
Jared dan Angga berjalan menuju ruangan Suri, saat pintu itu dibukakan oleh Asisten Lin, Jared dan Angga bisa melihat Suri yang sedang tersenyum mengobrol dengan ibunya yang duduk di sampingnya. Begitu pintu itu terbuka, mereka serempak melihat ke arah pintu itu, wajah mereka sumringah bertolak belakang dengan wajah yang menanggung beban berat yang sekarang ada pada Angga maupun Jared.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Bella yang segera berdiri melihat kedua pria itu melangkah menuju mereka.
"Aku harus berbicara padamu di kamar," kata Angga pada Bella. Bella lalu mengerutkan dahinya walaupun masih ada jejak senyuman di wajahnya.
"Tak bisa bicara disini? " kata Bella pelan, perasaannya langsung tak enak melihat nada suara suaminya apalagi raut wajahnya, dia tahu percis walau terlihat dingin seperti biasanya, namun dari matanya tampak guratan kesedihan yang dalam.
"Lebih baik di dalam, kita harus meninggalkan mereka, Jared ingin mengatakan sesuatu pada Suri," kata Angga melihat ke arah Suri yang sedang memperhatikan kedua orang tuannya, mendengarkan hal itu Suri mengerutkan dahinya, menatap tunangannya yang sekarang mengangkat sedikit sudut bibirnya, selalu saja terlihat dingin namun begitu sempurna.
"Baiklah," kata Bella yang akhirnya menurut, Angga segera mengiring istrinya untuk masuk ke dalam ruangan tidur mereka, meninggalkan pasangan ini untuk memiliki waktu berdua. Melihat Angga dan Bella yang sudah tidak ada lagi, Jared lalu duduk di samping ranjang Suri, wajahnya kembali menyunggingkan senyuman, tapi malah membuat Suri makin penasaran.
"Hei ada apa? kenapa kalian seperti itu? bagaimana hasil darahku?" kata Suri yang melihat wajah Jared, Jared masih tidak ingin melihat ke arah Suri, dia melihat tangan putih Suri, menyentuh perlahan lalu menggenggamnya lembut, mendapatkan perlakukan seperti itu membuat Suri semakin penasaran, tumben sekali Jared seperti ini.
"Ada apa sih? " kata Suri lagi tak tahan penasaran dengan hal ini, kenapa Jared selalu saja penuh dengan teka-teki.
Jared lalu menatap ke arah Suri, wajahnya tampak sangat normal, seluruhnya tampak seperti saat pertama kali dia bertemu dengannya, saat dia turun dari pesawat dalam genggaman tangan ayahnya, juga saat pertama kali mereka bertemu setelah terpisah, begitu cantik dan sempurna, tak akan ada yang menyangka di dalam tubuhnya ada bom waktu yang bahkan setiap detiknya bisa merenggut nyawanya. Jared menatapnya dengan tatapan sendu, membuat Suri makin mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Jared, kalau kau terus bertingkah seperti itu, aku akan marah padamu," kata Suri dengan wajah ngambeknya, dia menarik tangannya namun Jared menahannya, kembali menarik tangan itu di dekatnya.
"Mereka bilang kau sehat, sangat sehat, hanya kelelahan mengurusi semua hal ini," kata Jared lagi, dia menggigit bibir dalamnya, sebuah kebohongan yang harus dia katakan.
"Benarkan? Aku hanya kelelahan, papa dan mama memang selalu begitu, bolehkah kau membujuk dokter untuk melepaskan infus ini, ini sakit," kata Suri mengadu.
"Ya, mereka akan datang sebentar lagi," kata Jared.
"Baiklah, pesta pertunangan kita tetap jadikan? Papa belum membatalkanya kan? " kata Suri sumringah, akhirnya yang dia tunggu-tunggu hingga dia jatuh sakit seperti ini akan terjadi.
"Tidak, pesta pertunangan kita tidak akan terjadi," kata Jared melihat ke arah Suri dengan tatapan sendunya yang bisa meluluhkan semua hati wanita, mendengar itu senyum sumringah Suri perlahan menghilang, berubah wajah tak percaya.
"Iya, pesta pertunangan kita tidak akan terjadi, namun mereka akan menyelanggarakan acara yang lain," kata Jared.
"Aku tidak ingin acara yang lain, aku ingin pertunangan kita," ambek Suri menarik tangannya, melipatnya di depan dadanya, bahkan infus di tangannya tak lagi terasa, dia benar-benar kesal, untuk apa acara yang lain, apa mereka tidak tahu pesta ini penting untuk Suri, dia ingin semua orang tahu bahwa Jared adalah miliknya dan dia adalah milik Jared sekarang.
"Ya, mereka menggantinya dengan acara pernikahan kita," kata Jared dengan suara begitu lembut, merayu tunangannya yang sedang berwajah merajuk namun imut itu di depan wajahnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Suri yang tadinya sudah tidak ingin melihat Jared langsung melirik tunangan itu, dia menatap Jared yang tampak tersenyum manis sekali, Suri masih tidak percaya apa yang didengarnya, apa dia tidak salah dengar? Acara pernikahan?
"Pernikahan?" tanya Suri memastikan apa yang dikatakan oleh Jared. Jared hanya mengangguk dengan gayanya yang terlihat cuek.
"Aku meminta hal ini tadi pada Papamu dan beliau setuju, kita akan menikah hari ini," kata Jared tersenyum sumringah, padahal beban dipundaknya begitu berat.
"Kau serius? Papa menyutujuinya? bagaimana bisa? kita akan menikah? Kenapa begitu cepat?" kata Suri yang tak percaya juga bingung kenapa bisa tiba-tiba menikah?
"Srtt …. " kata Jared yang meletakkan jari telunjuknya pada bibir Suri, merasa wanitanya ini terlalu banyak bicara, melihat hal itu membuat Suri yang tadinya menggebu-gebu langsung menurunkan bahunya, menatap ke arah Jared dengan bibir manyunnya.
"Aku sudah berulang kali harus kehilangan orang-orang penting dalam hidupku, melihatmu seperti itu semalam aku tidak bisa lagi menunggu, aku tidak ingin terjadi apa-apa lagi padamu, aku ingin menjagamu seutuhnya, karena itu, aku ingin secepatnya menikah denganmu, Paman menerima hal itu, lagi pula memikirkan pesta pertunangan kita saja kau sudah sakit, aku tidak ingin ini terjadi lagi saat kau memikirkan acara pernikahan kita, Suri menikahlah denganku hari ini, " ucap Jared dengan lembut, mendengar itu Suri jadi tersenyum senang, dia langsung memeluk calon suaminya ini sambil mengangguk dengan pelan, Jared pun membalasnya, memeluk tubuh Suri erat, menghirup aroma tubuhnya yang malah membuat hatinya begitu sedih, bolehkah dia memeluk tubuh ini selamanya?
Namun Jared mencoba untuk menahan rasa sedihnya, tak ingin Suri melihatnya dengan wajah itu, jadi begitu Suri melepaskan pelukan itu, Jared langsung mengembangkan kembali senyumannya.
"Kenapa matamu memerah seperti itu?" kata Suri yang melihat mata Jared memerah, menahan tangisnya.
"Aku kurang istirahat, mungkin ini efeknya," kata Jared mencari alasan, dia mencubit ujung kedua matanya yang ada di pangkal hidungnya, mencoba untuk menyamarkan matanya yang basah.
__ADS_1
"Kalau begitu istirahatlah, aku tidak mau calon pengantin priaku bermata merah saat pernikahan nanti," kata Suri lagi menatap Jared yang masih tersenyum, tumben sekali dia sangat banyak tersenyum hari ini, mungkin karena bahagia, pikir Suri