
"Diam! siapa pun tidak boleh berbicara kecuali Kak Rain, atau aku!" kata Lidia yang menekan lebih kuat ujung pistol itu di sisi dahi Ceyasa, membuat Ceyasa semakin kesakitan, perutnya kembali menegang, Ceyasa terpekik tertahan, menguratkan luka bagi Archie dan Rain yang mendengarnya.
"Lidia! kau sudah kehilangan akalmu!" suara Rian yang lantang begitu menggema, membuat semua orang terdiam, bahkan para prajurit di sana cukup gentar mendengar suara Rain, dia akan cocok menjadi seorang tentara.
"Ya aku kehilangan semuanya 12 tahun yang lalu! saat aku bertemu denganmu pertama kalinya! dan tahukah kau! sejak itu aku ingin melakukan apapun untukmu! tapi apa yang aku dapat! kau hanya terobsesi dengan wanita ini, aku beberapa kali ingin menemuimu di sel,dan kau menolak ku! kau ingat kata-kata yang kau katakan di sel saat kau mengusirku kemarin! kau katakan hanya ada dia di hati dari dulu hingga sekarang!" histeris Lidia yang bahkan mengalahkan suara Rain tadi, Ceyasa yang mendengarkan itu hanya terdiam? benarkah? benarkah Rain mencintainya?
Suasana hening sejenak, tak ada yang menjawab apa yang dikatakan oleh Lidia, Archie dibelakang Rain hanya mengepalkan tangannya, tak suka mendengarkan pengakuan bahwa pamannya ini mencintai Ceyasa, walaupun dia sudah tahu sebelumnya.
"Benarkan? kau katakan itu padaku? ingatkah kau? Apa yang dia punya tapi aku tak punya! bahkan dengan statusnya yang sekarang sudah menjadi istri orang, dan juga sedang mengandung, kau masih juga mencintainya! kau bilang akan mendapatkannya apapun yang terjadi! Rain! jawab aku apa yang punya namun aku tak punya!" kembali suara histeris Lidia terdengar, sedikit menyayat hati sekarang karena kesedihan yang terasa, sangat putus asa, Ceyasa bisa merasakannya, kasih tak terbalaskan ternyata bisa membuat orang bertindak nekat.
"Senyumannya, aku jatuh cinta dengan senyumannya, dan itu yang tak akan kau punya," kata Rain pelan, terkesan lembut dan sendu, apalagi saat dia mengatakan hal itu dia menatap mata Ceyasa yang hanya diam, Ceyasa menangkap keseriusan itu.
"Baiklah, kalau begitu! lagi pula aku tak berniat membebaskannya, kalau aku tak bisa mendapatkan cintamu, untuk apa aku membiarkan kau mendapatkan cintanya! lebih baik dia mati!" kata Lidia bagai kerasuka setan dan dengan cepat, tanpa di duga semua orang, dia menghunuskan pisau yang ada di tangannya ke arah perut Ceyasa dan segera mencabutnya kembali, semua orang terpekik, melihat apa yang terjadi! Rain dan Archie sudah tak peduli, mereka segera bergerak, apa lagi melihat Lidia ingin bersiap membidik Ceyasa yang hampir jatuh ke lantai, memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri, namun buka itu pikirannya sekarang, anaknya, anak yang ada dalam kandungannya? bagaimana dengannya?
Para prajurit di sana belum bisa bergerak tanpa aba-aba, mereka takut jika mereka menembak malah akan mengenai Archie, Ceyasa atau Rain.
Namun, Hal itu tak disia-siakan oleh Hana, dia segera membidik tepat ke arah Lidia, dan dengan cepat memuntahkan timah panas yang menembus bagian dada dari Lidia! bersamaan dengan itu Rain merampas pistol itu dari tangan Lidia, takut dia masih punya kekuatan untuk menembak Ceyasa dan untungnya dia berhasil mendapatkannya.
__ADS_1
Archie tak peduli, bahkan jika tiba-tiba ada peluru yang menembus tubuhnya, sekarang baginya hanya keselamatan Ceyasa lah yang terpenting, dia segera mengangkat tubuh Ceyasa yang lemas, Ceyasa menyeringai kesakitan, tangannya berlumuran darah yang keluar mengucur dari tangannya. Hana dan Gerald langsung sibuk , Gerald memerintahkan Helikopter agar segera di siapkan.
"Ceyasa, Ceyasa, ayo bertahan! jangan tinggalkan aku! tolong! Ceyasa!" kata Archie yang melihat Ceyasa setengah sadar, air matanya keluar begitu saja, ternyata perasaan paling membuatnya lemah adalah ketakutan kehilangan Ceyasa.
"Bayi kita," lirih Cayasa.
Rain yang berdiri di dekat Archie awalnya masih punya pemikiran ingin mengarahkan pistol itu ke arah kepala Archie, itu kesempatan emasnya untuk memisahkan Ceyasa dan Archie selamanya, namun melihat Archie yang begitu khawatir dan Ceyasa yang tampak lemah, dia menjatuhkan pistol itu ke lantai, Cinta tak terbalas memang membuat semua orang gila.
"Helikopter siap!" ujar Gerald berteriak membuat Archie segera melihatnya, Archie segera berusaha mengendong tubuh Ceyasa.
"Aku akan membantumu," kata Rain membantu Archie mengendong Ceyasa yang cukup bertambah berat karena kehamilannya.
Ceyasa langsung diantar masuk ke dalam penanganan, darah Ceyasa sudah membasahi seluruh gaunnya, begitu juga jas Archie, sudah penuh bercak darah.
"Anak kita, bagaimana?" racau Ceyasa yang tampak sekali mencemaskan bayi di dalam kandungannya.
"Dia tak akan apa-apa, kau pun tak akan apa-apa, Ceyasa bertahanlah untukku!" kata Archie yang mengiring Ceyasa sebelum dia dimasukkan ke ruangan pemeriksaan, perawat menahan Archie untuk masuk, hal itu membuat Archie frustasi, namun tak bisa berbuat apa pun, jika tahu begini, Archie tak akan pernah mengizinkan Ceyasa sedikit pun jauh dari pandangannya.
__ADS_1
Menit- menit berlalu, Archie hanya mondar mandir di depan pintu itu, tangannya yang berlumuran darah Ceyasa pun tak dibersihkannya, tak ingin ketinggalan sedikit pun berita tentang Ceyasa yang bertaruh nyawa di dalam sana.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jared yang baru datang, Suri yang tadi juga ada di sana terpaksa langsung diamankan bersama Bella tanpa tahu yang terjadi, dia baru tahu setelah dikabarkan oleh Hana dan Gerald, Jared yang tadi ada di perusahaan segera memutuskan untuk datang, bagaimana pun Ceyasa adalah sepupunya.
"Belum tahu, dokter sedang menanganinya, dia menusuknya di perut," kata Archie, dia panik sekali, dibalik pintu itu ada dua orang yang dia pikirkan keselamatannya, dan dia tak ingin kehilangan salah satu pun dari mereka.
Suri yang mendengar itu kaget, dia sampai menutup mulutnya, tak bisa membayangkan bagaimana rasanya tertusuk di bagian perut ketika hamil.
Pintu ruangan itu terbuka, dokter dengan wajah sangat tegang keluar.
"Yang Mulia, keadaan Ratu sangat kritis, beliau juga mengalami banyak kehilangan darah," kata Dokter itu tanpa buang waktu, Archie yang mendengarnya sangat syok hingga mematung, rasanya seluruh dunia hening seketika.
"Bagaimana keadaan bayinya?" tanya Jared yang melihat Archie tak merespon apapun, pertanyaan Jared menarik Archie kembali terhempas ke dunia.
"Bayinya pun dalam keadaan gawat janin, saya ingin mengatakan apa Anda, kami akan melakukan operasi darurat untuk menyelamatkannya, namun sekali lagi saya katakan, keadaan keduanya kritis," kata dokter itu memberitahukan apa yang akan dia lakukan sebagai inform concern untuk keluarga pasien.
"Tolong, lakukan yang terbaik," kata Archie yang akhirnya bisa berkata-kata.
__ADS_1
"Pasti," kata dokter itu, tanpa salam tanpa permisi langsung masuk kembali ke ruangan itu.
Archie hanya diam, menatap pintu itu tertutup, Jared dan Suri pun hanya diam saja, tahu saat ini Archie pasti tak ingin diganggu.