, jadi dia harus secepatnya mendapatkan pekerjaan. Jika nanti ada kesempatan, dia akan mengembalikannya, tapi jika tidak, mungkin akan dia sumbangkan untuk orang yang membutuhkan.
Ceyasa membuka pagar kayu yang lumayan sudah berlumut, dia segera keluar disambut dengan jalanan beraspal yang tak terlalu ramai, dia mulai melihat ke arah kanan dan kiri, dan dengan cepat memutuskan untuk pergi dahulu ke arah kiri, kemarin dia melihat sebuah pusat perbelanjaan di sana, dia harus membeli bahan makanan dan beberapa perlengkapan untuknya, karena dia tidak membawa apa pun saat pindah ke sini.
Ceyasa berjalan hati-hati, tak begitu lama dia sampai juga ke pusat perbelanjaan yang tidak terlalu besar, namun sangat lengkap, menyediakan semuanya dalam satu gedung, ada baju, sepatu hingga barang sehari-hari. Ceyasa segera masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu, dan mulai mencari-cari, membeli beberapa baju, makanan dan segala perlangkapan yang dia butuhkan.
Setelah selesai dia ingin segera pergi ke tempat pembayaran, tapi dia tak tahu ke arah mana dia harus membayar, lorong tempatnya sangat sepi, tidak ada orang sama sekali, dia mendorong kereta belanjanya menyusuri lorong-lorong yang lain, tapi kenapa tempat ini tiba-tiba jadi sepi, pikir Ceyasa, bukannya tadi ramai dengan orang-orang berbelanja.
Dia lalu melihat seorang pria dengan setelan jas abu-abu sedang melihat sesuatu di rak perbelanjaan, Ceyasa langsung mendatanginya tanpa perasaan apapun, hanya sedikit aneh,tempat perbelanjaan yang ramai tiba-tiba kosong melompong, seperti habis di tutup saja, dia memperhatikan pria itu, tubuhnya tinggi dan bidang, posturnya sempurnah, rambutnya di potong pendek, dari samping terlihat astetik wajahnya sangat sempurna, hidungnya yang mancung begitu menonjol.
"Tuan, maaf, aku ingin bertanya, dimana tempat membayar?" sapa Ceyasa mencoba sopan pada pria itu.
Pria itu tetap diam, dia bergeming sambil membaca petunjuk dari barang yang dipegangnya seolah tak mendengar dan juga tidak mengindahkan adanya keberadaan Ceyasa di sana, Ceyasa memanyunkan bibirnya sambil mengerutkan dahinya, sepertinya dia sudah mengatakannya dengan baik dan jelas, tapi kenapa pria ini malah mengacuhkannya.
"Halo? Apa kau tuli?" tanya Ceyasa sambil mengoyang-goyangkan tangannya, membuat gelang yang di pakainya tampak bergerak-gerak mengikuti tangannya. Pria itu awalnya bergeming, namun saat melihat tangan Ceyasa yang bergerak-gerak dia sedikit meliriknya, dan tak dia terlihat kaget dan menatap Ceyasa dalam-dalam. Ceyasa yang melihat hal itu langsung mengerutkan dahi, kenapa pria ini malah memandanginya seperti itu, apa orang-orang di kota ini sangat tidak ramah sampai bertanya juga tak boleh? Pikir Ceyasa.
Tak lama beberapa orang penjaga denga setelan jas hitam dan dasi hitam, datang menuju ke arah mereka, Ceyasa kaget dengan kedatangan mereka.
"Maafkan kami Tuan, kami tidak melakukan penjagaan dengan baik, Apakah Nona ini mengganggu Anda?" kata salah satu penjaga tampak begitu sungkan pada pria ini, tapi pria itu lagi-lagi bergeming, memandang Ceyasa malah semakin tajam, Ceyasa yang di pandang seperti itu apa lagi di katakan menggangu tentu tidak terima.
"Aku tidak mengganggunya, hanya bertanya, kalau tidak boleh ya sudah," ujar Ceyasa sedikit kesal, bagaimana dia tidak kesal, ditanya baik-baik, malah di tuduh mengganggu, kalau tidak ingin diganggu ya jangan keluar rumah saja sekalian, gerutu Ceyasa di dalam hati. Namun lama kelamaan karena ditatap pria itu dengan sangat tajam, Ceyasa jadi ciut sendiri, dia ingat pesan Archie yang mengatakan tidak semua orang bisa dia marahi kalau di kota.
Para penjaga itu seperti ingin menangani Ceyasa, namun pria itu malah mengangkat tangannya, tanda agar mereka berhenti, tapi pria itu terus diam, menatap dalam pada Ceyasa.
__ADS_1
"Ya, sudah aku akan cari sendiri, " ujar Ceyasa segera mendorong kereta belanjanya melewati pria itu, namun baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba tangannya digenggam oleh pria itu, membuat Ceyasa kaget seketika dan memandang pria itu dengan kesal, kenapa tiba-tiba menggenggam lengannya seperti itu?
Pria itu juga terus melirik ke arah Ceyasa, menatapnya dengan dalam seolah ada sesuatu yang harus dia katakan pada Ceyasa, namun tak berapa lama, dia melepaskannya lagi, membuat Ceyasa langsung buru-buru kabur dari sana, di kota ini semua memang berbeda, pikir Ceyasa yang bahkan tak ingin melihat ke belakang.
Hanya pria itu yang menatapnya sampai mengikuti Ceyasa hingga dia menghilang di balik rak-rak belanjaan.
"Tuan?" tanya Asisten pria itu.
"Cari tahu semuanya tentang dia, aku ingin tahu secepatnya," suara pria itu berat, menyerahkan barang yang tadi dilihatnya pada asistennya, lalu melangkah pergi dari sana.
Ceyasa mendorong belanjaannya hingga ke depan lalu berhenti karena melihat hanya ada dia di sana, semua orang yang tadinya berbelanja ternyata tertahan di depan, semua orang bingung kenapa Ceyasa bisa masih ada di sana? para penjaga juga kaget melihat Ceyasa, mereka pasti kecolongan, Tuan mereka bisa marah besar karena hal ini. Ceyasa yang dipandang semua orang yang ada di sana langsung gugup, beratus pasang mata menatapnya, membuat Ceyasa hanya bisa memandang semuanya.
Ceyasa mengerutkan dahinya, tak ada yang salah kan? Kalau dia tak salah untuk apa dia takut, dengan percaya diri Ceyasa langsung saja melangkah dan menuju kasir yang masih bengong melihatnya.
"Saya ingin membayar," tegur Ceyasa pada kasir itu, kasir itu langsung kebingungan, antara ingin melayani atau pun tidak, dia lalu melihat ke arah pria yang tadi, dia baru saja sampai di depan, asisten pria itu mengangguk, melihat itu kasir itu baru berani melayani Ceyasa, sedangkan pria itu hanya melirik ke arah Ceyasa, dan pergi dari sana, setelah dia pergi perbelanjaan itu segera dibukakan kembali, membuat para pembeli baru bisa dibiarkan untuk melakukan perbelanjaan lagi.
"Inspeksi mendadak, katanya di dalam ada hal yang membahayakan, sehingga mereka harus melakukan pemeriksaan menyeluruh dan para pembeli dievakuasi, bagaimana Anda bisa ada di dalam?j" tanya kasir itu
juga penasaran, bukannya semua orang sudah di evakuasi.
"Benarkah?" kata Ceyasa tak percaya, pria itu seperti tidak sedang melakukan inspeksi, dia hanya seperti ingin membeli sesuatu, pikir Ceyasa.
"Semuanya tiga juta tujuh ratus dua puluh lima ribu," kata kasir itu, Ceyasa kaget, sepertinya dia tidak membeli banyak barang, tapi kenapa begitu mahal, ah, hidup di kota memang semuanya serba mahal.
"Bisa pakai kartu ini?" tanya Ceyasa menunjukkan atmnya.
__ADS_1
"Maaf Nona, semua barang Anda sudah di bayar," kata kasir itu setelah melihat ponsel kerjanya.
"Benarkah? siapa yang membayar? Aku tidak mau, aku ingin membayar sendiri," ujar Ceyasa bingung, kenapa tiba-tiba sudah terbayar.
"Saya tidak tahu, tapi di sini, semua sudah dibayar," kata kasir itu lagi.
Ceyasa mengerutkan dahi, siapa lagi yang membayarkannya? Apa mungkin Archie? tapi dari mana dia tahu kalau Ceyasa sedang berbelanja, lagi pula kan dia sudah mengatakan tidak akan memberikan apapun, lagi pula mereka tidak akan berhubungan lagi kan? Jadi siapa yang membayarnya.
Ceyasa masih bingung saat dia keluar dan menenteng kantung plastik belanjaannya, hidup di kota ini benar-benar aneh, tiba-tiba saja bertemu orang yang aneh, tiba-tiba saja belanjaannya sudah di bayar, apa lagi keanehan hari ini?
Ceyasa terus bertanya-tanya dalam hatinya sehingga membuatnya sedikit melamun saat berjalan menuju rumahnya, saat dia melewati sebuah toserba yang lebih kecil, tiba-tiba dia cegat oleh seorang pria tua, Ceyasa tentu kaget dan otomatis berhenti, dia lalu melihat pria tua itu yang menyerahkan selembar kertas padanya.
"Nona, Anda ingin bekerja di toserba kami? " tanya pria itu dengan senyuman khas orang tua, membuat matanya menghilang di balik kerutan senyuman.
Ceyasa masih memproses perkataan pria tua itu, pekerjaan? Pria ini menawarkannya pekerajaan?
"Anda menawarkan saya pekerjaan?" tanya Ceyasa tak percaya, apa hari ini hari keberuntungannya? Pekerjaan datang begitu saja padanya.
"Ya, kami membutuhkan seseorang di toko kami, pekerjaannya bisa di kasir, pengiriman barang, dan membersihkan toko, apa Anda bersedia?" tanya pria itu sangat ramah, membuat Ceyasa ikut tersenyum.
"Benarkah? aku mau, ini benar-benar pekerajaan kan?" tanya Ceyasa sedikit curiga, kenapa begitu mudah? Archie bilang mencari pekerjaan di kota sangat susah.
"Benar, silakan Anda datang besok pagi, ini seragamnya," kata pria tua itu memberikan sebuah kantung kertas berisi baju kerja untuk Ceyasa, seolah dia sudah menyiapkan semuanya untuk Ceyasa.
"Baiklah," kata Ceyasa tertawa kaku, masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi, kenapa begitu mencurigakan namun juga penuh dengan kebetulan, jadi benarkah dia akan bekerja?
__ADS_1
"Ya, kami tunggu Anda besok pagi Nona, datanglah pukul 7 pagi, toko kita buka pukul 8," ujar pria tua itu lagi.
"Baik Pak, terima kasih," kata Ceyasa lagi sambil mulai berjalan, wajahnya masih bingung dengan apa yang terjadi hari ini, dia melihat baju yang ada di kantung kertas itu, sedikit merasa kebetulan yang terlalu kebetulan.