Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
129 - Jangan Mematahkan Hati kakakku lagi (Suri-Jared).


__ADS_3

"Aku ingat ayahku menepuk pundakku, dan berjongkok di depanku, mengatakan, 'Jaga adikmu selama ayah dan ibu tak ada, Ok, buddy! dan ibuku melambaikan tangannya pada kami, saat itu aku benar-benar masih marah, bahkan lambaiannya saja tak ku balas, tak ku sangka, itu adalah kali terakhir aku melihat mereka, bahkan jasad mereka pun tak bisa aku lihat karena mereka bilang akan sangat mengganggu psikisku, sejak saat itu, aku benar-benar belajar, kapanpun kita bisa kehilangan orang-orang yang sangat penting dalam hidup kita, tak peduli saat itu kau sedang apa, marah, sedih, senang, semua bisa hilang begitu saja," kata Jared dengan suaranya yang mulai serak, tak berani menatap Suri karena matanya yang mulai memerah dan berair mengingat momen-momen terakhir ayah dan ibunya.


Suri mendengar hal itu merasa kesedihan yang dirasakan oleh Jared, pria ini harus merasakan pelajaran hidup di usianya yang begitu muda


"Sejak saat itu, aku berjanji dalam hidupku, bagaimana pun aku marah, bagaimana pun perasaanku, aku akan tetap membuat setiap detik bersama orang-orang yang aku sayangi menjadi momen yang terbaik bagiku dan dia, menjaga mereka sebisanya, membuat mereka bahagia, karena aku tak ingin lagi kehilangan lagi sebelum aku bisa mengatakan betapa aku meyanyangi mereka," kata Jared menatap Suri dengan napas sedikit tertahan, matanya yang tajam itu menatap lurus ke mata Suri yang langsung menusuk perasaan Suri membuat Suri bisa merasakan betapa sakit dan pilunya hati  Jared. Saat Jared mengatakan hal itu, dia meremas lembut tangan Suri.


Suri nampak berkaca-kaca melihat mata Jared yang memerah dan basah, sebisa mungkin menahan tangisnya, dibalik pria yang selalu tampak dingin dan tegar ini, ada sesosok pria yang ternyata begitu rapuh.


Suri mengarahkan tangannya pada pipi Jared, mencoba untuk mengatakan bahwa dia mengerti perasaan Jared, Jared tersenyum sedikit. Lalu menghapus air matanya yang basah dengan kedua tangannya, melepaskan sejenak genggaman tangannya pada Suri.


"Bibiku sudah seperti ibuku, aku hanya berharap aku tidak merasakan kehilangan dia dengan jalan seperti ini," kata Jared dengan suara seraknya, melirik ke arah Aurora yang masih tak ada reaksi apapun.


"Aku yakin bibimu tidak apa-apa, dia akan berjuang, dia wanita yang sangat tangguh," kata Suri dengan suara halus menenangkan.


"Ya, dia wanita yang sangat hebat, maafkan aku, kau di sini untuk melihat bibiku, tapi aku malah seperti ini, maafkan aku," kata Jared lagi.


"Tidak apa-apa," kata Suri lagi tersenyum pada Jared


Tiba-tiba pintu kaca tempat mereka tadi masuk diketuk oleh seseorang, Jared dan Suri sedikit kaget karenanya, namun mereka segera pergi ke arah pintu kaca itu, Jared melihat Liam berdiri di sana, Jared langsung membuka pintu itu dan keluar dari sana dengan Suri.


Liam memperhatikan Jared dan Suri yang keluar beriringan, dia lalu memberikan senyuman ciri khasnya.


"Bagaimana dengan keadaannya?" suara Liam terdengar sedikit berat.


"Masih seperti tadi Paman, oh, perkenalkan, ini Suri," kata Jared memperkenalkan Suri pada Liam, Liam sekali lagi melirik ke arah Suri.

__ADS_1


"Oh, ya, Saya Liam," kata Liam dengan senyumnya.


"Paman Liam yang memiliki rumah sakit ini, dia teman dekat bibiku," kata Jared lagi.


"Paman," kata Suri mencoba untuk sopan pada Liam.


"Kalian pasangan yang cocok," kata Liam tersenyum, mengutarakan apa pendapatnya melihat Jared dan Suri yang tampak dekat bersama, Jared dan Suri tampak sama-sama tak bisa membalas perkataan Liam, hanya sedikit terlihat canggung.


"Tuan," kata  Asisten  Liam yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.


"Ada apa?" tanya Liam melihat ke arah  Asistennya.


"Tuan Jofan ingin melihat keadaan Nyonya Aurora, Beliau sudah menunggu di bawah," kata  Asisten Liam langsung memberitahukan kedatangan Jofan.


Jared yang mendengar itu sedikit kaget, akhirnya pamannya datang juga.


"Aku juga akan menemuinya," kata Liam, membuat Jared sedikit melihat ke arahnya, Jared tak bisa melarang, bagaimana pun seluruh fasilitas ini adalah milik Liam.


"Baiklah, aku akan mengatakan bahwa Anda akan segera menemui beliau," ujar Asisten Liam memberikan salam lalu keluar dari sana.


Jared segera melepas baju khususnya, disempatkannya sejenak membantu Suri untuk melepaskan baju khusus itu, setelah mereka selesai, mereka bertiga segera keluar dari ruangan itu.


"Tunggu dulu di sini bersama Jenny, aku akan segera kembali," ujar Jared pada Suri.


"Baiklah," kata Suri patuh sambil melihat Jared dan Liam pergi menuju ke arah lift. Dia lalu menatap Jenny yang masih saja sibuk dengan majalahnya. Suri sedikit canggung melihat Jenny, jadi dia putuskan untuk duduk saja di sofa yang jaraknya tak terlalu dekat dengan Jenny.

__ADS_1


"Katakan padaku, sejak kapan kau bersama kakakku?" kata Jenny tiba-tiba begitu Suri duduk di sofa itu, tentu mendengar itu Suri langsung kaget, diantara keheningan tiba-tiba saja Jenny langsung bertanya itu.


"Ehm, kami …. " kata Suri bingung harus mengatakan apa, dikatakan mereka bersama tapi belum ada kejelasan yang pasti.


"Jangan katakan kalian hanya bersahabat atau apalah itu, karena aku kenal kakakku, dia orang yang paling tidak suka bergandengan tangan, bahkan padaku saja dia tidak pernah begitu, sejak kapan kalian bersama?" kata Jenny memandang Suri tajam, nada bicaranya seolah mengintrogasi.


"Tidak, kami belum ada hubunga apa-apa, hanya saja dekat," kata Suri lagi.


"Aku harap kau tidak lagi mematahkan hatinya seperti dulu kau memilih Archie dari pada dia, kau tahu bahkan sudah berapa wanita yang aku kenalkan padanya, tapi dia masih saja patah hati karenamu, aku tidak akan memaaafkanmu jika kau melakukan itu," kata Jenny duduk mendekat pada Suri, Suri yang melihat tingkah Jenny itu merasa sedikit terintimidasi karena hal itu, tapi yang sekarang dipikirkannya adalah kapan dia mematahkan hati Jared? dia bahkan tak tahu kalau Jared menyukainya.


"Maksudmu mematahkan hatinya?" kata Suri mengerutkan dahinya.


"Masa kau lupa? kakakku pernah mengirimkanmu sebuah surat beberapa hari sebelum kami pergi ke luar negeri, mengatakan bahwa dia menyukaimu, dia mengatakan dia harus pindah dan jika kau juga menyukainya, kau akan menemuinya di taman belakang istanamu, dia menunggumu 1 malaman hingga esok harinya dia jatuh sakit, masa kau tidak ingat, kau tidak datang ke sana, sejak itu jujur saja aku tidak menyukaimu, tapi karena pamanku bersikeras untuk menjodohkamu dengan kakakku, aku harus menerimamu," kata Jenny melirik ke arah Suri, sudah begitu lama dia tak lagi berbicara dengan Suri sejak kejadian itu.


Suri mendengarkannya dengan seksama, surat? Pernyataan cinta? Dari Jared? dia tak pernah sekalipun mendapatkan surat itu.


"Surat?" kata Suri lagi dengan wajah yang bertanya-tanya, membuat Jenny cukup geram, dia benar-benar tak tahu atau pura-pura tidak tahu.


"Iya, yang kakakku selipkan dibawah pintu kamarmu? Masa kau tidak tahu? Karena itu kakakku harus sakit seminggu dan juga dia menjadi begitu dingin dengan wanita, kau memilih untuk bersama Archie, aku lihat kalian menghabiskan waktu bersama di kamar william, kau ingat, yang aku datang dan memarahimu dan menumpahkan susu di bajumu! Masa kau tak ingat itu?" kata Jenny seperti biasa mengebu-gebu.


Pikiran Suri terbang ke saat yang dijelaskan oleh Jenny, dia ingat hari itu dia memang manghabiskan waktu bersama dengan Archie dan William di kamar William karena Archie mengajaknya bermain game di sana dan tiba-tiba saja Jenny datang lalu menuangkan susu panas ke baju, lalu pergi begitu saja, membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu kaget, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan surat apa pun dari Jared, apa jangan-jangan….


"Benarkah dia memberikan aku surat itu?" kata Suri lagi.


"Ya! aku saksinya, dia menulis surat itu begitu lama, dan bahkan dia hampir tak jadi menyerahkannya, kalau bukan karena aku mendorongnya untuk tetap memberikan itu, dia tidak akan memberikannya, tapi sekarang itulah yang paling aku sesalkan, kali ini jangan main-main kakakku, sekarang aku tidak akan menumpahkan susu di bajumu lagi, aku sudah bisa berkelahi denganmu jika kau sampai mempermainkan dia lagi," Ancam Jenny lagi pada Suri. Namun Suri seperti tidak mendengarnya, tampak berpikir panjang.

__ADS_1


"Terima kasih, " kata Suri langsung menatap Jenny dengan serius.


Jenny terkaget, dia sedang mengancamnya, tapi kenapa wanita ini malah mengucapkan terima kasih padanya? Tapi Jenny hanya mengangguk menatap aneh pada Suri. Ah, yang penting sudah mengatakan untuk tidak lagi membuat kakaknya sakit hati.


__ADS_2