
"Tentu Kak!" jawab mereka hampir serempak.
"Baiklah, ayo kita pergi, oh iya, hari ini kakak membawa seorang teman, nanti kakak ini akan membantu menjaga kalian," kata Ceyasa memperkenalkan Archie, Archie yang tadinya sedang mengamati sedikit gugup karena langsung menjadi perhatian mereka, dia hanya mengangkat tangan dan tersenyum kaku, melihat hal itu Ceyasa hanya bisa tertawa kecil, merasa kelakuan Archie lucu.
"Kakak Yasa, nama itu kakak siapa?" tanya seorang gadis kecil yang merasa Archie begitu tampan, bahkan dia bisa membuat anak-anak tertarik dengan wajahnya.
"Oh, dia …." kata Ceyasa bingung.
"Namaku Cendro," kata Archie seadanya, dia mengingat nama samarannya dan merasa tidak aman mengunakan nama aslinya.
"Kau sudah ingat rupanya," kata Ceyasa sedikit tenang, setidaknya jika pria menyebalkan ini sembuh, dia tidak akan dituntut apa pun nantinya.
"Ada di dompetku, tertulis begitu di KTP ku," kata Archie lagi seadanya.
"Oh," kata Ceyasa sedikit kecewa, mendengar nada kecewa itu, Archie hanya menaikkan sedikit ujung bibirnya, " baiklah, ayo kita pergi dari sini.
"Ayo!" teriak anak-anak itu semangat.
Mereka segera berjalan menyusuri jalan setapak yang terbuat dari tanah, Ceyasa memimpin di depan, sedangkan Archie berjalan paling belakang, Ceyasa dan anak-anak itu saling bercengkramah, sesekali menyanyi membuat perjalanan itu terlihat ceria dan menyenangkan, sedangkan Archie hanya diam saja mengamati dan menikmati pemandangan yang semakin di atas, semakin indah.
Tak lama mereka sampai di atas sebuah bukit dengan padang rumput hijau yang seperti permadani, dari bukit itu terlihat seluruh pemandangan desa dan danau yang indah, gunung-gunung yang mengitarinya menambah sempurna tempat itu, langit biru hari itu sangat cerah membuat keadaannya menjadi hangat untuk semuanya.
Archie tak pernah menyangka ternyata yang di katakan oleh Gerald itu benar, desa itu bagaikan surga kecil yang ada di bumi, jika dia kembali ke istana, dia akan meminta dibuatkan sebuah tempat peristirahatan di atas sini, hal itu akan menyenangkan, pikirnya.
Suara tawa anak-anak kecil terdengar memecah pikiran Archie yang masih terpukau oleh pemandangan, dia melihat Ceyasa sudah menggelar alas untuk para anak-anak duduk, dia seperti mengajarkan sesuatu tentang tumbuhan, Archie mengamati Ceyasa yang dengan semangat dan gayanya mengajarkan anak-anak itu, terkadang anak-anak itu tertawa keras melihat tingkah Ceyasa, hal itu juga berhasil membuat Archie tertawa kecil.
Ceyasa melirik ke arah Archie yang mengamatinya, melihat pria itu tertawa, ada rasa senang dihatinya, Ceyasa merasa pria itu punya masalah yang begitu dalam hingga wajahnya selalu muram, tapi syukurlah dia bisa tertawa sekarang.
Archie memutuskan untuk melanjutkan jalannya untuk mengamati sekitar, namun tak lama seorang gadis kecil mendekatinya.
"Kakak, ayo bermain," kata gadis kecil itu tersenyum senang mengajak Archie bermain.
"Aku?" tanya Archie lagi.
"Ya, ayo, mereka sudah menunggu," kata gadis kecil itu lagi.
__ADS_1
Archie lalu melihat ke arah kerumunan anak yang sudah saling bergandengan tangan membuat lingkaran. Archie tak bisa menolak ajakan gadis kecil ini, dia segera pergi ke arah kerumunan anak-anak itu.
"Ayo bermain," kata Ceyasa.
"Kau sudah mengajarnya?" tanya Archie.
"Hari ini harus lebih banyak bermain dari pada berlajar," kata Ceyasa sangat ceria.
"Baiklah, kita akan main apa?" kata Archie lagi.
"Kucing dan tikus, ikut saja dulu, kau pegang tangan anak-anak dan menjadi temboknya. "
"Baiklah," kata Archie yang belum pernah memainkan permainan ini, dia dibesarkan di istana, bahkan tidak mengikuti sekolah seperti biasanya, guru-guru terbaik langsung datang ke istana khusus untuk mengajar dirinya jadi dia tidak punya teman untuk bisa bermain-main seperti ini, satu-satunya temannya hanya Suri.
Archie saling menggenggam tangan anak-anak yang ada di sampingnya, membuat sebuah lingkaran, Ceyasa tampak ada di luar lingkaran dan seorang anak laki-laki ada di dalamnya, mereka mulai bermain, Ceyasa mencoba untuk masuk ke dalam lingkaran itu, namun saat dia ingin masuk mereka menutup pintunya dengan berjongkok, melihat hal itu Archie mulai mengerti cara bermainnya dan tanpa sadar malah ikut terbawa suasana.
Archie tertawa lepas melihat gaya Ceyasa yang heboh ingin menangkap anak laki-laki itu, dia juga ikut berteriak-teriak membully Ceyasa yang hanya menatapnya sinis, kesenangan yang tercipta langsung menular padanya, atmosfir yang tercipta benar-benar penuh suka cita, bahkan saat Ceyasa ingin masuk dari pintunya, dia langsung menutup pintunya.
"Tidak boleh masuk," kata Archie seperti mengejek Ceyasa, Ceyasa hanya menatapnya dengan kesal, lalu dia melihat anak laki-laki itu berlari keluar dari kadangnya, Ceyasa langsung mengejarnya dan dengan mudah dapat menangkap anak laki-laki itu.
"Yah! tak adil, kami kecil, kakak besar, bagaimana jika kak Ceyasa dan Kak Cendro yang menjadi kucing dan tikusnya," kata seorang anak laki-laki di sana.
"Aku?" kata Archie kaget.
"Ah, dia tidak akan berani, lagi pula aku akan selalu menang," kata Ceyasa sedikit mengejek.
Archie mendengar hal itu langsung mengerutkan dahinya,
Jadi gadis aneh ini pikir aku tidak bisa mengalahkannya, jangan menganggap remeh diriku, kalau hanya menghindar atau mengejar aku juga bisa.
"Ayo, siapa takut?" kata Archie langsung.
"Yakin?" kata Ceyasa yang memandang Archie.
"Tentu, masa aku kalah sama seorang wanita," kata Archie yang langsung disambut sorai anak laki-laki, mendukung Archie.
__ADS_1
"Oh, ya sudah kita lihat nanti, wanita pasti selalu menang," kata Ceyasa, kali ini anak-anak perempuan yang bersorak memberi dukungan pada Ceyasa.
"Baiklah, ayo buktikan," kata Archie makin tersulut.
"Ok!" kata Ceyasa yang juga ikut emosi.
Anak-anak segera membuat lingkaran kecil, Archie berdiri di dalam lingkaran karena saat pengundian, Archie yang menjadi tikus sedangkan Ceyasa menjadi kucingnya, Ceyasa mulai segera ingin masuk ke dalam lingkaran, namun dia kesusahan karena para anak laki-laki melindungi Archie dan sepertinya anak perempuan juga mendukung Archie karena terpesona olehnya.
Ceyasa terus mencoba untuk masuk namun dia tidak bisa, Archie hanya tertawa lepas sekali melihat Ceyasa yang mulai kesal dan kelelahan mencoba masuk, wajahnya tampak mengejek Ceyasa.
"Kalau berani keluar, beraninya cuma di dalam kandang, ah penakut! huu! Kak Cendro penakut!" kata Ceyasa mencoba memprovokasi Archie.
"Baiklah, kau kira kau takut padamu, kucing!" kata Archie yang ternyata termakan pancingan Ceyasa, Archie segera keluar dari sana dan Ceyasa dengan segara mengejar Archie.
Archie punya kaki yang panjang, tentu langkah larinya lebih cepat dari pada Ceyasa, mereka berkejar-kejaran di pandang rumput yang ada di sana, sesekali Archie mengejek Ceyasa yang mulai terlihat kelelahan karena dari tadi harus mengejar Archie, anak-anak yang melihat mereka hanya bisa saling meneriaki, memberikan semangat.
"Begitu saja sudah lelah?" ejek Archie yang melihat Ceyasa berhenti menarik napas karena mulai kesusahan bernafas.
"Tidak, enak saja," jawab Ceyasa yang tak mau kalah.
"Makanya, kau harus kurangi berat badanmu," kata Archie asal saja, dia tidak menyangka itu hal sensitif bagi wanita, membuat Ceyasa langsung marah.
"Apa katamu!" kata Ceyasa mulai mengejar Archie lagi, melihat Ceyasa yang langsung mengejarnya Archie sedikit kaget, hampir saja dia tertangkap oleh Ceyasa karena kurang tanggap namun tetap saja dia bisa lolos, Archie benar-benar menikmati hal ini, tawanya manisnya tak pernah lepas dari wajahnya.
Ceyasa tetap mengejar Archie yang berlari sesekali mengejeknya, hingga tiba-tiba Ceyasa terjatuh karena tersandung akar pohon yang ada di sana, dia jatuh cukup keras, Archie yang melihat itu langsung menghentikan larinya, melihat Ceyasa yang mencoba untuk bangkit, lututnya tampak sedikit berdarah, Archie mendekati Ceyasa untuk memastikan keadaannya.
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Archie sedikit khawatir melihat luka di lutut Ceyasa.
Namun dengan cepat Ceyasa bangkit dan segera berlari ke arah Archie, Archie yang melihat serangan tiba-tiba dari Ceyasa ingin menghindar dengan cara mundur, namun karena terburu-buru, Archie jatuh dan terduduk kebelakang, Ceyasa berhenti tepat di depan Archie.
Dengan senyuman yang penuh dengan kemenangan, Ceyasa langsung menyentuh pundak Archie.
"Ye!! Aku menang!" kata Ceyasa sangat kesenangan, dia bahkan sampai melompat-lompat kecil di depan Archie yang ikut tertawa lepas melihat tingkah Ceyasa yang seperti anak-anak, anak-anak yang lain mendatangi Ceyasa yang juga senang melihat Ceyasa menang, Archie hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ceyasa.
"Ye, ye, benarkan aku menang," kata Ceyasa sumringah, bahkan terlihat tak memperdulikan luka di lututnya yang sedikit mengeluarkan darah, Archie memperhatikan hal itu, dia hanya bisa tersenyum senang, ternyata seperti ini saja sangat menyenangkan.
__ADS_1