Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
307 -


__ADS_3

Sudah 3 hari kabut menyelimuti istana itu, seluruh orang yang meninggali tempat itu sudah tahu tentang penyakit Suri, bahkan Jofan, Aurora dan Jenny pun sudah mengetahuinya, mereka awalnya kaget, namun mereka berusaha untuk tampak optimis untuk bisa menyamangati pasangan itu, walaupun sebenarnya mereka cukup cemas mengingat penyakit Suri sangat berbahaya.


 


"Dia belum memutuskan?" tanya Archie yang bertemu dengan Jared saat Jared menuju ke  kamarnya.


"Belum," kata Jared.


 


Archie terdiam, menatap wajah Jared yang jika sekilas saja terlihat seperti tidak berubah, namun jika di lihat lebih seksama, maka pria itu baru terlihat berbeda, seperti ada beban berat sangat terlihat di wajahnya, Archie juga tahu pria itu pasti Jared berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya, pasti agar tidak membuat Suri tertekan.


 


"Baiklah, jika dia sudah setuju, aku siap setiap saat untuk menyerahkan darahku," kata Archie sedikit memberikan senyuman tipis, menepuk pundak Jared, menunjukkan simpati  dan semangat padanya.


 


"Terima kasih," kata Jared seadanya, melihat Archie yang pergi meninggalkannya, Archie sedikit melirik Jared yang juga sudah memulai langkahnya, Archie terus berjalan menuju tujuannya, tangannya mengetuk lembut berapa kali pada pintu yang tertutup rapat, tak menunggu lama pintu itu terbuka, menunjukkan sosok Ceyasa yang langsung tersenyum manis.


 


"Bolehkah aku masuk Putri? " tanya Archie tersenyum, Ceyasa sedikit geli mendengarkan dia di panggil putri, Ceyasa membukakan pintunya lebih lebar tanda dia mengizinkan Archie untuk masuk,Archie segera masuk  dan Ceyasa menutup pintunya.


 


"Kau tidak pergi kerja?" tanya Ceyasa yang melihat Archie yang datang padanya dengan pakaian kasualnya.


"Tidak, pagi ini jadwalku kosong, tapi nanti siang aku akan ke sana sebentar untuk menghadiri rapat, lagi pula paman menyuruhku untuk selalu Standby, sewaktu-waktu Suri sudah memutuskan ingin melakukan pengobatan itu atau tidak," kata Archie menghempaskan tubuhnya di sofa, lalu membaringkan tubuhnya, kepalanya diposisikannya di pangkuan Ceyasa yang sudah duduk di ujung sofa panjang itu, kaki jenjang Archie sedikit terlipat karena sofa itu tak cukup panjang.


 


Ceyasa melihat tingkah Archie langsung tersenyum, mengusap lembut dahi Archie yang berbatasan dengan rambutnya.

__ADS_1


"Suri belum memutuskan?" tanya Ceyasa lembut melihat wajah suaminya yang tampak lekat menatapnya.


"Belum, " kata Archie sedikit kecewa, masalah penyakit Suri ini menyita semua perhatian keluarga di kerajaan, bukan dia tak simpati tentang hal ini, dia juga ingin Suri sehat sepenuhnya, namun karena hal ini juga pernikahannya dengan Ceyasa harus tertunda dulu, dan dia harus menjalani hubungan yang gantung seperti ini, dikatakan pacaran bukan, dikatakan sudah menikah juga bukan.


 


Ceyasa menarik napasnya dalam, dia jadi tahu kenapa Archie tidak ingin memiliki anak, jika Ceyasa ada dalam posisi orang tua Suri pun entah dia sanggup atau tidak, anaknya bisa direnggut oleh kematian kapan saja, setiap hari menebak, apakah ini hari terakhir anaknya? Dan bukan hanya itu, kematiannya pun pasti tidak lah mudah.


 


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Archie melihat wajah melamun Ceyasa walaupun tangannya tetap saja mengelus lembut rambut Archie.


"Tidak, tidak apa-apa, ehm, kita tidak jadi memasang kontrasepsi kemarin," kata Ceyasa lagi.


Archie mengerutkan dahinya, benar, kenapa dia lupa tentang hal itu, Archie mengangkat tubuhnya lalu memandang Ceyasa.


"Apa kau masih mamasang kontrasepsinya?" kata Archie lagi, terakhir kali mereka berbicara seperti ini, Ceyasa tampak kecewa.


"Ya," kata Ceyasa tersenyum, kali ini tak tampak kekecewaan di wajah Ceyasa, tapi malah Archie semakin ragu.


"Baiklah,"


 


"Tentang pernikahan, kita harus menunggu lagi, setelah masalah Suri selesai, kita akan menikah lagi, Aku yakin dia akan memutuskannya sebentar lagi," kata Archie sambil kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi yang sama seperti tadi.


"Ya, semoga yang terbaik untukknya," kata Ceyasa lembut.


"Baiklah, Aku ingin tidur lagi sebentar, bangunkan aku setengah jam lagi," kata Archie yang merasa masih malas untuk melakukan apa-apa, Dia membenamkan wajahnya ke perut Ceyasa, memeluknya dengan sedikit erat seperti seseorang sedang meluk boneka, lagi pula saat seperti ini dia bisa mencuri-curi waktu untuk bisa berdekatan dengan Ceyasa, ayah mertuanya pasti berpikir dia sudah ke perusahaan, sehingga tidak akan curiga jika Archie ada di sini bersama Ceyasa.


 


 

__ADS_1


Ceyasa awalnya ingin menolak hal itu, tapi melihat wajah Archie yang langsung tenang menutup mata, dia hanya bisa diam saja, sekali lagi mengelus kepala Archie, tak menyangka, pria menyebalkan ini bisa begitu manja padanya.


----***----


Jared duduk di samping sisi tempat tidur istrinya, melihat Suri yang tidur miring membelakanginya, lagi-lagi menggulung tubuhnya dengan selimut, entah sudah berapa banyak air mata itu mengalir dari matanya, membuat bantalnya basah,namun Suri tidak punya minat bahkan untuk bergerak.


3 hari sudah, Suri tidak banyak bicara, bahkan sepertinya tidak berbicara sama sekali, dia juga hanya ada di kamar ini, percis seperti ini, seluruh ruangan itu tertutup, tak membiarkan sedikit pun cahaya matahari untuk masuk, bahkan hanya satu lampu baca di ujung ruangan kamar itu yang di biarkan Suri untuk di hidupkan.


 


Jared tak bisa apa-apa, Suri tampak depresi dengan semuanya, tak boleh ada yang menemuinya kecuali Jared, itu pun Suri tidak melakukan apa-apa, melihat Jared pun dia tak ingin.


 


"Jangan terlalu banyak menangis, kau tidak boleh terlalu memikirkannya, keadaanmu akan memburuk nantinya," kata Jared mengusap lengan atas istrinya, khawatir tentunya, jika terus begini, imun tubuh Suri akan turun dan apa yang ditakutkan oleh semua orang akan terjadi, namun Jared tak bisa melakukan apapun sekarang.


 


"Lalu apa lagi yang aku boleh? Pantas saja kau selalu takut aku lelah, kenapa kalian tega membohongiku seperti ini," kata Suri, air matanya kembali mengalir, hilang terserap sempurna di bantalnya. Jared hanya mengulum bibirnya, tak tahu harus menjawab apa, Suri sangat sensitif sekarang.


Tiba-tiba Suri bangun dan langsung terduduk, wajahnya tampak sembab, sedikit kacau dengan rambut yang sedikit berantakan sudah beberapa hari tak pernah disisirnya, dia lalu memandang Jared yang mengerutkan dahinya.


"Katakan sejujurnya padaku, apa kau menikahiku karena kau kasihan padaku? inikah alasan kita menikah secara mendadak seperti itu?" tanya Suri dengan wajah menuntut pada Jared, Jared tak langsung menjawab, dia memposisikan dirinya duduk menghadap Suri, menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Suri.


"Ya dan tidak," kata Jared, membuat Suri mengerutkan dahinya, mana yang Ya? mana yang tidak?


"Yang mana yang Iya dan mana yang tidak, bisakah sekarang kau jangan bersikap susah ditebak seperti itu?" tanya Suri yang menjadi kesal, kepalanya sudah pusing, namun suaminya masih saja susah untuk di tebak.


 


"Iya untuk secepatnya menikahimu, tidak untuk aku kasihan padamu, aku mencintaimu, jadi putuskan untuk bisa menjagamu seutuhnya karena itu aku ingin segera menikahimu, kau ingat janjiku saat menikahimu? Semua itu  benar-benar dari hatiku, Suri, aku akan menjagamu seumur hidupku dan menerimamu bagaimana pun keadaanmu," kata Jared dengan begitu tulus, Suri ingat tentang janji itu, janji yang sangat merasuk hingga sanubarinya.


 

__ADS_1


"Hidupku setiap saat bisa saja berhenti bukan?" suara Suri terdengar lirih.


__ADS_2