Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
184 - Nona Ceyasa, Kesempatan Kita Tak Akan Lama.


__ADS_3

"Jangan harap kau mati sebelum aku puas melihat kau menderita," kata Rain lagi dengan suara begitu emosi.


"Maka lakukanlah agar aku bisa cepat pergi dari sini," kata Ceyasa datar bahkan matanya tampak seperti mata yang tersenyum, Rain sangat membenci itu, dia langsung membuang wajah Ceyasa, membuat Ceyasa limbung, seluruh tubuhnya yang remuk sudah tak tahan lagi, dia jatuh ke pasir pantai yang panasnya membakar itu.


"Biarkan dia di sana hingga aku menyuruh kalian membawanya masuk," kata Rain lagi, kembali duduk di kursinya, meminum jus dinginnya dan melihat tubuh Ceyasa yang tampak tak bergerak.


Rain terus mengamati tubuh Ceyasa, entah kenapa sekarang kediaman Ceyasa itu mengusiknya, kenapa wanita itu tidak bergerak, dia tak suka jika Ceyasa hanya tidur di pasir itu, dia lalu mengambil jus jeruk dinginnya, berjalan melewati teriknya matahari dan langsung melihat Ceyasa yang pucat, dia meyiramkan perlahan jus jeruk itu pada wajah Ceyasa, berharap wanita itu akan bangun karena dinginnya minumannya itu, namun hingga habis, Ceyasa hanya diam, tak sadarkan diri.


"Hei," kata Rain yang tampak mengerutkan wajahnya, tak sedikit pun tubuh Ceyasa bergerak, Rain menggoyangkan tubuh Ceyasa dengan kakinya, dan dengan lemasnya tubuh itu berbalik, seolah sudah tak bernyawa lagi.


"Hei, kau! Hei," kata Rain yang tiba-tiba merasa cemas, apa wanita ini sudah mati? Kenapa harus secepat ini, tiba-tiba perasaan Rain begitu ketakutan, bukan takut karena akan disalahkan karena kematian Ceyasa, namun ketakutan kehilangan, dia ingat perasaan takut ini, saat terakhir kali dia merasakanya, dia berhadapan dengan tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa.


Rain memegangi tubuh Ceyasa, membalikkan tubuhnya dan melihat pasir putih ternoda darah, Rain kaget, dia segera melihat pungung Ceyasa dan melihat rembesan darah sudah mengotori pakaiannya, apa yang terjadi? kenapa dia memiliki luka separah ini?


" Asisten Qie, panggilkan dokter pribadiku!"  teriak Rain yang tampak benar-benar panik, dia memang punya masalah dengan wanita ini, tapi entah kenapa? dia sekarang merasa begitu cemas dan panik, dia tak ingin Ceyasa mati sekarang.


Rain segera mengendong tubuh Ceyasa yang lemas tak bertenaga,  Asisten Qie segera lari untuk memanggil dokter yang tinggal di belakang rumah utama, Rain dengan sedikit berlari segera masuk ke dalam rumahnya dan segera membawa Ceyasa masuk ke dalam kamarnya. Dia benar-benar tak ingin Ceyasa pergi sekarang, dan kenapa perasaannya begitu sedih melihat wajah Ceyasa yang terkulai tak berdaya.


Dia orang yang paling benci dengan kotoran, dia suka semuanya bersih, dia juga suka semuanya tertata rapi, tapi kali ini dia tidak memikirkannya, seberapa kotornya tubuh Ceyasa dia langsung membaringkannya di ranjang pribadinya.


"Hei, Ceyasa, bangun, Ceyasa? bangun? Ayo, bangunlah, tolong bangunlah," kata Rain lagi dengan sangat panik, dia lalu melihat tubuh Ceyasa yang ringkih, Rain lalu memiringkan tubuh Ceyasa, dengan sekuat tenaga merobek baju Ceyasa di bagian punggungnya dan matanya kembali membesar dan memerah melihat luka-luka yang ada di sana, merah dan sebagian tersobek, luka cukup parah.


Rain tak habis pikir, bagaimana bisa gadis ini tahan berdiri dengan senyuman di bawah terik matahari yang panasnya dengan luka disekujur tubuhnya. Rain tak pernah menyuruh orang untuk menyiksanya separah ini, Rain hanya ingin menikmati penyiksaan Ceyasa perlahan-lahan sehingga wanita ini mengemis ampun padanya, tapi bukan seperti ini.


"Di mana dokternya? cepat panggilkan dia atau ku bunuh kalian semua," teriak Rain sangat emosi, untunglah saat dia selesai mengatakan itu dokter masuk, dokter dan perawat yang masuk sampai kaget melihat keadaan Ceyasa, luka-luka tubuhnya, bagaikan luka pada zaman penjajahan. Rain bangkit memberikan ruang untuk dokter menolong Ceyasa.

__ADS_1


Asisten Qie yang berdiri di dekat Rain langsung miris melihat keadaannya.


"Siapa yang melakukan ini padanya?" tanya Rain dengan kepalan tangan yang sangat erat.


"Nona Lidia Tuan," kata  Asisten Qie, tak  ingin menutup-nutupinya.


Rain menggertakkan giginya dengan sangat keras hingga  Asisten Qie bisa mendengar suaranya, ngenggaman tangannya erat hingga memunculkan urat-urat tangannya.


"Putus semua koneksiku dengannya, cabut semua aset yang aku berikan untuknya, tarik semua rumah dan apapun yang ada kaitannya denganku, awasi dia 24 jam, jika dia berani untuk berbicara tentangku, habisi dia," kata Rain dengan sangat marah.


Semua orang di sana sedikit terkejut, Lidia adalah adik angkat Rain, selama ini Rain begitu memanjakan wanita itu, memberikannya semua yang terbaik, tapi hanya karena dia menyiksa Ceyasa, Rain bahkan tanpa pikir panjang ingin melenyapkannya, itu artinya Ceyasa lebih penting daripada Lidia? Padahal Lidia termasuk wanita yang selalu membantu Rain selama ini.


"Kau dengar tidak," bentak Rain lagi pada  Asisten Qie.


Rain menatap wajah Ceyasa yang tampak damai, kedamainan itu malah mengusiknya, dia tak menyukai hal-hal indah tentang Ceyasa, senyumnya, keceriaannya, keberaniannya, keteguhannya, dia membenci semua hal itu, tapi itu pula yang membuat Rain begitu tertarik padanya, terutama ketulusannya tentang apapun, senyumnya yang mengingatkannya pada ibunya, hal itulah yang selalu membuatnya tak sanggup mencelakainya, bahkan itulah alasannya yang membuat niatnya membunuh Ceyasa terhenti saat dia ingin melakukannya di desa dulu.


"Keadaanya gawat, Nona ini dalam keadaan kritis, detak jantungnya lemah, nadinya hampir tak teraba, Tuan, kita butuh perawatan lebih untuk Nona," kata dokter itu.


"Aku tidak peduli apapun, lakukan yang terbaik untuknya," kata Rain lagi dengan wajah serius.


"Bawa dia ke ruang perawatan, " kata dokter itu segera, mereka segera menaikkan tubuh Ceyasa pada ranjang dorong yang memang di bawa oleh dokter itu, dan dengan cepat mereka mendorongnya pergi, Rain melihat sedikit ke arah seprai putihnya yang sekarang bernoda darah Ceyasa, hatinya  sangat sakit sekarang.


Rain menunggu di depan ruangan perawatan yang memang sengaja di buat di bagian rumahnya karena dia tidak suka sekali dengan bau rumah sakit, jadi dia selalu membuat suatu ruangan khusus dan memiliki dokter pribadi untuknya sendiri.


Dia tampak begitu cemas, bahkan dia tak bisa diam, berjalan mondar mandir di depan ruangan perawatan itu,  Asisten Qie hanya terdiam melihat kelakuan Rain itu, sedikit bingung dengan sikapnya, sebenarnya Rain ini maunya apa? kenapa dia menyiksa Ceyasa, namun ketika Ceyasa seperti ini dia malah terlihat sangat cemas.

__ADS_1


Tak lama dokter keluar dari ruangan rawat itu, Rain langsung mendatanginya, tanpa berbicara sepatah kata, dokter sudah tahu bahwa Rain sangat ingin mengetahui keadaan Ceyasa.


"Keadaan Nona itu sudah stabil, keadaannya lemah karena kekurangan gula dalam tubuhnya, kami sudah memberikan infus untuk mengantikan nutrisiniya, lukanya juga syukurlah terawat dengan baik hingga tidak terjadi infeksi, saya juga sudah memberikan obat anti nyeri dan antibiotik untuknya, " kata dokter itu lagi.


Rain mengerutkan dahi, dia lalu menatap ke arah  Asisten Qie.


"Sudah berapa lama dia mengalami luka itu?" tanya Rain lagi pada  Asisten Qie.


"Nona Lidia melakukan hal itu sejak hari pertama Nona Ceyasa datang," kata  Asisten Qie sedikit menunduk.


"Lalu kenapa kalian tidak memberitahukannya padaku?" tanya Rain sedikit bernada emosi, sudah sebegitu lama ternyata Ceyasa menahan rasa sakit itu.


"Nona Lidia mengancam akan menuduh kami melakukan hal yang tidak senonor padanya, jadi kami hanya diam saja dan melakukan perawatan luka Nona Ceyasa dengan seadaanya, setiap pagi kami memberikan dia cairan antiseptik agar lukanya tidak terinfeksi, namun kami selalu tidak tega saat melakukan itu karena Nona Ceyasa hingga berteriak kesakitan jadi kami hanya melakukannya setiap pagi saja Tuan," kata  Asisten Qie menjelaskan.


Rain terdiam, menatap  Asisten Qie yang menunduk takut, karena  Asisten Qie tak tahu apakah tindakannya benar atau tidak, Rain benar-benar pria yang tidak bisa ditebak.


Rain merasa miris, bisa merasakan sakitnya tubuh Ceyasa, apalagi membayangkan cairan antiseptik itu dibalurkan di lukanya, akan terasa sangat perih hingga tak tahan untuk menangis, biasanya jika Rain membayangkan wajah kesakitan Ceyasa, dia akan sangat senang, tapi sekarang entah kenapa sekarang dia malah ikut merasakan sakit dan nyerinya, apakah ini tandanya dia peduli?


"Penjaga, Siapkan Helikopter, aku ingin pergi sekarang," kata Rain lagi dengan mata yang sangat mengerikan.


"Baik Tuan," kata Rain,  Asisten Qie mengerutkan dahinya, tumben sekali bukan dia yang di suruh untuk menyiapkan helikopter, apa Rain marah padanya dan sudah tidak menganggap dia lagi.


" Asisten Qie, aku minta kau menjaganya selama aku tidak ada, jika dia sadar kabarkan segera padaku," kata Rain langsung, dia segera pergi meninggalkan  Asisten Qie, membuat  Asisten Qie membesarkan matanya, inikah kesempatannya untuk membantu Ceyasa?


Nona Ceyasa, kau harus secepatnya bangun, kesempatan kita tak akan lama, pikir  Asisten Qie menatap ruang perawatan yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2