
Ceyasa di lempar masuk ke dalam mobil itu, dia langsung berontak dan berteriak dan pria yang mengaku bernama Cendro itu terus memegangi tangan Ceyasa dan paman Ceyasa memegangi kaki Ceyasa yang terus berontak sehingga mereka kesusahan untuk mengikat kaki dan tangan Ceyasa.
"Gadis ini garang sekali," kata pria itu agak kesulitan untuk memegang tangan Ceyasa yang terus saja berontak, dan saat melihat hal itu Ceyasa segera mengigit tangan pria itu, membuat pria itu kaget dan berteriak kesakitan.
"Kau ini!" kata pria itu emosi dan segera menampar pipi Ceyasa, membuat rasa pedas, panas di pipinya dan kepala Ceyasa sedikit sakit, bahkan saking kerasnya pria itu menamparnya, telinganya terasa berdengung, di ujung bibirnya sobek mengeluarkan darah, pria itu melanjutkan untuk mengikat tangan Ceyasa, tak ingin membuang waktu agar Ceyasa tidak lagi bisa berontak.
"Hei, kau ingat apa yang dikatakan oleh bos? kau sudah membuatnya berdarah," kata bibi Ceyasa yang memandang pria itu dengan sangat marah, paman Ceyasa segera mengelap bibir Ceyasa yang berdarah itu membuat rasa nyeri yang menyadarkan Ceyasa lagi.
"Kenapa kalian melakukan ini padaku? tidak cukupkah kalian menghancurkan hidupku?" tanya Ceyasa pada bibinya yang duduk di depan lalu melihat ke arah pamannya.
"Kau masih bertanya? Tentu saja untuk uang! " kata bibi Ceyasa dengan suara sinis.
"Kalian benar-benar menjijikkan sekali, aku lebih baik tak punya siapa pun di dunia ini dari pada memiliki suadara seperti kalian," kata Ceyasa menatap bibi Ceyasa dan pamannya dengan sangat kesal, tak menyangka dia punya saudara seperti ini.
"Kau masih berpikir kami adalah suadaramu? Ya ampun, jika kami tidak mendapatkan uang dari orang yang menitipkanmu pada kami, kami tidak akan mau membesarkanmu, dan tiba-tiba orang itu tidak lagi memberikan uang untuk kami, karena itu kami meninggalkanmu, untuk apa mengurusi anak sepertimu jika tidak dibayar, tapi kami tak sangka sekarang begitu banyak orang yang berani membayar mahal hanya untuk dirimu," kata bibi Ceyasa dengan sangat licik, Ceyasa yang mendengar hal itu mengerutkan dahinya, jadi orang yang dia anggap bibi dan paman selama ini bukanlah bibi dan paman kandungnya.
__ADS_1
"Jadi kalian bukan saudara ibuku?" kata Ceyasa yang memandang paman dan bibinya.
"Tentu, kami bahkan tidak pernah mengenal siapa ibumu, tapi aku yakin mereka tidak menginginkanmu, jika mereka menginginkanmu mereka tidak akan memberikanmu pada kami, jadi Ceyasa, kau hanya anak yang tidak diinginkan oleh orang tuamu, menyedihkan bukan?" kata bibi Ceyasa yang hanya bisa mendengarkan kata-kata orang yang selama ini dia kenal sebagai bibinya.
"Dasar kalian semua orang gila yang tidak punya perasaan! Aku benar-benar bersyukur mengetahui bahwa kalian bukanlah keluargaku, sekarang lepaskan aku," kata Ceyasa lagi yang segera sadar akan keadaannya.
"Melepaskamu, tidak mungkin, kau tahu, ada seseorang yang menginginkanmu dan akan membayar dirimu 2 kali lipat dari pada yang diberikan oleh pangeranmu itu, tutup mulutnya, dia sangat mengganggu," kata bibi Ceyasa memerintahkan suami dan pria itu.
"Jangan coba-coba," kata Ceyasa menatap ke arah pria itu dengan wajah sangat marah.
"Kau ingin melakukan apa padaku, hah? Aku ingin tahu bagaimana wajahmu itu saat melihat bos kami nantinya, pegang kepalanya! " kata pria itu mengambil seutas kain, dari belakang paman Ceyasa memegangi kepalanya dan dengan kasar pria itu menutup mulut Ceyasa dengan kain itu, Ceyasa ingin sekali berontak, tapi kepalanya benar-benar ditahan oleh pamannya itu.
Dengan kasar mereka menurunkan Ceyasa, ikatan kaki Ceyasa sudah dibuka, menyisakan ikatan tangan dan juga kain yang menutupi bibirnya, pria itu menarik lengan Ceyasa dengan kasar, tak peduli Ceyasa kesusahan untuk berjalan atau tidak. Bibi Ceyasa yang berjalan duluan dan saat pintu rumah itu terbuka, terlihat ruangan yang remang dengan lampu kuningnya, Ceyasa menatap rumah itu, seperti rumah yang sering dia lihat di film-film horor, padahal ini masih pagi.
"Bagaimana? kapan bos akan datang?" tanya pria itu menatap bibi Ceyasa.
__ADS_1
"Aku sudah mengabarkan pada bos bahwa kita sudah sampai," kata bibi Ceyasa tampak santai sambil melihat wajah Ceyasa yang tampak cemas ketakutan, dia suka melihat wajah itu, jadi dia tersenyum mengejek ke arah Ceyasa, dan tak lama ponsel di tangannya berbunyi lagi. Bibi Ceyasa langsung membaca pesan yang masuk dan langsung tersenyum puas.
"Apa katanya?" tanya pria itu lagi.
"Dia sudah ada di jalan menuju kemari, sebentar lagi dia akan segera datang, bawa dia ke lantai 2 untuk bersiap-siap, kau tahu kan bos ingin dia bagaimana?" kata bibi Ceyasa dengan wajah yang sangat menjijikkan, dia lalu menatap Ceyasa yang mencoba sekali lagi berontak dari kedua pria yang sedang memegang lengannya itu, sayangnya kekuatannya kalah kuat, "Oh, keponakanku yang sangat cantik, aku yakin bos akan sangat menikmati dirimu, dia ingin kau berdandan untuk menyambutnya, dia akan bersenang-senang denganmu, saranku, nikmatilah, toh kau tak akan rugi, dia pria yang sangat tampan dan kaya, tidak jauh beda dengan pangeranmu itu," kata bibi Ceyasa di akhiri dengan tawa jahat seperti orang-orang yang ada di film.
Ceyasa mengerutkan dahinya dan segera membesarkan matanya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh bibinya, siapa pria yang dimaksud bibinya ini? Ceyasa mencoba sekali lagi untuk berontak, dia bahkan menginjak kaki pamannya, namun gara-gara itu pria yang mengaku sebagai Cendro itu segera memegangnya lebih erat, bahkan dia menarik Ceyasa tanpa belas kasihan, saat menaiki tangga entah beberapa kali Ceyasa tersandung dan terserat, membuat tulang kering kakinya terasa sangat nyeri sekali.
Saat sampai di lantai dua, dia segera dilempar ke atas sebuah ranjang bermodel klasik, ruangan kamar itu terlihat lebih bersih dan nyaman namun sama remangnya dengan ruangan yang tadi.
Pria itu segera membuka ikatan tangan Ceyasa juga membuka kain yang menutupi bibir Ceyasa, Ceyasa memandangnya dengan sangat sinis, namun pria itu seolah tak peduli.
"Nona, kau cantik sekali, kalau aku tidak takut pada bos, aku pasti sudah menikmati sekali menjadi suamimu, tubuhmu …. " kata pria itu liar melihat wajah Ceyasa yang menatapnya marah, pria itu memindahkan tatapan matanya pada lekuk tubuh Ceyasa, sedikit terpancing libidonya karena sikap Ceyasa yang tampak menantangnya.
Ceyasa yang melihat mata pria itu menyusuri tubuhnya merasakan jijik, dia segera meludahi pria itu.
__ADS_1
"Kau benar-benar sangat liar Nona, pantas saja Tuan Rain sangat menginginkanmu," kata pria itu lagi semakin bernafsu melihat Ceyasa.
Ceyasa hanya memasang wajah terkejutnya, Rain? Jadi dia pria yang dikatakan oleh bibinya itu, "pakai gaun ini, dia sudah menyiapkannya untukmu, aku akan datang memeriksamu, jika kau ingin kabur, silakan, di luar kami sudah menjaga tempat ini, lagi pula satu-satunya jalan untukmu bisa kabur hanya meloncati balkon itu," kata pria itu tersenyum sinis,dia segera keluar dan menutup pintu kamar itu.