Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
174 - Kabar Bahagia Untuk Ibunda Ratu.


__ADS_3

Archie terdiam di ruangan kamarnya, menatap ke arah jendela kamarnya yang menujukkan pemandangan kolam renang itu, dia hanya diam menatapnya berjam-jam, menahan sesak di dada yang entah kenapa terasa.


Diingatannya dia bisa melihat tingkah konyol wanita itu, Archie sudah menunggunya, cukup lama hanya ingin tiba-tiba wanita itu muncul dengan ide-ide gilanya, wajahnya yang kesal setiap kali Archie berbicara padanya, atau kata-kata gila yang biasa dia katakan, kenapa Archie sangat meridukan semua hal itu sekarang?


Apakah Archie benar-benar sudah membuatnya marah hingga harus meninggalkannya begitu saja, bahkan tidak ingin mengatakan apapun padanya? Kenapa harus pergi begitu saja? kenapa tidak mencaci maki dirinya saja dulu seperti biasanya dia lakukan, bahkan sekarang jika Ceyasa datang hanya untuk mencacinya, Archie berjanji untuk tidak membalasnya. Kenapa dia begitu cepat merindukan sosok wanita itu sekarang?


Lamunan panjang Archie terhenti sejenak mendengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya, Archie menarik napas panjangnya, dengan suara berat dia menjawab.


"Masuklah."


Pintu kamar itu perlahan terbuka, Gerald tampak mengintip sejenak, mencari dimana sosok Archie berada, akhirnya dia menemukannya di dekat jendela kamarnya, terduduk diam.


"Ada apa?" tanya Archie datar dan dingin, tak ada semangat dari nada bicaranya itu, seolah semangatnya hilang begitu saja.


"Sudah cukup sore, kau bahkan belum makan apa-apa dari tadi pagi, makanlah, jangan siksa dirimu sendiri," kata Gerald setelah menutup pintu dengan perlahan agar dia bisa leluasa berbicara pada Archie.


"Kau sudah tahu kemana dia pergi?" tanya Archie bergeming di tempat duduknya, menatap lurus ke arah kolam renang yang dengan cepat terselimuti remang malam, awalanya dia memang tak ingin lagi mencari wanita itu, egonya cukup besar menguasai pikirannya, namun semakin lama, semakin dia tidak bisa membiarkan wanita itu pergi begitu saja, jika memang dia ingin pergi, Archie harus berbicara dulu dengannya.

__ADS_1


"Belum, tidak tahu dia pergi kemana, tapi aku yakin dia juga tidak ingin kau seperti ini, dia hanya tak ingin kembali menjadi bebanmu, mungkin perkataanmu kemarin cukup membekas untuknya, Ceyasa orang yang tak suka membebani orang lain, dia pasti sangat bersalah karena semua hal itu," kata Gerald lagi mencoba memberikan pengertian pada Archie, mendengarkan seluruh kronologi pertengkaran Archie dan Ceyasa kemarin dari Lusy. Itu masuk akalnya jika Ceyasa meninggalkan Archie setelah menyalahkannya.


Archie terdiam, dia benar-benar menyesal karena sudah mengatakan hal menyalahkan itu, tak tahu ternyata dia sudah cukup terbiasa dengan kehadiran gadis cerewet yang ceria itu, tanpanya entah kenapa rasanya terasa sangat sepi, gadis yang selalu saja membuatnya kesal namun gara-gara itu dia melupakan seluruh sedihnya dan penderitaan hidupnya.


"Ayolah, kita makan malam, lagi pula Papa dan Ibumu bertanya bagaimana kabarmu, mereka mengatakan walaupun kau di rumah, kau sama sekali tidak menemui mereka," kata Gerald lagi mengatakan apa yang di adukan oleh Nakesha padanya, Nakesha sedikit khawatir melihat keadaan Archie, mereka berpikir Archie masih saja terjebak oleh bayangan tentang hubungannya yang kandas dengan Suri, mereka tak tahu ada yang lain yang sekarang mengusik pikiran Archie.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang, siapkan mobil," kata Archie berdiri lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah Gerald, Gerald bisa melihat rona kecewa itu, menunggu seharian hanya berharap Ceyasa untuk pulang dan memarahinya, namun wanita itu seolah hilang tertelan kabut, jejaknya pun sulit untuk dilacak.


"Tak ingin makan dulu?" tanya Gerald lagi, Archie yang sedang berpura-pura memperbaiki bajunya karena tidak ingin Gerald melihat wajahnya yang kecewa segera diam.


"Aku makan bersama keluargaku saja," kata Archie lagi.


Gerald berdiri di halaman depan rumah Archie, dia sudah menyiapkan mobilnya, menunggu Archie untuk turun agar dia pulang ke istana, keremangan malam sudah hampir hilang, membiarkan gelap menutupi cahayanya perlahan-lahan membiarkan cahaya lampu taman menggantikan sedikit cahayanya.


Tak lama Archie datang, tampak berjalan menuju Gerald dengan wajahnya yang diam, dia melirik sedikit ke arah Gerald, Gerald memberikan senyuman tipis, namun Archie tak membalasnya, dia langsung masuk saja ke dalam mobil yang sudah dibukakan oleh Gerald, Gerald menutup pintunya perlahan, tak mempermasalahkan hal itu karena dia tahu percis bagaimana keadaan Archie sekarang, tak ingin buang waktu Gerald langsung masuk ke kursi depan mobil itu dan mereka segera pergi dari sana.


Perjalanan ke istana dari perumahan itu cukup lambat, beberapa kali harus terjebak keramaian jalanan, namun di dalam mobil itu hanya hening, tak sedikit pun ada yang berani membuka mulutnya, bahkan jika jarum jatuh pun akan terdengar, Gerald memperhatikan Archie yang tampak bercagak tangan pada jendela mobilnya, memperhatikan riuh pikuknya jalanan yang sama sekali tidak mengusiknya, Gerald membiarkan Archie menikmatinya, dia tak tahu harus apalagi.

__ADS_1


----***----


Bella duduk di ruang tengah istana pangeran, dengan duduk ala putrinya dia sedang menunggu Ibunda Ratu Ayana, dia harus memberitahukan tentang acara penerimaan pinangan Jofan dan sekaligus pertunangan Jared dan Suri.


Dia sedikit tersenyum ketika melihat Ibunda Ratu berjalan dengan sedikit tertatih, keluar dipegangi oleh Nakesha yang dengan sabar berjalan di sampingnya, Ibunda Ratu Ayana yang tampak lebih segar hari ini dia langsung membalas senyuman Bella, Bella berdiri menyambut dirinya, Nakesha membantu Ibunda ratu untuk duduk di sofa  tunggal di bagian tengah.


"Selamat Malam Yang Mulia Ibunda Ratu," kata Bella memberikan salam yang sangat anggun.


"Duduklah Bella," suara renta yang bergetar itu terdengar, kesehatannya akhir-akhir ini memang memburuk.


"Terima Kasih Ibunda Ratu," kata Bella dengan senyuman manisnya, Nakesha duduk di seberang Bella, duduk dengan tata kramanya, "bagaimana kabar Ibunda Ratu?"


"Cukup baik hari ini, aku sudah terlalu tua untuk semua hal-hal ini, mungkin sudah dekat saatnya aku kembali bertemu keluargaku yang sudah mendahului," kata Ibunda Ratu dengan sedikit meracau.


"Ibunda, jangan mengatakan hal itu," kata Nakesha lembut, membuat pandangan Ibunda Ratu Ayana yang tadinya sendu sedikit menyipit karena senyum lebarnya menatap Nakesha.


"Aku tak akan pergi jika kalian terus menginginkan aku seperti itu, " kata Ibunda Ratu Ayana lagi, umurnya sudah cukup membuatnya pikun, belum lagi obat-obatan yang dulu dia dapatkan, cukup membuatnya terkadang bertingkah seperti anak-anak.

__ADS_1


"Kami selalu menginginkan Ibunda Ratu ada di sini, apalagi ada kabar bahagia yang ingin aku sampaikan pada Ibunda Ratu," kata Bella dengan perlahan, pelan dan lembut.


"Ya?" kata Ibunda Ratu dengan suara yang lembut, wajahnya yang tua dengan keriput itu tampak begitu senang, seolah dia bisa menebak apa yang ingin dikatakan oleh Bella.


__ADS_2