Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
136 - (C-A) Izinkan aku pulang.


__ADS_3

Ceyasa memasang wajah masamnya, cemberut, terduduk di sofa besar yang bahkan hampir menelan tubuh kecilnya, tangannya dilipatnya di depan dadanya, semenjak dia tiba di rumah Archie di East Park, dia hanya duduk dengan muka cemberutnya itu.


Archie keluar dari kamarnya menuju ruang tengah, dia baru saja selesai mandi, dengan pakaian santainya dan rambutnya yang jatuh ke bawah karena masih basah dia langsung melirik ke arah Ceyasa yang masih saja bermuka yang tak enak dilihat.


"Kenapa mukamu seperti itu?" kata Archie yang tak senang melihat wajah Ceyasa seperti itu, Ceyasa hanya melirik Archie.


"Aku mau pulang," kata Ceyasa lagi dengan suara merajuk.


Archie diam, sedikit memasang wajah masamnya, tak tahu bagaimana lagi harus mengatakan pada wanita keras kepala ini kalau posisinya sekarang berbahaya, berbahaya baginya juga bagi Archie.


"Tidak," kata Archie singkat saja, sudah terlalu lelah untuk menjelaskan apa lagi bertengkar dengan Ceyasa.


"Ayolah, aku akan bersikap baik, dan aku pastikan Rain tidak tahu tentang hubungan kita, aku mohon," kata Ceyasa akhirnya berdiri dan memasang wajah memelasnya.


"Tidak," kata Archie lagi,.


Ceyasa langsung melotot dan mengembungkan pipinya membuat Archie mengerutkan wajahnya, memandang ngeri ke arah wajah Ceyasa.


"Pangeran, Tuan Jeremiah sudah menunggu Anda untuk confrense," kata Gerald lagi, membuat Archie segera meninggalkan Ceyasa yang masih menatapnya dengan mata melotot dan juga bercagak pinggang.


"Nona Ceyasa, mari saya antar Anda ke  kamar Anda," kata Gerald sedikit bersikap sopan dengan Ceyasa. Ceyasa langsung membuang napas kecewanya, sepertinya dia memang harus menginap di sini malam ini, mudah-mudahan besok pria itu berubah pikiran dan mengizinkannya keluar dari sini besok pagi.


Gerald lalu mengantar Ceyasa menyusuri rumah yang tentu saja tak kalah dengan rumah Rain, Ceyasa mengerutkan dahi, kenapa orang kota suka sekali memiliki rumah yang sangat megah dan lebar seperti ini, padahal mereka hanya tinggal sendirian, apakah dalam sehari mereka bisa mengitari rumah mereka ini? pikir Ceyasa menganalisa rumah Archie yang bergaya American klasik, membuat rumah itu terasa hangat.


Gerald lalu berhenti di salah satu ruangan, dengan pintu yang cukup besar, di depannya seorang wanita bergaya formal berdiri, dia langsung memberikan salam untuk Ceyasa dengan menundukkan sebentar kepalanya.

__ADS_1


"Nona Ceyasa, perkenalkan, ini Lusy, dia akan menjadi pelayan pribadi Anda selama Anda ada di sini atau pun di luar, " kata Gerald.


"Oh, benarkah? ehm, untuk apa aku memiliki pelayan pribadi, aku kan tidak bekerja seperti Archie," kata Ceyasa yang merasa untuk apa dia memiliki pelayan pribadi, dia terbiasa mengurus dirinya sendiri.


"Seorang istri pangeran, otomatis menjadi seorang putri, hanya saja Anda belum menikah secara kerajaan dengan pangeran, jadi saya tidak bisa memanggil Anda putri, namun hak Anda dan peraturan kerajaan sudah berlaku di sini, Saya sebagai  Asisten pribadi Pangeran Archie sejak saat ini tidak boleh lagi mengurusi hal-hal Anda, karena itu Anda akan mendapatkan pelayan pribadi untuk mengurusi semua keperluan Anda," kata Gerald menjelaskan pada Ceyasa.


Ceyasa sedikit mengangguk-angguk, mencoba mengerti apa yang dikatakan oleh Gerald, walaupun dia sebenarnya sedikit merasa lucu dengan ucapan Gerald yang rasanya terlalu formal baginya.


"Baiklah, Nona Ceyasa, ini adalah nomor baru untuk handphone Anda, " kata Gerald menyerahkan sebuah chip kecil untuk Ceyasa, Ceyasa langsung tampak berbinar melihatnya, tadi saat mereka menuju ke rumah ini, Gerald meminta ponselnya dan lalu membuat kartu yang ada di dalamnya, Ceyasa kaget melihatnya, namun dia tidak bisa melakukan apapun, Gerald mengatakan itu agar tidak ada yang tahu kemana Ceyasa pergi.


"Terima kasih," kata Ceyasa sumringah.


"Sama-sama Nona, saya permisi dulu," kata Gerald dengan gayanya yang masih formal, mengangguk sebentar pada Lusy, lalu segera pergi dari sana.


Ceyasa langsung masuk dan kaget melihat ke dalam ruangan tidurnya yang bergaya klasik itu, dengan nuansa emas, marun, dan perak, memiliki 2 lampu gantung mewah,  dan gorden-gorden besar campuran warna emas, beludru marun terlihat di atas ranjangnnya yang mewah dengan ukiran-ukiran yang bahkan membuat Ceyasa sampai tercengang, benar-benar bagaikan tempat tidur seorang putri yang ada dalam negeri dongeng, di depannya terdapat sofa mewah dengan meja bulat dari kayu, lantai marmernya  berwarna gading, benar-benar membuat kamar itu bagaikan sebuah kamar dalam istana dongeng.


"Ini kamarku?" kata Ceyasa tak percaya.


"Ya, ini kamar Anda Nona," kata Lusy sedikit tersenyum melihat wajah tak percaya dan tajub dari Ceyasa, benar-benar membuatnya hingga ternganga. Dia tak tahu lagi bagaimana bentuk kamar Archie, jika kamarnya saja seperti ini.


"Jika aku tidur di kamar seluas ini, aku rasa aku akan ketakutan," kata Ceyasa asal saja yang masih tercengang oleh keindahan kamarnya.


"Anda bisa memanggil saya jika Anda nantinya takut untuk tidur malam," kata Lusy segera, menjalankan tugasnya sebagai pelayan pribadi.


"Benarkah? kau akan tidur denganku?" kata Ceyasa yang senang, setidaknya dia tidak perlu tidur sendiri di ranjang yang luasnya minta ampun itu.

__ADS_1


"Maaf Nona, saya hanya pelayan, saya tidak boleh tidur di ruangan Anda, namun saya bisa menemani Anda hingga Anda tertidur kembali," kata Lusy sedikit tersenyum.


"Oh," kata Ceyasa yang melirik ke arah Lusy.


"Apakah Anda ingin membersihkan diri?" tanya Lusy lagi.


"Ya, tapi aku belum punya baju ganti di sini," kata Ceyasa.


"Kami sudah menyiapkannya, maaf jika Anda tidak menyukainya, karena semua ini disiapkan dengan sangat buru-buru, jika Anda ingin saya membelikan yang lain, katakan saja pada saya Nona, saya akan membelikannya untuk Anda," kata Lusy segera membuka lemari baju bergaya klasik berukir penuh dengan lapisan warna emas mengkilap.


Ceyasa mengerutkan dahi, apa semua pria disini jika mengajak seseorang menginap di rumahnya selalu membelikan seluruh perlengkapannya? Bukannya ini pemborosan, pikir Ceyasa yang sudah tak kaget lagi, sudah memiliki pengalaman saat dia di rumah Rain dulu.


"Handukku sudah ada di kamar mandi bukan? di mana kamar mandinya?" kata Ceyasa lagi, sudah mengerti.


"Benar, disebelah sini Nona, " kata Lusy membukakan pintu yang bersebelahan dengan lemarinya, Ceyasa sedikit mengintip ke dalam kamar mandi yang tak kalah megahnya dari kamarnya.


"Setelah ini aku harus keluar dari pintu ini lagi atau ada pintu ke ruangan lain yang harus aku masuki? " tanya Ceyasa yang masih ingat pengalamannya di rumah Rain, kalau di sana dia harus keluar dari pintu lain untuk masuk ke ruang gantinya.


"Tidak, Anda bisa keluar dari pintu ini lagi dan saya akan menunggu di luar, jika Anda perlu sesuatu, Anda tinggal memanggil saya, " kata Lusy hangat, tak semenakutkan dikelilingi 4 pelayan di rumah Rain.


"Baiklah, terima kasih Lusy, " kata Ceyasa lagi.


Ceyasa langsung masuk ke dalam kamar mandi yang sangat luas itu, dia segera membersihkan dirinya, tidak biasa untuk berendam jadi dia bisa cepat meneyelesaikan mandinya, dia bahkan bingung memilih begitu banyak peralatan mandi yang disediakan di sana, jadi dia mengambil yang menurutnya paling dia suka wanginya.


Ceyasa mengeringkan rambutnya yang basah, melilitkan handuk tebal di atas kepalanya, setelah mengeringkan tubuhnya dia lalu memakai jas mandinya yang terbal berwarna putih, dia lansgung membuka pintu kamarnya, mengelap sedikit kakinya yang masih basah baru melihat keadaan kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2