Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
100 - Mari Membuat Aurora Bahagia.


__ADS_3

Jenny merasa bosan di dalam kamarnya yang di dekorasi sesuai kesukaannya, penuh dengan barang-barang kesukaannya, tapi tetap saja semua itu membuatnya bosan terkurung di kamar itu seharian, lagi pula untuk apa dia tidak keluar, semua orang di rumah ini bukannya sedang bermain drama di rumah sakit.


Jenny membuka pintu kamarnya, menatap ke lorong rumahnya yang kosong, sepi sekali tanpa penghuni, Jenny lalu berjalan sedikit, mencoba mencari makanan yang ada di dapur, ini sudah siang dan dia tidak makan dengan baik tadi pagi, jadi perutnya sudah mulai meronta ingin diisi. Jenny membuka kulkas di dapur bersih, namun hanya ada beberapa makan kecil.


"Nona, apakah Anda sudah lapar" tanya pelayan yang melihat Jenny sedang mengais-gais isi kulkas. Mendengar teguran itu Jenny langsung kaget, dia langsung melihat ke arah pelayan rumah itu.


"Iya, apakah ada makanan?" tanya Jenny pada pelayan itu.


"Ada Nona, saya akan memanaskannya, Nyonya sudah memerintahkan saya untuk menyiapkan makanan untuk Anda jika Anda tidak ikut ke rumah sakit," kata pelayan itu lagi.


"Benarkah? baiklah," kata Jenny, bibinya selalu saja begitu, selalu memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri, pelayan itu memberikan salam dan segera ingin pergi ke dapur saat tiba-tiba suara bel terdengar.


Pelayan itu ingin mengalihkan rutenya ke arah pintu, namun Jenny langsung menyelanya.


"Sudah biar aku saja, kamu panaskan makanan saja," ujar Jenny dengan gayanya, dia mengerutkan dahi, siapa yang siang-siang begini datang ke rumah pamannya? Jika paman atau bibinya, tentu mereka tak perlu membunyikan bel, mereka tahu kode kombinasinya.


Jenny segera mengintip di depan pintunya, melihat seorang pria yang seumuran bibinya berdiri di depan pintu, terlihat rapi, tak mungkin seorang perampok bukan.


Jenny membuka sedikit pintunya, memberikan celah yang cukup untuk kembali mengamati pria yang ada di depan pintunya, memandang pria itu dari atas sampai bawah.


"Mencari siapa?" tanya Jenny terdengar dingin, dia selalu melakukan nada itu jika dia bertemu dengan orang baru.


"Ehm, apakah Aurora ada?" tanya Liam, Jenny menatap pria itu lagi, di tangannya terdapat sebouquet bunga baby breath yang indah.


"Bibiku sudang tak ada di rumah," ujar Jenny yang mulai membuka pintunya lebih besar, membuat Liam semakin bisa melihat sosoknya, Liam mengerutkan dahi, walaupun wajahnya berkerut, senyuman manis itu menghiasi wajahnya.


"Jenny bukan?" tanya Liam pada Jenny, membuat Jenny seketika mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Ya? dan paman ini?" tanya Jenny mencoba untuk sopan, dia tidak pernah merasa pernah bertemu dengan paman ini, walaupun sudah berumur, wajah dan postur tubuhnya masih menggoda wanita, dan Jenny pun mengakui, Pria ini sangat tampan.


"Oh, namaku Liam, kau bisa memanggilku Paman Liam, aku teman sekampus bibimu, aku juga dekat dengan bibi Susan, kau kenal? Dia menceritakan tentangmu padaku," kata Liam dengan hangat.


"Oh, Bibi Susan, ya aku kenal, tapi Bibiku benar-benar tidak ada di rumah, seluruh isi rumah ini sedang pergi ke rumah sakit, huh," ujar Jenny yang ujung-ujungnya jadi kesal sendiri teringat kenapa mereka harus ke rumah sakit.


"Ehm, bolehkah aku?" tanya Liam lagi mencoba untuk meminta izin untuk masuk ke dalam rumah.


"Iya, silakan, kalau kau kenal bibi ku dan bibi Susan, Anda pasti bukan orang jahat," ujar Jenny ceplas ceplos, membaut Liam tersenyum mendengarnya, dia membuka pintu lebih lebar untuk Liam, Liam memperhatikan ruang tamu dengan gaya Cozy minimalis, tak terlalu banyak dekorasi namun tetap memukau untuk dilihat.


Liam terdiam, menatap foto dengan ukuran cukup besar terpajang di sana, sebuah foto pernikahan Aurora dan Jofan 18 tahun yang lalu, Aurora sama sekali tak berubah, wajahnya yang cantik itu terlihat sedikit menyunggingkan senyuman, terlihat natural jika dilihat sekilas, namun jika dilihat dengan seksama, itu senyuman kaku yang terpaksa. Liam memudarkan senyumannya, menatap sayu pada foto itu.


Jenny mengamati wajah Liam, tatapannya yang penuh perasaan itu seperti sedih melihat foto pernikahan palsu paman dan bibinya, tak ada yang peduli dengan foto pernikahan itu, bahkan sepasang pengantin yang ada di dalam foto itu pun tak pernah benar-benar memandang foto itu.


"Silakan duduk, ingin minum apa?" tanya Jenny pada Liam.


"Tidak perlu repot-repot, aku ke sini hanya ingin bertemu dengan bibimu, oh, bisa berikan ini padanya, dia sangat menyukai bunga ini, jika kesukaannya belum berubah," ujar Liam pada Jenny, Jenny langsung mengerutkan dahinya, merasa pria ini memiliki ketertarikan sendiri pada bibinya, kalau benar, hal itu akan bagus, Pria tampan dengan penampilan yang bisa di bilang dia dari kalangan atas, begitu perhatian sampai tahu bunga kesukaan bibinya, bahkan mungkin pamannya sendiri tak tahu bunga kesukaan bibinya.


"Ngomong-ngomong siapa yang sakit?" tanya Liam lagi.


"Seseorang yang tak ingin kusebutkan namanya dan kuingat siapa dia," ujar Jenny ketus, meletakkan bouquet bunga itu di sampingnya. Liam menekuk kembali bagian tengah alisnya.


"Apakah itu wanita yang selalu ditunggu oleh pamanmu?" tanya Liam melirik Jenny, Jenny yang awalnya sedikit tidak ingin menanggapi, menjadi terkejut, dia langsung menatap Liam dengan seksama, siapa pria ini sebenarnya? Bahkan dia tahu pamannya memiliki seorang wanita yang ditunggunya.


"Dari mana Paman tahu kalau paman Jofan memiliki wanita lain?" tanya Jenny lagi, masih kurang percaya.


"Bibimu tak bisa menyembunyikan apapun dariku," ujar Liam dengan senyuman tampannya.

__ADS_1


"Benarkah? aku penasaran, sebanarnya apa hubungan kalian?" tanya Jenny lagi.


"Dulu kami sepasang kekasih, namun aku tidak mendapatkan restu keluarga bibimu karena aku berasal dari negara lain, orang tua bibimu merasa takut jika Aurora menikah denganku, maka Aurora akan pergi jauh dari mereka, nyatanya walaupun menikah dengan pamanmu, pamanmu juga membawanya pergi bukan? dan aku juga tahu, pernikahan mereka hanya pernikahan untuk menutupi sesuatu, bahkan pamanmu tidak memperlakukan bibimu dengan baik bukan? maafkan aku, bukannya aku menjelek-jelekkan pamanmu, tapi aku hanya tak bisa melihat wanita sebaik Aurora terus mengalami hal itu," ujar Liam menurunkan suaranya, menambah simpati dalam nada suaranya, membuat Jenny yang mendengar itu merasa apa yang dikatakan oleh Liam benar, bibinya sudah terlalu menderita, menerima semua hal yang seharusnya tidak dia terima.


"Lalu apa maumu?" kata Jenny merasa ada sesuatu yang diinginkan oleh Liam.


"Apa kau menyayangi bibimu?" tanya balik Liam.


"Tentu, bahkan jika ibuku masih ada, aku akan tetap menyayanginya sebanyak ini," kata Jenny, matanya sedikit menyuram, teringat kesabaran dan kasih sayang yang bibinya berikan padanya selama ini.


"Bantulah aku membuatnya bahagia, aku berjanji akan membuatnya bahagia, aku akan membuatnya selalu tertawa, Jenny, aku benar-benar mencintai bibimu, bahkan sekian lama mencoba melupakannya, aku masih tidak bisa menghapusnya sama sekali," ujar Liam dengan tatapan lembut yang bahkan bisa menahklukkan 100 wanita, ditunjang wajahnya yang tampan, bahkan Jenny yang umurnya jauh di bawahnya bisa merasakan getaran cinta itu, membuat Jenny tersipu.


"Aku …." kata Jenny masih salah tingkah.


"Aku tak akan menyia-nyiakannya seperti yang pamanmu lakukan, percayalah, Aurora sudah cukup menderita selama ini," kata Liam lagi.


"Tapi jika kau bersama bibiku, maka kami akan kehilangan dirinya," kata Jenny menatap Liam.


Liam mengembangkan seyuman manisnya, melirik ke arah Jenny yang tampak keraguan pada matanya.


"Aurora begitu senang memiliki kalian, bahkan saat pertama kali bertemu dia mengatakan bahwa kalian adalah anaknya, bukan keponakannya, aku tidak akan memisahkan kalian darinya, bahkan jika kau ingin tinggal bersama kami, aku akan sangat menerimamu, lagi pula aku selalu ingin punya anak perempuan secantik dirimu," kata Liam yang langsung membuat Jenny tersipu.


"Baiklah, tapi aku hanya akan membantumu, semua keputusan ada pada bibiku, dan jangan macam-macam pada bibiku, aku lebih berbahaya dari pada yang bisa Anda tahu," lirik tajam Jenny pada Liam, membuat Liam tersenyum senang, setidaknya dia sudah mendapatkan persetujuan dari Jenny.


"Ya, tenang saja," kata Liam lagi, untuk merebut hati Aurora, dia melakukan langkah awal yang tepat dengan merebut hati anaknya dahulu.


_________________________________________

__ADS_1


LIAM MEDISON



__ADS_2