Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
88 - Bos Mafia


__ADS_3

Ceyasa mengangkat keranjang berisi buah apel yang harumnya terasa manis hingga ke hidung Ceyasa, sudah beberapa hari bekerja di toseba, tokonya tidak terlalu besar namun selalu saja ramai dengan orang-orang berbelanja, banyak orang yang menyukai toserba tempatnya bekerja karena kualitas produknya memang menjadi yang utama, saat ini saja apel-apel yang dibawanya begitu menyelerakan walau pun hanya dengan melihatnya saja.


Pagi ini toko belum buka, jadi dia ingin menyusun apel-apel segar ini di etalase, Ceyasa menebak, bahkan tak sampai setengah hari, apel-apel ini akan habis dibeli oleh pelangan-pelangan yang termasuk kalangan menengah ke atas.


Ceyasa sedikit bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti suara lantunan musik yang dipasang di toko itu, menyusunnya dengan perlahan, rambutnya yang cukup panjang itu diikatnya satu, seperti kuncir kuda agar tidak menggangu pekerajaannya.


"Nona Ceyasa?" ujar seseorang menegurnya dengan suara cukup berat, Ceyasa tidak pernah mendengar suara itu, lagi pula toko bukannya belum buka?


Ceyasa melihat ke arah suara itu, dia melihat seorang pria dengan setelan jas formal yang sangat rapi, wajahnya sepertinya pernah di lihatnya, ehm, tapi dia kurang ingat di mana dia pernah melihat wajah pria ini.


"Ya?" jawab Ceyasa menatap pria itu dengan wajah penuh dengan tanda tanya.


"Nona, bisakah Anda membantu saya, Tuan saya menginginkan semua barang ini, dan dia ingin Anda yang mengantarkannya," ucap pria itu ramah, senyuman manis yang sopan mengembang di wajahnya, Ceyasa mengerutkan dahi, di balik pria itu terlihat bapak pemilik toko.


"Tapi toko kita belum buka," ujar Ceyasa lagi, memang peraturannya begitu bukan, bagaimana bisa melayani jika tokonya saja belum buka.


"Ah, tidak apa-apa, Tuan ini adalah langganan kita nomor satu, demi dia kita akan buka kapan pun dia inginkan," ujar bapak pemilik toko itu ramah, pria itu juga membalas dengan senyuman, Ceyasa merasa sedikit aneh, kenapa bisa begitu? Tapi ya kalau pemilik toko saja sudah mengatakannya, artinya dia harus mengikutinya, toh dia juga hanya pelayan di sini.


Ceyasa mengambil daftar belanjaan yang di serahkan oleh  Asisten Qie, dia melihat ke arah kertas itu, tidak terlalu banyak, hanya beberapa buah-buahan dan sayuran, masa seperti ini saja dia harus menyiapkan, dasar orang kaya, pikir Ceyasa melirik ke arah  Asisten Qie yang terus mengeluarkan wajah ramahnya.


"Baiklah, tunggu sebentar saya akan menyiapkan semuanya," kata Ceyasa


"Terima kasih Nona, saya akan membantu Anda," ujar  Asisten Qie.


"Oh, tidak perlu, aku bisa sendiri, ini sudah pekerajaanku," kata Ceyasa yang merasa tidak ingin diikuti oleh  Asisten Qie, namun walau pun Ceyasa menolak, dia tetap saja diikuti oleh  Asisten Qie.


"Nona, biar saya yang membawa kantong belanjaannya," ujar  Asisten Qie meminta kantong belanjaan kertas itu dari tangan Ceyasa yang hampir tertutup oleh kertas belanjaan yang ternyata setelah di susun cukup banyak isinya.

__ADS_1


"Tidak perlu, ini pekerjaan saya,"  ujar Ceyasa lagi merasa bertanggung jawab dan mencoba sopan karena selama membantunya tadi  Asisten Qie begitu sopan padanya.


"Tidak apa-apa Nona, saya malah takut Tuan saya akan marah jika membiarkan Anda membawa begitu banyak belanjaan," kata  Asisten Qie.


Ceyasa mengerutkan dahi, memangnya siapa sih Tuannya? apa hubungannya dengan Ceyasa, tapi kalau pria ini mau menolong, ya sudah, pikirnya.


"Baiklah, terima kasih," kata Ceyasa lagi,  Asisten Qie mengambil kantung belanjaan itu, dia lalu berjalan, sedangkan Ceyasa merasa kalau sudah dibawa untuk apa dia ikut, toh semua sudah selesai bukan, Ceyasa ingin kembali dan membalikan badan.


"Nona, Anda ingin kemana?" tanya  Asisten Qie yang melihat Ceyasa malah berbalik, Ceyasa yang mendengar itu langsung melihat  Asisten Qie.


"Bukankah pekerajaanku sudah selesai? aku ingin melanjutkan pekerjaanku," ujar Ceyasa polos.


"Anda harus ikut dengan saya," kata  Asisten Qie dengan senyuman ramah.


"Aku? kenapa?" tanya Ceyasa sambil menunjuk dirinya sendiri, kenapa dia harus ikut? Bukannya dia sudah selesai mengambilkan barang-barang   yang di inginkan oleh Tuan pria ini.


"Iya benar, pergilah dengan mereka, sudah aku katakan Tuan itu adalah pelangan setia kita," kata Bapak pemilik toseba lagi, Ceyas jadi merasa sedikit curiga dengan keadaan ini, kenapa tiba-tiba malah seperti ini,


"Baiklah, tapi aku tidak akan ikut mobil kalian, aku naik motor saja," ujar Ceyasa lagi.


"Ehm, baiklah, Anda bisa mengikuti kami dari belakang," ujar  Asisten Qie, ini lebih baik dari pada Ceyasa sama sekali tidak ikut, Tuannya bisa saja marah-marah, dia benar-benar tidak suka penolakan.


Ceyasa memakai helmnya, memakai jaket yang cukup tebal untuk karena matahari cukup terik padahal masih cukup pagi, dia segera menaiki motor yang disediakan oleh tempat kerjanya, dan segara naik ke atas motornya.


Asisten Qie yang masih ada diluar mobil melihat ke arah Ceyasa, wajah Ceyasa terlihat sedikit kesal, dan dia memang kesal, untuk apa juga harus dia yang mengikuti pria ini, bukannya ada orang lain yang bisa mengantarkan belanjaan mereka, itu kan bukan bidang pekerjaan Ceyasa.


"Sudah siap Nona?" tanya  Asisten Qie.

__ADS_1


"Ya, aku akan mengikuti kalian sekarang," kata Ceyasa lagi.


"Baiklah, kami akan pelan-pelan," ujar  Asisten Qie melempar kembali senyuman manisnya sebelum dia masuk ke dalam mobil sedannya.


Mobil itu perlahan keluar dari tempat parkir toserba itu, Ceyasa dengan hati-hati mulai mengendarai motornya, untung saja selama di desa dia pernah berlatih mengendarai motor milik ayah Nadia sehingga sekarang kemampuan itu sangat membantunnya di sini.


Ceyasa sedikit kesusahan berjalan di jalan besar yang cukup padat, susana yang panas dengan asap-asap knalpot kendaraan sedikit menyesakkan, seperti apa sih Tuan mereka sampai dia harus ikut ke sana, lagi pula, baru sekali ke sana mana mungkin juga Ceyasa bisa ingat jalannya.


Tak lama mereka segera meninggalkan jalanan besar yang penuh dengan hiruk pikuk, mereka memasuki sebuah jalan yang sepertinya memang merupakan jalan pribadi, terbukti dari peringatan di depannya bahwa itu adalah jalan khusus pribadi, Ceyasa tetap mengikuti mobil mereka melintasi aspal hitam yang terlihat masih sangat baru.


Jalanan aspal itu terlihat menanjak, Ceyasa mengerutkan dahinya, siapa yang tinggal di sebuah bukit seperti ini, tak lama Ceyasa tertegun dengan apa yang di lihatnya, sebuah rumah sangat mewah, benar-benar sangat besar dengan dinding-dinding kaca dan dominasi cat putih tampak menyilaukan karena memantulkan cahaya matahari ada di atas bukit itu, hamparan padang golf terlihat hijau mengelilinginya, tak begitu lama mereka terhadang oleh gerbang yang tingginya bahkan lebih dari 3 meter, Ceyasa menelan ludah, di pikirannya terlintas sesuatu, dia ingat tentang film mafia yang rumahnya seperti ini, jauh dari peradapan, dan setiap orang yang masuk susah untuk keluar, jangan-jangan jika dia masuk ke dalam rumah ini, dia tidak akan bisa keluar dengan selamat. Nalurinya menyuruhnya untuk segera pergi.


Ceyasa segera menghentikan motornya dan segera ingin berputar arah, namun sialnya sebelum dia mulai menjalankan motornya, sudah banyak penjaga yang menutup jalannya.


"Nona, Anda mau kemana?" tanya  Asisten Qie yang segera turun dari mobilnya, sedangkan mobil mereka segera masuk ke dalam areal rumah setelah gerbang megah itu terbuka.


"Oh, aku sudah ingat rumahnya, lain kali aku akan ke sini kok, " ujar Ceyasa sedikit salah tingkah karena dikerumuni oleh lebih dari 10 penjaga.


"Tuan kami benar-benar ingin bertemu dengan Anda," ujar  Asisten Qie masih seramah pertama.


Ceyasa memandang cemas pada  Asisten Qie dan melirik sedikit ke arah para penjaga  yang sudah bersiap, dia melihat segala kemungkinan, bahkan dengan nekat pergi dari sana, dia tetap akan kesulitan keluar dari sini, jarak mereka ke jalan raya sangat jauh, lagi pula Tuan Mafia itu kenapa harus bertemu dengannya?


Ceyasa menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya, jangan sampai terlihat takut apa lagi salah tingkah, mudah-mudahan dia bisa keluar dari sini dengan baik, itu saja doanya sekarang.


"Baiklah," kata Ceyasa turun dari motornya.


"Motor Anda akan aman di sini, silakan masuk Nona," ujar  Asisten Qie yang keramahannya makin membuat Ceyasa makin tak nyaman.

__ADS_1


Ceyasa tak punya minat untuk menjawab, dia hanya memperhatikan semuanya, mencari celah agar dia bisa keluar dari sana jika saja dia benar-benar ditawan di sana, lagi pula dia kan tidak pernah berhubugann dengan dunia malam, untuk apa pula bos mafia ini menahannya, apa dia pernah berbuat salah selama di sini, Ceyasa mencoba mengingat- ingat.


__ADS_2