Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
65 - Teruslah Tersenyum, Aku Menyukainya.


__ADS_3

Aurora memasangkan apron pada tubuhnya, dia segera mengambil beberapa bahan makanan yang ada di dalam kulkasnya, setelah mengeluarkan beberapa makanannya dia melihat ke arah sekitar rumahnya, melihat suaminya masih sibuk di ruang tengah,


yang di sulap menjadi ruang kerja Jofan sementara, semenjak kejadian petermuannya dengan Liam,  Aurora merasa Jofan kembali seperti sebelumnya, seperti beberapa bulan yang lalu saat mereka masih tinggal diluar negeri, dia sibuk bekerja dan lebih banyak berdiam diri, namun Aurora merasa hal ini akan lebih baik, Aurora tidak ingin lagi terlalu terlena akan keadaannya, toh ternyata Jofan masih saja menganggap dia bukan siapa-siapa, sikap baiknya selama ini juga bukan karena Jofan mulai menyukainya atau menganggapnya ada, tapi hanya sekedar baik karena Aurora pun baik padanya dan Sania, apa yang diharapkan Aurora karna bahkan 18 tahun ini dia tidak bisa mengoyahkan hati pria itu, tidak mungkin dia bisa merubah hatinya hanya dalam beberapa minggu di sini.


Jofan masih sibuk  di ruang kerjanya, sebenarnya dia tidak punya banyak pekerajaan, seluruh pekerajaannya sekarang sudah diambil alih oleh Jared, namun di sana dia mencoba untuk  mengalihkan pikirannya dari bayang-banyag kejadian yang terjadi saat Aurora mendapatkan surat daun itu dari Liam, entah kenapa hal itu terus saja tergambar dalam pikirannya membuat hatinya tak tentram, benar-benar mengganggu segala hal yang ingin dilakukannya. Bahkan sekarang dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi padahal dia hanya tinggal membaca laporan dan menandatanganinya.


Dari ruang kerja itu yang berdindingkan kaca, Jofan bisa melihat ke arah dapur rumahnya, tempat Aurora tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka, di antara lampu-lampu yang remang-remang yang membatasi ruangan mereka, Jofan terdiam melihat Aurora dari belakang, begitu cekatan membuat masakan karena memang mereka belum punya pelayan di sana. Hanya memandangi wanita yang tampak bersinar di bawah sorot lampu dapur itu, kulitnya yang putih seolah memantulkan cahaya, rambutnya yang hitam dan dibiarkannya terikat dan di angkat membiarkan lehernya yang jenjang dan indah itu terpampang, bahkan dari belakang pun semua pria bisa tergoda karenanya.


Jofan terus memandangi istrinya, awalnya menyukai pemandangan itu, namun perlahan-lahana wajahnya mulai terlihat muram, sorot mata suram, rasanya dulu tidak ada masalah untuknya melepaskan wanita itu, kapan pun bisa dilakukannya, tapi sekarang, setiap gambaran itu muncul entah kenapa ada rasa tak rela yang benar-benar menyiksa, namun dia tidak mungkin terus menahan Aurora, sedangkan Sania sudah begitu banyak berkorban untuknya, pikiran Jofan kalut dan berkecambuk, dia yakin betul masih mencintai Sania, tapi kenapa sekarang dia sama sekali tidak bisa menghentikan dirinya untuk memikirkan Aurora? kenapa bisa begini? Jofan segera memegangi kepalanya, mendongakkan kepalanya ke atas agar lebih bisa merengangkan otot-otot lehernya yang begitu tegang.


Tiba-tiba bel pintu rumahnya terdengar berbunyi, membuat Jofan  yang tadinya sedang menangkan diri segera melihat ke arah pintunya, siapa yang menekan pintu rumahnya, padahal rumah ini belum sepernuhnya siap dan juga belum ada yang tahu rumah ini kecuali keluarga dan juga teman-teman terdekat saja.


Aurora pun kaget mendengar bel rumah, siapa yang datang malam-malam begini? Apakah Jenny? anaknya itu sudah ribut karena dia meninggalkannya terlalu lama di istana, Aurora beranjak ke arah pintunya saat dia melihat Jofan sudah mendahuluinya berjalan dengan mantap ke arah pintu itu, Aurora hanya  mengamatinya dari belakang.


Jofan membuka pintu rumahnya, melihat seorang pria yang seperti pengirim paket berdiri di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


"Selamat malam, apakah ini kediaman Nona Aurora?" kata pria itu sambil membaca alamat dan nama penerima paketnya.


Jofan masih mengamati, dia menekukkan dahinya, dari mana pria ini bisa masuk ke areal rumah mereka, memang rumah ini belum ada penjaga, tapi alamat mereka adalah alamat baru, tidak ada yang tahu alamat ini.


Jofan melihat ke arah belakangnya karena merasakan kehadiran seseorang,  dia melihat Aurora yang sedikit penasaran karena mendengar namanya disebut, Jofan memberikan isyarat pada Aurora agar dia tidak mendekat, melihat hal itu Aurora mengerti dan segera berhenti, hanya mengamati.


"Ya? ada apa?" tanya Jofan yang sedikit curiga, takut pria ini hanya ingin melakukan kejahatan.


"Oh, saya punya paket untuk Nona Aurora, " kata pria itu segera pergi ke arah motornya dan mengambil sebuah kotak cukup besar dengan warna peach dengan pita yang lumayan besar, Jofan yang melihat hal itu tambah mengerutkan dahi. Pengantar paket itu meletakkan kotak itu di depan Jofan dan menyerahkan sebuah kartu tanda terima.


"Seseorang mengirimkannya untuk Nona Aurora, itu saja yang saya tahu Tuan, saya bahkan tidak tahu siapa yang mengirimnya, terima kasih Tuan, saya permisi dulu," kata pengantar paket itu, Jofan lalu melihat surat tanda terima itu, mencari nama pengirim namun hanya ada inisial 'L', wajah Jofan langsung berubah, menunjukkan rasa tak suka dan kemarahan, L itu pasti Liam, Jofan menandatanginya asal, dia lalu menyerahkam surat itu lagi dan melihat pria itu pergi begitu saja, kembali melihat kotak besar yang sepertinya sebuah kado. Matanya begitu suram, tapi bagaimana dia tahu alamat mereka?


"Apa itu?" tanya Aurora pada Jofan, dia melihat sekilas ke arah paketnya, Jofan membiarkan Aurora untuk melihatnya.


"Entahlah, ehm, apa hari ini kau ulang tahun?" tanya Jofan yang bahkan tidak tahu hari ulang tahun Aurora, mencoba sebisa mungkin menyembunyikan gejolak hatinya yang meronta, membuat emosi sampai ke titik tertingginya.

__ADS_1


"Bukan, ini bukan ulang tahunku, ulang tahunku bulan depan," kata Aurora juga bingung melihat paket itu.


"Baiklah," kata Jofan datar, dia mengambil paket yang terasa sama sekali tidak berat baginya, dia meletakkannya ke ruang tengah, Aurora kembali mengamatinya, bahkan dari luar saja kotak itu begitu indah.


"Boleh aku buka?" tanya Aurora yang melihat ke arah Jofan yang sedang menuangkan minuman keras di gelasnya, perasaannya benar-benar kacau, bahkan sebelum meminum minumannya itu tubuhnya terasa sangat panas, dari pada dia meledak, lebih baik dia segera mengatasinya, meminum minuman keras yang memabukkan itu sekali teguk.


"Silakan," kata Jofan tak ingin melihat apa yang ada di dalamnya, jadi dia kembali menuangkan minuman keras di gelas kristalnya, namun tetap saja Jofan tidak bisa menolak godaan untuk melihatnya, dia melirik ke arah Aurora yang mulai membuka pita besar yang menutup kotak itu, saat Aurora membuka pita itu, tiba-tiba dinding-dinding kotak itu jatuh ke lantai dan memunculkan beberapa balon dengan warna silver, merah muda, peach dan juga balon besar trasparan dengan balon-balon kecil di dalamnya, mengambang tegak di hadapannya, di bawahnya terdapat banyak balon-balon kecil yang tak kalah indah, Aurora yang melihat itu sampai kaget, namun terpesona melihat kadonya. Jofan yang melihat balon itu keluar juga sedikit kaget.


Jofan segera meminum minumannya lagi, merasa tertusuk jantungnya melihat pemandangan di depannya, dia ingat dia tak pernah memberikan apa pun pada Aurora.


Aurora tersenyum melihat kadonya yang sangat manis, siapa yang sudah memberikannya kado ini, dia melihat ke arah balon transparan yang paling besar itu, di bawahnya ada sebuah kertas ucapan tergantung. Aurora mengambilnya dan segera melihatnya.


‘Aku ingat betapa kau tergila-gila akan balon dan sekarang aku di sana membayangkan betapa manisnya senyumanmu ketika melihat balon-balon ini, teruslah tersenyum, aku begitu menyukainya’


Saat selesai membacanya Aurora tersenyum manis, dia benar-benar menyukai balon dari kecil, bahkan dia selalu ingin diberikan balon dari pada bunga, melihat balon-balon itu seolah menari, hati Aurora benar-benar senang. Tak menyadari tatapan tajam Jofan di seberangnya.

__ADS_1


__ADS_2