
Ceyasa masih mendekam di kamarnya, dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari cara untuk keluar dari kamar ini, dia mencoba membuka pintunya berulang kali, tapi tak bisa, dia mencoba membuka jendelanya, sayangnya jendela itu sudah tertutup oleh besi, ah! dia menyesal kenapa memasang besi seperti ini di jendelanya.
Dia terus saja mencoba namun semua sia-sia, tak ada jalan keluar apa pun di kamarnya, apa lagi kakinya yang terus dipaksakannya berjalan sekarang serasa bertambah parah, bahkan tanpa digerakkan olehnya, kakinya terasa berdenyut.
Ceyasa akhirnya menyerah, dia hanya bisa melihat hari yang perlahan-lahan menggelap, ketika mendengar suara bibinya yang tampak senang, Ceyasa langsung kembali cemas, jangan-jangan Sebastian sudah datang, dia segera mencari cara untuk bersembunyi, dia segera masuk ke dalam lemarinya.
Benar saja tak lama pintu kamarnya dibuka, bibi Ceyasa masuk, dia segera melihat kamar itu kosong, rasa kesalnya langsung memuncak, kemana anak ini? pikirnya.
Bibi Ceyasa segera mencari ke sekeliling, dia pasti bersembunyi, karena tidak ada jalan untuk keluar dari kamar itu, jendelanya pun masih utuh, dia tidak pasti tak akan keluar, pikir bibi Ceyasa.
"Ceyasa, keluar, jangan main-main denganku!" kata bibi Ceyasa terdengar marah. Ceyasa kembali menutup mulutnya, mencoba menutupi tubuhnya dengan pakaian yang ada di dalam lemari, bodoh! Percuma saja dia bersembuyi, apa lagi di lemari, kenapa Ceyasa jadi bodoh sekali begini, apa karena dia tidak makan sama sekali hari ini jadi otaknya sangat lambat.
"Baiklah, aku malas mencarimu, biarkan Sebastian saja yang mencarimu dan aku rasa dia akan segera melakukan niatnya padamu jika dia menemukanmu, ya, itu lebih mudah, aku tinggal mengunci pintunya, " kata bibinya terdengar sangat menyeramkan.
Mendengar hal itu Ceyasa langsung membesarkan matanya, benar juga, kalau Sebastian yang menemukannya, bisa-bisa dia langsung diperkosa di tempat, Ceyasa langsung membuka pintu lemarinya, dia segera keluar dari sana.
"Dasar, anak tak tahu diri, Ayo, dinikahkan dengan baik-baik malah mau main petak umpet, keluar, Sebastian dan petugas catatan sipil sudah datang," bentak bibi Ceyasa, Ceyasa menggigit bibirnya, mencoba memutar otak agar dia bisa keluar dari sini, ha, begini saja, dia akan lari setelah bibinya membukakan pintu itu.
Namun begitu dia melangkah, kakinya sangat sakit hingga dia spontan menangis, ah, kenapa kakinya harus seperti ini pada saat genting, Ceyasa rasanya ingin mati saja dari pada harus menikah dengan Sebastian.
__ADS_1
"Jangan diam saja, sini kau!" kata Bibi Ceyasa menyeretnya keluar, tak punya belas kasihan sama sekali padahal Ceyasa begitu kesakitan menahan nyeri kakinya.
Saat Ceyasa keluar, matanya membesar melihat pria pendek tambun dengan perut besar, wajahnya sudah keriput namun senyumnya menunjukkan dia mencoba menggoda Ceyasa, membuat Ceyasa mual dan jijik melihatnya, bagaimana dia bisa akan menikah pria seperti ini? jika benar, malam ini lebih baik dia bunuh diri saja, ah! kenapa tidak dari tadi saja bunuh diri? Ceyasa benar-benar menyesal tak melakukan hal itu.
"Kau benar-benar cantik," kata Sebastian ingin menyentuh pipi Ceyasa yang memandangnya dengan tajam dan kesal.
"Jangan berani menyentuhku!" ketus Ceyasa sambil menapis tangan Sebastian.
"Ah, galak sekali, aku tambah tak sabar, ayo lakukan pernikahannya," Ujar Sebastian terlihat makin bernafsu, bibi dan paman Ceyasa tampak senang, sebentar lagi mereka akan punya banyak uang.
Ceyasa dipaksa duduk di samping Sebastian di depan pegawai catatan sipil yang entah berapa banyak disogok oleh Sebastian hingga mau menikahkan mereka malam-malam seperti ini, bahu Ceyasa ditahan oleh pamannya agar tidak berdiri, Ceyasa bingung harus melakukan apa, apakah benar dia akan menikah dengan pria ini?
Suara pintu rumah Ceyasa terbuka karena di tendang oleh para penjaga Archie, semua orang yang ada di rumah itu segera kaget.
Ceyasa juga kaget melihat Archie yang ada di sana? Bagaimana dia malah kembali kesini, kalau dia ke sini dia akan berurusan dengan Sebastian, pria ini punya kuasa di sini dan dia akan membuat perhitungan pada Archie jika Archie berani mengganggunya.
Paman dan bibi Ceyasa pun awalnya kaget, namun melihat Archie mereka hanya tersenyum, berpikir anak muda ini tidak tahu berhadapan dengan siapa, Sebastian ini salah satu bos preman yang ada di sini.
"Siapa kau ini!" kata Sebastian menatap Archie, berani-beraninya pria muda ini mengganggu proses pernikahannya yang ke enam, dia tak tahu berhadapan dengan siapa? pikir Sebastian.
__ADS_1
Archie menatap Ceyasa yang tubuhnya masih di tahan oleh pamannya, dia melihat kaki Ceyasa yang bengkak dan membiru, wajahnya tampak kusut, tak seperti biasanya selalu ceria, ternyata melihat Ceyasa berwajah muram seperti itu lebih tak disukai oleh Archie, dia lebih suka wajah menyebalkan Ceyasa yang setiap pagi memarahinya.
"Kalau aku katakan aku siapa, bisa-bisa kau akan terkejut," kata Archie enteng saja seolah tak takut dengan pria gendut nan tambun itu.
"Kau tidak tahu aku siapa?" kata Sebastian kesal melihat tingkah congkak Archie, dia menunjukan sebuah senjata api yang terselip dibalik jasnya, Ceyasa yang melihat hal itu, matanya langsung membesar, benarkan Archie akan mendapat masalah.
Gerald yang melihat hal itu langsung segera bertindak melindungi Archie, dia langsung mengeluarkan senjata apinya dan mengacungkannya ke arah Sebastian yang kaget, begitu cepat refleks Gerald melakukan perlindungan untuk Archie, para penjaga pun juga melakukan hal yang sama, melihat begitu banyak senjata api yang mengarah kepadanya, Sebastian langsung ciut.
"Aku tidak perlu tahu kau siapa, bawa dia keluar," kata Archie dingin, membuat semua orang yang ada di dalam sana ketakutan, paman dan bibi Ceyasa yang melihat Sebastian bahkan tidak berkutik diseret keluar itu langsung melepaskan Ceyasa, Nadia kaget dengan adegan di depannya, segera melihat ke arah Ceyasa dan langsung menolong temannya itu bangkit.
Bibi Ceyasa melihat Archie yang meliriknya dengan sangat tajam, bibi Ceyasa sebenarnya takut tapi dia berusaha untuk menantang Archie, bagaimanapun Ceyasa adalah milik mereka, bahkan jika ada apa-apa pun, mereka tidak akan disalahkan.
"Kau ini apa-apaan! Sudah merusak masa depan Ceyasa, kau malah merusak acara pernikahannya!" kata bibi Ceyasa marah pada Archie. Gerald ingin menangani hal ini, tapi Archie mengeluarkan gestur melarangnya, Archie ingin menanganinya sendiri.
"Apa maksud Anda aku merusak masa depan Ceyasa?" tanya Archie tak ingin disalahkan.
"Aku tidak tahu bagaimana kau bisa bebas, tapi seumur hidup Ceyasa tidak akan punya suami karena namanya sudah tercemar di sini, dan karena itu dia akan menjadi beban untuk kami selamanya," kata bibi Ceyasa marah, Ceyasa membesarkan matanya kaget mendengarkan kata-kata bibinya, sejak kapan dia jadi beban bibi dan pamannya.
"Jadi apa maumu?" kata Archie menatap bibi Ceyasa.
__ADS_1
"Berikan kami lima ratus juta dan nikahi dia agar dia tidak menjadi beban untuk kami," kata Bibi Ceyasa dengan enteng, masih merasa pria muda di depannya ini mana mungkin punya uang sebanyak itu, lagi pula dia menyuruh Archie menikahi Ceyasa agar hal ini akan lebih berat oleh Archie sehingga dia akan membatalkan niatnya untuk menolong Ceyasa, setelah itu dia akan bebas menikahkan Ceyasa dengan Sebastian, orang yang menurut bibi Ceyasa paling tepat dinikahkan untuk Ceyasa.