
"Ayolah ayah mertua," kata Archie sedikit kesal, dia tanggung mencium Ceyasa, apa lagi melihat Ceyasa yang tertawa kecil melihat Archie menjauh darinya.
"Sekali lagi kau memanggilku begitu, aku akan memaksa Ceyasa menceraikanmu secepatnya," kata Jofan dengan suara seriusnya, Archie menggaruk keningnya, bingung harus apa.
"Aku sudah bertaruh nyawa untuk melindungi kalian dan kau masih tidak menyukaiku juga tak setuju dengan hubungan kami? Bagaimana aku harus menunjukkan padamu jika aku benar-benar serius dan cinta dengan Ceyasa? Aku tak akan melakukan hal yang seperti ayahku lakukan," tanya Archie lagi menatap Jofan yang benar-benar terlihat serius, Ceyasa menatap ayahnya, tawanya sedikit berhenti.
"Ayah, Archie adalah suamiku," kata Ceyasa melirik ayahnya.
"Aku belum memberikan persetujuan jadi kalian belum sah," kata Jofan lagi serius.
"Tapi kami sudah melakukannya," kata Archie santai saja, membuat mata Ceyasa membesar mendengar kata-kata Archie, haruskan itu dikatakan pada ayahnya? Archie hanya memasang wajah acuhnya, jika sudah begini mau tak mau Jofan harus setuju,mereka sudah bersatu.
Jofan yang mendengar hal itu pun membesarkan matanya, dia langsung menatap kesal pada Archie.
"Apa yang kau sudah lakukan pada putriku, dasar, Pangeran apa kau ini?" kata Jofan kesal yang langsung ingin mendatangi Archie, namun tertahan karena rasa sakit di bahunya.
"Yah, kata putrimu aku hanya pangeran yang tak tahu malu," kata Archie lagi dengan sedikit melirik Jofan yang tampak begitu kesal.
"Ayah, tapi aku dan Archie saling mencintai, kami juga sudah menikah," bela Ceyasa pada suaminya.
"Kalian tidak boleh menikah," kata Jofan lagi, benar-benar terasa serius hingga sekarang Archie ragu, pamannya ini benar serius atau bagaimana, membuat Archie mengerutkan dahi melempar pandang pada Ceyasa, mereka saling pandang dengan wajah berkerut, "Kecuali kau setuju untuk menikah ulang dan tidak menggunakan nama belakang keluargamu, aku tidak ingin cucuku tahu apa yang sudah dilakukan oleh keluarga Huxley," kata Jofan yang sedikit mengendurkan raut wajah seriusnya mengantinya dengan sedikit senyuman manis.
__ADS_1
Archie yang tadinya sudah cukup tegang karena dia merasa harus kembali mencari restu dari Jofan, akhirnya bisa bernapas lega, Ceyasa juga begitu, ternyata ayahnya benar-benar hanya main-main saja.
"Baiklah, tentu aku setuju, lagi pula aku tidak ingin menggunakan nama itu lagi," kata Archie melirik istrinya lalu melirik ke arah Jofan, Ceyasa tertawa kecil melihatnya, Jofan hanya memperhatikan tawa itu, tampak begitu mirip dengan tawa Sania, dia benar-benar anaknya.
Pintu ruang rawat itu terbuka, 3 orang yang ada di dalam ruangan itu sedikit kaget, dari pintu itu tampak sosok Angga, Gerald, Jendral Ferdinan, Jendral David dan Jendral Indra masuk ke dalamnya, membuat Jofan langsung ingin berdiri, namun karena sakitnya dia jadi kesusahan, Ceyasa turun dari ranjangnya untuk membantu ayahnya berdiri.
"Jendral Indra? Tapi kau?" kata Jofan tak percaya.
"Aku segera memindahkan Jendral Indra sesaat setelah dia menyerahkan dokumen itu, membuat kematian palsu untuknya karena aku merasa akan terjadi sesuatu karena penyerangan padanya cukup kejam," kata Angga menjelaskan.
"Benar, selama ini aku bersembunyi di bunker tempat Tuan Angga dulu di rawat, senang bisa melihat kalian berkumpul bersama," kata Jendral Indra melihat Ceyasa dan Jofan bersama sekarang, Ceyasa melirik ayahnya yang tersenyum pada Jendral Indra, tangan Jofan mengelus pelan kepala Ceyasa.
"Bagaimana kalian bisa menyusup masuk," kata Jofan mengerutkan dahinya.
"Melalu terowongan Belatrix di istana, hanya Pangeran Archie yang tahu cara membukanya dan juga jalan menuju tempat itu, kami menggunakan terowongan itu sebagai tempat penyimpanan senjata juga untuk tempat keluarnya Sandera pertama yaitu yang Mulia Ibunda Ratu, selain itu kami perlahan-lahan melumpuhkan pertahanan istana dari sana dan menggantinya dengan tentara kami, sehingga tidak ada yang curiga, kami hanya tinggal menunggu dimana tempat Rain menyekap Anda, dan setelah Pangeran Archie tahu dia memberikan sinyal, kami juga menangkap sinyal yang Anda berikan namun itu hanya menunjukkan bereadaan Anda bukan tempat pastinya," Kata Jendral Ferdinan menjelasakan.
"Wow, terdengar seperti penyelamatan besar," kata Jofan melihat Angga, Angga hanya menganggukkan sedikit kepalanya.
"Anda tak perlu khawatir Tuan, sekarang Tuan Rain dan semua kaki tangannya akan ditahan di penjara dengan keamanan tinggi di pulau isolasi, negaranya tidak akan bisa lagi bisa memintanya untuk dibebaskan karena kami sudah membeberkan kejahatan dan juga bukti-bukti pada publik," Jelas Jendral David.
"Anak itu? bagaimana bisa dia mengira aku adalah yang menyebabkan Raja Leonal terbunuh?" tanya Jofan yang melirik ke arah teman-temannya itu.
__ADS_1
"Ya, ini semua karena Pangeran Aksa," kata Jendral David melirik semua orang terutama Archie yang langsung mengerutkan dahinya, sebenarnya Jendral David takut Archie tersingung dengan perkataannya.
"Apa lagi yang dilakukan oleh ayahku?" tanya Archie yang tak habis pikir, perbuatan ayahnya bahkan berdampak hingga puluhan tahun kemudian.
"Aksa menghasut ibu Rain, saat Aksa ada dipenjara, ibu Rain datang untuk mencari keberadaaan suaminya, di sana dia mengatakan bahwa sebenarnya Raja Leonal bukan meninggal karena penyakit seperti laporan kematiannya, tapi dibunuh oleh dirimu, aku tidak tahu kenapa mungkin karena kau sudah menjebloskan Aksa ke dalam penjara dan ingin membalas dendam padanya," Jelas Angga pada Jofan, Jofan mendengarkannya hanya mengangguk-anggguk saja.
"Setelah itu Nyonya Annaballe lalu menculik Nona Ceyasa, hingga harus diselamatkan oleh Jendral Indra, tapi saat itu Nona Ceyasa juga mengalami benturan keras di bagian belakang kepalanya sehingga dia kehilangan sedikit memorinya, dari sanalah Rain berasumsi bahwa yang membunuh kedua orang tuanya adalah Anda Tuan Jofan, kami mendapatkan informasi ini dari pengasuh Rain saat dia kecil, sayangnya, Rain juga dibesarkan oleh keluarga angkat yang menanamkan hal itu pada dirinya," kata Jendral David.
"Aku sudah mengerti, terima kasih sudah menolongku dan putriku," kata Jofan, dia menatap satu persatu orang yang ada di sana, diakhiri menatap Archie, selama ini ternyata dia salah menilai pria ini.
"Baiklah, beristirahatlah, kami akan senang menyambutmu kembali keluargamu di istana," kata Angga melirik ke arah Jofan dengan menaikkan sudut bibirnya, Jofan mengangguk, Jendral Ferdinan dan Jendral David memberikan hormatnya pada Jofan yang segera dibalas oleh Jofan, setelah itu mereka keluar dari ruangan itu, meninggalkan Archie, Ceyasa dan Jofan lagi di sana.
"Ayah, istirahatlah, ayah harus banyak istirahat," kata Ceyasa yang membantu Jofan untuk kembali berbaring.
"Ya, Ceyasa, aku harap kau bisa menerima ibu sambungmu," kata Jofan yang langsung teringat oleh Aurora, ingat bagaimana dulu Siena tak bisa menerimanya, bisa saja itu terjadi pada Ceyasa, tapi setelah dia cukup sehat, dia harus bertemu dengan wanita itu.
"Aku sudah menerimanya bahkan sebelum tahu dia ibu sambungku," kata Ceyasa dengan senyum menenangkan ayahnya, Jofan menarik napas panjang, sedikit lega setidaknya Ceyasa sudah bisa menerima Aurora, hanya tinggal mengenalkannya kembali pada keluarganya.
"Jaga anakku selama aku tak bisa, tapi jangan macam-macam sebelum kau menikahinya ulang," kata Jofan sedikit mengancam Archie.
"Baik Paman, " kata Archie patuh sambil menggaruk keningnya lagi, dia melirik Ceyasa yang hanya tertawa geli, tak menyangka Ayah mertuanya ternyata adalah orang yang paling dia takuti selama ini.
__ADS_1