Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
153 - (A-J) Pria yang menjadi saingannya.


__ADS_3

Jared duduk di sofa tengah dari lantai C di rumah sakit itu, dia sedang berdiskusi tentang pekerajaannya bersama asistennya, dengan tampang seriusnya dia melihat ke arah laptopnya, matanya yang tajam tampak begitu teliti melihat semua pekerjaannya.


Ponselnya yang dia letakkan di atas meja tiba-tiba bergetar, matanya yang awas itu langsung melihat ke layar ponselnya yang menyala, nama Suri terpampang di sana, seketika wajahnya yang tadinya terlihat begitu dingin melembut, senyuman tipis nan manis menghiasi wajahnya. Dia segera mengambil ponselnya dan segara menjawab panggilan dari Suri.


"Halo?" suara Jared dengan intonasi lembut.


"Halo, apa aku menganggumu?" tanya Suri dengan nada ceria.


"Tidak," kata Jared memberikan isyarat pada  Asistennya agar  Asisten berhenti sejenak,  Asisten Jared mengangguk mengerti, membiarkan Jared yang berdiri dan berjalan menjauh darinya.


"Oh, iya, aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku dan orang tuaku akan pergi ke rumah sakit sekarang, bagaimana kabar bibi?" tanya Suri yang tampak sumringah, tidak lepas senyuman dari bibirnya yang tipis.


"Bibi keadaannya sudah membaik, dia sudah sadar dan sudah dipindahkan ke ruangan biasa, datanglah, kabari aku jika sudah sampai, aku akan menjemput kalian," kata Jared dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Baiklah, aku akan mengatakan pada papa, mungkin nantinya akan sedikit repot, jadi kami akan masuk dari pintu belakang," kata Suri lagi.


"Ya, aku akan menemuimu, datanglah," kata Jared lagi.


"Kenapa? kau sudah merindukanku?" ujar Suri mencoba menggoda, suara tawa kecil Jared terdengar, namun dia sama sekali tidak menjawab, membuat Suri tertawa namun juga sedikit kesal, kenapa tak menjawab? "Kau tidak merindukan aku ya?" tanya Suri dengan nada merajuk yang disengaja.


"Datang saja, kau akan tahu jawabannya," kata Jared lagi.


"Baiklah, aku akan siap-siap, sampai ketemu nanti," kata Suri lagi, segera bangkit dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Ya, aku tutup teleponnya ya," kata Jared lembut.


"Baiklah," kata Suri, lalu segera meletakkan ponselnya, menatap layar yang masih menyala, tersenyum manis, perasaannya berbunga-bunga lalu dengan segara mencari pakaian yang akan di kenalakkannya.


Jared pun melihat sejenak ke arah ponselnya, tersenyum sedikit lebar lalu ingin kembali ke arah sofa tempatnya bekerja tadi.


"Kakak," kata Jenny yang tiba-tiba keluar dari ruangan bibinya.


"Ada apa?" tanya Jared melihat tingkah adiknya yang tampak manja.


"Aku ingin minum kopi, beliin yah, ada di bawah," kata Jenny dengan wajah yang dibuat-buat agar terlihat imut, Jared memandang adiknya, sudah terlalu biasa melihat adiknya seperti ini.


"Baiklah, bagaimana bibi?" tanya Jared pada Jenny.


"Baiklah, tunggu sebentar, jaga bibi," kata Jared yang segera berjalan menuju lift.


"Iya, terima kasih," kata Jenny senang, dia kembali masuk ke dalam ruangan Aurora.


Jared berjalan masuk ke dalam lift rumah sakit itu, menekan tombol lantai bawah, dan lift itu segera membawanya turun ke lantai yang dia tuju, tak butuh waktu lama pintu lift itu segera terbuka, namun bergitu pintu itu terbuka, langkah Jared sedikit terhenti, jalannya terhalang dengan para petugas medis yang mendorong ranjang pasien dengan pasien yang berbaring di atasnya, dari celah para petugas itu, Jared sekilas melihat wajah wanita yang sedang di dorang itu, merasa pernah melihatnya, mirip dengan wanita yang menolong bibinya.


Jared terdiam sejenak, menatap ke arah perginya para petugas yang mendorong wanita itu, tapi yang dia lihat hanya sejenak, mungkin dia hanya salah lihat, ya, mungkin saja, pikir Jared yang tak lagi memikirkan hal itu.


Dia segera berjalan menuju tempat cafe yang ada dikatakan oleh Jenny dan segera membeli minuman pesanan Jenny, saat dia ingin kembali ke lantai C, seorang pria yang tampak tergesa-gesa menabraknya dari belakang, membuat minuman Jenny hampir saja jatuh.

__ADS_1


"Hei," tegur Jared langsung, dia melihat pria yang sekarang cukup jauh darinya, pria itu hanya menatapnya, Jared pun mengerutkan dahinya, pria itu menggunakan topi dan juga menggunakan masker, hanya matanya saja yang terlihat memandang Jared dengan cukup tajam, Jared mengerutkan dahinya.


"Maaf," kata pria itu terdengar sedikit tak jelas karena tertutup oleh maskernya.


"Berhati-hatilah," kata Jared yang merasa mungkin saja keluarga dari pria ini sedang gawat atau bagaimana, lagi pula dia bukan pria yang gampang marah.


Pria itu mengangguk, dan mulai pergi dari sana, namun bahkan saat dia membalikkan wajahnya, dia tetap memandang Jared dengan tatapan tajam itu, membuat Jared merasa ada yang aneh, namun dia tidak ingin ambil pusing, dan segera pergi ke lantai C.


----***---


Archie sedikit berlari kecil, dia sudah cukup ketinggalan karena harus memakai samaran, dia tak bisa membawa Ceyasa ke rumah sakit milik pamannya, dia takut akan ada yang melihat dirinya bersama dengan Ceyasa, dan jika dia tidak ada di sana, dia merasa tidak tenang, bahkan tadi saat dia menunggu di mobil, rasanya dia begitu cemas.


Archie sedikit tergesa-gesa hingga tak sengaja menabrak seseorang, pria itu berteriak membuat Archie berhenti, dia segera melihat ke pria yang tampak sedang memperhatikan minuman yang dia bawa, Archie mengerutkan dahinya, melihat sosok Jared di sana, dia menatapnya tajam.


"Maaf," kata Archie sedikit membesarkan suaranya agar tak dikenali.


"Berhati-hatilah," kata Jared yang memandang Archie dengan sedikit kerutan di wajah, Archie terus menatap pria itu, entah sejak kapan dia punya emosi terpendam pada pria ini, dari kecil mungkin, dia adalah saingan terberatnya, pria sempurna tanpa celah, semua orang di keluarganya begitu menyukainya, seluruh perhatian jatuh padanya.


Archie sangat iri dengannya, sejak kecil selalu dibandingkan dengan pria ini, hingga Archie merasa dia harus mendapatkan lebih dari pria ini, dan karena itu Archie berjanji dalam hati dia akan menjadi pria yang memiliki yang tak akan di miliki oleh Jared.


Dia boleh memiliki semua perhatian dan juga pujian dari keluarga dan semua orang di sekitarnya, tapi Archie akhirnya bisa merasa menang, karena dia yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang sebenarnya sangat diinginkan Jared namun tak bisa di dapatkannya, hati Suri, karena itu sejak kecil apapun dia lakukan agar mendapatkan hati Suri, tapi …  ternyata dia tetap saja kalah dengan pria itu.


Archie membalik tubuhnya, tersenyum kecut hingga membuat tubuhnya kembali berat, entah karena maskernya atau memang karena rasa sakit dalam hatinya yang muncul tiba-tiba ketika memikirkan Jared yang bersama Suri, dia merasa sangat sesak, namun dia mencoba untuk kembali fokus dan mulai kembali mencari, dan akhirnya menemukan sosok Gerald yang sedang berdiri di salah satu ruangan.

__ADS_1


__ADS_2