
Helikopter Archie mendarat dengan sempurna di helipad markas militer itu, para tentara yang mengikuti mereka segera turun, begitu juga Jendral Ben, Archie melepaskan sabuk pengamannya dengan sebelah tangan karena tangannya yang satunya tak pernah melepas genggaman tangannya, memberikan kehangatan pada jemari-jemari Ceyasa.
Dari saat helikopter itu mengudara hingga akhirnya mendarat, Ceyasa terus bersandar di tubuh Archie, dia tampak begitu nyenyak dan nyaman tidurnya, tak sedikit pun bergerak apa lagi terbangun, padahal gemuruh suara di dalam helikopter militer tersebut cukup keras. Archie lalu memandang wajah Ceyasa, merasa wajah Ceyasa semakin memucat, dia mengerutkan dahinya.
Asisten Qie yang ada di depan Ceyasa pun merasa Ceyasa bertambah pucat, kenapa melihat wajahnya yang pucat itu Asisten Qie merasa ada yang tidak beres.
"Ceyasa, kita sudah sampai," bisik Archie sedikit pelan pada saat helikopter itu sudah dimatikan, berusaha untuk tidak membuat Ceyasa kaget saat dibangunkan. Namun Ceyasa tidak bergerak, dia diam saja, seolah tidak mendengarkan Archie, tak terganggu sama sekali.
"Nona, kita sudah sampai," coba Asisten Qie menegur Ceyasa lagi, Archie menatap Asisten Qie yang merasa kenapa dia harus ikut-ikutan membangunkan Ceyasa. Asisten Qie melihat tatapan Archie langsung mengurungkan niatnya.
"Ceyasa, hei, bangun, Ceyasa? Ceyasa?" tanya Archie yang mencoba membangunkan Ceyasa dengan cara menepuk pipi Ceyasa dengan lembut, Archie mau tak mau melepaskan genggaman tangannya, tangan Ceyasa itu langsung lunglai, saat Archie menepuk pipi Ceyasa, bukannya bangun, tubuh Ceyasa langsung lunglai tak bertenaga, untungnya ada sabuk pengaman yang masih terpasang sehingga tubuhnya tidak langsung jatuh ke bawah. Archie dan Asisten Qie langsung kaget, Archie langsung pindah ke arah Ceyasa, melepaskan tubuh Ceyasa dari sabuk pengaman dengan perlahan dan membiarkan tubuh Ceyasa berbaring di kursi helikopter itu.
"Perintahkan tenaga medis untuk segera bersiap," kata Archie pada Asisten Qie dengan wajah paniknya, dia menggenggam kembali tangan Ceyasa yang lain, kenapa terasa begitu dingin? sekarang hati Archie benar-benar cemas. Asisten Qie mengangguk dan segera keluar dari helikopter itu dan mencari tim medisnya.
Archie sekali lagi menepuk pipi Ceyasa, kali ini lebih kuat, namun Ceyasa tetap saja terkulai lemas, ternyata walaupun tadi terlihat sudah tidak apa-apa, namun sebenarnya tubuhnya masih begitu lemah.
"Ceyasa, bertahanlah," bisik Archie sambil mencium tangan Ceyasa, ketika melihat para petugas medis mendekat. Archie segera mengangkat tubuh Ceyasa, mengendongnya perlahan turun dari helikopter dan segera berjalan cepat menuju ke beberapa tenaga medis yang sedang mendorong ranjang pasien.
Saat mereka sampai, Archie segera membaringkan tubuh Ceyasa, cairan infus yang masih terpasang segera dialirkan, para petugas medis segera mendorong tubuh Ceyasa ke ambulans, dan Archie tanpa pikir panjang masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Asisten Qie yang juga mengikuti mereka hanya bisa melihat pintu ambulans itu tertutup, dia memperhatikan ambulans itu menjauh dan keluar dari markas militer itu, dia hanya bisa berharap semoga Ceyasa tidak apa-apa.
"Tuan, kami ingin berbicara dengan Anda," kata salah satu tentara segera mendatangi Asisten Qie, Asisten Qie yang tadinya yang masih terpaku langsung melihat ke arah salah satu tentara, dia tahu, dia pasti akan diintrogasi tentang hal ini.
Seorang pria menatap Asisten Qie yang sekarang duduk di depannya dalam sebuah ruangan yang cukup sempit, sebuah ruangan introgasi.
"Tuan Qie, seperti laporan yang saya dapatkan Anda adalah Asisten pribadi Tuan Rain beberapa tahun ini, benar?" tanya seorang yang khusus di datangkan untuk mengintrogasi Asisten Qie, Jendral Ben memperhatikannya dari balik kaca 1 arah.
"Ya," kata Asisten Qie terdengar santai.
"Berarti Anda mengetahui apa yang sedang direncankan oleh Tuan Rain, apa hubungannya dengan Nona Ceyasa sehingga dia harus menculik Nona Ceyasa dan menyiksanya?" tanya orang itu lagi.
Orang itu yang tadinya mencondongkan tubuhnya pada Asisten Qie segera menyandarkan tubuhnya, melihat wajah serius Asisten Qie yang tampak cukup tidak kooperatif.
"Anda tahu Anda bisa ditahan jika tidak kooperatif seperti ini."
"Aku tahu, silakan, bagiku tidak ada bedanya, jika kalian membebaskan aku, keselamatanku juga tidak akan terjamin," kata Asisten Qie dengan sangat santai, dia tahu, bagaimana pun dia sudah mengkhianati Rain, jika dia keluar selangkah saja dari maskas militer ini, maka nyawanya bukan lagi miliknya.
"Kami sudah merilis pernyataan bahwa Anda adalah salah satu orang yang tewas dalam peristiwa misi penyelamatan kemarin, permintaan dari Pangeran Archie untuk melindungi Anda," kata pria itu sambil memberikan sebuah berkas.
__ADS_1
Asisten Qie mengambil berkas itu, itu berkas tentang dirinya, dan memang di dalam berkas itu dia sudah dinyatakan tewas. Asisten Qie sedikit kaget membacanya.
"Jadi kami minta Anda bisa berkooperatif, apa yang akan direncanakan Rain selanjutnya? Apakah ada maksud Rain untuk mencelakaan orang lain?" kata pria itu kembali.
Asisten Qie memandang pria yang ada di depannya, berseragam lengkap dengan seragam angkatan bersenjatanya, wajahnya tegas khas tentara, namun tampak cukup bisa dipercaya.
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa Tuan Rain bukan orang yang menyebabkan Nona Ceyasa terluka, dia punya masalah pribadi yang memang ada sangkut pautnya dengan Nona Ceyasa, itu saja," kata Asisten Qie.
"Anda tidak ingin memberitahukan apa masalahnya? Apa rencana Tuan Rain selanjutnya?" tanya pria itu mengerutkan dahinya.
"Aku di sini hanya ingin menolong Nona Ceyasa untuk kabur dari pulau, namun tidak punya niat sama sekali membeberkan semua tentang Tuan Rain, jika kalian ingin tahu, carilah sendiri," kata Asisten Qie lagi terlihat sangat keras kepala. Dia tidak mungkin berkhianat lebih pada Rain, karena bagaimana pun dia pernah berhutang nyawa terhadap Rain.
"Kau tau, sikapmu ini bisa kembali membuat Nona Ceyasa terluka?" kata pria itu lagi.
"Maka jagalah dia dengan baik jika kalian pikir dia akan kembali melukai Nona Ceyasa, aku hanya ingin memastikan, saat itu terjadi, aku tidak menyaksikan hal itu lagi, silakan mengurungku, bahkan kalian boleh menyiksaku, tapi hingga detik ini, aku tidak berubah pikiran untuk tidak membicarakan tentang Tuan Rain," kata Asisten Qie dengan serius.
Tentara itu memberikan tatapan tajam pada Asisten Qie, namun dia tak lagi berbicara, dia segera berdiri dan meninggalkan Asisten Qie sendiri di ruang introgasi itu, tentara itu segera menemui Jendral Ben yang dari tadi mengawasi.
"Lapor, dia tidak ingin berbicara sama sekali," ujar Letnan itu pada Jendral Ben.
__ADS_1
"Kurung dia, namun tetap berikan dia fasilitas di ruangannya, bagaimana pun pangeran ingin dia diperlakukan dengan baik, lagi pula kita harus tetap melindungi dia, jika dia keluar dari sini, maka sudah dipastikan dia akan tewas," kata Jendral Ben memutar otak, dia lalu segera mengirim laporan kepada Gerald.