
Jared baru masuk ke dalam ruang lukis untuk menemui istrinya yang memang mengatakan ingin melanjutkan karyanya yang tertunda, sebenarnya tadi pagi dia sudah pergi ke perusahaan untuk membereskan berapa pekerjaan, setelah semuanya selesai dia langsung pulang karena ada yang harus dia katakan pada Suri, dia merasa hal ini harus dikatakan secepatnya karena bagaimana pun setiap saat keadaan Suri bisa saja memburuk. Ruangan yang hampir seluruhnya berisi lukisan karya Suri itu tampak indah.
Langkah Jared pelan dan perlahan, tak ingin mengagetkan istrinya, dia mengamati tubuh istrinya yang sibuk dengan lukisannya, menggunakan baju yang sering dia gunakan saat melukis, sebuah kaos putih dengan celana kodok jeans, rambutnya yang panjang dia ikat cepol ke atas dengan sedikit tambahan bando kain yang membuat penampilannya semakin cantik.
Merasa ada yang sedang berjalan di belakangnya, Suri lalu memutar kepalanya, melihat sosok Jared yang tampak terhenti, Suri lalu tersenyum kaget, bukannya Jared ada di perusahaan, kenapa tiba-tiba ada di sini?
"Sudah pulang? kenapa begitu pagi? " tanya Suri yang kaget, tidak menyangka Jared pulang sekarang, dia hanya 2 jam di perusahaannya.
"Ya, pekerjaanku di sana sudah selesai, jadi aku putuskan untuk kembali ke sini menemanimu," kata Jared mendekat, melihat lukisan yang dibuat istrinya belum selesai sepenuhnya, namun sudah tampak gambaran yang tertoreh di sana, sebuah gambar langit yang indah dengan sebuah pohon ramping berdaun kuning yang kontras sekali dengan biru bercampur putih langit itu.
"Ini belum selesai," kata Suri yang melihat Jared memperhatikan lukisannya.
"Sudah terlihat indah," kata Jared dengan senyumannya, Suri mengerutkan dahinya, Jared sekarang sudah berubah, lebih banyak tersenyum dari pada saat mereka dulu. Jared melihat ke arah sekelilingnya, meresa inilah saatnya yang tepat baginya berbicara dengan Suri, tempat ini juga tepat.
Jared mengubah posisinya, dia lalu berlutut satu kaki di depan Suri, tangannya menggenggam tangan Suri dengan penuh kelembutan, melihat hal ini Suri pasti kaget, kenapa Jared seperti ini.
"Kenapa kau seperti ini? kau ingin melamarku lagi?" tanya Suri tertawa kecil, memandang Jared yang juga memandangnya dengan tatapan sendu. Jared mengulum senyumnya melihat wajah ceria Suri yang tak tega dia hapuskan, namun dia harus melakukannya.
"Ada yang ingin aku katakan padamu," kata Jared lembut, Suri mengerutkan dahinya lebih dalam, namun senyumannya masih terlihat menghiasi sudut bibirnya.
"Baiklah, tapi kita pindah tempat saja, akan sangat tidak nyaman jika berbicara di sini," kata Suri yang memperhatikan posisi Jared yang sekarang lebih rendah darinya.
"Tidak apa-apa, di sini saja," kata Jared yang tampak mulai serius, dia takut jika mereka berpindah tempat lagi, dia tidak akan sanggup untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan?" kata Suri mencoba untuk mendengarkan suaminya dengan seksama.
Jared kembali memandang mata indah Suri, menarik napasnya yang terasa sangat berat, berat sekali seolah dia tidak menghirup apapun di sana, melihat gelagat Jared, Suri merasa ada yang tidak beres, sepertinya ada hal serius yang ingin di katakan oleh Jared.
"Suri …. " kata Jared yang menjelaskan tentang semuanya perlahan dan lembut walaupun sangat berat untuk dia ucapkan, hal ini semakin berat ketika perlahan-perlahan Jared bisa melihat perubahan wajah Suri, senyuman manisnya itu pupus perlahan berganti dengan wajah tak percaya, Suri hanya terdiam mendengarkan semua kata-kata Jared, hanya matanya yang tampak menggambarkan bertapa kaget dan syoknya dia mendengar semua itu, perlahan matanya yang tadi cerah tampak meredup, air matanya menutupi pandangannya tampak berkaca-kaca, dia masih tidak percaya apa yang terlontar dari mulut Jared, bagaimana bisa? bagaimana bisa dia mengalami hal itu?
Jared mengetatkan genggamannya pada tangan Suri setelah dia selesai mengatakan semuanya, menatap air mata yang lolos begitu saja dari mata indah istrinya, dengan cepat Jared menghapusnya, namun Suri hanya diam saja, seolah kehilangan semua keceriaanya seketika.
"Suri, kita akan melewati ini semua bersama," kata Jered dengan nada begitu lembut, membuat Suri menatap suaminya. Bola matanya tampak bergerak-gerak liar, mencoba mencari sesuatu untuk bisa menyakinkannya ini hanya mimpi dan yang dia dengar dari Jared tak nyata.
Melihat Jared yang mendekatinya, Suri terdiam, air matanya sudah banjir membasahi wajah cantiknya.
"Tidak, tidak, dokter itu mungkin salah, Jared, aku sehat-sehat saja, lihatlah," kata Suri yang melihat tubuhnya sendiri sambil menangis tersedu, tidak mungkin dia terkena penyakit begitu parahnya, padahal selama ini dia merasa baik-baik saja. Dia bangun dengan keadaan baik, dia punya semangat, beberapa menit yang lalu hidupnya sempurna, sangat sempurna hingga hancur begitu saja karena mendengar hal ini dari Jared, tidak mungkin, sepertinya ini semua memang hanya mimpi.
Jared menggigit bibir dalamnya, melihat Suri yang tampak frustasi, Jared benar-benar tak tega, dia lalu segera menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya, matanya dari tadi perih menahan tangis yang ternyata pecah saat dia memeluk Suri yang menangis tersedu di dalam pelukannya, dia memeluknya erat sekali, tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Suri. Tidak! Suri harus bertahan, dia harus sembuh, apapun akan dilakukannya agar Suri bisa bertahan, apapun ….
__ADS_1
Jared terus memeluk Suri hingga Suri akhirnya berhasil sedikit tenang, Jared mengendurkan pelukannya untuk melihat bagaimana keadaan istrinya ini, dia bisa melihat wajah sembab dan lembab dari Suri, matanya memerah, pipinya dan hidungnya juga, raut wajahnya masih sangat sedih, namun dia sudah tak sehisteris tadi.
Mata Suri melihat wajah suaminya, membuat dia kembali menangis, Jared kembali mengetatkan pelukannya, membiarkan Suri untuk menangis sepuasnya, namun Suri sedikit mendorong tubuhnya, mengurai pelukan Jared, dengan kasar tangan Suri mengusap wajahnya.
"Aku ingin bertemu dengan dokter yang menangani penyakitku," kata Suri sedikit bergetar namun terdengar tegas.
"Baiklah, aku akan membawamu bertemu dengannya sekarang," kata Jared berbisik pelan pada istrinya, tangannya memegang kedua pipi Suri, membuat kedua bola mata Suri menatap mata Jared yang terlihat basah, "Kau tidak akan apa-apa, percayalah padaku, aku akan selalu ada untukmu, apapun aku akan lakukan untuk menyembuhkanmu, percayalah," kata Jared lembut untuk menyakinkan dan menenangkan Suri. Suri mendengar itu kembali terpancing tangisnya namun dia mencoba menahannya, menarik udara dari hidungnya yang berair. Sekali lagi, Jared menariknya dalam pelukan hangat nan erat, kali ini Suri pun membalas pelukan Jared, namun tak lama melepaskan diri dari pelukan Jared.
Suri menatap Suri, dia sedikit memberikan senyuman terpaksanya, walaupun seperti itu terlihat begitu cantik.
"Kita akan baik-baik saja," kata Jared lagi mencoba memberi semangat terus menerus pada istrinya.
"Ya," kata Suri yang menyeka matanya yang masih terasa basah, dia mengangguk-angguk kecil.
"Sekarang kita turun, kau harus bersiap agar kita bisa menemui dokter itu segera, Suri, percayalah, kita akan baik-baik saja," kata Jared lagi, Suri hanya menangguk, Jared menggenggam tangan Suri dengan hangat, membimbingnya berjalan keluar menuju ke kamar mereka.
__ADS_1
Jared menatap Suri yang hilang di balik pintu kamar mandi mereka, menarik napas begitu dalam dan cepat menghembuskannya, walaupun sudah dikatakannya tapi entah kenapa beban itu tetap terasa sangat berat, ‘Kita tidak akan apa-apa’ kata itu terngiang lagi di pikirannya,namun sejujurnya hatinya ragu akan hal itu, dia cepat-cepat menepis perasaannya, mengambil ponselnya lalu membuat panggilan ke dokter untuk memberitahu bahwa mereka akan datang untuk menemuinya sekarang.