
Jofan memeluk Siena dengan erat, Siena meringkuk di dalam pelukan ayahnya, tubuhnya masih bergetar, suara tangisnya semakin menjadi, lirih dan semakin menyayat hati, Jofan hanya bisa mencoba menenangkan anaknya, tangannya yang lain mengenggam erat tangan Aurora.
"Ibu tidak akan apa-apa, berdoalah," bisik Jofan peda Siena, Siena mengangguk dalam pelukan Jofan.
Jared yang melihat genggaman erat tangan pamannnya itu dari belakang sedikit menaikkan senyum tipisnya, setelah begitu lama menunggu, akhirnya benih itu tumbuh juga setelah sekian lama terkubur, tunas cinta itu mulai keluar dari tumpukan debu.
Dokter Elly tampak kaget dan terlihat lebih sibuk, membuat Jofan mengerti keadaan di dalam sangat mengkhawatirkan, Jofan tambah cemas, dia mengetatkan genggaman tangannya pada jari jemari Aurora yang lentik, membuat Aurora pun sadar betapa Jofan cemas dengan keadaan Sania.
Dokter Elly melihat monitor jantung Sania, lurus tanpa ada tanda denyut jantung sama sekali, Dokter Elly tampak panik, segera naik ke atas ranjang Sania karena tubuhnya tak cukup tinggi untuk melakukannya dari lantai, Dokter Elly segera mencoba memberikan RJP pada tubuh kurus Sania, melakukan penekanan bagian tengah dada Sania yang hanya tampak tilang-tulang rusuknya saja.
"Cepat panggil ambulans," Perintah Dokter Elly sambil terus melakukan tindakan, merasa cukup kewalahan, sejujurnya dalam hati kecil Dokter Elly, dia benar-benar tak ingin melakukan hal ini, karena walaupun hidup, sebenarnya Sania tersiksa, dikatakan hidup namun tak hidup, namun dikatakan sudah meninggal, napas dan jantungnya masih berdetak, membuatnya tak bisa tenang di alam sana, terjebak di antara keduanya.
Jofan yang melihat tubuh Sania yang kurus dan kecil itu ditekan-tekan oleh Dokter Elly merasa tak tega, dia hingga berjalan lebih dekat ke arah ruangan Sania, melepaskan pelukannya dari Siena dan genggaman tangannya dari Aurora, membuat Siena dan Aurora sedikit terkejut melihat kelakuan Jofan.
Aurora melirik suaminya, dari pancaran matanya tampak kesedihan, penyesalan, kekecewaan, dan rasa tak tega yang mendalam, Aurora ikut merasakan perasaan suaminya itu.
Dokter Elly tampak menghentikan tekanannya, melihat monitor yang mulai menunjukkan kembali detak jantung, menandakan jantung Sania kembali berdenyut.
Dokter Elly menatap wajah Sania dengan dalam, entah kenapa merasa kasihan, sekali lagi dia kembali dari alam kematian, apa yang membuatnya bertahan?
Suara sirine ambulance yang mengelegar membuat perhatian semua orang menatap ke arah pintu keluar, Dokter Elly yang mendengar itu langsung kembali sadar, memerintahkan perawat untuk mempersiapkan Sania sambil berjalan keluar dari ruangan Sania.
"Tuan, maafkan saya, saya rasa saya tak sanggup untuk melakukan perawatan Nona Sania di sini,saat ini keadaannya sangat lemah, saya takut keadaan Nona Sania akan kembali turun, jadi saya akan membawa Nona Sania ke rumah sakit terdekat," ujar Dokter Elly.
__ADS_1
"Baiklah, lakukan lah yang terbaik," kata Jofan tegas.
Petugas ambulans langsung masuk ketika pelayan rumah membukakan pintu, Dokter Elly segera mengarahkan mereka, mereka segera memindahkan Sania ke ranjang dorong, segala alat yang dibutuhkan Sania mereka bawa.
"Tuan, Anda ingin menemani?" tanya Dokter Elly melihat ke arah Jofan, Jofan langsung mengangguk, Aurora segera mengambil mantel panjang untuk suaminya.
Jofan segera memakai mantelnya ketika Aurora menyerahkannya. dia sejenak memperhatikan Siena dan Aurora.
"Tenang saja, aku akan membawa mereka ke rumah sakit, Paman pergilah duluan," ujar Jared yang melihat ke khawatiran pada wajah pamannya.
Jofan mendengar itu lumayan merasa tenang, dia lalu mengangguk dan segera pergi mengikuti Dokter Elly, tak ingin membuang waktu dan tak lama mereka pergi dari sana.
"Siena, ambilah barang-barang yang ingin kau bawa, bersiaplah," kata Aurora lembut namun wajahnya masih tampak cemas, Siena yang matanya masih basah, hidungnya memerah, hanya bisa mengangguk dan pergi dari sana.
"Dimana Jenny?" tanya Aurora yang sadar dan mencari keberadaan anaknya.
"Dia tadi pergi, mungkin masuk ke kamarnya, Bibi tak perlu khawatir, dia hanya butuh waktu sendiri dan memikirkan semuanya, nanti juga dia akan mengerti, Jenny selalu begitu bukan?" ujar Jared dengan tatapan lembut, begitu kagum dan menyayangi bibinya, bahkan melebihi ibunya sendiri.
Aurora yang mendengar perkataan Jared hanya mengangguk-angguk kecil karena apa yang dikatakan oleh Jared memang benar.
"Bibi bersiap saja, pakai pakaian yang sedikit hangat, udara sekarang tak bersahabat, aku akan mengatakan pada Jenny kalau kita akan ke rumah sakit," ujar Jared lagi.
"Baiklah, terima kasih," kata Aurora yang sedikit melempar senyuman manisnya lalu pergi masuk ke kamarnya, Jared lalu menuju kamar yang sebelumnya memang disiapkan khusus untuk Jenny.
__ADS_1
Jared berhenti di pintu kamar Jenny yang tertutup rapat, dia mengetuk pelan pintu kamar Jenny yang bercat putih itu.
"Jenny!" ucap Jared memanggil adiknya dari luar kamar.
"Ada apa?" tanya Jenny terdengar begitu ketus dari dalam, dia bahkan merasa kesal dengan kakaknya.
"Kami akan pergi ke rumah sakit, bagaimana denganmu?" tanya Jared lagi, Jenny sama sekali tak membuka celah untuk kakaknya, ciri khas Jenny jika dia kesal atau ngambek.
"Aku tak ingin melihat drama lagi, kakak pergi saja jika masih sanggup!" teriak Jenny dari dalam.
Jared yang mendengar itu hanya bisa mengulum bibirnya, tahu benar sifat adiknya, Jared langsung meninggalkan kamar Jenny, menemukan bibinya dan Siena sudah ads di ruang tengah.
Aurora langsung melihat ke arah Jared yang berjalan dengan gayanya, membuat siapa pun yang melihatnya begitu saja akan langsung tertarik, Siena memperhatikan sepupunya, tak percaya dia punya sepupu yang begitu memikat, sayang sekali mereka saudara.
"Dimana Jenny?" tanya Aurora yang langsung khawatir melihat Jared hanya datang sendiri.
"Dia ingin istirahat saja, Bibi tak perlu khawatir, dia akan baik-baik saja," ujar Jared menenangkan Bibinya dengan senyuman manisnya yang langsung menghipnotis Siena. Wajah sepupunya yang dingin membuat kesan pertama Siena padanya adalah pria yang cuek dan urakan, namun melihat kelembutan dan kemanisan senyumannya, semuanya berubah, pria ini bahkan lebih hangat dari matahari pagi.
"Sudah siap?" ujar Jared lagi, membuat Siena yang tak sadar memandangi Jared langsung membuang pandangannya, menutupi kesalah tingkahannya.
"Sudah, Bibi dan Siena sudah siap, Baiklah, kita berangkat," ucap Aurora melempar senyuman dan pandangan ke arah Siena, Siena hanya mengangguk, lalu memberikan senyuman tipisnya.
Jared mendengar itu langsung memimpin langkah, Aurora dan Siena hanya mengikutinya saja, Jared langsung membukakan kedua pintu belakang mobil pamannya, karena mobil yang dia bawa hanya memiliki dua pintu, tak cukup untuk mereka.
__ADS_1
Jared segera mengambil posisi supir, memposisikan kaca spion tengah agar bisa memantau bibinya dan Siena di belakang, melihat mereka sudah siap, Jared lalu melajukan mobil mereka keluar dari rumah itu menuju ke rumah sakit.