
"Tidak, aku tidak ingin, aku ingin pulang dan tidur," kata Ceyasa lagi menatap Rain yang masih sangat santai mengusap bibirnya perlahan, Rain hanya melirik ke arah Ceyasa.
"Jika tak ku izinkan kau ingin apa? menurutmu kau sanggup keluar dari sini, jika sanggup, aku persilakan," kata Rain benar-benar enteng, membuat Ceyasa mengerutkan dahinya, apakah sesusah itu keluar dari rumah ini.
"Kau tidak akan melarangku, atau mencegatku? " tanya Ceyasa dengan sedikit ragu.
"Tidak, coba saja, jika kau bisa keluar dari pintu depan, akan ku lepaskan kau selamanya, tapi jika tidak, seumur hidupmu kau harus mengikuti perkataanku, bagaimana?" kata Rain mendekati Ceyasa, dia memberikan tatapan mata yang sangat tajam pada Ceyasa menaikkan sedikit sudut bibirnya, membuat Ceyasa cukup kaget, tapi Ceyasa bukanlah orang yang gampang menyerah, mendapatkan tawaran yang cukup menghiruakan untuk lepas dari pria aneh ini tentu saja dia harus mencobanya, lagi pula kalau pun dia tidak mencobanya, entah sampai kapan pria aneh itu akan melepaskannya.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ujar Ceyasa mantap, menaikkan sedikit dagunya membuat gestur melawan.
Rain menatap wajah Ceyasa yang terlihat sangat anggun malam ini, Rain terus menganalisa wajah Ceyasa yang benar-benar terlihat teguh dengan perkataannya, membuat Rain kembali menaikkan sudut bibirnya, tak percaya gadis ini ternyata benar-benar menarik.
"Baiklah, silakan, pintu depan terbuka lebar," kata Rain memberikan gestur mempersilakan.
Ceyasa sekali lagi menyipitkan matanya pada Rain yang menatapnya tajam, tak mengambil waktu lama, Ceyasa langsung berjalan menuju pintu keluar, Rain dengan senyuman tipis hanya mengikutinya dengan perlahan, ingin tahu sejauh mana wanita ini akan bisa lari darinya.
Ceyasa tak melirik ke belakang, langkahnya cepat ditapakkanya di lantai yang cukup terasa dingin dan entah kenapa terasa jarak antara tempatnya tadi dengan pintu utama itu sangat jauh, dan saat pintu utama itu sudah di depan matanya, Ceyasa merasa sangat bahagia, apa lagi seperti katanya, Rain sama sekali tidak menghalanginya, bahkan memanggilnya pun tidak.
Ceyasa langsung membuka pintu utama itu, dia pikir pintu itu bisa saja terkunci, namun tidak, pintu terbuka dengan sangat mudah, Ceyasa langsung menjejakkan kakinya keluar, namun baru beberapa langkah, langkahnya langsung terhenti, matanya terbelalak, dan dengan cepat dia mundur beberapa langkah.
Ada hampir 20 anjing German Sheperd berjajar dipegangi oleh para penjaga masing-masing menunggu di depan pintu, suara mereka yang nyaring membuat hati Ceyasa bergetar gentar, wajah mereka sangat begis seolah jika Ceyasa melangkah lebih lanjut mereka siap menerkam Ceyasa, selain itu ada 2 singa yang tampak diurusi oleh beberapa pawang.
Melihat hal itu tentu saja Ceyasa sangat takut, kalau begini sama saja menyerahkan dirinya sebagai santapan mereka, Ceyasa langsung kembali mundur dan menutup pintu utama itu, menarik napas dalam-dalam karena dia hampir saja pingsan melihat hewan-hewan buas yang entah bagaimana ada di sana semua, pantas saja pria aneh itu dengan gampangnya mengatakan hal itu, ternyata pasukannya bukan saja manusia, kalau saja tadi itu semua manusia, setidaknya dia masih bisa melawan, kalau 20 anjing dan 2 singa jantan, siapa yang akan berani?
Ceyasa membalikkan tubuhnya, dan dia tersentak kaget, melihat Rain yang ternyata sudah ada dibelakangnya, apa lagi ketika Rain terus mendekatinya dan berhenti benar-benar di depannya, wajah Rain tampak mengamati wajah ketakutan Ceyasa, seolah menikmati hal itu, Rain malah tersenyum manis, namun Ceyasa berusaha untuk tetap tidak terlihat takut, padahal menelan ludahnya saja dia sudah tak sanggup, jantungnya berdegup sangat cepat, dan keringat dingin mulai membasahi lehernya yang putih.
"Sekarang kau akan mengikuti perkataanku selamanya," ujar Rain lagi dengan tatapan tajam menusuk Ceyasa, Ceyasa semakin takut, merasa Rain sepertinya lebih mengerikan dari pada peliharaannya. Ceyasa tak menjawab karena bernapas saja dia sudah karena terus dihimpit oleh Rain.
"Kau tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh kan?" kata Ceyasa mencoba untuk mengeluarkan dirinya.
__ADS_1
"Tenang saja, aku hanya ingin kau menemaniku, bukan ingin menidurimu," kata Rain lagi melihat Ceyasa dari atas hingga bawah, tak lama dia meninggalkan Ceyasa, membuat Ceyasa bisa bernapas dengan lebih lega.
"Aku punya lebih banyak wanita yang tubuhnya lebih menggoda untuk ditiduri dari pada dirimu, ikut aku ke ruang teater," ujar Rain yang tak melihat ke arah Ceyasa, Ceyasa memasang wajah masamnya, apakah dia memang tak semenarik itu hingga semua pria mengatakan dia tidak menarik, tapi baguslah, setidaknya karena itu pria-pria ini tak punya nafsu dengannya.
Ceyasa akhirnya bisa bernapas lega, setidaknya walaupun Rain ingin dia menemaninya, dia tak akan tertarik melakukan hal-hal aneh padanya, Ceyasa dengan senang hati mengikuti Rain yang mengarahkannya ke sebuah ruangan di bagian belakang rumah itu.
Asisten Qie membukakan pintu untuk Rain masuk ke dalam sebuah ruangan yang tampak remang.
"Silakan Nona," ujar Asisten Qie tersenyum, Ceyasa hanya melemparkan senyum sedikit, merasa mungkin Rain hanya butuh Asisten wanita. Ceyasa melihat Rain duduk di salah satu sofa yang ada di sana, di depan mereka ada layar putih yang cukup lebar.
"Duduklah di ujung sana," kata Rain yang seolah sangat anti berdekatan dengan wanita, Ceyasa saja diperintahkan untuk duduk di ujung sofa yang dia duduki, jarak antara mereka cukup jauh. Tak berapa lama lampu meredup, dan terlihat cahaya dari belakang mereka memunculkan gambaran di layar putih di depan mereka.
Sebuah gambaran tentang seorang wanita yang sangat cantik berusia kurang lebih seumuran dengan Ceyasa sedang terlihat memasak di dapurnya, mengaduk-aduk adonan seperti ingin membuat kue, wanita itu benar-benar begitu semangat dan senang melakukan hal itu, tampak disetiap detiknya dia terus menyungingkan senyuman manis, seolah sedang jatuh cinta.
Ceyasa menatap ke arah Rain yang tampak begitu terhipnotis melihat hal itu, matanya sendu seolah menahan gejolak rindu, dia benar-benar menatapnya dengan tatapan lembut, memunculkan perasaan yang belum pernah Ceyasa lihat selama dia mengenal Rain, melihat itu Ceyasa menyimpulkan, mungkin wanita ini adalah kekasih Rain.
"Wanita itu sepertinya aku sering melihatnya, senyumnya, mirip …. " kata Ceyasa mencoba mengingat dimana dia melihat tawanya.
"Dengan mu, tawanya mirip denganmu," ujar Rain dengan suara lebih lembut, menatap ke arah Ceyasa yang tampak kaget, ya, pantas begitu familiar, wanita itu jika tertawa dan tersenyum ternyata mirip dengan senyumannya, apa itu alasannya Rain ingin Ceyasa ada di sampingnya?
Rain hanya menatap Ceyasa sekilas, dia kembali lagi menatap ke arah video yang ada di depannya, menatap bahkan tanpa berkedip, bergerak sedikitpun tidak, seperti tak ingin kehilangan setiap detiknya, karena itu Ceyasa juga mencoba untuk tidak lagi mengganggunya.
Cukup lama akhirnya wanita itu selesai membuat kue tart seperti untuk ulang tahun, dia lalu segera membawa kue ulang tahun itu masuk ke dalam sebuah ruang makan sederhana di mana seorang anak berumur 3 tahun duduk di tempat duduk bayinya.
Semua orang yang ada di ruangan itu langsung menyanyikan lagu selamat ulang tahun, di titik itu Rain tersenyum manis, Ceyasa memperhatikan hal itu.
"Selamat ulang tahun Rain, ibu menyayangimu dan akan selalu menyayangimu, " kata wanita itu lembut, seolah memberikan pesan untuk Rain, dan video itu berhenti, menayangkan wajah wanita itu tersenyum lembut.
"Dia …. " ujar Ceyasa ketika lampu dihidupkan.
__ADS_1
"Ibuku," kata Rain lagi menundukkan pandangannya.
"Apakah hari ini ulang tahun mu?" tanya Ceyasa lagi.
"Ya, " ujar Rain lagi tak punya minat berpanjang lebar. Ceyasa akhirnya tahu kenapa Rain harus bersusah payah mengajaknya ke sini hanya untuk menemaninya malam ini, ini adalah hari ulang tahunnya, tapi kenapa tidak mengajak ibunya saja ke sini?
"Maaf, tapi dimana dia sekarang?" tanya Ceyasa lagi yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Dia sudah tidak ada," ujar Rain lagi sambil memperhatikan wajah ibunya yang masih terpampang jelas di depan matanya. Ceyasa merasa sedikit bisa memahami perasaan Rain.
"Orang tuaku juga sudah tidak ada sejak aku kecil, kau tidak akan apa-apa, hidupmu juga sangat baik," kata Ceyasa melihat ke arah Rain, setidaknya nasibnya lebih baik dengan semua kemewehan yang dia punya, "kau lebih beruntung dariku, setidaknya kau tidak perlu bekerja keras untuk menyambung hidupmu dari hari ke hari, aku bahkan tak punya siapa-siapa, kau masih beruntung," kata Ceyasa memberi semangat untuk sesama anak yang tak memiliki ibu sambil mencoba menahan ngantuknya, namun tak lama tak sanggup juga, sebelum Rain meresponnya, Ceyasa sudah menutup matanya sambil terduduk.
Rain melihat Ceyasa yang tertidur, awalnya dia ingin membangunkannya, berani-beraninya wanita ini tertidur sebelum dia tidur, namun memperhatikan wajah kelelahan Ceyasa, dia menarik napasnya dan segera memanggil Asisten Qie yang berdiri di dekat pintu.
"Ambilkan bantal dan selimut yang nyaman untuknya," kata Rain lagi.
"Baik Tuan," kata Asisten Qie, dia segera keluar dan tak lama menunggu, Asisten Qie membawa bantal dan selimut untuk Ceyasa. Asisten Qie ingin melakukannya untuk Ceyasa.
"Biar aku saja," pinta Rain pada Asisten Qie, dia menjulurkan tangannya untuk meminta bantal dari Asisten Qie, Asisten Qie yang mendengar itu langsung kaget dan menatap Tuannya tak percaya, namun dia segera memberikan bantal yang dibawanya.
Rain mengambil bantal dari tangan Asisten Qie, dia meletakannya di dekat sandaran tangan, dan dengan perlahan dia mengubah posisi Ceyasa yang terduduk menjadi tiduran di sofa yang besar dan memang terasa nyaman itu, Rain perlahan meletakkan kepala Ceyasa di bantal yang empuk itu, membuat Ceyasa tampak langsung nyaman, karena hal itu pula Rain bisa melihat wajah Ceyasa yang semakin menarik ketika tidur, tanpa sadar Rain tersenyum manis, dia meletakkan rambut-rambut kecil Ceyasa yang jatuh di wajahnya, meletakkannya ke belakang agar tak menganggu tidurnya, Rain lalu mengambil selimut dan mulai menyelimuti tubuh Ceyasa dengan perlahan, Asisten Qie yang melihat itu sedikit kaget, tak pernah melihat Tuan melakukan hal ini pada siapa pun.
Tangan Ceyasa yang ada disamping wajanya tampak terbuka, Rain mengerutkan dahi, tampak merah dan terkelupas, Rain lalu meraba sedikit telapak tangan Ceyasa, terasa kasar sekali, seperti dia benar-benar bekerja dengan kasar dan keras, entah kenapa perasaannya malah tak enak.
"Aku ingin dia dijaga semalaman," kata Rain lagi pada Asisten Qie
"Baik Tuan," ujar Asisten Qie.
Rain kembali melihat ke arah Ceyasa yang langsung nyenyak tertidur, terlihat sekali benar-benar kelelahan, wajah Rain datar tak bisa tertebak apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, setelah itu dia meninggalkan Ceyasa tertidur di ruang itu.
__ADS_1