
Suri tersenyum lalu mengangguk, dia segera berdiri dan menuju ke kamar mandi, Ceyasa yang tak sabar itu menunggu di depan kamar mandi mereka, akan lucu jika Suri hamil, maka anak mereka anak tak terlalu jauh umurnya.
Ceyasa menunggu dengan tak sabar, ketika pintu terbuka, wajah sumringah Ceyasa langsung menyambut Suri yang berwajah sendu, Suri menggeleng dengan perlahan, membuat senyuman Ceyasa langsung disimpannya.
"Benarkah? mungkin alat ini sudah rusak, dia sudah terlalu lama di simpan," ujar Ceyasa yang melihat testpack yang menunjukkan hasil negatif, Ceyasa melirik ke arah Suri yang berwajah kecewa.
"Tidak apa-apa, masih dua bulan bukan, di sini juga tertulis paling akurat saat pagi hari, nanti kita coba lagi, bulan depan Xander akan imunisasi, ikutlah, dan kita akan periksa ke dokter kandungan," hibur Ceyasa pada Suri, Suri hanya mengangguk memaksakan senyuman, benarkan, dia kecewa, beruntungnya hanya dia yang merasakannya buka Jared.
"Apa Xander sudah tidur?" ujar Archie yang masuk ke dalam kamar mereka, melihat Ceyasa dan Suri yang berada di depan kamar mandi mereka.
Suri yang melihat Archie sedikit sungkan, bagaimana pun mereka sudah berbeda sekarang.
"Aku e permisi," kata Suri langsung.
"Baiklah, aku akan memberitahu kapan imunisasi Xander," kata Ceyasa semangat seperti sedia kala.
"Baik," kata Suri, dia berhenti sejenak di depan Archie, memberikan hormat lalu pergi dari kamar utama Raja dan Ratu itu.
Archie mendekati Ceyasa dengan kerutan di dahinya, ingin tahu ada apa dengan imunisasi Xander, Ceyasa yang melihat kerutan di wajah Archie hanya segera tersenyum, ingin membuang alat test pack itu ke tempat sampah namun di cegah oleh Archie yang segera menggenggam pergelangan tangan Ceyasa, Archie menatap Ceyasa.
"Kenapa menatapku seperti itu?" kata Ceyasa bingung, Archie menatapnya seperti polisi memandang maling.
"Ini apa?" tanya Archie.
"Oh, ini alat test kehamilan," kata Ceyasa enteng.
"Tes kehamilan, kau baru melahirkan dan ingin hamil lagi? untuk apa di tes, kita kan belum melakukannya lagi sejak kau melahirkan?" tanya Archie mengerutkan dahi, apa hamil menjadi hobi Ceyasa sekarang?
"Bukan, bukan milikku, untuk apa hamil sekarang, Xander saja umurnya belum genap sebulan, ini tes untuk Suri, tadi aku membantunya, tapi hasilnya masih negatif, Suri jadi kecewa," kata Ceyasa bernada lemah setelahnya, Archie hanya mengulum bibirnya, tak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
"Ya, mudah-mudahan mereka cepat mendapatkan momongan," kata Archie.
"Ya, ehm, Archie?" kata Ceyasa yang ingat sesuatu.
"Ya?" kata Archie, baru saja ingin melangkah ke arah Xander, namun terhenti karena panggilan Ceyasa.
"Kapan kita bisa mengetahui tentang penyakit yang akan dibawa Xander?" tanya Ceyasa, mengingat Suri, mengingatkannya pada penyakit keturunan Keluarga Archie, Xander belum sepenuhnya Baik jika penyakit itu belum ditahlukan.
"Dokter bilang Xander masih terlalu kecil, apalagi Xander lahir prematur, mungkin menunggunya sedikit lebih besar untuk diambil darahnya, jangan khawatir ya? aku ingin kau menikmati waktu ini dengannya," kata Archie.
"Baiklah,"Kata Ceyasa mencoba untuk menerimanya, benar, saat ini dia hanya ingin menikmati setiap detiknya dengan Xander, dia hanya berdoa setiap hari agar Xander terlepas dari penyakit keturunan itu, ntah itu bisa atau tidak.
---***---
Suri membuka matanya, melihat ke sekeliling kamarnya yang sudah terang bermandikan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya, dia memicingkan matanya, baru kali ini dia bangun kesiangan.
Tapi, hari ini entah kenapa dia merasa tubuhnya sangat lelah, seakan malas untuk meninggalkan kehangatan dari tubuhnya yang menempel erat di bantal dan ranjangnya.
Suri menapakkan kakinya ke lantai marmer rumah mereka, semenjak dia keluar dari Istana, mereka tinggal sendiri di rumah mereka.
Suri memutuskan untuk membersihkan diri, melihat wajah cantiknya di cermin, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka dan tetap saja, belum ada tanda-tanda adanya kehidupan kecil yang akan berkembang di perutnya.
Suri mengusap wajahnya, keluar dari kamar mandi dan melihat ponselnya, sebuah pesan masuk dari Jared ada di sana.
'Selamat pagi, sudah bangun? maafkan aku tidak membangunkanmu, karena aku melihat kau terlelap sekali, beritahu aku jika kau sudah bangun, akan ku jemput untuk makan siang' isi pesan Jared yang langsung membuat Suri tersenyum.
'Aku sudah bangun, baiklah, beritahu saja aku jika kau sudah jalan dari perusahaan,'balas Suri.
'Baiklah, tunggu aku, Aku mencintaimu,'
__ADS_1
sebuah kata yang tak pernah sehari pun tak diucapkan oleh Jared.
Suri benar-benar malas hari ini, rasanya seluruh tubuhnya nyeri, mungkin ini efek dari kemarin saat dia memutuskan untuk membersihkan rumahnya bersama para pelayannya, sekedar mencari kegiatan, karena Suri sama sekali bukan wanita yang suka keluar.
Jam berdetik, Jared melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya, dia sudah memberitahukan bahwa dia akan segera menjemput istrinya untuk makan siang bersama menghabiskan waktunya berdua hingga malam menyinsing, namun herannya dan tak seperti biasanya, Suri tidak membalas apapun yang dikirimkan oleh Jared, karena itu dia putuskan secepatnya pulang, takut ada apa-apa dengan Suri.
Jared melihat ke dalam kamarnya, menemukan istrinya sedang tidur bergulung selimut, aneh sekali, Suri bukan wanita yang suka tidur siang, Jared semakin cemas karenanya.
Dia mendekat ke arah Suri yang tampak begitu nyenyak, meletakkan tangannya ke dahi Suri, istrinya itu demam.
Jared langsung kaget, kemarin dia tak apa-apa, saat tadi pagi pun Suri masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba demam?
"Suri, Suri?" Jared sedikit menggoyanykan tubuh istrinya, membuat Suri yang kepalanya terasa sangat berat itu membuka matanya, melirik Jared yang berwajah cemas, melihat pipi istrinya yang memerah.
"Kau e sudah eh pulang?" kata suri hampir seperti racauan
"Sudah, kenapa tak memberitahuku kau demam?" suara Jared tetap selembut mungkin walau dia sudah cemas.
"Aku demam? eh masa?" tanya Suri yang mencoba duduk, dia memegang pipi dan dahinya, ternyata benar.
"Ayo ke rumah sakit," kata Jared ingin mengendong Suri.
Tidak, tidak perlu, ini hanya demam biasa, mungkin aku terlalu lelah membersihkan rumah kemarin, kata Suri manja dengan bahasa isyaratnya, dia tak ingin ke rumah sakit hanya karena demam.
Begini saja, jika sampai malam aku masih demam, kau boleh membawaku ke rumah sakit, rayu Suri.
"Tidak, sekarang saja, aku tidak ingin kau semakin parah," kata Jared, tak ingin menunggu.
Aku benci bau rumah sakit, kau tahu itu kan?' kata Suri lagi.
__ADS_1
"Ya, Tapi ...." kata Jared masih tak bisa mentolerir hal itu
Tolong, aku hanya ingin tidur lebih lama di sini, aku janji malam nanti kita sudah akan bisa makan makan untuk merayakan anniversary kita yang pertama, kata Suri memegang tangan Jared, hangat menyelimutinya.