
"Wah, wanita itu cantik sekali," kata Ceyasa yang masuk ke dalam kamar Archie, sekilas melihat wajah wanita yang ada di foto yang langsung di sembunyikan oleh Archie.
"Iya," kata Archie seadaanya dengan sedikit nada muram, Ceyasa menangkap nada suara itu, dia jadi merasa tak enak.
"Kau sudah ingin pergi?” tanya Archie.
"Ya, sarapan, makan siang, hingga malam sudah ada," kata Ceyasa mengatakan pada Archie dengan wajah yang sumringah, Archie hanya menatapnya dengan sedikit kerutan di dahi, beberapa hari mengenal Ceyasa, dia tidak pernah melihat wajahnya yang sangat sumringah seperti ini.
"Jam berapa kau akan pulang?" tanya Archie lagi.
"Aku akan pulang jam 3 siang nanti," kata Ceyasa lagi.
"Baiklah," kata Archie.
"Kunci pintu sudah aku gantung di dekatnya, jika ingin keluar jangan lupa menutupnya ya, selamat tinggal," kata Ceyasa dengan sangat semangat, Archie yang melihat itu hanya mengerutkan dahinya lebih dalam.
Ceyasa segera keluar dari kamar Archie, Archie yang melihat itu juga segera melihat Ceyasa dari sela pintunya, setelah melihat Ceyasa sudah pergi, Archie segera mengambil jaketnya dan keluar, mengintip sebentar ke arah luar, melihat Ceyasa dan Nathan yang segera berjalan meninggal area rumah itu, Archie langsung mengambil kunci itu, dan segera keluar, selesai mengunci pintu itu dia langsung mengikuti Ceyasa dan Nathan.
Archie tidak tahu kenapa dia harus mengikuti Ceyasa seolah dia seorang penguntit, dia hanya penasaran dengan mereka dan beberapa kali dia ingin mengurungkan niatnya, masa seorang pangeran melakukan hal ini, itu hal yang tidak baik di lakukan, pikir Archie, tapi baru beberapa langkah dia ingin membatalkan niatnya mengikuti Ceyasa, dia malah kembali penasaran dengan Ceyasa dan Nathan, jadi dari pada di bolak balik seperti orang plin-plan dia putuskan untuk mengikuti Ceyasa, hitung-hitung dari pada dia di rumah dan nantinya malah membuat hatinya kembali biru, lebih baik dia menikmati udara segar di sekitar desa ini. Di mana lagi dia akan mendapatkan hal ini jika kembali ke kota nanti.
__ADS_1
Dari jarak cukup jauh, dia bisa melihat Ceyasa dan Nathan sibuk berbicara, sangat dekat, terlihat sangat akrab, beberapa kali Archie bisa melihat bisa tawa lepas Ceyasa yang terlihat sangat manis, dia baru sadar wanita itu punya aura yang ceria jika dia tertawa seperti itu, aura itu membuat orang-orang di sekitarnya langsung terpengaruh oleh tawanya, perasaan Archie yang sampai sekarang masih meninggalkan rasa gundah, sedikit terhibur hanya melihat tawa lepas Ceyasa, dia punya bakat membuat orang ketagihan atas tawanya. Archie tersenyum melihat tawa itu, tapi dia segera mengerutkan dahinya, apa yang sudah dipikirkannya?.
Perjalanan mereka terus berlanjut hingga sampai di dekat sebuah sekolah, Ceyasa dan Nathan berhenti tak jauh dari gerbang sekolah itu.
"Wah, tidak terasa sudah sampai di sini, berbicara denganmu memang selalu menyenangkan," kata Nathan dengan tawa yang masih menghiasi wajahnya yang terlihat sangat menikmati perjalanan singkatnya bersama Ceyasa.
"Ya, senang juga bisa bicara lagi denganmu," kata Ceyasa dengan senyum manis sambil meletakkan beberapa anak rambutnya ke belakang telinga, tampak tersipu malu, menunduk.
Archie yang melihatnya dari balik sebuah pohon yang tak jauh dari mereka cukup tahu bahwa Ceyasa punya perasaan pada pria itu, sepertinya semuanya berjalan indah, seindah cintanya dulu, ah, kenapa dia harus sendu di saat melihat dua orang jatuh cinta, mungkin cemburu karena orang lain bisa begitu saja jatuh cinta, sedangkan nasib cintanya bahkan tak akan berhasil bagaimana pun diperjuangkan.
"Oh, jadi begini yah?" suara seorang wanita terdengar keras, membuat perhatian semua orang padanya, Ceyasa dan Nathan langsung kaget, Archie yang tadinya pikirannya sedang melayang jadi kembali fokus dengan mereka.
"Carla! Apa yang kau lakukan?” kata Nathan yang mencoba membela Ceyasa.
"Dia wanita murahan, dia sudah tahu bahwa kita sudah punya hubungan, berani-beraninya menggodamu hingga membuatmu menemaninya pergi seperti ini," kata Carla melampiaskan kekesalannya, menatap Ceyasa dengan begis, seolah bisa memakan Ceyasa hidup-hidup, Ceyasa hanya terdiam, dia memagangi pipinya yang sangat panas rasanya.
"Bukan dia yang memintaku mengantarnya, aku yang mengajaknya," kata Nathan membela, Archie mengangguk-angguk untunglah pria itu masih mengakuinya, jika tidak dia akan bertindak.
"Kau? untuk apa?" kata Carla tak percaya.
__ADS_1
"Aku dan Ceyasa adalah sehabat dari kecil, bukan berarti aku bersamamu aku tidak bisa bersama dengannya," kata Nathan.
"Kenapa kau malah membelanya, kau tahu kan dia suka padamu," kata Carla.
Nathan terdiam, Ceyasa hanya bisa menundukkan wajahnya, perasaannya sakit karena dipermalukan seperti ini, bahkan lebih sakit dari pada tamparan yang tadi, serasa dia ditelanjangi di depan Nathan.
"Aku tahu, tapi aku sudah memilihmu, aku dan Ceyasa hanya sahabat kecil, " kata Nathan lagi.
Hati Ceyasa semakin hancur mendengar hal itu, dia hanya bisa mengepalkan tangannya, matanya yang indah itu mulai mengabur, tidak, tidak boleh menangis di depan mereka, tidak.
"Bukankah kau sudah mendengarkannya? Kau itu jangan mimpi berpacaran dengan Nathan, bagaimana seorang anak yang tak punya apa-apa sepertimu ini ingin mengapai bulan, Nathan itu kedudukannya tinggi, kau tahu siapa ayahnya bukan? jangan harap kau bisa bersama dengannya," ejek Carla membuat Ceyasa hanya bisa tersenyum, ya, dia sudah bisa menerima caci maki seperti ini dari dia kecil, mereka selalu mengejeknya karena keadaannya yang tak punya apa-apa, bahkan orang tua pun tak punya, jadi mendengar hal ini, dia tak lagi marah bahkan dia bisa menerimanya dengan senyuman, untungnya hal itu keluar dari mulut Carla jadi dia bisa menerimanya dengan senyuman, tangisnya pun bisa ditahannya.
"Ya, aku dengar, tenanglah, bukannya dia sudah bilang, aku hanya sahabatnya, terima kasih untuk tamparannya, sedikit bisa menyadarkanku bahwa aku yang kecil ini ternyata sangat mengganggumu, artinya kau yang gadis cantik dan terpandang merasa tersaingi oleh wanita yang tak punya apa-apa seperti aku, wow! Bukankah itu hal yang hebat, Oh, aku sudah terlambat, terima kasih untuk obrolan pagi yang sangat menyenangkan Nathan, selamat pagi semua," kata Ceyasa dengan wajahnya yang ceria dan senyum yang mengembang, hal itu membuat Carla terdiam dan kaget, wajahnya langsung kesal mendengar semua kata-kata Ceyasa, sedangkan Nathan hanya bisa terdiam.
Archie yang melihat sikap Ceyasa itu juga kaget, dia kira wanita itu akan menangis, sebuah tamparan keras dan kata-kata kasar malah membuatnya tersenyum seperti itu, dia tak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya, wanita itu membuatnya tak bisa berkata-kata.
Kagum, ya, itu kata yang terpat, dia kagum melihat Ceyasa yang mengatasi masalahnya tanpa harus mengharu biru. Ternyata dari sifatnya yang emosian dan bar-bar dia punya hal yang bisa membuat orang kagum padanya, seorang wanita yang sangat tegar.
Ceyasa masuk ke dalam area sekolah dan dengan cepat di sambut oleh murid-muridnya yang begitu senang atas ke datangannya. Wajahnya yang tadi tampak sedikit muram langsung berubah penuh keceriaan ketika melihat anak-anak didiknya. Dia tampak sumringah dan ceria bermain dengan anak-anak itu.
__ADS_1
Archie hanya bisa mengamati dari jauh apa yang dilakukan oleh Ceyasa, sepertinya sekolah itu seperti sekolah alam, di mana seluruh pelajarannya lebih banyak dilakukan di luar kelas, sesekali Archie tersenyum melihat gaya Ceyasa, dia benar-benar menikmati pekerjaannya itu.