Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
350 - Maafkan aku tak bisa menemanimu.


__ADS_3

6 bulan kemudian.


Archie baru keluar dari kamar mandinya, melihat Ceyasa yang terduduk di ranjangnya, perutnya sudah tampak cukup besar membuncit, membuat dia mulai sedikit kesusahan untuk bernapas.


Ceyasa melirik suaminya itu, Archie hanya memberikan senyuman manis sambil menggunakan baju yang sudah disediakan oleh Ceyasa, setelah itu Archie segera bergabung dengan istrinya duduk di ranjang mereka, menyingkap selimut menutupi kakinya.


"Sudah minum susu dan vitaminnya?" tanya Archie, kebiasaannya sekarang untuk selalu mengingatkan Ceyasa tentang seluruh kebutuhan dirinya dan bayinya.


"Sudah Papa, tenang saja, dia pasti akan lahir dengan sangat sehat," kata Ceyasa mengelus perutnya yang menyembul itu.


"Bagaimana kabar anak Papa hari ini?" tanya Archie menyempatkan diri untuk mengelus perut Ceyasa, satu hari ini dia benar-benar di sebukkan dengan segala pekerjaannya, baik sebagai CEO di perusahaan pamannya atau urusan kerajaan, walaupun kerajaan ini tak lagi mengurusi pemerintahan namun tetap saja banyak hal kenegaraan yang harus dia ikuti.


Archie meletakan kepalanya di perut Ceyasa, Ceyasa hanya tersenyum, lalu mengelus kepala suaminya, tahu betapa lelahnya Archie hari ini, terlihat jelas dari wajahnya, apa lagi kemarin dia tak tidur dengan tenang karena menemani Ceyasa yang mulai kesulitan tidur.


"Sangat lelah hari ini?" tanya Ceyasa dengan lembut mengelus kepala Archie, membuai Archie seketika.

__ADS_1


"Lumayan, ada beberapa hal yang harus aku urus di perusahaan, dan besok aku harus pergi untuk menghadiri peresmian bendungan yang baru di buat di daerah timur, mungkin aku akan sedikit pulang malam besok," kata Archie melirik Ceyasa, mencoba mendengar bayinya yang menurut Ceyasa sangat aktif jika malam hari, sayangnya kali ini dia tidak mendengarkan hal itu, mungkin anaknya sudah tidur nyaman di dalam perut ibunya.


"Baiklah, tapi kau harus jaga kesehatan, hari ini tidurlah, tak perlu menemaniku," kata Ceyasa yang kasihan jika harus melihat Archie tak tidur lagi, padahal besok tugasnya begitu banyak.


"Tidak apa-apa, apa hari ini ada yang nyeri lagi?" tanya Archie dengan tatapan lembut, masih enggan untuk berpindah, sentuhan tangan istrinya ini yang dia butuhkan.


"Dia semakin membesar, tentu akan membuat beberapa badanku nyeri, tapi itu tidak masalah," kata Ceyasa pelan, semenjak menikah ulang, Archie benar-benar berubah, pria itu jauh lebih sabar menghadapi istrinya ini, membuat Ceyasa pun perlahan menata tata Kramanya pada suaminya, jarang sekali mereka bertengkar ala kucing dan tikus seperti dulu, jika Ceyasa mulai mengeluarkan sifat aslinya, Archie langsung mencoba mengontrol dirinya.


"Baiklah, aku akan tidur," kata Archie bangkit, tak lupa mengecup kening Ceyasa, bukan sebuah keharusan namun sudah menjadi ritual wajib bagi Ceyasa dan Archie. Archie menarik selimutnya lebih dalam, menutupi setengah tubuhnya yang sudah berbaring.


Archie yang tadinya sudah mulai menutup mata langsung membuka kembali matanya, melirik ke arah Ceyasa yang masih betah untuk duduk, meringankan sedikit beban dipunggungnya yang selalu saja sakit sekarang dengan bersender di kepala ranjang mereka yang empuk.


"Apa kau yakin? masih sanggup? jika tidak aku bisa mengatakan pada mereka jika kondisimu tidak memungkinkan, aku rasa kau lebih baik tak usah mengikutinya, kau sudah membukanya, tak perlu untuk menutupnya," ujar Archie memiringkan tubuhnya ke arah Ceyasa, merasa tak rela Ceyasa pergi, sudah 2 hari ini istrinya pergi keluar istana tanpa pengawasannya, seharusnya semakin lama dia harusnya semakin tenang, tapi entah kenapa Archie malah tak tenang.


"Ya, aku yakin, aku baru hamil 7 bulan, sejak masuk trimester 2 juga keadaanku semakin kuat, lagi pula di sana besok ada Bibi Bella dan juga Suri, jadi tenang saja," kata Ceyasa yang tahu Archie pasti sangat khawatir.

__ADS_1


"Oh, benarkah? namun jika nanti kau merasa tak nyaman, langsung saja pulang, jangan memaksa, kau harus ingat saat ini yang harus kau jaga bukan hanya dirimu, namun juga anak kita, jadi jangan mengikuti kemauanmu saja, pikirkan lah dia," Bujuk Archie lagi, dia hingga menopang tubuhnya dengan sikunya, mencoba menunjukkan dia sedang serius.


"Iya, Iya, kau tahu kok, Jagoanku kan sangat hebat, dia kuat sepeti papanya," kata Ceyasa mencubit hidung Archie yang tampak ingin memaksa Ceyasa untuk pergi namun tak mampu melarang, lagi-lagi mengatakan Jagoan walau dia tak tahu anaknya laki-laki atau perempuan.


"Baiklah kalau begitu, maafkan aku tak bisa menemanimu lagi, besok aku akan menyuruh Gerald untuk ikut denganmu," kata Archie serius, dia menggapai ponselnya.


"Tidak perlu, Hana sudah ada menjaga ku, kau lihat bagaimana dia menjagaku kan?" kata Ceyasa lagi lembut, masih mencoba menenangkan suaminya, dia bisa melakukannya, pikir Ceyasa.


"Kapan Ayah dan ibumu pulang?" tanya Archie, jika ada ayah dan ibu mertuanya, dia lebih tenang meninggalkan Ceyasa, bahkan hanya meninggalkan Ceyasa di sini saja dia sudah tak tenang, apalagi di acara sebesar itu.


"Minggu depan, sudah lah, tidak apa-apa, lagi pula akan banyak penjagaan di sana bukan? tak perlu takut, lagi pula aku sudah mengikuti acara itu 2 hari berturut-turut dan tak ada masalah bukan?" tanya Ceyasa lagi, sedikit bingung kenapa Archie terlalu khawatir dengan dirinya, bahkan untuk keluar istana sendiri Ceyasa sangat susah sekarang. Padahal dia baik-baik saja di luar.


"Baiklah, tapi tetaplah berhati-hati, sekarang kalau begitu cobalah tidur, jika tidak bisa, bangunkan aku dan jangan pergi esok," kata Archie dengan sedikit senyuman tipis, dia tak bisa membiarkan Ceyasa sendiri, ancaman dari Rain dulu sangat membekas di kepalanya, tapi dia tetap tak bisa mengatakannya pada Ceyasa.


"Iya, Papa," kata Ceyasa, Archie kembali bangkit, dia segera membantu Ceyasa untuk tidur, Ceyasa sudah tak bisa lagi tidur terlentang, maka dari itu dia tidur miring, sesuai instruksi dokter, dia lebih banyak miring ke kiri, karena sangat bagus untuk keadaan bayi yang dikandungnya. Archie memeluknya hangat dari belakang, Ceyasa tersenyum sebelum menutup matanya yang mengantarkannya ke dunia mimpi yang indah.

__ADS_1


__ADS_2