
Jofan menggeggam tangan Aurora dengan erat, berjalan di belakang petugas yang mengarahkan mereka ke salah satu ruangan untuk membesuk Siena.
Petugas itu membuka pintu ruangan yang cukup kecil itu, hanya ada 4 kursi dan satu meja kecil, ruangannya terang benderang, di sisi-sisinya terdapat CCTV yang siap memantau keadaan di sana.
Setelah mengamati ruangan itu dan merasa ruangan itu aman, Jofan baru membiarkan Aurora untuk masuk ke dalam ruangan itu, dia lalu masuk setelahnya dan pintu di tutup oleh petugas itu.
"Duduklah," kaya Jofan melihat wajah Aurora sedikit bingung melihat keadaan ini, seumur hidupnya baru kali ini dia masuk ke dalam penjara dan membesuk tahanan seperti ini.
Aurora mengangguk, dia lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana, Jofan pun menyusul, di bawah meja, tangan Jofan langsung terpaut dengan jari jemari lentik Aurora, tangan Aurora terasa dingin, mungkin karena terlalu kaget dengan keadaan di penjara itu.
"Tenanglah, di sini kita akan tetap aman, sebentar lagi mereka akan membawa Siena," kata Jofan berbisik lembut menenangkan Aurora.
Aurora hanya tersenyum tipis, mengangguk kecil pada suaminya, jika ada Jofan, dia yakin dia akan aman.
Benar kata Jofan, tak lama pintu besi berwarna abu-abu usang itu terbuka, membuat pandangan mereka tertuju pada sosok mungil yang berdiri di ambang pintu itu sekarang, menggunakan pakaian penjara yang sama sekali tak cocok digunakannya, Siena tampak bertambah kurus, wajahnya awalnya terlihat suram, namun segera kaget melihat orang yang sekarang duduk di dalam ruangan itu. Tak pernah menyangka orang pertama yang membesuknya adalah orang yang menjadi korbannya.
Kakinya berat melangkah menatap Jofan dan juga Aurora, ada rasa bersalah dan tentu malu untuk menemui mereka, Siena terdiam, bergeming di tempatnya.
"Masuklah," suara petugas tak ada ramah-ramahnya, sedikit mendorong tubuh kecil Siena hingga dia menginjak lebih dalam ke ruangan yang di dominasi warna putih itu, sedikit pengap namun tak sepegap dan sekecil ruangannya sekarang.
__ADS_1
Petugas itu menutup pintunya, Siena menatap sedikit wajah Jofan yang dihiasi senyum tipis yang hampir datar, matanya lalu bergulir ke arah Aurora yang lagi-lagi wajahnya begitu khawatir melihat Siena, Siena langsung tertunduk, tak menyukai tatapan Aurora yang mencemaskannya itu, takut terlalu terlena dan berharap bahwa ada orang yang mencemaskannya.
Siena duduk dengan tertunduk di depan Aurora dan Jofan, Jofan menganalisa gadis muda di depannya, terlihat jauh lebih tak terurus, dulu, dia tampak begitu cantik, kali ini kulitnya banyak luka kecil bekas garukan, mungkin alergi atau tergigit serangga yang ada di penjara, lingkar matanya menghitam, dan tulang pipinya jauh menonjol, baru sebentar saja, perubahannya begitu terlihat.
Aurora menatap Jofan sesaat, dibalas oleh Jofan juga dengan tatapan, dengan cepat Aurora membuka suaranya.
"Siena? apa kabarmu?" suara lembut itu terdengar sedikit menggema di ruangan hampir kosong itu.
Siena hanya mengangkat kepalanya sedikit, matanya bergerak-gerak berpindah dari Jofan ke Aurora dan kembali lagi ke Jofan, suara lembut itu menggetarkan hatinya.
"Bagaimana kabarmu?" suara Jofan terdengar tegas dan berat, Siena masih ragu menjawab.
"Tidak apa-apa, kami di sini ingin melihat kabarmu, Siena tak perlu merasa kecil hati atau bersalah, aku dan suamiku sudah memaafkan mu, aku sudah mendengarkan kisah hidupmu, kami tahu kau hanya salah sangka terhadap kami, Kami sudah memaafkanmu," Ucap Aurora tetap nada mengayomi, tangannya Aurora yang halus menyentuh tangan Siena yang terikat borgol besi yang dingin, mendengar dan merasakan hal itu, Siena mengangkat kepalanya lebih tinggi, menatap ke dua wajah Yang ada di depannya, terlihat begitu tulus memandangnya, dengan hanya melihat saja Siena tahu bahwa Jofan dan Aurora benar-benar telah memaafkannya.
Melihat hal itu Aurora tersentuh, tak terasa air matanya meleleh begitu saja, dia lalu bangkit dan memeluk Siena yang hanya bisa tertunduk, tak bisa membalasnya karena tangannya erat tertahan, Jofan pun hanya bisa membiarkan keduanya menumpahkan perasaan mereka masing-masing.
"Maafkan aku, Maafkan kesalahanku, aku benar-benar menyesal sudah melakukan hal itu pada kalian, maafkan aku, apapun, aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku, Maafkan aku pernah melakukan hal itu padamu, maafkan aku dan tolong untuk memberitahu siapa pun kenapa aku melakukan ini semua, aku sadar, aku sudah mencoreng nama baik ayahku, maafkan aku, maafkan aku," kata Siena diselingi Isak tangis pilunya.
"Siena, kami kesini bukan sekedar untuk menjengukmu," kata Jofam memecah suara deraian air mata kedua wanita itu
__ADS_1
Aurora melepas pelukannya, Siena dengan wajah basah dan sembab menatap ke arah Jofan, matanya seolah bingung dengan maksud yang di sampaikan oleh Jofan.
"Kami ke sini bermaksud untuk mencabut tuntutan terhadapmu," kata Jofan lagi yang langsung di sambut ekspreksi tak percaya dari Siena, dia seperti linglung, masih merasa bermimpi mendengarkan kata-kata yang keluar dari bibir Jofan, mencabut tuntutan? bukan kah artinya ....
"Kau akan bebas," kata Aurora diselingi tawa bahagia sambil dia mengusap air matanya, Siena masih diam seribu bahasa, dia benar-benar butuh waktu untuk memproses semuanya, dia berulang kali harus melihat ke arah Jofan dan juga ke arah Aurora, Benarkah?
"Aku akan bebas?" kata Siena masih bengong, air matanya saja yang tumpah kembali tak terbendung, bebas? bebas dari ruangan sempit yang sangat pengap, yang penuh dengan hal-hal menjijikan dan serangga, yang udaranya bahkan tak pernah tak berbau busuk, benarkah? benarkah dia akan bisa kembali melihat langit luas, melihat pepohonan yang bergoyang tertiup angin, melihat gulungan ombak menghantam pantai di sore hari, atau mencium aroma wangi dari bunga mawar di pagi hari, Benarkah?
"Benar," kata Jofan tegas, dia sudah membulatkan tekatnya.
Mendengar itu Siena membesarkan matanya, menarik napasnya yang terhalang ingus di hidungnya dalam-dalam, dia bangkit segera dan tanpa aba- aba mundur sedikit lalu bersujud di depan Aurora dan Jofan yang cukup kaget dengan apa yang Siena lakukan, dia menyembah di depan mereka.
Melihat hal itu tentu Aurora dan Jofan merasa tak tega, Aurora segera menahan tubuh Siena yang hendak membungkukkan badan di depannya, Jofan yang tadi masih terduduk langsung berdiri, melarang Siena melakukannya.
"Jangan seperti itu, kau pantas mendapatkannya, kami akan menjamin hidupmu, ayahmu adalah seorang pahlawan dan di sana di pasti sangat sedih melihat dirimu seperti ini, Kau layak mendapatkannya, kami akan mengurus kebebasanmu dan setelah itu kami akan memberikanmu tempat tinggal dan seluruh yang kau butuhkan," kata Jofan lagi melihat Siena yang masih berlutut di depan mereka.
Siena tak tahu lagi berkata apa, dia sudah sangat senang jika mereka memaafkan perbuatannya, tapi mereka malah membuatnya semakin tak berdaya dengan kebaikan mereka.
"Kau sudah kami anggap sebagai bagian keluarga kami, jangan menangis, tersenyumlah, hidupmu baru akan di mulai," kata Aurora mengangkat tubuh Siena, Siena kembali ingin memeluk Aurora, untung saja niatnya waktu itu membunuh Aurora gagal, jika tidak, tak akan ada malaikat yang akan menyelamatkan dirinya dari neraka dunia.
__ADS_1
Mereka berpelukan cukup lama, hingga waktu besuk penjara itu habis, Siena melemparkan senyuman manisnya saat dia harus berpisah kembali dengan Aurora dan Jofan.
"Kita akan bertemu secepatnya, kami akan ada di sana saat kau melangkah keluar," Bisik Aurora saat melepas tangan Siena, Siena mengangguk dengan senyuman manisnya, akhirnya di matanya terlihat kebahagiaan dan harapan.