Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
304 - Gambaran Keluarga Bahagia


__ADS_3

"Ya, udaranya masih sangat dingin, kita bisa bicara di dalam," kata Ceyasa yang tampak ramah, tapi memang dia senang melihat ayahnya membawa Aurora pulang.


Aurora menginjakkan kakinya kembali ke anak-anak tangga menuju pintu utama istana itu, mereka segera langsung menuju ke ruang tengah yang masih kosong, orang-orang di istana utama itu masih terlelap.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau ada di sini? kalian tidak tidur bersama kan?" tanya Jofan yang baru sadar karena  melihat Archie yang sudah ada di sana pagi-pagi sekali, Ceyasa melirik Archie, wajah mereka seperti habis tertangkap basah sesaat. Aurora yang mendengar hal itu melirik suaminya, dia tersenyum hampir tertawa, Jofan sangat posesif ternyata.


"Tidak, tidak, aku tidak tidur dengannya, kami tidur di kamar masing-masing, Ceyasa meneleponku katanya paman akan datang," elak Archie yang tampak gugup, Jofan memicingkan matanya menatap Archie curiga, Archie hanya tersenyum kaku, sebenarnya Jofan tahu, dia tak mungkin bisa melarang mereka untuk berduaan, toh saat seumuran Archie, bahkan dia lebih liar, tapi karena itu dia tak ingin ada yang macam-macam dengan anak perempuannya ini.


Jofan lalu meninggalkan Archie namun tetap menatapnya, mereka segera duduk di ruang tengah itu, Jofan duduk di samping Aurora dan Jenny duduk di kursi tunggal yang ada di tengah, Archie setia menemani Ceyasa yang duduk di depan Jofan dan Aurora.


"Ada apa ini?" suara lembut Aurora terdengar mengawali pertemuan keluarga ini, matanya menatap Jofan dengan lembut namun juga bertanya.


"Jadi, Siena bukalah anak kandungku, dia diperintahkan orang yang ingin mencelakakan keluarga kita untuk berpura-pura menjadi anakku, kebakaran dan kecelakaan yang kau alami, itu adalah ulah dirinya, jadi aku harus menjauhkannya dari kalian dan memastikan kalian agar aman, karena itu aku menitipkanmu pada Liam selama aku pergi dari kalian, karena aku tahu, aku adalah target utama dari penjahat itu, dan selama aku tidak ada di samping kalian, kalian akan selamat," kata ujar Jofan melihat ke arah Aurora dengan perlahan menjelaskan.


"Jadi itu yang menjadi alasanmu pergi dari kami? bagaimana bisa ada orang yang ingin mencelakanmu?" kata Aurora kaget, Jofan hanya mengangguk perlahan, Jenny yang mendengar itu diam, benahkah?


"Pria itu salah menyangka bahwa aku adalah dalang pembunuhan ayah dan ibunya, sehingga dia ingin menghancurkan keluarga kita, membunuhku juga anakku, sehingga dia melakukan hal itu,  dia mengirim Siena agar aku bisa merasakan kehilangan kalian, Siena juga yang membunuh Sania,  mereka juga menculik anak kandungku, Ceyasa, " kata Jofan melirik Ceyasa, Aurora dan Jenny yang mendengar itu langsung melihat ke arah Ceyasa, Ceyasa hanya tersenyum cangung. Aurora menatap Ceyasa yang tampak sungkan, entah kenapa malah merasa lega mengetahui anak Jofan bukanlah Siena.


"Aurora, Jenny, kali ini aku ingin mengenalkan anakku lagi pada kalian, Semoga kalian bisa menerimanya," kata Jofan yang berdiri dan segera mendekati Ceyasa, menunjukkan Ceyasa pada Jenny dan Aurora yang masih tidak percaya. Pertemuan ini sebenarnya cukup canggung, Ceyasa berdiri di samping ayahnya, dia menggigit bibirnya, tak tahu apakah Aurora bisa menerimanya, bagaimana pun dia adalah anak dari wanita lain, dan Jenny yang terkenal cuek itu, apa dia bisa menerimanya menjadi sepupunya?


Aurora berdiri dari duduknya, dia lalu perlahan mendekati Ceyasa, melihat wajah Ceyasa yang ternyata mirip dengan Jofan, dia memegang pipi Ceyasa, tersenyum manis, lalu dengan lembutnya memeluknya, tentu dia bisa menerima Ceyasa, apalagi sebelumnya, wanita muda ini pernah menyelamatkannya, dia akan senang memiliki putri seperti Ceyasa.

__ADS_1


Ceyasa langsung terharu, dia memeluk Aurora, dia memang tak sempat untuk bertemu dengan ibu kandungnya, namun dia tak akan penah meminta lebih, memiliki ibu sambung seperti Aurora adalah hal yang paling baik yang bisa dia dapatkan. Archie juga berdiri merasa terharu dengan semua ini.


Jenny berdiri, melihat drama pagi-pagi seperti ini, dia menghela napas padahal baru saja dia sampai di negara ini, Jofan melihat ke arah Jenny, tampak wajah Jenny sedikit malas mengomentari, Jofan tak bisa berharap lebih, Jenny bisa tenang tanpa marah padanya atau mengatakan hal pedas pada Ceyasa, Jofan sudah bersyukur.


"Baiklah, sudah cukup," kata Jenny, membuat Aurora dan Ceyasa melepaskan pelukan mereka. Semua mata tertuju pada Jenny. Semuanya mengerutkan dahi mereka, "Jadi Ceyasa adalah anak paman yang asli dengan wanita itu.”


"Ya, " kata Jofan hati-hati.


"Dan, bukannya Ceyasa ini adalah istri Archie?" tanya Jenny dengan gayanya.


"Ya …. Kami akan menikah ulang," kata Archie yang dapat lirikan mata dari Jofan.


"Karena pamanmu mengajukan persyaratan itu agar bisa menerimaku," kata Archie melirik ke arah Jenny, baru kali ini ada yang menanyakan kenapa mereka harus menikah ulang.


"Paman jadi setuju dengan Archie?" tanya Jenny yang tahu benar pamannya tak pernah menyukai Archie dari dulu.


"Dengan sangat terpaksa," kata Jofan sekenanya saja, membuat Archie membesarkan matanya, bagaimana bisa ayah mertuanya itu mengatakan itu di depannya, "Ceyasa mencintainya, Archie juga mencintai Ceyasa, mereka saling mencintai, bagaimana aku bisa memisahkannya?" kata Jofan lagi sedikit tersenyum, memunculkan kejahilannya pagi-pagi begini, membuat Archie hampir saja kesal melihat calon mertuannya ini.


Aurora dan Ceyasa tertawa kecil melihat tingkah Jofan dan juga ekspresi Archie, Jenny mengamatinya keduanya.


"Ceyasa, bukannya kau wanita yang dulu menolong bibiku dari kebakaran? " kata Jenny lagi, dia ingat-ingat lupa tentang hal itu, karena banyak hal yang terjadi di sini yang sama sekali tidak dia pikirkan.

__ADS_1


"Benar, dia yang menolong bibi dari kebakaran," suara Jared tiba-tiba terdengar, dia baru saja masuk ke ruang tengah itu, dia diberi tahu tentang kedatangan pamannya, sedangkan Suri, dia biarkan melanjutkan tidurnya.


"Kakak!" kata Jenny menghambur mendekati kakaknya, sebuah pelukan hangat diberikan Jenny, ternyata dia merindukan kakaknya yang berbeda sifat 180 derajat darinya. Setelah lepas dari pelukan Jenny, Jared mendekati bibinya, Aurora memberikan pelukan hangat pada putra satu-satunya ini.


"Bagaimana kabar bibi? " tanya Jared lembut menatap Aurora.


"Baik-baik saja, bagaimana kabarmu dan Suri?" tanya Aurora.


"Kami baik-baik saja," kata Jared, dia lalu melihat pamannya, "Paman," katanya memberikan sedikit hormat, Jofan hanya mengangguk.


"Baiklah, sekarang seluruh keluarga sudah berkumpul, " kata Jofan senang, akhirnya keluarganya bisa benar-benar berkumpul, Aurora, Jared, Archie, Ceyasa tersenyum mendengarnya, hanya Jenny yang masih bersikap hati-hati.


Jofan melihat ke arah Jenny yang sedikit lebih jauh dari mereka, semua orang yang ada di sana melihat ke arah Jenny, Jenny masih belum bisa menerima hal ini, tapi bagaimana pun mereka adalah keluarga.


"Baiklah, karena kau sudah pernah menolong bibiku, aku rasa aku bisa mentolerir sedikit hal ini," kata Jenny yang segera mendekati keluarganya, Jared langsung merangkulnya dalam pelukannya, senyuman mengembang, Jofan menarik napas dalam, bersamaan dengan itu, seolah beban yang ada di dalam tubuhnya tercabut menghilang, keluarganya utuh kembali.


Archie melihat itu tersenyum, sungguh gambaran keluarga yang menyenangkan, Jofan melirik ke arah Archie, dia merentangkan tangannya memanggil Archie, Archie mengerutkan dahinya sambil menunjuk dirinya sendiri. Jofan mengangguk, Archie tersenyum, dia lalu mendekat, saat Archie sudah dalam jangkauannya, Jofan langsung menarik Archie mendekati mereka, bukannya dia juga sudah menjadi bagian dari keluargannya.


"Tetap kau tidak boleh macam-macam," kata Jofan memperingatkan Archie lagi, membuat Archie kembali mengangguk pasrah.


Semua yang mendengar itu tertawa, bahkan Jenny pun bisa tertawa mendengarnya, sebuah gambaran keluarga yang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2