Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
288 - Maafkan aku tak memberitahukan mu.


__ADS_3

Ceyasa kembali membuka matanya, aroma disinfektan yang menyengat menyeruak masuk hidungnya hal ini menandakan bahwa dia sudah ada di rumah sakit, dia lalu membuka matanya, langit-langit putih terlihat indah, kepalanya kembali sakit namun hatinya lebih sakit karena dia ingat apa yang terjadi terakhir kalinya.


"Kau sudah sadar?" terdengar suara Archie yang menyapa Ceyasa, membuat Ceyasa kaget dan langsung terduduk menjauh dan histeris.


"Jangan mendekat! Kau membunuh ayahku! Jangan mendekat!" teriak Ceyasa yang ingat bagaimana ayahnya ditembak dengan sangat dingin oleh Archie, Archie yang melihat Ceyasa histeris langsung mencoba untuk memegang kedua lengannya, memberikan tatapan lembut untuk menenangkan istrinya, dia tahu Ceyasa pasti trauma dengan apa yang dia lihat terakhir kalinya.


"Ceyasa, Ceyasa, Srrttt, jangan berisik, kau akan membangunkan ayahmu, dia harus istirahat," kata Archie lembut dan perlahan agar Ceyasa yang panik ini bisa mendengarnnya dengan jelas, Ceyasa yang mendengar hal itu sedikit mengerutkan dahi, Archie menunjuk suatu arah dengan dagunya.


Ceyasa langsung melihatnya, matanya langsung membesar dan berbinar, melihat sosok ayahnya sedang tertidur di ranjang yang tak jauh darinya, ayahnya masih hidup? Ceyasa lalu memalingkan wajahnya ke arah Archie.


"Ayahku? Dia masih hidup?" tanya Ceyasa yang tak percaya, apa ini hanya mimpi? dia melihat sendiri ayahnya ditembak mati oleh Archie.


"Ya, paman Jofan hanya mengalami luka tembak kecil di bagian bahunya, keadaannya baik-baik saja," kata Archie yang memutuskan untuk duduk di ranjang Ceyasa, memberikan penjelasan pada Ceyasa yang masih terlihat syok, tak percaya, sekaligus linglung.


"Tapi kau menembaknnya," kata Ceyasa masih dengan nada tinggi pada Archie.


"Ya, maafkan aku, aku harus melakukannya, kalau tidak aku yang menembaknnya, maka Rain akan menyuruh mu menembaknya, atau bisa saja dia yang menembak ayahmu hingga mati, jadi aku terpaksa menembak ayahmu, tapi percayalah aku menembaknya bukan di tempat yang vital, ayahmu akan selamat," kata Archie dengan lembut dan sunggingan senyuman manis.


Ceyasa memperhatikan wajah Archie, menganalisa pria yang kemarin begitu dingin itu, sekarang pria itu sama seperti suaminya sebelumnya.


"Maafkan aku harus melakukan semuanya, dan percayalah ini tak mudah bagiku," kata Archie memindahkan beberapa rambur Ceyasa ke belakang telinganya.


"Jadi ini semua hanyaa pura-pura? Jadi kau tidak amnesia?" tanya Ceyasa.

__ADS_1


"Aku mengalaminya namun Cuma sesaat, hanya berlangsung beberapa jam, dan paman Angga dan Gerald langsung memberitahukanku semuanya, dia memintaku untuk bisa masuk ke istana dan membuka akses masuk, menyelamatkanmu dan ayahmu juga nenekku, karena itu aku harus berpura-pura tidak peduli padamu, maafkan aku, sebenarnnya aku juga hampir tak tahan melihat dia menyentuhmu, tapi ini demi kebaikan kalian semuanya," kata Archie dengan kilatan kemarahan mengingat kejadian saat Rain mencium Ceyasa, dia ingin sekali meremas batang leher Rain saat itu, tapi dia berusaha sekali untuk tidak membuyarkan rencana ini.


"Tapi kenapa kau malah menyerahkanku  saat aku kabur kemarin," kata Ceyasa lagi.


"Karena jika aku biarkan kau kabur, dia akan membunuh ayahmu, dan jika ayahmu meninggal, kau pasti akan sedih, aku tidak ingin kau sedih," kata Archie mengelus pipi lembut Ceyasa, entah sudah berapa lama dia tidak memegangnnya, Ceyasa yang mendengarkan hal itu sedikit mengendurkan bahunya, menatap mata Archie yang selalu saja bisa membuatnya terperangkap.


"Kenapa kau tak memberitahuku tentang hal ini? Kalau aku tahu aku tak akan sefrustasi itu memikirkanmu dan syok saat kau menembak ayahku," kata Ceyasa melihat mata Archie yang begitu indah.


"Kalau kau tahu, aku yakin kau tak mungkin bisa seekpresif kemarin, dan Rain akan curiga tentang hal ini, maka aku terpaksa tak memberitahumu tentang hal ini, ekspresimu benar-benar menyakinkan Rain," kata Archie tersenyum manis.


“Archie, aku adalah anak dari orang yang sudah membunuh ayahmu, apa kau …. " kata Ceyasa yang merasa harus mengatakan hal ini.


"Aku tahu, aku sudah tahu, dan aku benar-benar senang ada orang yang bisa menghentikan kegilaan ayahku, dan apa kau tahu, ayahku adalah orang yang menyiksa ibumu hingga dia hampir saja tewas?" kata Archie tetap menjaga tatapan lembut itu.


"Ya, jadi apakah kau bisa menerimaku jika mengetahui salah satu sebab ibumu meninggal adalah ayahku?" tanya Archie lagi pada Ceyasa.


Ceyasa terdiam sejenak, seumur hidupnya dia hanya tahu ibunya sudah meninggal, dan marah pada Archie bukanlah sebuah hal yang akan membuat ibunya kembali lagi, lagi pula dia tidak bersalah, itu adalah kelakuan orang tuannya, dan anak tak seharusnya menanggung beban dari kesalahan yang dibuat oleh orang tuanya.


"Tentu, bagaimana pun kau adalah suamiku," kata Ceyasa dengan senyuman manis mengembang.


"Ceyasa apa Rain melakukan sesuatu padamu?" tanya Archie lembut, satu perkataan Rain yang selalu mengusik pikirannya, mendorong opini seakan dia dan Ceyasa sudah melakukan sesuatu, dan itu sangat tenganggu Archie.


"Tidak, aku dan dia tidak melakukan apapun, aku memukulnya dengan lampu saat dia bermaksud aneh-aneh denganku, " kata Ceyasa membela diri, melihat gaya bicara Ceyasa yang sudah mulai normal itu membuat Archie tersenyum sedikit.

__ADS_1


"Ya, kau membuat wajahnya babak belur, aku rasa memang kau tak perlu diselamatkan," kata Archie becanda.


"Dasar," kata Ceyasa lagi, yang langsung dibalas dengan pelukan oleh Archie, Archie sangat merindukan wanita ini, begitu juga Ceyasa, saking rindunya dia kembali menangis, dia kira dia benar-benar sudah kehilangan cinta suaminya, ternyata dia menepati janjinya untuk selalu menjaganya.


"Maaf sudah membuatmu sedih," kata Archie yang melihat betapa sedihnya Ceyasa saat tahu dia amnesia.


"Jangan pernah melakukan itu lagi, atau aku akan memukul kepalamu terus menerus hingga kau ingat padaku," ancam Ceyasa disela tangis dan tawa.


"By the way, kau kurusan," kata Archie melepaskan pelukannya, melihat ke arah tubuh Ceyasa yang menurutnya lebih kurus.


"Ya, kau kan selalu mengejekku gemuk, jadi selama disandera aku jarang makan," kata Ceyasa yang juga melihat ke arah tubuhnya.


"Kalau begitu kau harus makan banyak," kata Archie melihat wajah Ceyasa yang menurutnya selalu menggemaskan.


"Kenapa? bukannya kau suka wanita kurus, kau bilang aku gemuk dan bukan tipemu," kata Ceyasa yang sedikit mengejek Archie.


"Sudah gemuk saja, aku tidak punya bahan ledekan jika kau kurus," kata Archie lagi dengan gayanya yang memancing kekesalan Ceyasa, dia hanya tak ingin jika Ceyasa menjadi lebih menggoda untuk pria-pria lainnya nanti.


"Dasar, gak mau! Biar aku kurus!" kata Ceyasa milik Archie kesal, dia kira Archie menyuruhnya gemuk karena memang Archie suka dia gemuk.


Archie tertawa kecil melihat wajah istrinya, merindukan sekali wajah kesal itu, sangat mengemaskan, Archie lalu mendekatkan tubuhnya, memberikan ciuman hangat yang sudah lama tak bisa dia rasakan, Ceyasa menerimanya dengan lembut, juga sangat merindukan kehangatan bibir Archie, rasanya sudah lama sekali terpisah, padahal baru saja beberapa hari.


"Ehem," terdengar suara deheman yang membuat Archie dan Ceyasa langsung menghentikan ciuman mereka, Archie dan Ceyasa langsung melihat sumber suara itu, melihat Jofan yang sudah teduduk bersandar memandang mereka.

__ADS_1


"Kau," kata Jofan menunjukk Archie, Jofan langsung memberikan gestur agar Archie menjauh dari Ceyasa, Archie yang melihat hal itu membesarkan matanya, tak percaya dia disuruh untuk menjauhi istrinya, melihat wajah Archie yang kaget itu Ceyasa jadi tertawa kecil.


__ADS_2