
"Siapa dia?" tanya Jenny sedikit dengan nada bertanya, lebih banyak ketusnya.
"Oh, ini, sebenarnya ini yang harus bibi dan pamanmu katakan pada kalian," kata Aurora langsung mengambil alih suasana, menatap wajah Jenny dan Jared yang bertanya.
Siena berdiri dan segera berjalan menuju mereka, Jofan pun segera berjalan ke samping Siena, Jared dan Jenny hanya menatap ke arah pamannya, ada apa ini? kenapa pamannya tampak dekat dengan wanita ini?
"Perkenalkan, namanya Siena, dia putri paman," kata Jofan merangkul pundak Siena sambil memperkenalkan Siena, dari suaranya terdengar keraguan, cukup takut melihat reaksi Jared dan Jenny, Siena yang diperkenalkan itu memberikan senyuman perkenalan yang hangat untuk Jenny dan Jared.
Jenny yang mendengan itu kaget, dia sampai menarik napas, bagaimana bisa pamannya punya anak? Mereka tahu hubungan paman dan bibinya dari awal hingga sekarang, bahkan mereka tak pernah tidur bersama, bagaimana wanita ini tiba-tiba menjadi putri pamannya. Jared hanya memperhatikan Siena, cukup terkejut namun tak ditunjukkannya.
"Ceritanya cukup panjang, kita sarapan dulu, baru kita bicarakan," ujar Aurora kembali mengambil alih, dia sampai harus menarik tangan Jenny yang masih terlihat syok, dan gayanya benar-benar menunjukkan dia syok.
Suasana makan pagi itu sangat kaku, tidak ada satu pun yang bisa menelan makanan dengan baik, bahkan Jenny yang tadinya sangat lapar, tiba-tiba benar-benar tidak bernafsu, dan seperti biasanya, Jenny selalu menunjukkan apa pun yang dia rasakan, jika dia tidak suka, dia akan menunjukkannya dengan gamblang, tak pernah ingin menutupi-nutupi.
"Katakan saja sekarang, apa yang harus kami tahu?" kata Jenny langsung setelah dia meletakkan garpu dan sendoknya, tanda dia sudah selesai makan, Jenny menyandarkan punggungnya ke kursi makan, tangannya lagi-lagi dia lipat di depan dadanya, menatap dengan tajam pada paman dan bibinya, dia tak suka sekali di berikan kejutan seperti ini. dia juga tak suka dengan siapapun namanya itu, wanita itu terlihat hanya berpura-pura.
__ADS_1
"Sopanlah jika berbicara dengan orang yang lebih tua," ujar Jared yang lebih bisa mengotrol dirinya, cukup terganggu melihat sikap adiknya, toh sebenarnya di sini, mereka hanya orang luar, keponakan.
"Tidak apa-apa, ini memang semua adalah kesalahan paman, sebelum paman bertemu dengan bibimu, paman memiliki seorang wanita, dan dia adalah ibu Siena," kata Jofan.
"Oh, jadi dia adalah anak dari wanita yang selama ini paman tunggu? yang meninggalkan paman begitu saja? sekarang wanita ini mengaku-ngaku anak paman? wah! klise sekali," tanya Jenny dengan gayanya yang ketus di akhiri dengan gaya tak percaya yang merendahkan.
"Jenny dengarkan dulu pamanmu," ujar Aurora lembut, dia tahu percis sifat anaknya ini, memang hanya Jenny yang harus dikhawatirkan dalam khasus ini.
"Maafkan paman," kata Jofan merasa dia sudah terlalu banyak melakukan kesalahan dulu, membuat Jenny seperti tak percaya lagi padanya.
"Jenny, bisa kau hentikan gayamu itu?" tanya Jared yang mulai tak suka dengan gaya adiknya, setidaknya dia harus menutupi ketidak sukaannya pada Siena, mau bagaimana lagi dia adalah saudara mereka sekarang. Siena hanya diam saja sambil memegang gelasnya, mengenggamnya erat, kata-kata Jenny cukup pedas terdengar.
"Kenapa? semua yang aku katakan benar bukan? demi ibunya, paman sampai menyia-nyiakan seorang wanita yang begitu setia pada paman, melayani paman dengan baik, merawat kami yang bahkan bukan siapa-siapa baginya, selama belasan tahun paman hanya memandang dia sebagai pajangan, bukan sebagai istri, aku tak tahu bagaimana bibi bisa melewatinya, namun bahkan aku sebagai wanita bisa merasa kasihan dengannya," ujar Jenny tak tahan lagi, dia sudah berkompromi menerima keadaan keluarganya, sekarang dia harus lagi menerima seorang wanita yang entah datang dari mana sebagai sepupunya? Tak akan mungkin.
"Jenny kau ketelaluan," ujar Jared dengan suara meninggi, Jofan dan Aurora hanya bisa mendengarkan, Siena tampak tenang melihat keadaan ini.
__ADS_1
"Sampai mati, aku bahkan tak akan menerima dia sebagai sepupuku," kata Jenny dengan tatapan marah menunjuk ke arah Siena, membuat Siena kaget, Jared langsung memegangi adiknya, Jofan dan Aurora kanget, namun tak bisa melakukan apapun, jika Jenny tak bisa, berarti rencana mereka untuk membawa Jenny dan Jared ke rumah ini akan terhalangi untuk semantara.
"Tuan! keadaan Nona Sania kritis," ujar pelayan yang tiba-tiba masuk ke ruang makan. Jofan yang mendengar itu kaget, Aurora pun sama kagetnya, apa lagi Jenny dan Jared, wanita itu ada di sini juga? Sebenarnya hati pamannya ini terbuat dari apa? tega menyatukan istri dan selingkuhannya dalam satu rumah.
Jofan berdiri dan segera berlari sedikit buru-buru menuju ke ruangan Sania, Aurora pun mengikuti suaminya, Jared, Jenny dan Siena saling melempar pandangan, namun tak lama mereka mengikuti paman dan bibi mereka.
Saat mereka sudah sampai di sana, Sania sedang di tangani, awalnya Sania sudah tidak menggunakan ventilator, namun sepertinya kali ini dia harus mengunakannya lagi, dokter Elly segera melakukan apa pun yang dia bisa, untungnya semua alat-alat yang di butuhkan oleh Sania semuanya sudah di pindahkan ke ruangan itu, beberapa perawat yang untungnya belum pulang membantu Dokter Elly yang dari wajahnya tampak begitu tegang.
Di luar pun, wajah Jofan dan Aurora juga sama tegangnya, Siena yang berhenti di samping Jofan melirik ke arah ayahnya, Jofan pun melihat Siena, mata Siena memancarkan kesedihan yang mendalam, baru tadi pagi dia bisa menerima ibunya, tapi kenapa sekarang ibunya jatuh dalam keadaan kritis, tangis Siena pecah, menyayat hati Jofan, Jofan segera memeluk anaknya yang menangis tertahan, tubuhnya yang kecil bergetar.
Aurora melihat hal itu, hanya bisa menguatkan suaminya, memegang pundak suaminya, Jofan yang tak tahu harus bagaimana hanya menatap Aurora, matanya sudah basah.
Jared yang berhenti di belakang Aurora melihat ketulusan yang sangat dari mata Aurora, merasa kembali kagum dengan wanita ini, bagaimana dia bisa menerima semua hal ini, hatinya telalu besar untuk postur tubuhnya yang mungil.
Jenny melihat keadaan ini muak, tak mengerti kenapa harus seperti ini, bibinya selalu tersakiti dan berulang-ulang pula memaafkan, entah sampai kapan akan terus begini, kali ini apapun yang terjadi, dia tak akan membiarkan bibinya di perdaya lagi oleh pamannya, bibinya terlalu baik atau terlalu bodoh menerima semua ini, Jenny benar-benar kesal, karena itu dia segera pergi dari sana, meninggalkan drama yang tak berujung itu.
__ADS_1