
"Tapi, jika kau bersama dia, berjanjilah untuk membuat Mama pergia dulu, jangan menangis saat aku sudah tak ada, karena aku tidak akan sanggup melihatmu yang pergi duluan, aku … aku …. " ujar Bella tak bisa lagi melanjutkan, sekuat apapun dia mencoba menenangkan dirinya, rasanya di dadanya ada begitu banyak perasaan, takut, kecewa, marah, sedih, berkumpul bagai bola yang menyumbat seluruh napasnya, sesak sekali hingga dadanya benar-benar sakit, tak pernah dia rasakan seperti ini, bayangan kematian Suri benar-benar sangat menyakitkan, namun melarang anaknya pun sama menyakitkanya.
Nyeri yang di rasakan Bella seolah bagaikan palu gada yang dihantamkan dengan erat ke dadanya, benar-benar tak bisa bernapas, kepalanya pun pusing karena kekuarangan oksigen, tubuhnya melemah dan dia segera jatuh terduduk, untunglah Angga yang melihat hal itu langsung sigap, dia menahan tubuh Bella hingga Bella tak jatuh terlentang, Suri yang melihat itu kaget, sangat kaget, tak pernah melihat ibunya begitu tersiksa.
"Ma, Ma, jangan begini," ujar Suri yang langsung mendatangi ibunya, menatap wajah ibunya yang terlihat linglung, napasnya berat, seolah benar-benar tak bisa bernapas, matanya menatap kosong, lemas tak berdaya, Angga pun cemas melihat istrinya.
"Penjanga! Asisten Lin!" teriak Angga begitu keras, melihat Bella yang masih sadar namun juga linglung. Mendengar suara Angga, Asisten Lin segera membukakan pintu, "aku butuh oksigen, dan tolong siapkan mobil, Ratu butuh penanganan secepatnya," ujar Angga panik, dia segera menggendong tubuh Bella, tak peduli lagi dengan Suri yang sudah merasa begitu bersalah, tak menyangka ibunya seperti itu karenanya.
"Ini semua salahku, bunuh saja aku," racau Bella yang merasa kosong, seperti orang pingsan namun tetap sadar.
"Tidak akan ada yang membunuhmu, Bella sadarlah," ujar Angga yang tak menyangka akan begini akhirnya, dia segera membawa Bella ke arah luar, Asisten Lin membawakan tabung oksigen dan memakaikanya ke Bella saat Bella sudah masuk ke dalam mobil, berada dalam pangkuan Angga di jok belakang, matanya masih terbuka, namun kosong, terlihat begitu tertekan dan terpukul, Suri yang melihat itu benar-benar bersalah atas keegoisannya, bagaimana dia bisa begitu egois menentang kedua orang tuanya, mencoba mempertahankan cintanya, padahal kedua orang tuanya hanya ingin yang terbaik untuknya, bahkan pria yang dia cintai pun sudah melepaskannya, melihat keadaan ibunya, sebagian hati Suri begitu merasa bersalah, namun tak bisa dia pungkiri, sebagaian lagi masih merongrongnya untuk mendapatkan cintanya.
Mobil yang membawa orang tuanya pergi dari sana, meninggalkan Suri dengan segala perasaannya yang berkecambuk, seolah memakan buah simalakama, dia tak bisa memilih yang mana, jika dia mempertahankan cintanya, itu artinya dia membunuh kedua orang tuanya pelan-pelan, namun jika dia memilih kedua orang tuanya, sanggupkan dia bertahan dengan patah hati yang juga membunuhnya perlahan-lahan?
----******-----
Archie menyandarkan tubuhnya yang terasa cukup lelah hari ini, waktunya benar-benar tersita dengan pekerjaan yang seluruhnya di limpahkan padanya, dia hanya punya waktu tidur 3 jam, dan itu juga dilakukannya di kantor.
Archie menutup matanya sejenak, menjepit pangkal hidung yang ada di antara dua alisnya, merasa sedikit lelah pada matanya, namun berkat ini pula dia tidak terlalu tersiksa dengan perasaannya, dia juga belum pulang dari kemarin.
"Makan siang dulu Pangeran, " ujar Gerald dengan nada sedikit ceria, bukannya dia tak lelah, dia sama lelahnya dengan Archie, namun tak mungkin menunjukkannya.
__ADS_1
Archie membuka matanya, melihat senampan makanan yang cukup mengiurkan untuknya, Archie lalu menegakkan tubuhnya, dan segera mengambil beberapa makanan, dia melirik ke arah Gerald yang kembali sibuk dengan tabletnya.
"Kau tidak makan?" tanya Archie sedikit perhatian, toh Gerald juga merupakan sahabatnya.
"Aku sudah makan saat menunggu makananmu datang, kau punya waktu 2 jam untuk istirahat siang ini, ingin pulang? " tanya Gerald tak lepas matanya dari tablet yang ada di tangannya.
"Menurutku, jika aku pulang? berapa menit aku bisa ada di rumah? " tanya Archie lagi pada Gerald sambil dia memakan makanannya, makan tanpa berbicara sudah tidak berlaku jika begini.
"Benar juga, waktumu hanya habis di perjalanan, aku siapkan kamar hotel di dekat sini, bagaimana? " tanya Gerald lagi melirik Archie yang lahap memakan makanannya, sikap wibawanya terlihat hilang sejenak.
"Baiklah, itu juga boleh," kata Archie.
Archie lalu mengambil ponsel yang ada di sampingnya, menatap ke layar ponselnya yang retak, karena retakannya itu dia teringat sesuatu, dia penasaran, bagaimana keadaan gadis aneh itu sekarang?
Archie membuka aplikasi di ponselnya yang memperlihatkan tampilan CCTV yang sudah di pasang oleh Gerald, keadaan sekarang rumahnya sedang sepi, di luar pun tidak terlihat apa pun, Archie mengerutkan dahi, mungkin saja Ceyasa sedang bekerja, ini masih siang bukan?
Dia lalu melihat beberapa file dari video pantauan yang tersimpan, memilih jam 6 malam tadi malam, dia lalu melihat Ceyasa yang tampak masuk ke dalam rumahnya, seorang pria tampak berjalan setelahnya, namun herannya pria itu menatap Ceyasa bahkan setelah Ceyasa sudah masuk ke dalam rumahnya, Archie mengerutkan dahinya, ah, mungkin hanya orang lewat, bukannya di sana sudah ada penjaga yang diperintahkannya menjaga Ceyasa.
Video dipindahkannya ke CCTV yang ada di dalam rumah, Gerald sengaja memasangnya saat Ceyasa pergi keluar, untungnya dia punya kunci ganda rumah itu, dan berhasil memasangnya di sudut ruang tamu dan tersembunyi.
Archie lalu melihat keadaan rumah tua itu, terlihat tak jauh beda dengan rumah lama Ceyasa, namun lebih berisi, setidaknya ada sofa untuk mereka bisa duduk.
__ADS_1
Senyuman Archie lalu mengembang spontan melihat apa yang di lakukan oleh Ceyasa pada jam 7 malam, Ceyasa mengangkat rambutnya, di ikatnya cepol dan menggunakan bando kain, dia mengunakan kaos polos dan celana pendek sepahanya, lalu tampak sedang menyapu rumahnya, namun sesekali terlihat seperti menari-nari dengan sapu itu, beberapa kali juga terlihat bernyanyi dan merubah gagang sapu itu menjadi mic-nya.
Archie tak bisa menahan tawanya melihat tingkah wanita aneh itu, dia sangat semangat membersihkan rumahnya, sepertinya dia mengikuti alunan musik yang dia putar dari ponselnya. Di jam lain, dia melihat Ceyasa duduk sambil memakan mie instan dalam cup, Archie mengerutkan dahi, kenapa harus makan mie? Kenapa tidak makan makanan yang lebih sehat, pikir Archie. Archie memperhatikan gaya makan Ceyasa yang benar-benar tidak ada anggun-anggunya, kakinya di angkat satu, di lipatnya, lalu terlihat dia seperti sedang menonton sesuatu diponselnya, dia tampak terkekeh karena hal itu, tawa lepas Ceyasa itu menular pada Archie, benar-benar membuat moodnya langsung berubah sekarang, gadis aneh ini, memang tahu bagaimana cara membuat Archie menjadi senang.
Gerald masuk, dia awalnya mengira Archie sudah tidur, malah bengong melihat Archie yang tertawa dan cengengesan melihat ponselnya, bukannya katanya dia ingin istirahat.
"Hei, kau punya waktu 1 jam lagi untuk istirahat, cepatlah tidur, lagi pula apa yang begitu lucu hingga kau tertawa seperti itu, aku ingin lihat," ujar Gerald yang meninggalkan sisi asistennya, menempatkan dirinya sebagai sahabat Archie.
Archie yang melihat Gerald mengintip, langsung menutup ponselnya, dia mematikan aplikasi itu dan segera menyimpan ponselnya. Gerald yang melihat tingkah Archie sedikit menyipitkan matanya.
"Dasar pelit," ujar Gerald segera menjauh.
"Kenapa kau datang kesini?" tanya Archie yang masih tidak bisa menutupi wajahnya yang sudah berubah sumringah.
"Hanya ingin melihat keadaanmu, dan aku mendapatkan kabar dari istana, Ratu Bella masuk rumah sakit," ujar Gerald duduk tenang di dekat sofa ranjang Archie, Archie masih tampak nyaman tidur di ranjangnya, kedua tangannya di selipkannya di bawah kepalanya. mendengar kabar itu. Archie jadi melirik Gerald sebentar, perasaannya mengatakan hal ini ada hubungannya dengan permintaannya pada pamannya kemarin.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Archie datar saja.
"Baik-baik saja, hanya sedikit syok,"kata Gerald yang melihat tak acuh dengan hal ini.
"Baiklah, ada yang lain?"
__ADS_1