
Terpaan angin di atas terasa kencang, membawa udara hangat yang mulai mendingin karena matahari sudah meredup meninggalkan rona keemasan yang semakin membuat cakrawala terlihat menakjubkan.
"Dingin?" bisik Jared yang berdiri di belakang Suri , mengurung tubuh Suri dengan kedua tangannya yang memegang pinggiran keranjang balon udara itu. Suri sedikit menoleh, mendapati wajah Jared yang sudah ada di samping wajahnya, walaupun sudah sering begitu dekat, melihat pria itu sekarang ada di sampingnya, Suri benar-benar kembali merasakan debaran itu, jantungnya berdetak begitu keras.
"Sedikit," ucap Suri dengan malu-malu.
"Akan aku hangatkan," bisik Jared lagi dengan sangat halus tepat di telinga Suri yang langsung membuat seluruh tubuh Suri merinding karenanya, membuat debaran itu semakin keras, Jared lebih mendekatkan kedua tangannya, seakan mempererat kurungannya pada tubuh Suri.
Suri benar-benar terpana akan pemandangan yang ada di depan matanya, melihat keindahan yang tiada tara dari ciptaan Tuhan, suasana yang sangat sendu itu mereka lewati dengan hanya terdiam.
"Bagaimana? sudah cukup romantis?" kata Jared lagi sedikit bertanya pada Suri. Suri tersenyum manis, mendengar sedikit nada menyindir dari Jared.
"Kenapa kau merencanakan ini? tidak mungkin karena aku bilang kau tidak romantis, kau langsung menyiapkan semua ini," kata Suri pada Jared.
"Sudah cukup lama, ini impianku, jika aku memiliki seseorang yang begitu spesial, aku akan membawanya menikmati ini bersama, sebenarnya ingin mengajakmu melihat matahari terbit, namun seperti yang kau katakan, kau harus ada pukul 7 untuk berkumpul, karena itu aku mencari waktu kapan bisa melakukan ini denganmu," ucap Jared lagi memandang ke depan, Suri menatap wajah pria itu, terlalu indah tertimpa warna keemesan, Suri tidak bisa lagi berkata apapun, dia hanya tersenyum dan kembali menatap indahnya pemandangan dari atas balon udara dan menikmati hangat dan harumnya tubuh Jared yang membuatnya jauh lebih nyaman.
__ADS_1
"Suri, aku tahu kita akan melakukan pertunangan malam ini tapi itu semua karena permintaan pamanku, Ayahmu menerima pertunangan ini karena pamanku yang mengajukannya dan semua ini karena pamanku," kata Jared pada Suri, Suri yang mendengar itu sedikit mengerutkan dahinya.
"Lalu?" kata Suri merasa tak suka dengan suasana ini, Suri bahkan membalikkan tubuhnya, ingin menatap wajah Jared dengan lebih serius, Jared segera melepaskan pegangannya membiarkan Suri berbalik ke arahnya, Jared tampak memandang wajah Suri yang berubah, Jared tampak mengulum bibirnya, sedikit menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, seolah menutupi sesuatu.
"Bukannya kau menyutujuinya? Apa kau ingin membatalkannya?" tanya Suri sedikit kaget dengan pernyataan Jared, apakah Jared tak ingin bertunangan dengannya? dan Ya, memang acara pertunangan mereka ini karena paman Jared yang memintanya sebelumnya, tapi bukannya Jared sudah setuju?
"Semua ini sudah diatur oleh pamanku, aku ingin kau tahu, bahwa pamanku ingin aku menikahimu untuk urusan status dan juga karirku, menikahimu adalah salah satu jalan terbaikku untuk bisa menjadi seperti dia," ujar Jared pada Suri dengan suara bernada rendah, seolah ada rasa sesal terdengar, hal itu seketika membuat hati Suri merasa sakit, bagaimana mungkin Jared mengatakan itu? jadi maksudnya apa? jadi semua ini hanya karena dia ingin menjadi seorang presiden seperti pamannya dan menikahinya adalah sebuah tuntutan bisnis semata.
Suri semakin tidak percaya dengan apa yang dia dengar, otaknya seolah tak ingin mendengarkan kata-kata itu keluar dari bibir Jared.
"Jadi selama ini yang kau berikan padaku hanya karena pamanmu menyuruhmu melakukan itu? aku tidak percaya ini, " kata Suri dengan tidak percaya, untuk apa semua ini? untuk apa dia membawa Suri ke tempat-tempat yang membuat Suri merasa dia spesial, kenapa harus mengatakannya sekarang setelah tinggal beberapa jam lagi mereka akan bertunangan, Suri tidak bisa menutupi rasa kesal, kecewa, dan sedih yang tiba-tiba membuyarkan semua perasaan indahnya yang baru saja sesaat lalu menetap di hatinya. Suri lalu memutar tubuhnya, muak menatap wajah yang baru saja membuatnya merasa berdebar, namun sekarang malah membuatnya serasa jatuh ke tanah seketika.
"Karena itu, sekarang aku ingin melakukan yang benar-benar dari hatiku dan bukan karena pamanku, Suri, will you marry me?" tanya Jared sambil menunjukkan kotak perhiasan kecil di depan mata Suri, berwarna hitam beludru, Jared membukanya memperlihatkan sebuah cincin berlian putih dengan potongan yang sangat elegan.
Suri yang tadinya sudah kesal dengan pengakuan Jared yang sangat mengejutkannya dan melihat kelakuan Jared yang masih berani mendekatinya dari belakang langsung terdiam, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan, benarkah?
__ADS_1
Mata Suri terpaku menatap cincin berlian itu dan dengan cepat dia membalikkan kembali tubuhnya, mengamati mata Jared yang tampak begitu sendu dan indah tertimpa cahaya matahari yang sebentar lagi pergi dari bumi, Suri seperti kembali bingung dengan keadaan ini? sebenarnya apa maunya Jared ini, padahal hampir saja dia merasa dia akan patah hati untuk yang kedua kalinya.
"Will you marry me?" tanya Jared sekali lagi dengan senyuman lembut yang akan meluluhkan seluruh hati yang menatapnya, dia kembali menunjukan kotak cincin itu ke depan Suri.
Suri baru memindahkan pandangannya ke arah cincin yang ditunjukkan oleh Jared, merasa masih sangat syok dengan tingkah pria ini, Jared benar-benar sudah membuat Suri ingin marah namun bahagia dalam waktu yang bersamaan, bagiamana ini bisa terjadi?
"Kau jahat sekali! Of Course, Yes! I will!" kata Suri yang segera menangis bahagia, dia langsung masuk memeluk tubuh Jared yang ada di depannya, Jared yang mendengar jawaban itu tersenyum bahagia, membalas pelukan Suri dengan cukup erat.
Jared lalu melepaskan pelukkannya, mengambil cincin itu lalu melingkarkannya pada jari manis Suri. Suri menatap cincin itu, begitu cocok dan indah di tangan lentiknya, Jared lalu memegang pipi halus Suri, mengarahkan bibirnya ke arah bibir Suri yang kecil, menciumnya dengan sangat dalam namun lembut ditemani angin-angin seolah berbisik memberi selamat atas cinta keduanya.
Jared melepaskan ciumannya, menatap wajah Suri yang indah di bawah kemilau warna pantulan api yang berkobar memberikan uap panas untuk balon udara itu, di ujung matanya masih terlihat sisa air mata yang berkilau, Jared langsung menghapusnya perlahan.
Perlahan Suri membuka matanya, melihat senyuman manis yang tersungging di wajah prianya, begitu bahagia hingga tidak bisa mengucapkan apa-apa.
"Maafkan aku sudah membuatmu menangis, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tak ingin suatu saat kau berpikir pertunangan kita karena masalah bisnis dan juga karena orang tua kita, karena itu aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu," kata Jared menjelaskan kenapa dia bisa begitu.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti," kata Suri mengangguk dengan sunggingan senyum bahagianya.
Jared kembali memeluk tubuh Suri, mengiringnya kembali melihat pemandangan yang sudah menggelap namun tak mengurangi keindahannya, bintang pertama sudah muncul di ujung cakrawala. Mereka menghabiskan sisa waktunya dalam diam yang penuh perasaan, menunggu waktu yang semakin mendekatkan mereka menuju jenjang hidup mereka yang baru.