
Ceyasa menghela napasnya panjang, meringkuk di sudut ranjang, memegangi perutnya yang sudah entah berapa kali bergetar karena dia menahan laparnya. Dia bukan tidak diberi makan, dari tadi makan sudah di antarkan, wanginya pun sangat menyelerakan, tapi Ceyasa sudah bertekat untuk tidak memakan makanan itu, bisa saja kan Rain memasukkan sesuatu dan membuat dia tak sadar dan juga mengambil kesempatan darinya.
Entah sudah berapa lama dia sana, herannya dia sama sekali tidak bergerak dan tak ingin bergerak sama sekali, Ceyasa memegang sebuah kayu yang dia dapat di sebuah laci, dia sudah memeriksa jalan keluar dari sana, tak ada sama sekali, bahkan jendelanya saja terdiri dari celah-celah kecil, mana mungkin dia bisa lolos lewat dari sana.
Ceyasa menyandarkan dahinya pada tangannya yang bertopang lututnya, mencoba untuk sedikit mengistirahatkan kepalanya yang mulai terasa pusing karena belum makan dari tadi pagi, suasana diluar sudah terlihat remang, menandakan akan malam, sekali lagi pikirannya pergi melayang memikirkan pria yang tak pernah sedetik pun keluar dari pikirannya, akankah pangerannya kali ini akan menyelamatkannya lagi, bukannya Archie berjanji akan selalu datang mencarinya, entahlah, mungkin sedikit mengistirahatkan diri sejenak tidak akan apa-apa, pikir Ceyasa lagi.
Rain duduk di ruang kerjanya, cukup banyak rokok yang sudah dihisapnya, baru 2 atau 3 kali dia hisap dia sudah mematikannya, lalu menghidupkan yang baru, dan begitu seterusnya.
Kepalanya sedikit pusing, terlalu penuh memikirkan semuanya, dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Ceyasa, benarkah? walaupun hatinya seperti menerima apa yang dikatakan oleh Ceyasa karena Rain bisa melihat dari mata Ceyasa bahwa wanita itu tidak berbohong, namun otaknya tetap tidak bisa menerimanya, bagaimana mungkin ibunya bisa melakukan hal seperti itu, tidak mungkin.
Dia kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, sebelum dia membuang asapnya dia sudah memadamkan rokoknya, menekannya ke sembarang tempat, dia tak peduli tentang ruangan ini, ini bukan punya dirinya, dirinya tak punya niat menjadi seorang raja, hanya saja dia harus melakukannya agar mendapatkan Ceyasa, bagaimana pun tujuannya hanya untuk membalaskan dendam ayah dan ibunya.
"Tuan," kata Asisten Ken menghancurkan lamunan dan pikiran panjang Rain.
"Ya?" kata Rain tak terusik sama sekali, dia hanya duduk saja bergeming menatap lurus.
"Sepertinya Tuan Angga mulai merencanakan sesuatu, menurut laporan orang yang memata-matainya, dia pergi dari rumah sakit dari tadi pagi bersama Gerald," kata Asisten Ken menjelaskan.
"Kemana dia pergi?" tanya Rain yang mulai menaruh perhatian serius pada Asisten Ken.
"Maaf, namun kami kehilangan jejaknya, mobil yang mengawal dirinya berhasil mengecohkan mata-mata kita," kata Asisten Ken lagi.
"Bagaimana dengan anaknya?" tanya Rain melempar bola kecil yang ada di mejanya tadi, memainkannya seperti lempar tangkap.
"Menurut kabar Suri sudah dipindahkan ke rumah sakit milik Tuan Angga, dia sudah sadar, di sana ada istri dan menantu Tuan Angga juga," kata Asisten Ken lagi.
"Angga terlalu banyak mencampuri urusan kita, aku rasa membuat anaknya pingsan ternyata terlalu lembek untuk memberikan peringatan baginya, Asisten Ken, kau suka wanita dengan 2 bola mata yang berbeda, jika suka, jemput mereka dan ajaklah mereka bermain-main dengan kalian," kata Rain dengan senyum sinis mengembang yang disambut oleh senyuman dari Asisten Ken.
"Baik Tuan," kata Asisten Ken semangat.
"Bagaimana dengan Ceyasa?" tanya Rain lagi.
"Nona Ceyasa tetap tenang di kamarnya, tapi dia tidak memakan apapun yang kami berikan," kata Asisten Ken melaporkan keadaan Ceyasa.
"Dia tidak makan sama sekali dari tadi pagi?" tanya Rain lagi.
__ADS_1
"Benar Tuan," kata Asisten Ken.
Rain terdiam sejenak, wajahnya tampak berpikir, dia lalu berdiri dan melihat ke arah Asisten Ken dengan tatapan mata datarnya.
"Siapkan makan malam yang sudah dipanaskan, jika sudah biarkan aku yang mengantarkannya," kata Rain lagi.
"Baik Tuan," Asisten Ken segera berjalan keluar, Rain masih tampak seperti berpikir, jika Ceyasa tidak mau makan, bisa-bisa dia pingsan kembali seperti waktu itu, tapi kenapa dia harus peduli? pikir Rain lagi sambil mencoba untuk duduk, sialnya baru beberapa detik dia duduk, dia langsung berdiri dan pergi dari ruang kerja itu, terlalu susah untuk tidak peduli dengan wanita dengan senyuman manis itu.
Ceyasa mengangkat kepalanya kaget, suara pintu terbuka membuatnya langsung awas, padahal dia baru saja ingin masuk ke alam mimpi, untungnya dia belum terlelap sama sekali, kalau tidak, mungkin saja dia tak akan mendengar pintu itu terbuka.
Ceyasa mengambil batangan kayu yang hanya sepanjang 2 jengkal tangannya, dia menggenggamnya dengan erat, jika pria itu macam-macam padanya, dia tak akan segan untuk memukul kepalanya.
Ceyasa terus meringkukkan diri di ujung ranjang itu, perlahan tapi pasti suara langkah kaki itu semakin mendekat, membuat Ceyasa semakin waspada dan siaga, tak lama dia menangkap sosok yang paling tidak ingin dia lihat hari ini.
Rain datang dengan pakaian santainya, ditangannya membawakan meja makan kecil yang biasanya digunakan untuk makan di atas ranjang, di atasnya sudah terisi penuh dengan makanan, dia lalu melihat Ceyasa yang tampak siaga melihatnya, wajah Rain tak berubah, dia seolah tak takut atau pun kasihan melihat wajah Ceyasa yang ketakutan.
"Aku dengar kau belum makan sama sekali," tanya Rain sambil melihat ke arah Ceyasa, sorot matanya benar-benar berbeda dengan tadi pagi Ceyasa melihatnya, saat ini sorot matanya seperti saat dia bertamu pertama kali ke rumah Rain.
"Aku tidak ingin makan," kata Ceyasa, sialnya setelah dia mengatakan itu, suara perut Ceyasa terdengar menggerutu ingin diisi oleh makanan. Ceyasa mengumpat dalam hatinya, kenapa malah tubuhnya tak bisa berkompromi dengannya.
Suara perut itu cukup keras, membuat Rain dapat mendengarnya, tentu hal itu menapis kata-kata Ceyasa barusan, Rain tahu Ceyasa pasti sudah sangat lapar, dia hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya, menunjukkan sedikit senyuman tipisnya.
"Makanlah," kata Rain yang berkata dengan suara lembutnya, membuat Ceyasa sedikit mengerutkan dahinya, seorang Rain bisa juga berkata dengan lembut seperti itu.
Ceyasa melihat ke arah makanannya, sebuah steik daging dengan aroma yang cukup menyengat, membuatnya menelan ludah, kentang tumbuk, susu hangat, dan juga ada sedikit pencuci mulut, tak lupa buah-buahan segar yang tampak memanggil-manggil Ceyasa untuk makan.
__ADS_1
Tapi Ceyasa bukanlah orang mudah tergoyahkan, dia tetap saja menolak semua hal itu, dan mencoba untuk bergeming di tempatnya.
Rain hanya memandang Ceyasa, melihat wajah cemas Ceyasa entah kenapa sekarang dia kurang menyukainya, tak seperti dulu dia selalu menantikan hal itu, sekarang dia merasa sedikit terusik, kenapa Ceyasa tak bisa nyaman di sampingnya.
Rain menggertakkan sedikit giginya, dia tahu Ceyasa tak percaya padanya, karena itu dia segera mengambil piring kosong, mengambil sesendok dari semua makanan yang dia bawakan, lalu dia menunjukkan makanan itu pada Ceyasa, dan memakan satu per satu makanan yang sudah dia ambil, Rain ingin membuktikan makanan yang dia suguhkan sama sekali tidak mengandung racun atau apapun yang sekarang ada di pikiran Ceyasa.
"Lihat, tidak ada apa-apa di makanan ini," kata Rain mencoba bersabar melihat sikap enggan Ceyasa.
"Tidak," kata Ceyasa lagi, Rain menghela napas panjang.
"Lalu kau ingin mati kelaparan? Bagaimana dengan Archie? apa dia setuju jika kau mati," tanya Rain yang menggunakan Archie untuk membujuk Ceyasa, dia tahu jika dengan Archie, Ceyasa pasti akan memikirkannya.
Ceyasa melihat ke arah Rain, benar, sebelumnya Archie pernah berkata, jangan pernah memilih mati, dia akan datang pada Ceyasa, asalkan Ceyasa tak memilih untuk mati, bagaimana Ceyasa bisa lupa hal itu.
"Baiklah, aku akan makan tapi kau harus keluar dari ruangan ini," kata Ceyasa melirik tajam pada Rain.
Rain mengerakkan bibirnya seolah dia mengunyah sesuatu, namun dia hanya kesal, ternyata Ceyasa benar-benar hanya mau mengikuti perkataan Rain kalau ada ‘Archie’ di dalamnya, entah kenapa perasaan Rain menjadi sakit, dia jadi kesal sendiri.
Tanpa aba-aba Rain langsung berdiri, membuat Ceyasa kaget karna gerakannya yang tiba-tiba, Rain menatap Ceyasa sejenak, tangannya mengepal, namun dia tidak melakukan apapun, dan berbalik pergi.
Ceyasa hanya melihat punggung pria itu menjauh dan menghilang dari pandangannya, tak lama dia mendengarkan suara pintu yang kembali terbanting keras, Ceyasa mengerutkan dahi, kenapa pria itu? sejenak terasa sangat dingin, sejenak terlihat lembut, sesaat dia begitu kejam, sesaat begitu perhatian, benar-benar tak bisa ditebak sama sekali.
Ceyasa melirik lagi, memastikan Rain benar-benar pergi,Ceyasa melangkahkan kakinya perlahan, mengintip dan mengendap-endap, dan benar saja, dia kembali di kunci di ruangan itu.
Ceyasa kembali ke ranjangnya, melihat makanan yang sungguh menyelerakan, bolehkah dia makan sekarang? sekali lagi perutnya berbunyi seolah mengiyakan, dan ya, mungkin ini saatnya dia harus makan, kepalanya sudah pusing dan perutnya perih karena harus puasa satu hari ini.
__ADS_1