
"Ada apa? batalkan semua pertemuan dan jadwalku hari ini, aku sedang tak ingin diganggu, " kata Liam lagi, mulai memakai kaca matanya dan segera membuka berkas yang entah apa isinya di atas mejanya, dia sama sekali tidak peduli.
"Tuan Jofan sudah menunggu Anda di luar," kata Asisten Liam lagi segera, membuat Liam seketika berhenti dari kesibukannya yang dia buat sendiri, mendengar nama itu, tatapan matanya langsung menajam, dia membuka kaca matanya kembali, melihat ke arah Asisten Liam yang berdiri dengan sikap sempurnannya. Wajah Liam seperti berpikir, tak lama dia langsung mengatakan,
"Biarkan dia masuk, dan tinggalkan kami berdua," kata Liam lagi, wajahnya tampak penuh emosi, Asisten Liam hanya mengangguk, segera berjalan dan membukakan pintu untuk Jofan, Jofan melihat lurus pada Liam yang juga menatapnya dengan sangat tajam, Asisten Liam segera keluar begitu Jofan masuk, menutup pintu itu rapat-rapat.
Pandangan Jofan dan Liam terpaut, saling menatap dengan penuh perasaan emosi, baik Liam ataupun Jofan, sama-sama mengepalkan tangan mereka, mencoba meredam amarah mereka, Jofan berjalan mendekat ke arah meja kerja Liam, Liam melihat Jofan yang wajahnya semakin jelas itu segera bangkit dan berjalan, semakin dia dekat, semakin tak bisa dia mengotrol dirinya, emosinya karena baru saja ditolak hanya gara-gara pria brengsek ini semakin memuncah, dia segera berjalan cepat ke arah Jofan, dan seketika Jofan sudah di dekatnya, tanpa aba-aba apapun, Liam menghantamkan tinju pada pipi Jofan, pria ini yang sudah mengambil Aurora darinya.
Jofan menahan dirinya untuk tidak jatuh, sebenarnya sudah tahu Liam akan memukulnya dari emosi yang terpancar dari wajahnya dan dia bisa saja menapisnya, namun Jofan memilih menerima pukulan itu, pipinya pegal seketika.
Liam diam menatap wajah Jofan, pria ini tak lebih tampan darinya, kelakukannya pun jauh dari Liam, tapi entah apa yang Aurora lihat dari pria ini hingga dia begitu teguh mempertahankannya sebagai suaminya.
"Apa lagi maumu?" geram Liam pada Jofan.
Jofan memegangi sudut bibirnya, sedikit terasa perih, mungkin karena ada sobekan di sana, namun tak terlihat darah yang keluar, hanya rasa anyir yang menyerebak di dalam mulutnya. Jofan yang mendengar pertanyaan Liam segera menatap pria itu, Liam menatap Jofan dengan mata yang memerah.
"Aku datang untuk minta sesuatu padamu," kata Jofan lagi, suaranya terdengar bergetar, wajahnya tampak sayu seperti orang yang tak tidur semalaman, terlihat cukup berantakan.
"Apalagi maumu? kau ingin kau menjauhi Aurora? " tanya Liam penuh dengan wajah emosinya, sakit hatinya belum kelar, dia harus bertemu pria ini pula.
"Jaga dia," kata Jofan lagi, membuat Liam yang tadinya penuh dengan emosi segera mengerutkan dahi.
"Kau mau aku menjaga dia?" tanya Liam, ini diluar pemikirannya, melihat bagaimana sikap Jofan padanya selama ini, Liam tahu sedikit banyaknya Jofan pun sudah menyukai Aurora, tapi kenapa dia meminta untuk menjaga Aurora, jadi Jofan lebih memilih anaknya itu dari pada Aurora, sekarang Liam benar-benar kasihan dengan nasib Aurora, dia berusaha bertahan untuk pria ini, namun pria ini dengan mudahnya menyerahkan Aurora pada dirinya.
__ADS_1
"Tak bisakah kau jadi seorang pria? tak bisakah kau mengalahkan ego dan keinginanmu untuk membuat orang yang sudah ada di sampingmu selama ini bahagia, kau tahu bagaimana sakitnya dia jika tahu kau datang dan menyerahkannya dengan mudah padaku? tadi siang dia bersikeras menolak perasaanku karenamu, tapi lihatlah, pria yang dia pertahankan ternyata hanya pria yang sangat brengsek," kata Liam jadi marah karena hal ini, dia bukannya senang Jofan sudah menyerahkan Aurora padanya, dia semakin meradang, bagaimana nasib Aurora seburuk itu.
Jofan tampak diam, memandang kosong tak terusik, bahkan dengan semua kata-kata Liam itu, dia tetap menatap nanar, Liam terdiam melihat kekosongan itu, kesedihan paling dalam yang terpancar dari sana.
Jofan maju lebih dekat pada Liam, membuat Liam semakin mengerutkan dahinya, tiba-tiba Jofan menarik tangan kanan Liam, menaikkannya, dan segera menyalami tangan Liam dengan paksa, matanya yang kosong itu tampak sedih, namun kemudian berubah menjadi sangat tajam.
"Tolong, jaga dia," kata Jofan langsung, membuat Liam benar-benar bingung apa yang sedang dilakukan oleh Jofan, jabatan tangan Jofan begitu erat, mantap menggenggam, setelah beberapa detik, dia segera melepaskan tangan Liam, yang masih terpaku, tak menunggu jawaban Liam, Jofan berbalik dan pergi begitu saja, Liam hanya bisa diam melihat kepergian Jofan, apa maksud pria itu? sebegitu frustasikah dia hingga seperti itu? pikir Liam menatap Jofan yang hilang di balik pintu ruang kantornya.
---***---
Aurora baru saja selesai mandi, tubuhnya terasa sangat lengket, sudah 2 hari dia tidak mandi, karena itu dia meminta untuk melepaskan infusnya dan untungnya dia memang sudah tidak lagi membutuhkan infus itu. ruangan Aurora kosong sekarang, Jenny sedang pulang untuk mengambil perlengkapannya dan juga perlengkapan Aurora, Jared bahkan sampai sekarang belum pulang setelah keluar bersama Suri, dia memberi kabar bahwa dia sedang menemani Suri, merasa tak ingin menjadi beban, Aurora mengatakan Jared harus terus menemani Suri.
Aurora keluar dari kamar mandinya, sedikit mengeringkan rambutnya yang basah karena dia baru mencucinya, saat dia melihat ruangan itu dia terhenti, melihat sosok yang sekarang berdiri di depannya, mata Aurora membesar, seolah tak percaya yang dilihatnya, sosok yang seharian ini dia cari, sekarang berdiri di depannya.
Aurora mengamati wajah Jofan yang terus melihatnya, wajahnya lebih parah dari pada terakhir kalinya, tampak sangat kusut, Jofan orang yang sangat suka kerapian, seluruh yang dikenakannya haruslah rapi, namun sekarang pria itu tampak jauh sekali dari kata rapi, Aurora begitu prihatin melihatnya dan mungkin juga karena kerinduannya, air matanya tak dapat lagi dibendungnya.
Aurora berjalan mendekat, memastikan bahwa ini bukanlah tipuan matanya semata, dia takut semua ini hanya karena rindunya pada sosok ini, tangannya sedikit gemetar ingin menyentuh Jofan, Jofan langsung menggenggam tangan Aurora yang gemetaran, membuat Aurora sedikit kaget namun langsung segera tampak begitu senang, ini semua nyata, Jofan segera tersenyum melihat senyuman senang Aurora, dia langsung menarik Aurora dalam pelukannya, membiarkan rasa rindunya yang begitu dalam, keduanya langsung saling berpelukan dengan sangat erat, menumpahkan seluruh rasa yang sangat dalam yang bahkan kata-kata tak mampu sampaikan lagi.
"Ada apa denganmu?" kata Aurora segera melepaskan dirinya setelah rasa rindunya sedikit tersalurkan. Dia melihat wajah Jofan yang tampak lembut menatapnya, namun matanya begitu cekung, sembab dan juga menghitam, benar-benar terlihat sangat tertekan.
"Aku tidak apa-apa," kata Jofan terdengar serak.
"Kau terlihat sangat lelah," kata Aurora memegang pipi Jofan, namun sentuhan lembut dari Aurora itu malah membuat pertahanan Jofan runtuh, dari tadi dia mencoba untuk tidak menangis, namun ternyata tak bisa, dia sangat merindukan Aurora, sentuhan lembutnya, suaranya, tatapan matanya, begitu dia rindukan, dan kemarin dia bahkan tak tahu wanita ini akan selamat atau tidak, dan gilanya dia harus meninggalkan wanita ini.
__ADS_1
"Maafkan aku," kata Jofan lagi dengan tangisan yang haru, membuat Aurora tersentuh melihatnya.
"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun," kata Aurora segera memegangi kedua pipi suaminya yang menangis pilu di depannya.
"Maafkan aku untuk semuanya, aku sudah mengecewakan kalian semua," kata Jofan tak lagi memperdulikan wibawa ataupun harga dirinya, hanya di depan Auroralah dia bisa menumpahkan segalanya.
"Aku tahu pasti ada alasan lain hingga kau melakukan hal seperti itu," kata Aurora lagi, sedikit bingung kenapa Jofan begitu menangis, seolah begitu merasa bersalah yang sangat.
Jofan tak menjawab, dia terus menangis seolah ingin melampiaskan seluruh rasa sakit yang menumpuk dalam dirinya, penuh dan rasanya dia sudah tak sanggup lagi, karena itu dia hanya ingin menumpahkannya semua.
Aurora merasa tangis Jofan begitu menyayat, bulir air mata yang turun dari matanya langsung diusap oleh Aurora, melihat suaminya yang begitu tertekan dia, Aurora pun ikut menangis, apa yang sudah terjadi selama dia tak sadar, sedalam itukah penyesalan Jofan.
Jofan menarik napas panjang, seolah dia tak bisa lagi bernapas, hidungnya yang berair disekanya, matanya yang memerah dan basah itu segera menatap wajah cantik istrinya, dia menghapus air mata dari mata Aurora, menghapusnya sangat perlahan, lalu sekali lagi menarik tubuh Aurora dalam pelukkanya, ingin merasakan kehangatannya lebih lama lagi.
Cukup lama mereka berpelukan, Aurora tak ingin lagi bertanya, biarlah Jofan menumpahkan segalanya sekarang, setelah beberapa saat, Jofan segera melepaskan dirinya pada Aurora, menghapus air matanya, kembali menatap wajah Aurora yang menatapnya dengan senyuman tipis nan manis, penuh cinta dan perasaan.
"Aku mencintaimu," kata Jofan serak dan hampir tercekat, membuat Aurora mengangguk pelan namun lama-lama mengeras.
"Aku tahu," kata Aurora juga dengan suara tangisnya.
"Ingatlah itu, aku mencintaimu, maafkan aku dengan segala perbuatanku, jika aku punya waktu lebih, akan ku tebus semuanya, membuatmu bahagia dengan sisa hidupku, jika tidak, ingatlah, tunggu aku dikehidupan berikutnya, aku akan membuatmu bahagia di sana," kata Jofan berkata lirih pada Aurora, dia memandang wajah Aurora yang tampak bingung dengan kata-kata Jofan, Jofan tersenyum manis, dia lalu mengecup bibir Aurora sesaat namun sangat penuh perasaan, Jofan kembali tersenyum.
"Aku mencintaimu," kata Jofan lagi, namun kali ini dia melepaskan tubuh Aurora, dia tersenyum begitu manis, memegang kedua sisi kepala Aurora lalu mengecup sedikit dahi Aurora, dan setelah itu segera berbalik, berjalan cepat meninggalkan Aurora begitu saja, Aurora masih seperti mimpi itu hanya terdiam melihat Jofan yang pergi bagai angin lalu, dia ingin mengejar, namun Jofan seperti pergi begitu saja, tak lagi terlihat dimana dia sekarang, Aurora masih bingung, benarkah itu Jofan? ataukah itu hanya halusinasinya saja, tapi tadi itu terasa begitu nyata.
__ADS_1