
"Oh, jadi kau masih mengira bahwa gelang itu dariku? Bukan, itu bukan dariku, itu dari anak pria yang menolongmu, aku hanya diminta untuk memberikannya padamu dan kau malah berpikir itu adalah dari ku," kata Nathan.
"Jadi ini bukan darimu? Jadi bukan kau yang menyelamatkanku waktu itu?" tanya Ceyasa yang tampak kaget dan kesal, bagaimana bisa Nathan membohonginya? Gara-gara itu dia menyukai Nathan, padahal yang dia sukai adalah pria yang menolongnya dan memberikannya gelang ini.
Archie yang dari tadi mengamati pembicaraan Ceyasa dan Nathan mengerutkan dahinya, ada apa ini?
"Katakan padaku siapa yang menolongku waktu itu? siapa yang memberikanku gelang ini?" kata Ceyasa lagi sangat kesal dengan Nathan.
"Entahlah, dia hanya orang asing yang tidak pernah terlihat lagi sampai sekarang," kata Nathan enteng saja, padahal bagi Ceyasa hal ini sangat berarti, tanpa penolong itu, mungkin dia sudah mati.
Ceyasa sangat kesal, dia lalu menampar wajah Nathan dengan sangat keras. Carla yang melihat hal itu kaget dan tidak terima pacarnya ditampar oleh Ceyasa, dia langsung ingin menyerang Ceyasa, namun para penjaga langsung mengamankan Ceyasa, tidak ada yang boleh menyentuh istri pangeran bukan? Archie hanya tersenyum tipis.
"Ayo, kita harus pergi sekarang," kata Archie mulai berjalan meninggalkan mereka, Ceyasa menatap tajam pada Nathan dan Carla yang cukup terintimidasi karena penjaga Archie, Ceyasa segera mengikuti Archie menuju helikopter mereka, sesampainya di sana Ceyasa berhenti sebentar.
"Kita mau kemana?" tanya Ceyasa yang masih tidak menyangka malam ini dia harus pergi dari desa ini.
"Pulang ke Ibu kota, aku sudah cukup penat ada di sini," kata Archie lagi.
"Tapi aku tidak pernah keluar dari desa ini seumur hidupku," kata Ceyasa sedikit ketakutan membayangkan kehidupan kota yang hiruk pikuk.
__ADS_1
"Karena itu kau harus keluar dari sini, kalau kau tetap di sini, aku yakin bibi dan pamanmu yang aneh itu akan kembali mengganggumu," kata Archie lagi.
"Benar Ceyasa, di Ibu kota pasti menyenangkan, jika ada waktu aku akan ke sana, di sana sangat keren," ujar Nadia menenangkan.
"E? Baiklah," kata Ceyasa yang sebenarnya masih sangat ragu, ini adalah keputusan tiba-tiba, dia tak mungkin tak cemas karena hal ini.
"Ayo, kita harus secepatnya pergi dari sini," teriak Archie karena baling-baling helikopter membuat suara yang sangat-sangat gaduh sekarang.
"Beri aku kabar ya," kata Nadia yang mengantarkan Ceyasa sampai naik ke dalam helikopter, Ceyasa mengangguk, Nadia langsung berlari menjauh, melambaikan tangannya pada Ceyasa, Ceyasa yang melihat Nadia merasa sedikit sedih, meninggalkan sahabat satu-satunya dan lebih sedih meninggalkan desanya ini.
Ceyasa memalingkan wajahnya dan mulai sadar akan keadaan di dalam helikopter, dengan gugup dia duduk di samping Archie, Archie melihat Ceyasa, dia yakin Ceyasa belum pernah menaiki helikopter seperti ini, jadi dia membantunya untuk memasangkan peralatan headphone, dan sabuk pengamannya. Ceyasa hanya bisa terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Archie, menatap wajahnya yang tampak remang di malam yang gelap itu, apakah keputusannya ini benar? Ceyasa tak tahu apa jawabaannya. Namun tak ada jalan untuk kembali lagi, mau tak mau dia harus mengikuti Archie, bagaimana pun sekarang dia sudah milik Archie. Setelah semua selesai, mereka pergi dari sana segera.
Tak lama mereka membawa Ceyasa masuk, Ceyasa yang tak mengerti apa pun, hanya bisa diam dan kaget dengan hal-hal yang baru saja dia alami, baru saja dia naik helikopter untuk pertama kalinya, sekarang dia sudah dibawa masuk lagi ke dalam pesawat yang interiornya saja sudah sangat mewah. Karpet di lantainya berwarna abu-abu dengan gambar ukiran berwarna hitam, sofa-sofa yang bahkan dengan melihatnya saja semua orang sudah tahu betapa empuknya, sofa itu berjejer rapi dan indah sesuai tempatnya, dinding interior yang membatasi ruangan itu terbalut kayu mahoni, di tengahnya TV layar lebar terpampang, di bagian ujungnya terlihat meja makan khusus dengan segala perlengkapannya, persawat pribadi ini benar-benar mewah dan memanjakan pemiliknya.
Ceyasa melihat Archie yang duduk santai sambil menyandarkan tubuhnya di sofa itu, kepalanya disandarkan di sofa sambil menutup matanya, menenangkan sejenak otak dan pikirannya yang lelah dan penuh.
Seorang pramugari mendorong Ceyasa ke arah Archie dan membantunya untuk duduk berhadapan dengan Archie. Pramugari itu langsung membantu Ceyasa memasangkan sabuk pengamannya. Archie masih tampak mengistirahatkan tubuhnya karena sekarang bahkan tubuhnya terasa sangat lelah. Ceyasa hanya tampak bingung dan cemas melihat segala hal ini, Gerald segera bergabung dengan mereka, dia duduk di sofa yang lain, di seberang tempat duduk Archie dan Ceyasa.
"Tenang saja Nona, semuanya sudah kami urus," kata Gerald yang memperhatikan wajah cemas Ceyasa, tentu dia cemas, dia belum pernah naik pesawat sebelumnya, dia juga tidak pernah pergi dari desanya dan sekarang tiba-tiba dia akan merasakan pengalaman ini sekaligus, apa lagi memikirkan bagaimana hidupnya nanti di Ibu kota? Ibu kota seperti apa saja dia tidak punya gambaran sama sekali. Ah kenapa dia setuju saja dibawa oleh orang-orang ini, bahkan dia tidak tahu siapa sebenarnya pria yang ada di depannya ini sekarang?
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu karena helikopter harus menjemput beberapa pengawal Archie yang tidak bisa ikut dalam penerbangan mereka yang pertama, setelah semua orang berkumpul, mereka segera dipersiapkan untuk terbang.
"Pangeran, maaf, kita akan lepas landas segera," tegur pramugari yang melihat Archie belum memakai sabuk pengamannya.
Archie membuka matanya dan segera memakai sabuk pengamannya, setelah memakainya Archie lalu menatap Ceyasa yang ada di depannya, hanya berbatas meja kayu nan indah di depan mereka.
"Takut?" tanya Archie pada Ceyasa yang terlihat sangat ketakutan dan cemas. Ceyasa hanya mengangguk.
"Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan menjagamu, aku berjanji," kata Archie lembut dengan tatapan mata yang juga bisa meyakinkan siapa pun, Ceyasa yang awalnya gusar mendengar dan melihat tatapan mata Archie itu, sedikit merasa rasa cemasnya berkurang, dia hanya mengangguk dan berusaha untuk tenang.
Archie menatap Ceyasa, dia teringat sebuah momen, rasanya dia juga pernah mengatakan hal itu dulu, sebuah memori yang sebenarnnya indah namun sekarang menyesakkan, dia membuang pandangannnya ke arah jendela, menatap indahnya sinar rembulan yang jatuh di pelataran.
Persawat mereka segera lepas landas, Ceyasa menggenggam kedua pegangan tangan yang ada di sofanya, sangat erat bahkan seperti memerasnya, dia juga menutup matanya, merasa ketakutan dengan hal ini, Archie yang melihat hal itu hanya mengulas senyum, wanita yang selama beberapa hari ini selalu tampak garang, hanya karena ini terlihat sangat ketakutan, Archie merasa hal ini lucu dan polos, dia cukup terhibur.
Tak lama pesawat mereka mengudara, Archie melepaskan sabuk pengamannya, berdiri lalu melipat meja yang ada di depan mereka, dia berdiri di depan Ceyasa, menepuk pundak Ceyasa yang masih kaku dengan posisinya yang tadi.
"Hei, sudah tidak apa-apa, kalau sudah di atas, kau sudah boleh melepaskan sabuknya," kata Archie, setelah itu dia kembali duduk di posisinya lagi. Ceyasa lalu membuka matanya, melihat Archie sudah kembali duduk santai di depannya, entah kenapa semenjak di sini, Ceyasa bisa merasa Archie sangat berbeda dengan Archie yang biasa dia lihat, dia lebih berwibawa, pembawaannya lebih membuat orang segan untuk hanya menyapanya.
"Pangeran, ini yang Anda minta tadi," kata Gerald bergabung, duduk di samping Archie, Gerald segera memposisikan lagi meja yang di lipat Archie, setelah tegak, dia meletakkan sebuah surat. Archie mengambilnya, membacanya sesaat dan tak mempedulikan tatapan Ceyasa yang memandangnya dengan penuh kerutan dahi.
__ADS_1