
Angga, Bella, Nakesha dan Daihan baru saja menjemput Ibunda Ratu yang sudah diperbolehkan untuk pulang, keadaannya masih cukup lemah namun sudah terlihat membaik, saat mobil mereka memasuki area istana, Angga sedikit mengernyitkan dahinya, melihat beberapa mobil yang terparkir di depan istana utama, begitu juga yang ada di dalam mobil bersama dengan Angga, semua memandang aneh, daerah itu terlarang untuk parkir kecuali bagi Raja, lalu kenapa peraturan itu dilanggar?
Angga segera keluar, mobilnya terparkir di belakang mobil 3 mobil yang cukup menghalangi jalan mereka, tentu Angga tak suka, dia orang yang suka semuanya sesuai dengan peraturannya.
"Bella, Nakesha, bawa Ibunda Ratu ke istana pangeran, aku ingin tahu apa yang terjadi," kata Angga mengatakan hal itu pada Bella, wajahnya sudah tampak kesal.
"Aku ikut denganmu," kata Daihan yang merasakan ada aura tak beres di sini, Angga menatap Daihan, dia memberikan jawaban dengan mengangguk.
Angga, Daihan dan Asisten Lin segera berjalan menuju ke pintu utama istananya, pintu gerbang itu dibukakan oleh mereka, namun anehnya tak ada penyambutan untuk dirinya, ada apa ini? pikir Angga yang tidak ingin dulu menegur mereka yang tampak ketakutan melihatnya, kepala pelayan yang menyambut Angga pun tampak bingung harus apa, dia membungkuk dengan formal seperti biasa, namun tidak menyambutnya.
"Bangkitlah," kata Angga, "ada apa ini?"
"Selamat datang di istana kerajaan Winsdor," suara itu terdengar menggelegar, Angga mengerutkan dahinya, menatap lurus ke arah ruang tamu kerajaan yang luas dengan sofa-sofa dan ada pula singgasananya, namun yang membuatnya heran, ruang tamu itu penuh dengan para menteri istananya, juga para kepala pelayanan istana, selain itu ada orang yang duduk di singgasanannya. Daihan yang melihat itu pun mengerutkan dahi, siapa pria yang duduk di singgasana raja.
Angga berjalan memasuki ruangan megah itu sambil terus mengamati pria yang wajahnya tertutup oleh tirai dari tempat dia memandang, Daihan mengikuti langkah Angga yang cukup cepat itu dan arah pandangannya juga sama, sangat penasaran dengan sosok yang terlihat sangat santai duduk di sana.
__ADS_1
Pria itu bangkit, sedikit menuruni tangga kecil di depan singgasananya, begitu wajahnya tersingkap, Angga berhenti, dia terhentak kaget.
"Selamat datang, Yang Mulia Raja Angga atau boleh aku sebut, Sepupu?" kata Rain sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya, senyuman khas yang tampak ramah namun mengerikan itu tersungging pada wajahnya.
Daihan yang mendengar itu langsung menatap Rain yang mendekati mereka, melihat lagi ke arah Angga yang menatap pria itu tajam, sepupu?
"Apa yang kau lakukan di sini dan bagaimana kau bisa masuk?" tanya Angga melihat ke arah Rain, lalu menatap tajam pada Kepala Penjaga yang ada di sana, Kepala penjaga itu hanya menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke arah kedua orang itu.
"Kenapa? jangan marah pada mereka, mereka tidak akan mungkin berani mengusirku karena mereka tahu, aku adalah istana ini," kata Rain dengan tatapan menangnya, menghadapi Angga tak gentar sama sekali, berdiri di depan Angga yang menatapnya dengan sangat tajam, seolah tatapan itu tak ada efeknya baginya.
Angga yang mendengar hal itu membesarkan matanya, merasa kaget dengan kabar itu, bagaimana bisa? tiba-tiba saja Rain mengaku menjadi anak pamannya? Jika benar, dengan kata lain, dia adalah sepupunya, adik tiri Aksa.
"Jika tidak percaya, buktinya ada di atas meja," kata Rain dengan menaikkan sedikit sudut bibirnya, menunjukkan beberapa dokumen yang ada di atas meja, dan juga beberapa barang.
Angga segera melirik semua berkas itu, mendatangi meja dan membaca juga menganalisa dokumen dan barang-barang yang ada di atasnya, Rain hanya berwajah santai, duduk dengan semaunya di salah satu sofa, seolah membiarkan Angga untuk memeriksa semua hal yang dia bawa selama yang dia mau.
__ADS_1
Angga menatapnya, surat asli pernikahan Raja Leonal dengan seorang wanita bernama Annabelle, akte kelahiran Arthur dengan nama Huxley di belakangnya, hasil tes DNA, dan yang paling membuatnya terkejut adalah tanda kerjaan yang hanya dimiliki oleh pangeran, semua hal itu bisa di palsukan, namun untuk tanda kerajaan itu, hanya Angga yang tahu, dan bahkan Archie saja tidak mengetahui bagaimana bentuknya, dan tanda kerajaan itu tak bisa sembarangan di duplikasi, karena ada semacam segel khusus yang hanya diketahui oleh raja dan pangeran, dan setiap lencana memiliki kode uniknya sendiri.
"Ayahku meninggalkannya padaku sejak aku kecil, mungkin dia tahu bahwa dia tak akan melihat diriku tumbuh, jika kau masih ragu, kau bisa memeriksa keasliannya, bukankah ada tanda yang tak bisa ditiru oleh siapapun?" tanya Rain yang seperti menantang Angga. Angga melihat ke arah para menteri istana yang menangani masalah keputusan kerajaan, mereka adalah para tetua yang dipilih secara khusus yang sangat mengerti tentang sisilah keluarga kerjaaan ini, mereka lah yang menentukan apakah seseorang layak menjadi anggota kerajaan atau tidak, bahkan keputusan merekalah yang menentukan seseorang menjadi Raja atau tidak, semua berdasarkan peraturan yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
"Maaf Yang Mulia, namun tanda itu asli, kami sudah memeriksanya berulang kali, dan bahkan pembuatnya lencana tersebut sudah menkonfirmasi bahwa memang Yang Mulia Raja Leonal pernah meminta untuk dibuatkan lencana tersebut, Beliau adalah Pewaris Tahta Kerajaan Winsdor yang sah," kata Kepala menteri istana menjelaskan hal itu pada Angga.
Angga yang mendengarkan penjelasan itu hanya menatap Rain yang tampak tersenyum menang, Angga hanya mengepalkan tangannya, Daihan yang tak mengerti hal ini hanya menatap Rain, sekilas saja tak suka dengan pria ini. suasana ruangan itu terlihat suram seketika.
"Aku ingin dilakukan Tes DNA untukmu, dan aku ingin dokterku yang memeriksanya," kata Angga melihat ke arah Rain.
"Baiklah, silakan saja," kata Rain dengan santai, dia kembali duduk dengan seenaknya, seolah sudah pasti istana itu miliknya, Angga yang melihat ke lakukan Rain itu hanya menggertakkan giginya.
Mereka tak menunggu lama, dokter yang dipanggil oleh Angga adalah kepala dokter yang menangani penyakit Suri, dokter itu segera masuk ke dalam istana, suasana tegang terasa sekali, dokter itu memberikan salam untuk Angga, Angga hanya membalasnya dengan anggukan dan dokter itu segera mendekati Rain yang langsung menggulung kemeja putihnya di atas sikunya, dia sudah beberapa kali melakukan tes DNA, hingga dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Dokter itu sedikit gemetar mengambil darah Rain, setelah di rasakan cukup dia segera menyimpan darah itu, berjalan mendekat ke arah Angga dan segera menganggukan kepala, Angga mengerti dan segera memberikan gestur agar dokter itu pergi, Angga lalu memanggil Asisten Lin.
__ADS_1