
Ceyasa membuka matanya, tak disangka dia masih bisa tertidur di pojok ruangan yang lembab dan remang itu, dia terbangun kerena suara langkah kaki yang semakin lama semakin terdengan jelas.
Baju yang dikenakan oleh Ceyasa sudah hampir kering, namun terasa cukup lembab, Ceyasa tidak tahu sudah berapa lama dia ada di sana, apakah diluar siang atau tengah malam, tak ada satu pun di sana yang bisa memberitahunya, perutnya pun berulang kali berbunyi, merengek ingin minta di isi, namun bagaimana? dia tak punya makanan apapun di sana.
Suara langkah kaki itu terdengar makin jelas dan keras, Ceyasa kembali meringkuk, dari tadi Dia berusaha mencari sesutu untuk dijadikan sesuatu agar dia bisa melindungi dirinya, tapi ruangan itu sempit dan kosong, sangat kosong, bahkan tak ada apa-apa hanya dirinya yang ada di dalamnya.
Akhirnya langkah itu terhenti, Ceyasa melihat sosok yang datang menghampiri tempatnya, seorang wanita dengan dua penjaga, dia kira tadi itu Rain tak tahunya dia hanya melihat wanita ini, Ceyasa menatap wanita itu seksama, wajahnya tampak cantik terurus, tubuhnya kurus semampai, tampak sekali dia termasuk wanita dengan kedudukan tinggi, tapi mau apa dia dengan Ceyasa, apakah dia musuh atau dia teman? Pikir Ceyasa menatap wajah wanita itu dengan tajam sambil mengerutkan dahinya.
Pintu penjara itu dibukakan untuknya, wanita itu masuk dengan lenggoknya dan suara sepatu hak tinggi yang cukup nyaring terdengar di sana, dia lalu mengamati Ceyasa yang masih meringkuk namun kali ini tidak menunjukkan ketakutannya, toh dia tak kenal wanita ini. Penjaga mengunci pintajeruji besi itu lagi.
"Jadi kau orangnya," kata wanita itu, suaranya terdengar renyah menggema.
Ceyasa tak punya keinginan untuk membalas, orangnya apa? wanita ini tak berbicara dengan jelas, Ceyasa mengamatinya lagi, jika dia memukul wanita ini, mengambil sepatu hak tingginya dan menjadikannya senjata untuk melumpuhkan dua orang penjaga di belakangnya? akankah dia bisa selamat? Namun pikiran Ceyasa langsung menyadarkannya, bisa saja dia selamat di sini, namun untuk keluar dari sini tak mungkin hanya bermodalkan sepatu hak tingginya, di atas dia tak tahu apa yang ada di sana? Jangan-jangan ada singa yang besar menunggunya di luar pintu penjara ini, Rain kan orang yang sangat kejam, pikir Ceyasa lagi menganalisa.
"Hei! Kau tidak mendengarku! Kau tuli! Atau kau Bisu?!" tanya wanita itu marah pada Ceyasa, dia mencengkram dagu Ceyasa yang pandangannya teralih memikirkan jalan keluarnya. Ceyasa langsung mengerutkan dahinya, menatap wajah wanita itu. Kenapa harus begitu marah, Ceyasa tak punya masalah dengannya dan sebenarnya, dia tak merasa punya masalah apapun dengan semua orang di sini.
"Kau tahu, gara-gara obsesinya mencari gadis yang sudah membuat ibunya terbunuh, dia bahkan tidak melirik wanita mana pun, gara-gara gadis jelek dan tak punya apapun sepertimu, dia hanya menganggapku adik kecilnya! Dan beraninya kau menatapku seperti ini!" kata wanita itu mengebu-gebu, dia bahkan langsung menampar wajah Ceyasa dengan sangat keras, seolah dia sudah lama sekali ingin melakukan hal itu, tamparan itu segera membuat Ceyasa merasakan telinganya berdengung dan kepalanya sakit, namun dia tetap diam, menatap wanita itu tajam, sekali lagi, dia tak ingin buang-buang tenaganya yang tinggal sedikit hanya untuk melayani wanita yang cemburu buta ini, dia harus menghemat semua energinya untuk berpikir dan jika bisa kabur dari sini.
"Kau! masih berani menatapku seperti itu? penjaga siksa dia, cepat!" kata wanita itu histeris, seolah tidak puas dan sangat emosi menatap tatapan Ceyasa padanya.
__ADS_1
"Tapi Nona Lidia, Tuan Rain akan …. " kata penjaga itu.
"Aku yang akan bertanggung jawab, siksa dia, pukul dia sampai dia tak bisa lagi menatapku seperti itu, pukul tubuhnya, jangan wajah agar Kak Rain tidak tahu apa yang terjadi padanya," kata Lidia itu dengan tatapan bengis, Ceyasa tak habis pikir, kenapa ada wanita yang sama sekali tak memiliki rasa kasihan seperti wanita ini.
Penjaga pertama melayangkan pukulan ringan pada lengan Ceyasa, merasa sangat tidak enak menyiksa seorang wanita, mereka saling berpandangan, seolah tidak ada lagi yang ingin melakukannya, melihat itu Lidia tentu sangat marah.
"Berikan aku tali pinggangmu," kata Lidia geram.
"Tapi Nona," kata penjaga itu sedikit keberatan.
"Berikan atau aku katakan pada Kak Rain kau sudah mencoba berbuat tak senonoh padaku, kau tahu bagaimana dia memperlakukan seseorang yang begitu padaku bukan," kata Lidia dengan wajah bengisnya, penjaga itu menelan ludah, penjaga terakhir yang dilaporkan oleh Lidia harus rela menjadi makanan peliharaan Rain, dia tak akan mempertaruhkan hal itu.
"Ikat dia di jeruji besi dengan ikat pingangmu, biarkan dia berdiri," kata Lidia, penjaga itu langsung melakukan keinginan Lidia, menyeret Ceyasa yang tubuhnya sudah cukup lemah karena tak makan, Ceyasa mencoba berontak, bahkan menggigit tangan penjaga itu hingga berdarah, namun Lidia yang seperti iblis berbalut tubuh wanita cantik langsung marah, dia menarik rambut Ceyasa, menjambaknya dengan erat hingga Ceyasa melepaskan gigitannya pada tangan penjaga itu.
Ceyasa berteriak kesakitan karena rambutnya yang ditarik sangat keras, penjaga itu tak punya waktu untuk mengurusi tangannya yang memerah akibat gigitan Ceyasa, dan dengan cepat dia segera mengikat tangan Ceyasa cukup tinggi, membuat Ceyasa berdiri tegak karenanya, Ceyasa berdiri membelakangi Lidia dan para penjaga itu, Lidia yang melihat itu tersenyum sinis, seolah iblis baru saja masuk ke dalam tubuhnya, dengan wajah yang sangat begis dia tersenyum
"Kau berikan dia 10 kali cambukan," kata Lidia, dia menyerahkan ikat pinggang itu pada seorang penjaga, penjaga itu tampak ragu-ragu dalam mengambilnya, "lakukan yang keras."
Lidia mundur, membiarkan penjaganya mulai mencambukki tubuh Ceyasa, awalanya penjaga itu mencambuk Ceyasa dengan pelan, namun hal itu sudah cukup membuat membuat Ceyasa sedikit berteriak, merasa panas dan pedih di pungungnya.
__ADS_1
"Lebih keras," kata Lidia dengan emosinya. Penjaga yang mendengar itu sebenarnya enggan namun dia harus melakukannya lebih keras, Ceyasa berteriak.
"Lebih keras kau bodoh!" kata Lidia lagi membentak penjaganya itu. Penjaganya itu terdiam sejenak, tak mau melakukan hal ini, walaupun mereka kejam, namun tak pernah ingin menyiksa wanita seperti ini.
"Lakukan lebih keras atau seluruh keluargamu juga akan menganggung akibatnya," kata Lidia marah, penjaga itu terdiam, dia lalu mau tak mau harus melakukannya, cambukan keras yang sekali cabuk saja menyebabkan pendarahan di kulit putih Ceyasa untunglah tebasan keras itu hanya terjadi 3 kali, namun 3 pukulan terakhir itulah yang membuat darah merembes ke baju Ceyasa.
"Sudah Nona, dia bisa mati jika menadapatkan lebih dan Tuan Rain akan sangat marah, " kata penjaga itu sebenarnya juga emosi, dia langsung membuang ikat pinggang yang dipakainya untuk mencambuk Ceyasa, Lidia sebenarnya tidak puas, namun dia tidak bisa mengatakan apa-apa, benar kata penjaga itu, jika Ceyasa mati, bisa-bisa dia juga terkena masalah.
Ceyasa yang mendapatkan cambukan berteriak kesakitan, perih, nyeri, panas bersatu menjadi satu, cambukan itu terasa diseluruh tubuh belakangnya, bahkan hingga ke perut depannya, Ceyasa menahan sakit yang luar biasa, menangis menahannya.
Awalnya dia bisa berteriak, namun sakit yang luar biasa tak bisa dilukiskan itu membuatnya tak bisa lagi mengeluarkan apapun, belum lagi tubuhnya yang lemah, dia hanya bisa mengeluarkan air mata dengan matanya yang tampak sayu bahkan hampir tertutup, darah keluar membasahi tubuhnya, sesuai dengan tebasan tali pinggang yang Ceyasa terima, bahkan para penjaga yang melihat itu merasa ngilu membayangkan sakitnya tubuh Ceyasa, tampak di beberapa bagian, kulitnya tercabik karena itu.
Ceyasa tak habis pikir, seumur hidupunya dia tak pernah melakukan apapun, dia tak pernah menyakiti siapa pun, bahkan dia tak kenal dengan Rain maupun Lidia, Ceyasa hanya seorang anak yatim piatu, bagaimana dia bisa membunuh seseorang, Tuhan, belum cukupkah penderitaan? Ceyasa sudah melewati penderitaan batin, masih perlukah fisiknya juga dihukum? Apakah boleh dia berdoa sekarang? agar Tuhan berbaik hati dan mengambil nyawanya sekarang saja.
Tuhan, bolehkah Kau mencabut nyawaku sekarang? aku sudah tak tahan lagi, ucap Ceyasa dalam hatinya sambil meringis kesakitan.
Rasa sakit yang seolah membakar tubuhnya itu membuat Ceyasa yang tubuhnya memang sudah sangat lemah hanya bisa bergetar merasakan semuanya, sakit yang bahkan tak bisa lagi dilukisan oleh kata-kata, Ceyasa masih berusaha untuk berdiri, namun ternyata tubuhnya itu tak sanggup dan segera jatuh tak sadarkan diri.
Lidia yang melihat Ceyasa sudah tak sanggup lagi berdiri, akhirnya merasa cukup puas, itu yang akan didapatkan wanita yang berusaha untuk menghambil hati Rain, pikirnya.
__ADS_1
"Buka pintu, aku ingin kembali ke atas, jangan ada yang melaporkan hal ini pada Kak Rain, atau kalian tahu nasib kalian nantinya," kata Lidia sinis, penjaga langsung mengangguk, membukakan pintu penjara itu dan meninggalkan Ceyasa yang tak berdaya sendirian.