
Archie juga tak bisa tidur, dia memikirkan yang tadi dia lakukan pada Ceyasa, dia merasa sangat bersalah, kenapa dia bisa melakukan hal itu? Archie memang selalu begitu jika dia emosi, dia sudah berusaha untuk menahan segalanya, tapi jika dia sudah dikuasi oleh emosiny, dia bahkan tidak bisa mengontrol apa pun, baik tindakannya maupun perkataannya.
Archie melihat jam di ponselnya, hampir pukul 2 pagi, apakah Ceyasa masih bangun? Apakah terlambat untuk minta maaf?
Archie memutuskan untuk mencoba menelepon Ceyasa, nada sambung itu terdengar, namun baru saja ingin masuk ke nada sambung ke dua, tiba-tiba ‘*n*omor yang Anda tuju sedang tidak aktif’
Archie mengerutkan dahinya, apa Ceyasa masih marah padanya dan menolak panggilannya? Archie mencoba sekali lagi, dan tetap panggilan itu tidak bisa masuk lagi. Archie semakin tak enak, baiklah, mungkin besok pagi dia akan kembali ke sana dan berbicara pada Ceyasa, kata Archie dalam hati.
Archie kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk, sejenak menerawang entah kemana, dan tak lama matanya tertutup juga.
Mata Archie seketika terbuka, ketika mendengar suara ponsel yang tiba-tiba berdering, dia melihat ke arah jam yang ada di samping tempat tidurnya, masih pukul 4 lebih, dia bahkan baru tidur 2 jam, dia langsung mengambil ponselnya yang ada di samping tempat tidurnya, melihat nama Gerald yang ada di sana, ehm, tumben sekali Gerald meneleponnya sepagi ini.
"Halo?" kata Archie sambil menutup matanya, masih sangat mengantuk.
"Halo, Pangeran, Nona Ceyasa tidak ada diruangannya," kata Gerald terdengar cemas.
"Apa?" tanya Archie yang sebenarnya mendengar kata-kata Gerald dengan sangat jelas, namun dia serasa tak percaya apa yang diucapkan oleh Gerald baru saja.
"Nona Ceyasa tidak ada diruangannya, tepatnya dia pergi dari sini," kata Gerald lagi tampak sedikit kebingungan melilhat ke ruangan Ceyasa, dia datang ke rumah sakit karena Lusy yang mengatakan Putri mereka hilang, Gerald masih tidak percaya, mungkin Ceyasa hanya pergi mencari udara segar atau makanan karena itu dia memerintahkan para penjaga dan keamaan mencari Ceyasa, namun setelah melihat catatan yang ditinggalkan juga potongan tanda pengenalnya, Gerald mulai khawatir, sepertinya Ceyasa benar-benar pergi.
"Kau sudah mencarinya keseluruh rumah sakit?" kata Archie yang langsung terduduk, kepalanya langsung sakit, tak tahu karena dia tiba-tiba duduk dan kurang tidur atau karena masalah Ceyasa ini.
"Aku rasa dia benar-benar pergi, aku menemukan potongan tanda pengenalnya di kamar mandi, juga dia menitipkan pesan," kata Gerald yang memegangi ujung hidungnya, suaranya terdengar sedikit frustasi.
__ADS_1
Archie terdiam, apakah Ceyasa benar-benar pergi karena pertengkaran mereka tadi? Dia mengatakan dia akan pergi dari hidup Archie, apakah karena itu dia benar-benar melakukannya? Archie kira itu hanya gertakan semata karna mereka sedang bertengkar.
"Apa pesannya?" kata Archie lagi serius.
"Dia bilang, dia tak ingin lagi menjadi masalah bagimu, dia ingin pergi dan seperti keinginanmu sebelumnya, anggap saja kalian tidak pernah mengenal dan … " kata Gerald terdiam sesaat.
"Dan Apa? " kata Archie sedikit penasaran.
"Dia bilang, terima kasih atas semuanya," kata Gerald mengarang, padahal di sana tertulis jelas bahwa Ceyasa membencinya dan juga untuk jangan mencarinya lagi. Tapi Gerald merasa tidak ingin memberitahu pada Archie tentang ini.
Archie terdiam sejenak, otaknya masih terlalu pagi untuk bisa berpikir, entah kenapa sekarang semua terasa berat, otaknya benar-benar tidak bekerja dengan benar, dia hanya menatap ke arah kamarnya, seolah mencari sesuatu yang dia sendiri tak tahu apa yang harus dia cari.
"Halo? Pangeran?" tanya Gerald yang tiba-tiba merasa khawatir karena tidak mendapat jawaban dari Archie.
"Baiklah," kata Gerald lagi, Archie segera memutus panggilan itu, mencoba menghubungi ponsel Ceyasa, lagi-lagi tidak tersambung sama sekali, bagaimana bisa seperti ini? bagaimana Ceyasa bisa pergi begitu saja setelah dia melakukan semua pengorbanan ini untuknya, Archie bukannya meminta Ceyasa untuk membalas budinya, namun setidaknya jika ingin pergi, jangan pergi seperti ini darinya, setidaknya … ah! kenapa juga dia harus pergi? Apakah Ceyasa benar-benar sudah muak dengannya? dan kenapa sekarang hati Archie begitu merasa tak rela ditinggalkan begitu saja oleh Ceyasa.
Dia masuk ke dalam mobilnya, para penjaga gerbang rumahnya segera membukakan pintu gerbangnya dan dengan segera langsung pergi meninggalkan perumahannya.
Gerald sekali lagi menatap ruangan Ceyasa yang tampak rapi, Lusy berdiri di dekatnya dengan wajah cemas, dia sudah melakukan sebuah kesalahan fatal, bagaimana dia tak tahu Ceyasa pergi meninggalkan ruangan itu, karena terlalu kelelahan mengurus semuanya, dia jadi tidur telalu lelap, Lusy tampak menggenggam tangannya sendiri, benar-benar takut ketika ingat bagaimana Archie marah tadi malam.
"Sudahlah, bukan salahmu," kata Gerald yang mencoba menghibur Lusy yang tampak sangat cemas dan panik.
"Seharusnya aku tidak tidur terlalu nyenyak, Pangeran dan Nona Ceyasa tadi malam bertengkar dan Nona Ceyasa mengatakan dia akan pergi meninggalkan Pangeran, aku kira itu hanya emosi semata, tapi ternyata Nona Ceyasa benar-benar pergi dari sini," kata Lusy, air matanya mulai membanjiri pipinya, membuat Gerald merasa sedikit kasihan karenanya.
__ADS_1
Gerald pun sebenarnya tak tahu, dia harus apa sekarang? Gerald sekali lagi memutar otaknya, apa hanya karena bertengkar dengan Archie, Ceyasa langsung pergi begitu saja, melihat sifatnya, dia bukanlah wanita yang begitu gampang untuk pergi, apalagi mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Archie untuknya, Ceyasa pasti tidak akan gegabah dan pergi seperti ini saja.
"Tuan Gerald, " seorang penjaga yang diperintahkan Gerald untuk mencari di rumah sakit dan sekitarnya. Gerald yang tadinya tampak serius berpikir, langsung melihat ke arah penjaga itu.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Gerald menatap penjaga itu.
"Tidak, tapi salah satu dari kami menemukan ini, saya rasa ini milik Nona Ceyasa," kata penjaga itu menyerahkan ponsel Ceyasa yang sudah pecah, layarnya pun retak dan tak lagi bisa di hidupkan.
Gerald menatap penjaga itu, lalu melihat ke arah ponsel itu, dia segera mengambilnya dan mengamatinya sejenak.
"Itu memang milik Nona Ceyasa," kata Lusy yang juga mengamati ponsel itu. "Soft case ponselnya mirip sekali seperti milik Nona, " jelas Lusy lagi, dia sangat yakin ponsel itu milik Ceyasa.
"Kau yakin?" kata Gerald yang memang beberapa kali melihat ponsel Ceyasa, dan memang mirip.
"Ya," kata Lusy lagi, tampak lebih tenang.
"Dimana kau temukan ponsel ini?" tanya Gerald menatap penjaga itu.
"Di jalan sebelum pintu keluar bagian belakang," kata penjaga itu lagi.
"Ada CCTV di belakang gedung bukan? aku minta rekamannya untuk melihat apa yang terjadi," kata Gerald lagi, tak sia-sia dia memutar otaknya hingga rasanya otaknya berasap.
"Baik Tuan," kata penjaga itu langsung sigap dan segera keluar dari sana.
__ADS_1