Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
64 - Kenapa Malah Membuat Khawatir?


__ADS_3

"Anda yakin ingin membeli rumah ini?" tanya Gerald sekali lagi.


Ceyasa mengangguk dengan semangat sambil tersenyum, rumah itu mengingatkannya akan rumahnya di desa.


"Baiklah, kalau ini keinginan Anda, kita akan ke sana sekarang," kata Gerald yang masih geleng-geleng kepala dengan pilihan Ceyasa, harganya bahkan tidak bisa membayar pajak bagunan jika saja Ceyasa memilih rumah di kawasan elit itu.


Mobil mereka masuk ke dalam sebuah jalan kecil yang cukup sepi, mereka segera keluar dari sana, Ceyasa dibantu oleh Gerald untuk duduk di kursi rodanya, setelah itu dia di dorong untuk masuk ke dalam rumah itu dan karena sudah menghubungi orang yang memasarkannya, mereka segera di sambut di sana.


Gerald mendorong kursi roda Ceyasa memasuki rumah itu, karena rumah itu sudah pernah di ditinggali sebelumnya, pasti keadaannya terlihat tidak sebagus yang baru, juga ada beberapa prabotan yang memang sengaja di tinggalkan dan di jual bersama rumah itu seperti lemari, sofa, dan juga tempat tidur, untungnya keadaanya masih sangat bagus, begitu masuk Ceyasa langsung merasakan kenyamanan ada di sana, setelah memeriksa semua keadaan rumah dan semuanya baik, Ceyasa langsung setuju dengan rumah itu.


"Bagaimana?" kata Gerald lagi yang merasa masih banyak rumah lain yang jauh lebih baik dari ini.


"Ya, aku mau yang ini," kata Ceyasa senang.


"Anda yakin?" kata Gerald lagi, apakah Ceyasa tidak berpikir, kalau dia bisa membeli rumah yang jauh lebih mahal dan menjadikannya investasi?


"Ya, yang ini saja," kata Ceyasa lagi dengan mantap, mau tak mau Gerald harus mengikutinya.


"Baiklah, kami ambil yang ini, saya minta nomor rekening Anda, saya akan membayarnya sekarang," kata Gerald pada pria setengah baya yang sepertinya pemilik rumah ini sebelumnya.


"Wah, terima kasih Nona sudah memilih rumah ini, saya tinggal tak jauh dari sini, jika Anda tinggal di sini saya pastikan Anda aman, jika ada apa-apa, Anda tinggal hubungi saya," kata pria itu pada Ceyasa.


"Sama-sama Tuan, terima kasih," kata Ceyasa tersenyum.


Setelah itu Gerald langsung melakukan transaksi dengan bapak itu, Ceyasa melihat ke arah rumah barunya, terasa hangat, benar-benar seperti sudah ada di rumah.


"Surat rumahnya akan di proses segera, akan berganti nama dengan nama Anda, Pangeran juga menyerahkan ini untuk Anda," kata Gerald menyerahkan buku tabungan dan juga ATM untuk Ceyasa.


"Apa ini?" kata Ceyasa kaget, apa lagi yang diberikan Archie untuknya.


"Uang pegangan Anda," kata Gerald lagi.

__ADS_1


"Ha?" kata Ceyasa kaget, dia lalu membuka buku tabungan itu, dan kaget melihat isi tabungannya yang bahkan angka nolnya  terlalu panjang di belakang, "ini untukku?" Ceyasa menyakinkan sekali lagi pada Gerald.


"Ya, kata Pangeran jika Anda tidak mau, Anda bisa memberikannya pada orang lain, " kata Gerald lagi, Ceyasa langsung berwajah masam.


"Dasar, aku suruh dia hemat, dia malah memberikan aku banyak hal, aku ingin menghubunginya, tolong telepon dia," kata Ceyasa kesal, dia tidak mau berhutang terlalu banyak pada Archie.


Gerald langsung mengambil ponselnya, segera menelepon Archie, dan setelah panggilan itu tersambung, dia segera memberikannya pada Ceyasa.


"Halo?" kata Archie.


"Kau ini apa-apaan sih? aku sudah setuju membiarkanmu membelikan aku rumah, kenapa masih di beri uang lagi?" tanya Ceyasa dengan suara kesalnya.


Archie dan Gerald yang mendengar kata-kata Ceyasa mengerutkan dahi, baru kali ini ada wanita tidak senang di beri rumah dan di beri uang begitu banyak.


"Ya, kalau tidak mau, berikan saja pada orang lain," kata Archie santai.


"Kau ini, benar-benar tidak sayang uang ya? menghambur-hamburkannya seperti ini," kata Ceyasa lagi.


"Dasar, kau pikir semua bisa di beli dengan uang, begini-begini aku tulis membantumu," ujar Ceyasa yang masih dengan nada kesal.


"Baiklah, terserah kau mau mengambilnya atau tidak, tapi setelah ini aku tidak akan memberikan apapun lagi padamu," Archie berhenti sejenak, mempersiapkan diri untuk mengatakan hal selanjutnya, "setelah ini sepertinya kita akan putus hubungan, aku harap kau akan bertindak seperti kita tidak pernah bertemu atau mengenal sama sekali, jadi semua ini adalah bentuk tanggung jawabku padamu."


"Oh, jadi ini semua uang tutup mulut agar aku tidak mengatakan pada siapa-siapa kalau aku mengenal pangeran tidak tahu malu seperti mu?"


"Anggap saja begitu, yang penting aku sudah bertanggung jawab, mulai sekarang kita tidak pernah akan bertemu lagi dan memang tidak pernah bertemu," kata Archie, dia sedikit merasa aneh mengatakan hal ini pada Ceyasa.


"Baiklah," kata Ceyasa cepat, namun dia langsung terdiam, merasa ada sedikit yang hilang ketika menyetujui hal ini.


"Ehm, ya sudah, ini terakhir kalinya aku berbicara padamu, hati-hati tinggal di sini, kau harus cepat belajar, satu lagi, jangan terlalu galak, tidak semua orang bisa kau marahi," kata Archie memberikan nasehat terakhir.


"Iya aku tahu, baiklah, terima kasih," kata Ceyasa lagi.

__ADS_1


Archie terdiam, sedikit merasa tidak rela kerena harus diakuinya selama beberapa minggu ini harinya ramai dan penuh dengan celotehan dan kekesalan dari Ceyasa, sepertinya dia akan merindukan hal itu dari Ceyasa.


"Sama-sama, selamat tinggal," kata Archie, Ceyasa yang mendengarnya cukup membuat hatinya sakit. Setiap saat, hal yang paling di benci oleh Ceyasa adalah perpisahan, lebih baik tak pernah bertemu jika harus berpisah seperti ini.


"Selamat tinggal," balas Ceyasa cepat dan segera menyerahkan ponsel Gerald kepadanya, Ceyasa mengulas senyum terpaksa.


Ya, mungkin lebih baik begini, jika ada yang tahu Pangeran dan rakyat jelata saling berhubungan, hal ini akan menjadi hal yang aneh dan menggemparkan, Ceyasa melihat ke arah rumahnya sekali lagi, mencoba mencari kesenangan yang tadi dirasakannya namun sama sekali tidak menemukannya.


"Halo?" kata Gerald yang menyambung sambungan telepon tadi.


"Sudah mendapat rumah untuknya?" tanya Archie lagi memastikan.


"Ya, tapi …. " kata Gerald bingung menjelaskannya pada Archie.


"Tapi kenapa? di mana rumah yang kau belikan? Royal palace? Atau Royal garden?" tanya Archie lagi.


"Tidak keduanya, dia menolak menerima rumah di sana," kata Gerald lagi.


"Jadi? Di mana dia membeli rumah?" tanya Archie kaget, dia sampai menegakkan pungunggnya.


"Di kawasan barat, dekat dengan areal rumahku, dan rumahnya juga bukan rumah baru, hanya rumah kecil bekas huni, tapi dia benar-benar menyukainya, sekarang bahkan dia sudah mengelilinginya," kata Gerald yang melihat Ceyasa mulai berdiri dan sepertinya mengamati setiap sudut rumah barunya.


Archie mendengarkan itu segera mengerutkan dahi, kenapa membeli rumah seperti itu? kenapa sekarang malah dia tidak tenang? harusnya dia belikan saja rumah dan menyerahkannya pada Ceyasa, mau tak mau dia pasti akan menempatinya.


"Pasang CCTV di sudut-sudut tempat yang tidak terlihat dari rumah itu, juga di bagian luarnya, perintahkan beberapa penjaga untuk menjaga rumah itu tapi lakukan secara diam-diam, aku sudah mengatakan aku tidak akan memberikan apa pun lagi padanya," kata Archie memijat keningnya, kenapa dia malah cemas Ceyasa tinggal di sana sendirian? ini bukan desa, apalagi sekaranh Ceyasa tinggal di tempat yang keamanannya belum terjamin.


"Baiklah, aku akan melakukannya besok, penjaga akan segara aku perintahkan," kata Gerald lagi, Archie segera mematikan panggilannya.


Awalnya dia kira dia bisa dengan mudah tidak lagi berhubungan dengan Ceyasa, namun jika begini, dia tidak bisa tidak memantau bagaimana keadaan wanita itu.


Ah! gadis aneh itu, kenapa sih harus membuat dia khawatir seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2