Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
248 - Kami akan ke sana sebentar lagi.


__ADS_3

Ceyasa membuka matanya, menarik selimut yang menutupi tubuh polosnya, cahaya matahari sudah cukup menyilaukan, kemarin mereka pulang sudah cukup malam dan semua emosi yang tersimpan kemarin malah membuat mereka larut dalam permainan ranjang yang sangat membara.


Ceyasa melihat ke arah sampingnya, Archie sudah tidak ada di sana, dia lalu melihat sekitar dan menemukan suaminya itu duduk di salah satu sofa yang ada di kamar mereka, hanya menggunakan celana tidurnya tanpa menggunakan pakaian, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang indah. Pemandangan pagi sangat menggoda.


"Sudah bangun? Tumben sekali," kata Ceyasa menarik selimutnya, melilitkannya dengan baik agar menutupi tubuhnya sepenuhnya.


"Yah, Ceyasa, apa ini masa suburmu?" tanya Archie yang tampak sudah serius pagi-pagi begini. Ceyasa mengerutkan dahinya, dia tak tahu itu masa suburnya atau tidak.


"Ehm, aku tidak tahu, bagaimana cara menghitungnya?" kata Ceyasa lagi sambil mengambil minuman di samping ranjangnya, seperti Archie sengaja menyiapkannya.


"Aku juga tidak paham, tapi katanya jika melakukannya pada saat subur akan membuat kau hamil," kata Archie mendekati Ceyasa dan duduk di samping pinggiran ranjangnya.


"Benarkah? aku tidak tahu," kata Ceyasa lagi polos, dia mana mengerti hal-hal seperti itu, bahkan melakukannya saja mereka dadakan seperti itu kemarin.


"Tidak apa-apa, kita ke dokter saja hari ini, meminta obat untuk kontrasepsi darurat, katanya bisa membuatmu tidak hamil walaupun pada masa subur," kata Archie yang tampak sangat serius, Ceyasa menatap suaminya itu, sepertinya Archie benar-benar tidak ingin memiliki anak dengannya, Ceyasa hanya tersenyum menangguk.


"Baiklah, bersiap-siaplah, aku akan menyuruh Gerald untuk membuat janji dengan dokter kandungan pagi ini, setelah sarapan kita pergi menumuinya," kata Archie mengelus rambut Ceyasa dan memberikan sebuah kecupan yang cukup hangat namun perasaan Ceyasa sudah terlanjur merasa kecewa, dia hanya mencoba untuk tersenyum kembali, lalu turun dari ranjang mereka dengan balutan selimut tipis, berjalan perlahan ke arah kamar mandi mereka.


Ceyasa membasuh tubuhnya, mengalirkan air dari atas kepalanya melalu shower  mengalir hingga ujung kakinya, dia lalu menatap dirinya di kaca yang ada di sana, melihat sejenak ke arah perut bawahnya, mengusap perlahan, entah kenapa merasa sedih.


Jika kemarin yang mereka lalukan membuahkan hasil di dalam rahimnya, apa itu artinya dia akan membunuhnya? Apa itu artinya mereka menolak anugrah yang diberikan Tuhan, kenapa rasanya dia jadi kejam, bagaimana jika seharusnya dia mengandung karena hal ini, tapi karena dia meminum obat itu, maka anak mereka tak akan jadi lahir ke dunia, kenapa Ceyasa merasa sedih sekali? Air matanya mengalir memikirkannya.


Saat dia memikirkan hal itu, pintu kamar mandi terketuk, Ceyasa langsung sadar dan menyudahi mandinya, dia segera mengeringkan tubuhnya dan melilitkan handuk di kepalanya dan segera keluar dari kamar mandi itu.

__ADS_1


"Kenapa mengetuk?" kata Ceyasa melirik ke arah Archie yang sudah berdiri di depan kamar mandi itu.


"Aku sudah buat janjinya pukul 9 nanti, kenapa matamu merah?" tanya Archie yang melihat mata Ceyasa sedikit memerah.


"Oh, mataku tidak sengaja terkena sampo yang aku pakai, jadinya begini, mandilah, kita kan ingin sarapan," kata Ceyasa langsung tersenyum.


"Baiklah," kata Archie yang segera masuk ke dalam kamar mandinya.


Ceyasa segera berjalan, mengeringkan rambutnya dahulu perlahan-lahan, cukup lama ternyata karena rambutnya yang panjang, bahkan setelah Archie selesai mandi pun di masih berkutat dengan rambutnya, namun melihat Archie keluar dia segera menghentikan sejenak kegiatannya.


"Hari ini akan ke kantor?" tanya Ceyasa agar tahu menyiapkan baju untuk Archie.


"Ya, setelah dari dokter aku akan langsung ke perusahaan," kata Archie yang melihat dirinya sedikit di kaca, melihat pantulan istrinya yang hanya menggunakan jas mandinya sedang menyiapkan jasnya, mungkin karena lemarinya cukup tinggi dan juga postur tubuh Ceyasa yang tak terlalu tinggi, dia sampai berjinjit mengambilnya, menunjukkan otot kakinya yang entah kenapa membuat Archie merasa itu seksi.


"Aku harus banyak minum susu agar tinggi," kata Ceyasa lagi.


"Kalau sudah pendek, ya pendek saja," kata Archie asal saja pada istrinya, membuat wajah Ceyasa langsung cemberut, melihat istirnya cemberut Archie langsung memeluknya dari belakang, mencium wangi lembut seperti wangi bedak bayi pada tubuh Ceyasa.


"Jangan lagi, sudah waktunya kita harus makan," kata Ceyasa yang tahu apa yang diinginkan oleh Archie, Archie mengangkat kepalanya, gantian berwajah cemberut.


"Baiklah, saat di dokter nanti, kita minta kau memasang alat kontrasepsi agar tidak pusing memikirkannya," kata Archie lagi mulai memakai pakaian yang dipilihkan Ceyasa.


Ceyasa mendengar hal itu hanya diam, tidak mengiyakan namun juga tidak menolak, dia berjalan menuju meja riasnya, mengambil lotion dan memakainya keseluruh tubuhnya dan bersiap-siap untuk sarapan pagi ini.

__ADS_1


Archie menunggu Ceyasa sebentar saat dia menata rambutnya agar tampak lebih rapi, setelah itu mereka segera keluar dari kamar mereka dan berjalan ke ruang makan, semua orang sudah berkumpul di sana kecuali William yang pagi-pagi sekali sudah harus mengikuti ujian terakhirnya.


Archie dan Ceyasa segera bergabung dengan keluarganya untuk makan pagi yang diam seperti biasanya, namun baru setengah mereka melakukan makan pagi itu, tiba-tiba  Asisten Lin datang dengan cepat.


"Selamat pagi, Pangeran," kata Asisten Lin langsung masuk.


Archie dan semua orang yang ada di ruang makan itu mengerutkan dahinya, menatap Asisten Lin denan wajah yang agak aneh, ini waktu sarapan di istananya, tidak boleh ada yang menganggu acara makan keluarga kerajaan, bukannya Asisten Lin tahu tentang itu.


"Kami sedang dalam ruang makan," kata Archie menghentikan sejenak sarapannnya, semua orang memandang Archie sejenak lalu segera melihat ke arah Asisten Lin.


"Maafkan saya Pangeran, tapi ini langsung dari Yang Mulia Raja sendiri," kata Asisten Lin menunduk, tahu dia melanggar peraturan sekarang.


"Apa ini ada hubungannya dengan Suri?" tanya Archie yang merasa jika sangat mendesak seperti ini, mungkin ada masalah dengan Suri.


"Bukan, ini yang lain, dan bukan hanya Anda yang diminta untuk ke istana utama sekarang, seluruh keluarga harus datang ke sana sekarang," kata Asisten Lin sungkan.


"Bukannya di sana juga sedang sarapan jam segini?" kata Nakesha yang merasa ini sangat aneh, tak pernah ada yang seperit ini sebelumnya.


"Ya, tapi ini sangat mendesak Pangeran, Puteri, Ibunda Ratu, Tuan dan Nyonya, Yang Mulia Raja memanggil Anda semua ke ruang pertemuan formal," kata Asisten Lin lagi.


Archie mengerutkan dahinya dengan sangat dalam, melihat wajah-wajah bertanya yang juga bingung, dia segera menggelap bibirnya dengar serbet yang ada di sana lalu berdiri.


"Baiklah, kami akan ke sana sebentar lagi," kata Archie segera melihat Asisten Lin juga melihat keluarganya yang tahu bahwa mereka harus segera meninggalkan ruang makan itu.

__ADS_1


__ADS_2