Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
287 -


__ADS_3

"Kau! kau! membunuh ayahku! Kenapa kau tega membunuh Ayahku?" kata Ceyasa histeris memukul-mukul dada Archie sekuat tenaganya, namun pukulan itu tak berpengaruh sama sekali, Ceyasa sudah lemas melihat ayahnya terbunuh di depan matanya, Archie hanya melihatnya, dia mencengkram pergelangan tangan Ceyasa, Ceyasa berontak ingin melepaskan diri.


"Apa yang kau lakuan?" tanya Rain yang tak percaya Archie yang melakukan hal itu pada Jofan.


"Aku tak suka basa-basi, dia pantas mati, aku sudah membalaskan dendam ayahku dan kakekku," kata Archie melirik tajam pada Rain, Ceyasa yang masih berontak segera dia pukul belakang kepalanya kembali membuat Ceyasa lunglai dan jatuh, Rain yang melihat itu segera kaget, namun belum selesai dia kaget, dia hanya bisa diam ketika Archie mengarahkan moncong senjatanya ke arah Rain dengan wajah datar dan dinginnya


"Apa ini?" tanya Rain yang bingung.


"Hanya sebuah misi penyelamatan," kata Archie dingin, matanya benar-benar mengerikan, mendengar hal itu Rain menyipitkan matanya, dia lalu tersenyum sinis, dia mengusap bibirnya dengan ibu jarinya, berusaha terlihat santai untuk mengecoh Archie, sayangnya Archie tetap berwajah datar.


"Kau tidak amnesia? Bravo, aktingmu hebat sekali! Kau tahu apa yang sudah aku lakukan dengan Ceyasa, bibirnya sangat …. " kata Rain yang mencoba untuk memainkan emosi Archie, dia melirik ke pistol yang tergeletak di lantai, pistol yang tadi berikannya pada Ceyasa untuk membunuh Jofan, dia ingin mengambilnya, namun Archie mengetahuinya, dia langsung menendang pistol itu menjauh ke arah tubuh Jofan yang tak bergerak di lantai.


"Jangan coba-coba," kata Archie dingin.


"Kau tahu kau tidak akan bisa keluar dari sini, semua tempat ini dijaga oleh anak buahku," kata Rain yang merasa masih punya kesempatan menang.


"Kalau begitu kau sudah salah mencari lawan," kata Archie.


Archie tanpa aba-aba langsung menembak kaki Rain yang langsung terjatuh. Rain meringis menahan sakit, matanya tajam melirik ke arah Archie yang begitu datar dan dingin, sangat menakutkan karena tak tertebak apa isi pikirannya.


"Jika pamanku tak mengatakan untuk membiarkanmu hidup, aku pasti sudah akan membuat peluru ini bersarang di kepalamu karena sudah berani menyentuh istriku," kata Archie dengan mata penuh kebencian. Pistol terus dia acungkan ke Rain yang tampak meringis kesakitan, namun sekarang dia bisa tersenyum sinis.


"Kau masih membela wanita yang merupakan anak dari pembunuh ayahmu?" kata Rain yang sesekali menahan nyeri di kakinya, besi panas itu masih bersarang di kakinya.


Archie menaikkan sudut bibirnya, dia berjalan mendekati Rain dan memegang lengan atas pria itu dengan erat, memaksanya untuk bisa berdiri walaupun Rain sedikit mengerang kesakitan, dia berbisik pelan di telinga Rain.


"Kau tahu aku bersyukur ayahku dibunuh olehnya, kau hanya tak tahu apa yang sudah dia lakukan, dan sepertinya kau harus tahu ini, ayahku lah yang sudah membunuh ayahmu," kata Archie.

__ADS_1


Mendengar hal itu Rain membesarkan matanya, Archie segera mengalungkan tangannya ke leher Rain, menekan tenggorokan Rain dengan lengannya dan membuat posisi Rain ada di depannya sebagai tameng, Archie tahu di luar ruang tahanan ini masih ada anak buah dan juga asisten dari Rain yang akan dia temui.


"Ikut aku," kata Archie berbisik, dia memaksa Rain untuk berjalan sedangkan pistol yang terasa dingin itu dia tempelkan di sisi kepala Rain.


Rain mau tak mau mengikuti perkataan Archie, walaupun saat ini dia sangat emosi, dia tahu dirinya sudah tidak bisa melakukan apapun, posisinya sudah terjepit.


"Buka pintunya," kata Archie memerintahkan Rain untuk membuka pintunya, begitu pintu terbuka, Archie segera menodongkan pistol ke arah penjaga Rain, mereka kaget melihat keadaan ini, kenapa malah seperti ini?


"Letakkan semua senjata kalian dan lempar menjauh, dan berkumpulah di pojok ruangan itu," kata Archie yang terus menekankan ujung pistol itu pada kepala Rain yang tampak benar-benar marah namun juga cemas, dia meringis kesakitan, darah mengalir membasahi celana berwarna krem yang dia pakai.


Penjaga Rain dan juga Asisten Ken hanya melihat hal itu, mereka mengeluarkan  senjata mereka dan segera melemparkannya menjauh, perlahan dengan pasti mereka segera berjalan ke arah sudut yang di tunjuk dengan dagu oleh Archie.


Rain mencoba untuk berontak, dia lalu menyikut perut Archie yang membuat dia lepas dari rangkulan Archie, Archie menahan sakit di perutnya akibatan sikutan Rain hingga dia terbungkuk, melihat hal itu Rain tak ingin menyia-nyiakannya dan hendak ingin memukul bagian leher belakang Archie, namun baru saja tangannya ingin menyentuh tubuh Archie, suara letusan tembakan terdengar, sebuah timah panas mengenai bahu kiri Rain, membuatnya langsung terdiam seketika.


Bersamaan dengan itu, saat Archie mendongakkan kepala, dia melihat Asisten Ken yang sudah mengambil pistol lain yang ternyata dia miliki dibalik jasnya, masih dengan posisi membungkuk, Archie segera membidik dan memuntahkan besi panas itu yang langsung mengenai dada Asisten Ken, pria itu pun terdiam dan pistolnya terjatuh bersama tubuhnya yang juga menyentuh lantai, semua itu terjadi dalam waktu hitungan detik, cepat sekali terjadi secara bersamaan.


"Jangan Bergerak!" teriak 6 orang tentara yang baru menyergap tempat itu, semua penjaga Rain kaget dan segera mengangkat tangannya, tentara segera mengamankan mereka.


"Panggilkan paramedik segera!" perintah Archie yang langsung berjalan ke arah Jofan, melihat luka tembakan yang dia buat, "Paman bagaimana keadaanmu?" tanya Archie yang melihat darah Jofan ternyata cukup banyak, dia segera membuka jas yang dia pakai, menekan area luka agar tak terlalu banyak mengeluarkan luka.


"maafkan aku, aku harus melakukannya, karena kalau tidak kau dan Ceyasa akan dalam keadaan bahaya," kata Archie sedikit panik melihat keadaan Jofan yang sebelumnya sudah babak belur.


"Aku kira kau memang punya dendam denganku, Ini hanya luka kecil, aku akan baik-baik saja, tolong Ceyasa," kata Jofan yang melihat tubuh anaknya terkulai di lantai.


"Dia tak apa-apa, aku hanya sengaja membuatnya pingsan agar dia tak terlalu panik, dia sudah cukup syok melihat Paman jatuh, untung Paman tak langsung bangkit," kata Archie terus menekan luka Jofan.


"Aku berusaha mencari waktu yang tepat, untungnya mendengar percakapanmu dengannya, siapa yang memerintahkanmu? Angga?"

__ADS_1


"Iya, paman memintaku untuk menyelamatkan kalian, bertahanlah, paramedis sudah datang," kata Archie melihat ke pintu dan paramedis masuk segera menangani Jofan.


Archie mundur membiarkan paramedis menangani Jofan yang tampak mulai lemas, dia lalu melihat tubuh Ceyasa, dengan cepat dia menggendong tubuh istrinya itu, melihat dia meringkuk dalam gendongannya, percis yang terjadi tadi sore saat dia mengangkatnya ke ranjangnya.


Archie tersenyum tipis, diantara semua hiruk pikuk evakuasi korban dan tersangka yang sama-sama harus mendapatkan perawatan, Archie mengendong tubuh Ceyasa dan dengan perlahan melangkah membawanya keluar dari tempat penyekapan bawah tanah itu.


Susana di luar lebih riuh lagi, mobil polisi dengan kelap kelip lampu rotatornya, 3 ambulans yang sudah siap, begitu banyak polisi dan tentara yang sibuk mengamankan sisa dari penjaga Rain.


Di antara mereka semua, Angga berdiri menyambut Archie yang tampak berhenti sejenak melihat pamannya itu.


Angga sedikit memberikan senyuman pada Archie yang juga dibalas senyuman oleh Archie, sebuah senyuman melegakan.


"Pangeran, mobil Anda di sebelah sini," kata Gerald yang langsung menyambut Archie, menunjukkannya pada mobil yang akan menjemputnya, Archie mengangguk sedikit, Angga pun membalas anggukan itu sebagai tanda mempersilakan.


Archie segera membawa Ceyasa yang masih nyaman dalam gendongannya, meletakkan tubuhnya di jok belakang mobil, Archie masuk dan memposisikan kepala Ceyasa dalam pangkuannya.


"Pangeran, kemana kita pergi?" tanya Gerald, dia tahu pangerannya sudah melewati banyak hal beberapa hari ini.


"Ikuti saja ambulans itu," kata Archie yang akhirnya bisa menyandarkan tubuhnya, mengelus rambut halus istrinya dan mobil mereka melaju pergi dari halaman istana yang malam ini begitu ramai dan hiruk pikuk.


Angga melihat tubuh Rain di tandu keluar menuju ambulans, dia sudah menggunakan sungkup oksigen.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Angga pada seorang dokter di sana.


"Sejauh ini ada 2 luka tembakan, di kaki dan di bagian bahu, namun semuanya tak terkena organ vital, semua stabil," kata dokter itu menjelaskan.


"Ambil darah yang dibutuhkan untuk pengobatan Suri sebelum darahnya bercampur obat," Perintah Angga langsung.

__ADS_1


"Baik Tuan," kata Dokter itu segera.


Mereka langsung melakukan prosedur yang di minta Angga dalam perjalanan ke rumah sakit setelah itu mereka segera menolong Rain, namun dalam penjagaan yang sangat ketat.


__ADS_2