Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
297 - Aurora, Lihat aku!


__ADS_3

Makan malam diam dan canggung itu akhirnya selesai, begitu selesai makan Jenny langsung berdiri.


"Paman, Bibi, Jonathan, aku ingin menikmati restoran ini, aku permisi ya," kata Jenny yang terdengar cuek, Liam hanya mengangguk, Jenny sedang tak ingin memfokuskan dirinya pada Jonathan, jadi menurutnya lebih baik dia menikmati tempat ini sekarang.


"Hati-hati, jangan terlalu lama pergi, "kata Aurora memberikan izin pada Jenny, Jenny mengangguk lalu pergi, tak ingin melihat Jonathan lagi.


Jonathan yang melihat hal itu hanya mengerutkan dahi namun sedikit tersenyum tipis, wanita ini, terlihat sekali salah tingkah akibatnya, Jonathan melihat Jenny pergi sambil meminum Champangenya hingga habis, setelah itu dia segera berdiri.


 


"Aku akan menemaninya, dia pasti lebih suka jika aku temani," kata Jonathan lagi, Liam mengangguk, Aurora hanya tersenyum mempersilakan.


 


Lalu di ruangan itu hanya tinggal Aurora dan Liam, suasana sangat diam, Aurora bahkan tak ingin melihat pria yang ada di depannya itu.


 


"Kau cantik sekali malam ini," kata Liam mencoba mencairkan batu es di tengah mereka.


"Oh, terima kasih," kata Aurora yang biasa saja walau dipuji begitu oleh Liam.


"Ada masalah apa?" tanya Liam yang melihat Aurora dari tadi memegang jari manisnya, tempat dimana biasanya cincin pernikahannya dengan Jofan melingkar.


"Aku kehilangan cincinku, jadi merasa tak biasa keluar tanpa itu," kata Aurora sedikit memberikan senyuman canggung.

__ADS_1


"Apakah cincin ini?" tanya Liam yang mengambil cincin pernikahan Aurora dari balik jasnya, menunjukkannya di depan Aurora yang wajahnya langsung kaget dan tak lama bercampur senang, dia senang melihat cincin pernikahannya itu lagi.


"Dari mana kau temukan itu?" tanya Aurora tak menyangka, wajahnya begitu sumringah.


"Kau mungkin menjatuhkannya, aku menemukannya di kapet ruang tamu, tadinya aku mau memberikannya tapi aku lupa, boleh aku pasangkan sebagai tanda persahabatan diantara kita," kata Liam melihat ke arah Aurora.


"Eh, tapi?" kata Aurora ragu.


"Aku sudah menemukannya, biarkan aku pasangkan cincin ini hanya untuk membuat ku senang, akan aku anggap sebagai tanda terima kasihmu padaku," kata Liam tersenyum merayu, Aurora terdiam, namun hatinya yang lembut itu tidak ingin membuat hati Liam kecewa, karena bagaimana pun dia memang harus berterima kasih pada Liam, Aurora tidak mengiyakan dan tidak menolak saat Liam mengambil tangannya, memasangkan cincin itu ke jari manisnya yang lentik dan indah, Liam tersenyum begitu indah.


 


Jofan melihat semua hal itu, dia tak tahu harus apa, namun dia hanya bisa terpaku, serasa hatinya tercabik melihat pemandangan itu, ternyata benar kata Liam dia bagitu bahagia mendapatkan cincin itu dari Liam, dia bahkan menerimanya, Jofan hanya terdiam, nyeri ditubuhnya seperti bertambah 3 kali lipat dari sebelumnya, meremukannya perlahan dari dalam, seolah seluruh tulangnya dipatahkan bersamaan, sangat nyeri bahkan hingga tak bisa menitihkan air mata.


 


 


Jofan tak sanggup lagi melihat pemandangan itu, dia lalu segera berdiri, meninggalkan tempat itu segera, dia keluar dengan terseok-seok, seolah semua pemandangan di sana kabur, hatinya sakit, sakit sekali hingga ingin dia cabut dan dia keluarkan dari tubuhnya, sayangnya dia tak bisa melakukannnya, dia menatap nanar semua pemandangan yang ada di sana, benar-benar merasa lemah karenannya, sepertinya dia memang harus menerimannya, tak terbayangkan bagaimana perasaan Aurora harus merasakan perih seperti ini selama 18 tahun bersama saat dia tahu Jofan hanya mencintai Sania, ternyata Jofan tak sekuat itu untuk bisa melepaskan cintanya.


-----***---


Mata Aurora menangkap sosok yang tiba-tiba bangkit dari duduknya, jauh dibalik tubuh Liam, pria itu cepat memalingkan wajahnya namun Aurora tahu betul postur tubuh itu, dia kenal walaupun hanya melihat bayangannya, Aurora menatap terus hingga dia berdiri berdiri dari duduknya berusaha mengikuti sosok itu, kali ini apakah ini hanya banyangan lagi, tapi kenapa terasa nyata, kenapa sebuah bayangan bahkan bisa menabrak pelayan di depannya, tidak! kali ini Aurora tahu itu bukan bayangannya.


 

__ADS_1


Liam menatap wajah kaget Aurora, dia melihat ke arah mata Aurora tertuju, dia tahu bahwa Aurora melihat Jofan yang ada di sana, Liam segera berdiri ketika melihat Aurora ingin keluar dari tempat yang seluruhnya berdinding kaca transparan itu, Liam segera menghalangi Aurora.


"Liam, aku melihat Jofan," kata Aurora yang bingung kenapa Liam malah tidak mengizinkannya keluar.


"Itu hanya halusinasimu lagi," kata Liam melihat Aurora dengan tajam, tidak boleh ada yang mendapatkan Aurora kecuali dia, dia yang paling pantas untuk mendapatkan Aurora, pria itu tidak pantas sama sekali untuk bisa memiliki malaikat sempurna ini, puluhan tahun dia menunggu untuk mendapatkan wanita ini, sedikit lagi, dia akan mendapatkan Aurora seutuhnya.


"Liam, minggir, aku ingin bertemu dengan suamiku!" kata Aurora yang mulai kesal melihat wajah dan tingkah Liam, ini kesempatannya untuk bertemu dengan Jofan, Aurora mencoba mencari lagi sosok pria itu yang tak terlihat lagi, jangan sampai dia kehilangan Jofan kembali, Aurora terus mencari, membuat geram Liam, Liam ada di depannya tapi Aurora sama sekali tidak melihatnya.


"Aurora, lihat aku," kata Liam yang tak sadarnya memegang dagu Aurora, membuat wajah kecil Aurora itu melihat ke arah Liam yang tampak marah.


"Liam, lepaskan aku!" kata Aurora yang merasa Liam sudah sangat ketelaluan, tangan Aurora mencoba untuk melepaskan diri, mendorong bahu Liam yang kekar, tentu saja tak ada apa-apanya, bahkan bahu Liam bergerak pun tidak.


Liam memandang wajah Aurora, tak ada rasa kasihan walaupun wajah Aurora tampak memelas, dia tidak peduli Liam ingin mencengkram dagunya seberapa kuat, dia hanya ingin melepaskan diri dan tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk bisa mengejar Jofan.


 


Jofan mencoba untuk tegar dan menegapkan jalannya, berusaha untuk tidak jatuh di restoran yang cukup ramai itu walaupun langkahnya terasa melayang, namun dia berusaha sebisa mungkin dengan tenaganya yang tersisa, mungkin dia memang sudah melewatkan waktunya dengan Aurora, entah kenapa begitu memikirkannya semakin sesak napasnya.


 


"Pelayan, apa wanita itu sedang dipaksa, dia tampak meronta," kata seorang wanita sedikit berbisik pada pelayan, semua ruangan di restoran itu berbatasan kaca, jadi mereka bisa melihat apa yang terjadi di dalam tempat makan yang lain, Jofan yang mendengar itu sedikit mengerutkan dahinya, entah kenapa sedikit terusik dan penasaran dengan perkataan wanita itu, "Wanita yang berbaju orange itu, bisakah kau menyelidikinya, pria itu mencengkramnya," kata wanita itu lagi.


 


Jofan tambah mengerutkan dahinya, berbaju orange? Jofan langsung melihat ke arah tempat Aurora dan Liam makan tadi, dia membesarkan matanya, melihat Liam yang tampaknya memaksa Aurora, dan Aurora tampak begitu ingin melepaskan diri.

__ADS_1


__ADS_2