Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
269 - Putri yang hilang sudah ditemukan.


__ADS_3

Jofan menunggu cemas, semalam dia sama sekali tidak bisa tidur, ingin sekali kembali menemui Ceyasa, namun hujan lebat menghalanginya untuk datang ke sana, lagi pula dia memang belum bisa keluar dari sana terlalu sering, keadaannya masih belum sembuh total dan juga sepertinya dia masih belum aman seratus persen sebelum dalang semua ini tertangkap.


Jofan mengintip keadaan markas itu dari tempat persembunyiannya, tampak segar dengan matahari yang sudah menyingsing, badai tadi malam membawa keindahan tersendiri, rumput di lapangan markas militer itu tampak segar dengan butir-butir air yang masih menyisa, memantulkan cahaya matahari yang terkadang menyilaukan.


Pintu ruangannya yang remang itu terketuk, tak menunggu lama dia segera berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya, Kiran berdiri dengan seragam resminya, wajah Jofan berharap dengan sangat, Kiran hanya mengangguk, tipikal orang yang tak banyak bicara.


"Dimana?" tanya Jofan.


"Ada di ruangan Jendral Ferdinan, Anda diminta untuk datang ke sana," kata Kiran tegas.


"Baiklah, terima kasih, " kata Jofan dengan wajah seriusnya.


Dia segera keluar dari ruangannya berjalan dengan mantap menuju ke ruangan Jendral Ferdinan, langkahnya sangat cepat hingga membuat Kiran yang setia berjalan di belakangnya agak kesusahan untuk mengikutinya, tak lama dia sampai juga di depan ruangan Jendral Ferdinan, Jofan segera mengetuk pintu yang menghalanginya masuk ke dalam ruangan Jendral Ferdinan.


Tak lama pintu itu terbuka, Ajudan Jendral Ferdinan segera membukakan pintu dengan sangat lebar pada Jofan, dia juga memberikan hormat yang hanya di balas anggukan oleh Jofan, Jofan memperhatikan ruangan itu, di sana sudah ada 3 orang yang menunggunya selain Jendral Ferdinan dan Letjen Henry. Semua orang berdiri menyambut Jofan.


"Selamat Pagi Tuan Jofan, " kata Jendral Ferdinan dengan senyuman menyambut Jofan yang tampak tegang, dia juga menganggukan kepalanya pada orang-orang yang ada di sana seakan arti anggukannya adalah mempersilakan mereka untuk kembali duduk, dan tanpa dikatakan mereka langsung duduk.


Jofan segera berjalan menuju meja kerja Jendral Ferdinan, Jendral Ferdinan segera menyerahkan berkas yang masih tersegel di atas mejanya, senyumannya terus mengembang membuat Jofan semakin gugup.


"Kami juga belum melihatnya, kami ingin Anda menjadi yang pertama melihatnya, kecuali dokter yang memeriksanya, tidak ada yang tahu tentang ini," kata Jendral Ferdinan, wajahnya yang sumringah ternyata juga menyimpan perasaan harap-harap cemas, jika Ceyasa memang anak dari Jofan, maka selesai sudah tugas mereka, jika bukan, maka mereka harus lebih keras mencari lagi.

__ADS_1


Tangan Jofan sedikit bergetar, dia tak pernah segugup ini sebelumnya, bahkan saat pelantikannya menjadi presiden pun dia tak segugup ini, namun saat ini dia benar-benar merasakan rasa cemas, takut dan berharap dalam waktu bersamaan, dia takut kecewa karena sudah sangat berharap.


Dia segera membuka segel amplop berwarna coklat itu, memasukkan tangannya perlahan hingga mengapai berkasnya, pelahan menariknya keluar, lalu segera membuka berkas itu, hal itu bukan hanya membuat Jantung Jofan berdebar, namun juga Jendral Ferdinan dan Letjen Henry, semua di ruangan Jendral Ferdinan itu menahan napasnya.


Jofan membaca perlahan dari atas, namanya dan nama Ceyasa ada di sana, dan matanya langsung tertuju pada hasil dari pemeriksaan itu, wajahnya tampak tak bisa menutupi keterkejutannya, matanya membesar melihat hasil itu, dan dia segera memandang Jendral Ferdinan yang tampak cukup penasaran tentang hasilnya.


"Dimana dia? " tanya Jofan lagi meletakkan dokumen itu.


"Yang Mulia Raja sudah menjemput Nona Ceyasa kemarin malam, kami tak bisa menolaknya, ini surat resmi penjemputannya," kata Letjen Henry yang tak kalah penasarannya, apakah hasilnya Ceyasa benar-benar anak Tuan Jofan? tapi dia tidak bisa melihat berkas itu.


Jofan mengambil kertas itu, membacanya dengan sangat cepat lalu segera melihat stempel kerajaan itu. Dia segera meletakkan kertas itu, Jendral Ferdinan yang sedikit mengangkat tubuhnya untuk mengintip hasil DNA itu sedikit kaget ketika Jofan menarik berkas itu segera.


"Tapi Tuan, keadaan Anda belum aman, bagaimana jika lokasi Anda diketahui oleh Marka?" kata Jendral Ferdinan lagi.


"Maka sebelum itu aku harus bertemu dengan anakku," kata Jofan dengan ketegasan, matanya tampak begitu mantap menatap Jendral Ferdinan, penuh tekat, bagaimanapun dia harus bertemu Ceyasa, gadis itu adalah darah dagingnya, mendengar hal itu Jendral Ferdinan dan Letjen Henry menarik napas lega, putri yang hilang telah ditemukan.


"Kiran, bawa beberapa orang tentara, setelah memastikan Tuan Jofan sampai di istana baru kalian boleh pulang meninggalkannya," kata Jendral Ferdinan yang tahu pihak militer tidak boleh masuk ke dalam istana tanpa persetujuan dari Yang Mulia Raja.


"Siap," kata Kiran.


"Terima kasih," kata Jofan lagi, dia segera bergegas keluar bersama Kiran yang berjalan mendahuluinya untuk melakukan persiapan kepergian Jofan ke istana.

__ADS_1


Jofan menerjang panasnya matahari untuk masuk ke dalam mobil militer anti peluru yang sudah di siapkan, mobil mereka dikawal 2 mobil militer yang lain, Jofan duduk dengan wajah yang sangat serius, hatinya senang namun juga cemas, kali ini perasaannya kembali seperti saat dia menjemput Siena di panti asuhan, bahkan kali ini perasaan itu beribu kali lipat.


Ceyasa, gadis itu sudah ada di dekatnya selama beberapa hari ini, namun dia sama sekali tidak menyadari keadaannya. Caranya berbicara, wajahnya yang tampak selalu ceria, bodoh sekali dia tidak bisa melihat kemiripannya dengan Sania, padahal beberapa kali dia selalu merasa wanita itu meninggatkannya pada Sania.


Wajah Jofan lalu tiba-tiba murung, dia ingat bagaimana keadaan Ceyasa selama ini, dia pernah mengatakan dia pernah diculik beberapa kali, dia juga tumbuh bersama paman dan bibi yang kejam, entah pada siapa ayahnya menitipkan anaknya itu, untung saja sampai sekarang anaknya bisa tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang cantik, dan sayang sekali, Ceyasa tak sempat untuk bertemu dengan ibu kandungnya begitu juga Sania, dia tak sempat merasakan sentuhan dari anak kandungnya.


Jofan tampak cemas dan gusar, dia berulang kali melihat ke arah luar, padahal mobil itu berjalan dengan sangat cepat tapi entah kenapa terasa begitu lambat, dia ingin segera bisa menatap wajah Ceyasa, menyentuhnya, memeluknya, dan membayar setiap waktu yang sudah dia lewatkan pada putrinya itu.


Penjaga istana langsung menghentikan mobil mereka sebelum mereka masuk ke dalam ke area istana, Jofan menurunkan kaca mobilnya setengah, penjaga istana itu langsung mengenalinya, dia sedikit kaget, namun tak berbicara apapun.


"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja," kata Jofan langsung.


"Baik Tuan, tapi …. " kata penjaga itu yang langsung digeser oleh penjaga yang lain, Jofan melihat hal itu mengerutkan dahi, kenapa penjaga istana menjadi seperti ini?


"Yang Mulia Raja sudah menunggu Anda di istana utama, namun beliau melarang kendaraan militer yang lain untuk masuk," kata penjaga itu tampak liar memperhatikan isi mobil yang Jofan naiki.


"Baiklah," kata Jofan, sedikit merasa aneh namun mungkin karena Angga ingin memperketat penjagaan istananya.


Kiran segera memberikan komando agar 2 mobil militer yang tadi mengikuti mereka untuk menunggu di luar, mendengar hal itu penjaga itu segera memberikan isyarat dan gerbang istana itu terbuka pelahan, supir dari mobil yang dinaiki Jofan segera bersiap untuk memasuki istana itu.


"Selamat datang di istana Winsdor Tuan Jofan," kata penjaga itu sedikit memberikan salam sebelum Jofan pergi memasuki istananya membuat kecurigaan Jofan semakin kental.

__ADS_1


__ADS_2