Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
165 - Perasaan Yang Kacau.


__ADS_3

Ceyasa yang dari tadi melihat wajah Archie menjadi geram sendiri, kenapa dia harus marah sampai seperti ini padanya, dan genggaman tangan Archie, bukannya melepaskannya, Ceyasa malah merasa pergelangan tangannya sangat sakit. Pintu lift mereka terbuka di lantai yang mereka tuju, Archie langsung menarik Ceyasa dengan sangat kasar, membuat Ceyasa hampir terjatuh, dan untung dia ingat dengan tiang infus yang dibawanya, jika tidak, infusnya pasti sudah tercabut paksa dari tangannya, seketika tangan kirinya terasa pegal.


"Archie, lepaskan aku!" kata Ceyasa kesal, Ceyasa menarik tangannya, mencoba untuk melepaskan tangannya itu dan membuat Archie dan Ceyasa berhenti di depan lift, Ceyasa sekuat tenaga melepaskan tangannya, Ceyasa juga menggunakan tangan kirinya untuk menarik tangan Archie.


Archie melihat Ceyasa yang ingin melepaskan diri dan berontak semakin tersulut oleh tingkah Ceyasa, sekarang kepalanya sedang kelut, perasaannya sedang kalut, dan tingkah Ceyasa ini benar-benar memancing sisi gelapnya yang sekuat tenaga dia tahan.


"Kau tak akan pernah bisa lepas dariku, Suri!" kata Archie kalap dan tak tahu apa yang baru saja dia katakan karena memang sekarang yang ada terlintas dipikirannya hanya gambaran Suri dan Jared yang tadi bermesraan di depannya, Archie bahkan menapis tangan kiri Ceyasa yang masih tertancap infus, membuat rasa pegal itu berubah menjadi rasa perih dan sakit.


Ceyasa terdiam, mendengar Archie mengatakan nama wanita itu, entah kenapa membuat perasaan Ceyasa seketika nyeri, bahkan terasa lebih nyeri dari tangan kirinya yang mulai mengeluarkan darah, infusnya tercabut dari pembuluh venanya. Ceyasa menatap Archie dengan nanar, ternyata benar dia hanya wanita pelampiasan Archie.


"Lepaskan aku, aku bukan Suri, aku Ceyasa, lepaskan aku, jika inginkan dia, kejar dia, jangan melampiaskan segala kekesalanmu untukku! aku tak ingin hanya menjadi pelampiasan untukmu," kata Ceyasa dengan rasa marah membara, menatang wajah Archie yang menatapnya sangat tajam, Archie tampak sangat marah pada Ceyasa.


"Jangan buat aku marah," kata Archie menggertakkan giginya, suaranya tertahan dan berat, seolah amarahnya sudah memuncak, mengaburkan semua akal sehatnya dalam asap emosi yang mengebul.


"Aku bilang lepaskan tanganku sekarang!" kata Ceyasa juga dengan emosinya, tak kalah tajam menatap mata Archie, dia juga sakit hati, dia juga tak senang  dengan perlakuan Archie padanya. Jadi kenapa dia tidak boleh marah? hanya karena dia wanita jadi dia harus diam walaupun ditindas? Walaupun dia disalahkan tanpa ada sebab? Tidak! Ceyasa bukan wanita seperti itu.

__ADS_1


Archie yang sudah tidak lagi bisa mengontrol dirinya langsung menggenggam dagu Ceyasa, memegang pipi Ceyasa dengan sangat erat, meremasnya dengan keras, menatap wajah wanita yang ada di depannya ini dengan sangat marah, kuku-kuku Archie menancap di pipi putih Ceyasa, membuatnya memerah seketika. Namun Ceyasa seakan tak merasakan itu semua, dia tetap menantang Archie, mempertahankan egonya.


"Kau akan menyesal karena sudah melakukan hal ini padaku," kata Archie tampak sangat bengis, sangat jauh dari Archie yang tadi begitu perhatian padanya.


Ceyasa tetap menatap Archie dengan marah, air matanya terkumpul di ekor mantanya, sedikit sedih dengan nasibnya dan perlakuan Archie padanya, namun dia tidak ingin menangis, dia malah semakin marah.


"Aku tidak akan menyesal! Aku sudah muak denganmu," kata Ceyasa lagi dengan tatapan marah pada Archie.


"Apa katamu?" tanya Archie, semakin panas membara membakar segala emosinya, tak ada yang pernah mengatakan itu padanya.


Ceyasa sudah tak tahan lagi, Archie benar-benar sudah kelewatan batas baginya, Archie selalu memaksakan apapun yang dia mau.


"Kau tahu! kalau aku hanya memikirkan diriku, aku tidak akan begini, jika bukan karena dirimu, dan demi melindungimu aku tidak akan kehilangan pekerjaan dan kepercayaan pamanku!" kata Archie yang ternyata tidak ingin mengalah.


Ceyasa terdiam mendengarkan kata-kata yang baru keluar dari mulut Archie, menatap Archie dengan sangat dalam, tangan kirinya yang ada di sampingnya tampak sudah tampak meneteskan darah, tak lagi terasa perih ataupun sakitnya, karena hatinya lebih sakit sekarang, akhirnya Archie mengatakan hal itu, dia memang menyalahkan Ceyasa tentang kehidupannya sekarang.

__ADS_1


"Baiklah, mulai besok kau tidak perlu melihatku, tak perlu melindungiku, tak perlu lagi berhubungan denganku, mulai sekarang seperti yang kau inginkan sebelumnya, kita tidak akan saling mengenal lagi, aku tidak mau lagi bersamamu! aku akan pergi jauh! tak perlu berpura-pura peduli padahal kau sama sekali tidak peduli! aku akan pergi!" kata Ceyasa lagi menahan rasa sedihnya, suaranya bergetar, menahan tangis yang sudah berontak ingin keluar, namun sekuat tenaga ditahannya walaupun sekarang rasanya semakin sesak.


"Baik, pergilah! aku tidak akan peduli! kali ini jangan harap aku mencarimu!" kata Archie lagi, menghempaskan tangan Ceyasa, manatapnya begitu tajam dengan segala amarah yang dia sendiri tak tahu kenapa bisa begitu keluar, dia langsung meninggalkan Ceyasa yang terdiam.


Archie menekan tombol lift itu dengan cepat dan keras, dia benar-benar kacau sekarang. Dia bahkan kesal kenapa malah lift yang biasa cepat menjadi begitu lambat, dia memukul dinding lift itu, menahan kesal hingga tak sengaja kembali melihat ke arah Ceyasa yang berjalan perlahan meninggalkannya, dia melihat tiang infus Ceyasa tak bergerak, tetesan darah yang mengalir dari tangannya tampak menodai lantai berwarna putih itu. Mata Archie membesar, seketika menghilangkan rasa kesalnya, hanya sedikit ngeri melihat darah berceceran di lantai, apakah Ceyasa tidak merasakan dan tidak tahu bahwa tangannya berdarah parah?


Archie segera berjalan kembali ke arah Ceyasa, ternyata tak bisa mengacuhkan hal ini walaupun dia sedang sangat emosi, dia lalu mengambil tangan yang berlumuran darah, wajah Ceyasa yang tampak sangat sedih.


"Lusy, panggilkan perawat," kata Archie menarik Ceyasa langsung masuk ke dalam kamarnya, Lusy yang dari tadi tampak diam menyaksikan pertengkaran Ceyasa dan Archie segera mengangguk dan segera ke arah tempat perawat, dia cukup takut melihat apa yang dilakukan oleh Archie pada Ceyasa, namun tak bisa menolong Ceyasa walaupun dia sangat ingin melakukannya.


"Bagaimana kau tidak tahu tanganmu berdarah?" tanya Archie lagi tampak kepedulian dari wajahnya walau masih berbalut kesal.


"Jangan bertingkah seolah kau peduli," ketus Ceyasa menarik tangannya yang sudah memerah karna darah, untungnya saja masih ada perban, kalau tidak mungkin tangannya sudah banjir oleh darah.


Archie terdiam, memandang wajah Ceyasa yang tidak ingin melihat Archie, dia mengertakkan giginya, tak lama dua perawat datang, dan segera menangani Ceyasa. Archie melihat sekali lagi ke arah Ceyasa, namun Ceyasa sama sekali tidak menanggap Archie ada, sedikit pun tak melihat dirinya.

__ADS_1


Archie yang merasa keberadaannya tidak diinginkan oleh Ceyasa segera membuka pintu dan pergi dari sana, setelah Archie pergi Ceyasa memandang pintu kamarnya, merasa sedih, kenapa juga dia harus peduli dengan pria yang seperti Archie? kenapa hatinya harus sakit seperti ini? kenapa …? Kenapa terlalu banyak kenapa dikepalanya sekarang? Ceyasa benar-benar kacau karenanya.


__ADS_2