
Aurora terdiam melihat Jofan masuk ke dalam ruangan itu, hanya bisa melihat punggung suaminya menghilang dibalik pintu yang tertutup, suasana di ruangan itu sebenarnya cukup hiruk pikuk di mana beberapa perawat dan dokter yang lain masih berbicara tentang keadaan Sania, namun bagi Aurora, di sana sangat senyap, dibalik pintu yang tipis itu, wanita yang selama ini dicintai suaminya sedang terbaring, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam ruangan itu, apakah Jofan memberikannya perhatian lebih? Apakah dia menggenggam tangannya dengan sangat hangat? Apakah dia ….
Aurora tidak ingin membayangkannya karena semakin dia membayangkannya, semakin sakit hatinya, dia langsung mencoba menyadarkan diri untuk melihat ke arah sekitar, mencoba menarik napas lebih dalam karena rasa sesak yang masih tertinggal, bahkan makin parah, udara di sana terasa tipis sekali.
Tak lama Jofan kembali keluar dengan Dokter Elly yang segera meninggalkan Jofan, Jofan tampak lebih tenang namun wajah cemasnya masih terlihat, dia berjalan menuju Aurora.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Aurora pada Jofan yang berhenti di depannya.
"Sudah stabil," kata Jofan seadanya saja.
"Syukurlah, apakah dia sudah sadar?" tanya Aurora lagi dengan wajah yang perhatian, Jofan bisa menangkap itu.
"Belum, apakah kau masih mau melihatnya?" tanya Jofan lagi
Aurora terdiam, dia hanya menundukkan kepalanya, mengigit bibirnya yang tipis, jujur saja dia masih ragu, apakah dia siap bertemu dengan Sania atau tidak karena itu dia tidak menjawab pertanyaan Jofan.
"Tidak perlu dipaksakan, jika tidak ingin bertemu juga tidak apa-apa, kau bisa menunggu di sini atau di kamarku, mereka akan mengantarkanmu dan aku akan memanggilmu jika aku sudah selesai," kata Jofan yang melihat Aurora, tidak menunggu jawaban Aurora, Jofan langsung membalikkan badannya.
"Jofan?" Suara Aurora terdengar lembut memanggil suaminya, Jofan langsung melihat ke arah Aurora yang masih terlihat keraguan dari wajahnya.
__ADS_1
"Aku … akan melihatnya," kata Aurora berusaha menyakinkan dirinya sendiri, dia ingin melihat keadaan Sania, entah apa yang dipikirkannya, tapi dia hanya ingin mengetahui, seperti apa wanita yang selama ini ada dalam pikiran Jofan? apakah lebih baik darinya?
"Baiklah jika kau memang ingin melihatnya,"kata Jofan, tidak melarang atau memaksa, semua diserahkannya pada Aurora.
"Ya," kata Aurora mengangguk, berjalan dibelakang suaminya, Jofan lalu membuka ruangan itu, bau khas ruang rawat terseruak kala pintu itu terbuka, terasa pengap dan lembab, Jofan membukanya lebar agar Aurora yang ada dibelakangnya bisa masuk, suara monitor penunjang kehidupan terdengar menyambut Aurora yang perlahan-lahan masuk, mengamati semua yang ada di sana, semua alat-alat medis terlihat di sisi tempat tidur Sania, ruangan itu suram, catnya saja berwarna kelabu, tidak apa-apa selain ranjang dan alat-alat itu, ventilasi udaranya pun minim, tak ada jendela atau apa pun, hanya tembok kokoh yang terlihat lembab, sangat mencekam bagi Aurora, setelah mengamati, dia berjalan lebih dekat, melihat sebuah tubuh yang terbaring tak bergerak di atas ranjang.
Mulut wanita itu tersumpal alat ventilator, Aurora terkejut melihat wajah Sania, dia bahkan mundur beberapa langkah karenanya dan tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Jofan yang ada di belakangnya.
"Maaf," kata Aurora yang tampak kasar karena kaget melihat wajah Sania, seolah menghina, namun dia benar-benar terkejut.
Dia tidak menyangka wanita yang selama ini menjadi wanita yang paling dicintai oleh suaminya berwajah seperti itu, dalam bayangan Aurora, wanita itu pastilah sangat cantik, kulit halus, tubuhnya indah, atau semuanya yang dapat mengoda seorang pria hingga pria itu tergila-gila dan tak bisa menerima wanita lain tapi ketika melihat wajah Sania, Aurora benar-benar terkejut.
"Kenapa dia ... ?" Aurora tak bisa menemukan kata-kata yang cukup sopan untuk menanyakan apa yang terjadi pada Sania hingga dia seperti itu.
"Aku pernah mengatakan bahwa dia disiksa bukan? dia disiksa oleh ayah Archie," kata Jofan terlihat menyimpan kesedihan sekaligus kemarahan di dalam matanya. Aurora mendengar itu tidak percaya, jadi dia benar-benar disiksa? separah ini kah? apa benar ayah Archie bisa melakukan hal separah ini?
"Untungnya dia bisa bertahan, saat ini juga dia terus bertahan," kata Jofan melihat ke arah Sania, Aurora tidak bisa berkata-kata, kalau begini hatinya yang kecil itu tidak bisa membenci wanita ini, dia kira akan timbul rasa marah dan benci ketika melihat Sania, namun yang ada adalah rasa iba dan sedih melihat tubuh yang hanya bernyawa karena alat-alat yang terpasang di sampinginya.
Aurora memberanikan diri untuk maju, berdiri tepat di samping Sania yang menurutnya sudah seperti tengkorak hidup, kurus sekali, dia menyentuh tangan Sania yang hanya terasa tulangnya, dingin dan kaku seolah menyentuh mayat, mendengar suara alat-alat itu benar-benar membuatnya terganggu. Hati Aurora tersentuh, sedih, entah apa yang sudah dilewati wanita ini, namun setidaknya dia pantas bahagia.
__ADS_1
Aurora mungkin wanita yang menyedihkan, namun dia masih hidup bebas, bisa tertawa, menangis atau sekedar menikmati hidup, dia tak punya cinta dari suaminya, tapi dia punya yang sangat besar dari kedua anaknya. Tapi wanita ini? bahkan bernapas pun dia tak mampu melakukannya sendiri.
"Kenapa kau tega membiarkannya dirawat di tempat seperti ini?" tanya Aurora melirik ke arah Jofan, Jofan hanya mengerutkan dahinya, tak mengerti apa perkataan Aurora.
"Apa maksudmu?" tanya Jofan.
"Iya, lihatlah tempat ini, pengap, udaranya tidak bagus, tidak ada sinar matahari sama sekali," kata Aurora protes pada suaminya, baru kali ini Aurora protes padanya, membuat Jofan sedikit kaget. "Di sini baunya sangat tidak menyenangkan, bahkan jika aku sehat pun aku tidak akan mau tinggal di sini, apalagi untuknya yang butuh udara segar, bukankah ini dulu bekas penjaranya? dia pasti tertekan dan tidak bisa membaik karena ini," kata Aurora lagi melihat ke sekeliling, membuat Jofan juga sadar akan keadan di sana.
Memang yang dikatakan oleh aurora benar, sangat pengap di dalam ruangan itu, udaranya lembab, karena ada di bawah tanah sinar matahari tidak pernah menyentuhnya dan juga keadaannya memang kurang layak untuk tempat penyembuhan.
"Jadi?" kata Jofan lagi mencoba untuk mendengarkan Aurora yang baru kali ini tampak tegas baginya.
"Bukankah kau bilang rumah kita sudah hampir selesai, kau bisa memindahkannya ke sana, pilihlah salah satu kamar yang cocok untuknya, pindahkan dia ke sana, hal itu akan bagus untuknya," kata Aurora sedikit tersenyum pada Jofan.
Jofan terhenyak mendengar perkataan Aurora, dia tidak menyangka wanita ini akan mengatakan hal itu, keberaniannya untuk datang dan melihat Sania yang notabene adalah saingannya saja sudah sangat hebat bagi Jofan, apalagi sekarang dia malah memikirkan bagaimana agar keadaan Sania membaik dan malah menyarankan Sania dipindahkan ke rumah mereka, rumah yang dibangun untuk mereka tinggal bersama, Jofan tak habis pikir, Jofan bertanya dalam hati kecilnya, wanita seperti apa Aurora ini sebenarnya? terlihat lembut namun kuat pula, terlihat anggun namun bersamaan dengan itu dia juga sangat tangguh.
"Baiklah, bantu aku untuk menentukan tempatnya nanti," kata Jofan tersenyum, terlalu kagum dengan sifat Aurora, kenapa dia baru sadar memiliki wanita seistimewa ini?
"Ya, aku akan mendekorasinya senyaman mungkin, tenang saja Sania, aku akan membuatmu nyaman," kata Aurora tulus, tidak ada kepalsuan sama sekali dari wajahnya, hatinya benar-benar sangat luas.
__ADS_1
Jofan diam tak bisa lagi berkata-kata, hanya bisa tersenyum melihat Aurora yang mulai merapikan rambut-rambut sania. Seberuntung inikah dirinya?