
Suri sedang tiduran di kamarnya, keadaannya memang sudah membaik jika di depan kedua orang tuanya, tapi keadannya yang sebenarnya masih sama, patah hati ini benar-benar menguras begitu banyak tenaganya, membuat dia selalu merasa kelelahan dan ingin tidur, ternyata benar apa yang pernah dibacanya, orang yang tidur lebih banyak dari biasanya itu tandanya dia mengalami depresi, ya, sekarang Suri tidak bisa memungkiri, dia sedang depresi.
Suri memiliki kebiasaan baru sekarang, setiap beberapa menit dia akan memeriksa ponselnya, memperhatikan pesan-pesan yang dikirim olehnya untuk Archie, berharap pesan itu akan terkirim dan mudah-mudahan dibaca oleh Archie, setiap menit, handphone itu tak lepas dari genggamannya, walaupun hasilnya selalu sama, tak pernah terkirim apalagi mendapat jawaban.
Matanya mulai berat, dia mudah sekali tertidur sekarang, cukup merebahkan dirinya dan seketika dia akan merasakan seluruh tubuhnya remuk dan perlahan-lahan tertidur, cara paling jitu untuk sejenak tak memikirkan apa pun, walau kadang mimpinya malah membuatnya semakin sedih. Beberapa kali terbangun hanya karena mimpi yang membuatnya menangis.
Di antara kesadarannya yang tinggal sedikit, perasaannya mengatakan untuk kembali memeriksa ponselnya untuk terakhir kalinya sebelum dia jatuh lelap dalam tidurnya, dengan mata yang sedikit tidak fokus dan tidak jelas, dia melihat aplikasi obrolannya, melihat pesan yang dikirimnya, terlihat bahwa pesan itu sudah terbaca, Suri awalnya masih belum sadar, namun dia segara membuka matanya dengan sangat lebar, pesannya sudah dibaca? dari berbaring di ranjangnya seketika Suri langsung terduduk, tidak percaya, sangat tidak percaya, akhirnya doanya setiap hari terkabul hari ini, dengan perasaan senang, kaget, dan jantung yang berdetak keras, dia langsung menarik napas panjang, ada perasaan takut kecewa namun dia harus mencoba untuk melakukan panggilan ke tempat Archie dan panggilan itu dengan cepat tersambung.
Archie yang masih mencoba menenangkan dirinya langsung kaget ketika ponselnya bergetar di tangannya, suara nada dering panggilan masuk itu mulai terdengar, dengan wajah kagetnya dia melihat ke arah layar ponselnya, nama Suri terpampang jelas di sana.
Wajah kaget Archie berubah muram dan sedih, dia hanya memandangi layar ponselnya yang terus bergetar dan berbunyi, perasaannya ingin sekali mengangkat panggilan itu, mendengarkan suara merdu wanita itu, namun tidak, dia tak ingin memberikan harapan untuk dirinya dan untuk Suri, dia hanya bisa menahan perasaannya, mengepalkan tangannya dengan erat dan membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya.
Setelah panggilan itu mati, Archie ingin cepat-cepat mematikan ponselnya, dengan begini Suri tidak akan bisa meneleponnya lagi, namun baru saja dia ingin mematikannya, sebuah pesan muncul lagi, Archie tak perlu membukanya untuk tahu isinya.
__ADS_1
‘Jika kau tidak mengangkatnya, aku akan melukai diriku sendiri,Kak’
Mata Archie membesar melihat hal itu, panggilan dari Suri kembali masuk, Archie ingin menangkatnya, namun dia tidak bisa, tidak mungkin Suri yang dia kenal melakukan hal senekat itu, Archie yakin hal ini hanya sebagai alasan agar Archie mengangkat teleponnya, tapi Suri bukan wanita yang suka mengancam, bagaimana jika dia benar-benar melakukannya? Dari kecil Suri bukan wanita yang suka asal bicara, apalagi melakukan hal mengancam seperti ini. Sekarang kepala Archie terasa sangat berat, pertentangan berkecambuk dalam pikirannya.
Archie tak ingin mengambil resiko, dia segera mengangkat panggilan telepon Suri dengan wajah cemas, namun hening, Archie dan Suri sama-sama tidak mengatakan apa pun, hanya suara angin yang Suri bisa dengarkan.
"Kakak?" lirih Suri memberanikan diri untuk mengubah keheningan ini.
Archie hanya mendengarkannya, dia mengepalkan erat tangannya, sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak bicara, mendengar suara lirih dari Suri membuat hatinya tercabik dan napasnya berat, tak pernah mendengar suara Suri yang begitu sedih, isakan tangis mulai terdengar dari Suri, hal ini yang tidak ingin di dengar oleh Archie, bodoh! Kenapa dia mengangkat panggilan ini.
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Ceyasa yang dari tadi khawatir melihat keadaan Archie, dia mengamatinya, melihat bagaimana pria itu tampak begitu emosi, dia langsung menyuruh anak-anaknya turun duluan, setelah itu dia mendatangi Archie.
"Jangan ganggu aku," kata Archie dengan suara yang tegas namun masih mencoba menahan dirinya sedikit.
__ADS_1
Ceyasa melirik ke arah ponsel yang di buang oleh Archie tadi, dia mengambilnya, layarnya sudah retak karena tekena batu.
"Sepertinya kau masih memerlukan ini," kata Ceyasa lagi, sedikit takut melihat Archie yang diam saja membelakanginya.
"SUDAH AKU BILANG! JANGAN GANGGU AKU!" Archie berbalik melihat Ceyasa dan membentaknya dengan keras dan penuh emosi, bahkan menggenggam pergelangan Ceyasa yang sedang menyodorkan ponselnya dengan sangat erat, seolah memeras tulangnya, Archie memang tak bisa mengontrol dirinya jika dia sudah dikuasai oleh amarah.
Ceyasa yang melihat kelakuan Archie itu kaget, ternyata pria ini jika marah sangat menakutkan, matanya memerah, tatapannya tajam menusuk dan wajahnya yang biasanya terlihat tampan itu tampak sangat menakutkan, apalagi sekarang tangan Ceyasa begitu nyeri karena semakin lama gengaman itu semakin erat, rasanya Archie bisa mematahkan tulang pergelangan Ceyasa sekarang, namun Ceyasa hanya bisa meringis merasa kesakitan dan memandang Archie ketakutan, dia memang salah ikut campur urusan orang lain.
Archie yang melihat wajah kesakitan Ceyasa akhirnya sadar, dia melepaskan tangan Ceyasa dan segera pergi meninggalkan Ceyasa yang segera menggenggam pergelangan tangannya itu, benar-benar sakit hingga kepersendiannya, Ceyasa tak tahu jika Archie marah bisa begitu menakutkan, Ceyasa tidak ingin lagi melihat kemarahan Archie, karena itu dia tak mengejarnya dan hanya melihat pria itu perlahan menghilang.
----***----
Suri terdiam mendengarkan suara pemutusan panggilan, dia segera melihat ke layar ponselnya, panggilan itu benar-benar sudah di akhiri, Suri segera mencoba lagi, namun tidak lagi menyambung, dia terus mencoba, namun sama saja, tak ada yang terjadi.
__ADS_1
Suri melempar ponselnya ke ranjang karena sangat kesal, baru saja dia bisa menghubungi pria itu dan sekarang, semua kembali seperti semula.
Bodoh! Bodoh sekali dia tidak mengatakan semuanya dengan cepat, kenapa dia harus terdiam menunggu, kenapa dia tidak mengatakan bahwa dia sangat merindukan pria itu, kenapa dia tidak bertanya di mana dia? Kenapa dia pergi? Atau apalah, dia hanya sempat memanggilnya kakak, kenapa dia begitu kejam? Kenapa tak mengatakan apapun padanya, apa salahnya? Pikir Suri. Pikirannya dan perasaannya bertambah kacau.