
Archie masuk ke dalam bar itu, melihat beberapa tempat di sana, suasana di bar itu terlihat menyenangkan, banyak orang saling bercengkramah, Archie lalu melihat tempat yang sebelumnya ditunjukkan oleh Ceyasa, tempat itu ada di sudut, hanya sebuah kursi panjang.
Archie lalu segera melihat ke sekeliling lagi, melihat sebuah kursi bundar kosong di dekat tepian danau itu, dia segera duduk di sana, menatap rintik hujan yang seperti menghantam permukaaan danau, membuat mereka beriak indah seolah menari.
"Selamat malam Tuan, ingin memesan apa?” seorang pelayan dengan ramah segera melayani Archie, dia segera menyerahkan menu.
"Aku pesan bir erdinger dan kentang goreng saja," kata Archie.
"Baiklah, pesanan Anda akan segera datang," kata pelayan itu tersenyum, mimpi apa dia mendapatkan seorang pelanggan yang begitu tampan.
Archie menikmati lagi keadaan Bar yang menurutnya lumayan menyenangkan, akhirnya ada tempat yang bisa dia nikmati dari desa kecil ini, dia lalu segera melihat ke sekeliling, belum melihat Ceyasa. Namun tak lama dia menemukan wanita itu, dengan baju kerja yang cukup ketat berwarna merah, rok mini hitam dan stocking hitam, juga dengan celemek putih kecil diikat di pinggangnya, rambutnya dia ikat ke atas, riasan tipis dibubuhi di wajahnya, membuat penampilannya sangat mencolok dan berlawanan sekali dengan tampilannya yang dilihat oleh Archie tadi.
Dia sedang mengambil minuman di meja bar, lalu memeriksa pesanan, tak lama dia berjalan menuju ke arah Archie. Saat Ceyasa melihat ke arah Archie, matanya tampak membesar, bahkan dia sampai menganga tak percaya, bagaimana pria ini memesan minuman yang harganya cukup mahal dan makanan kecil? dia sekali lagi memeriksa pesanan, dan benar pria menyebalkan ini yang memesannya, bagaimana bisa? kan Ceyasa sudah menyuruhnya duduk di tempat istirahat para pegawai, dia malah asik duduk di kursi pelanggan, dengan apa dia harus membayarnya, pikir Ceyasa.
"Ini pesanan Anda, Tuan," kata Ceyasa meletakan gelas panjang berisi bir itu pada Archie dan memberikan kentang gorengnya, dia tampak tersenyum mencoba menahan diri karena dia harus mengikuti protokol pekerjaannya.
"Terima kasih," kata Archie tersenyum seperti mengejek, Ceyasa yang melihat itu hanya menyipitkan matanya dan wajahnya yang ramah tadi langsung segera berubah kesal, Ceyasa segera mendekatkan dirinya pada Archie, membuat Archie kaget hingga harus memundurkan tubuhnya.
"Bukannya aku menyuruhmu duduk di sana," kata Ceyasa kesal namun ngecilkan suaranya.
__ADS_1
"Di sana tidak nyaman," kata Archie seadanya lagi.
"Lalu untuk apa kau memesan, bagaimana membayarnya?" kata Ceyasa frusatasi melihat pria di depannya ini.
"Aku punya uang," kata Archie, dia mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan 100.000, "aku rasa ini cukup.”
Ceyasa melihat itu kaget, dari mana dia punya uang begitu banyak? benar juga dia kan hanya hilang ingatan, mungkin dulu memang dia orang yang punya uang, tapi dari pada dihamburkan begini, kenapa dia tidak memberikannya saja pada Ceyasa sehingga dia tidak perlu lembur satu jam karena berpikir pria ini tidak punya uang sama sekali.
"Kenapa kau tidak bilang kau punya uang?" kata Ceyasa.
"Kau tidak bertanya," kata Archie mengambil birnya lalu meminumnya dengan santai seolah mengejek Ceyasa, ya, bagi Ceyasa tingkah laku Archie itu menyebalkan sekali. Ceyasa baru ingin membalasnya ketika tiba-tiba ....
"Cayasa? masih bekerja di sini?" suara seorang wanita menyapa Ceyasa. Ceyasa segera melihat ke arah suara itu datang, Archie juga melihatnya, seorang wanita dengan seorang pria berdiri tak jauh di belakang Ceyasa.
"Apa kabarmu Yasa?" sapa pria itu lembut.
"Oh, ya, aku, baik, ehm … kapan kalian pulang?" kata Ceyasa tampak salah tingkah, bahkan dari suaranya terdengar kegugupan, Archie yang ada di belakangnya hanya mengerutkan dahi sambil melihat ke arah pria dan wanita itu, tak ingin ikut campur, cukup mengamati.
"Kemarin, kuliahku sedang libur," kata pria itu terdengar ramah.
__ADS_1
Ceyasa hanya diam, dia menggenggam nampan yang dibawanya dengan keras, menggigit bibirnya dan hanya tersenyum canggung.
"Aku rasa Nathan sangat beruntung, dia mengambil keputusan yang tepat, bukannya terlalu timpang seorang sarjana dengan pelayan bar?" kata wanita itu menarik tangan pria itu, meninggalkan Ceyasa yang hanya diam mendengarkan wanita itu. Cukup lama dia mematung dan tak lama Ceyasa segera pergi dari sana, Archie hanya mengamati hal itu, dia kembali melihat ke pasangan itu, namun bukan urusannya, jadi dia kembali menikmati tempat itu.
Waktu berjalan, orang-orang datang dan pergi, kebanyakan mereka berada di sana cukup lama untuk menikmati pemandangan yang indah, sudah cukup lama hujan berhenti hanya meninggalkan tetesan-tetesan air yang mengalir di ujung-ujung genting bar itu, permukaan danau kembali tenang, setenang malam yang memunculkan rembulan yang masih ragu keluar dari selimut awan hitam, cahaya terlalu remang untuk menyinari keindahan bumi ini, namun hal ini cukup menentramkan Archie, dia menggenggam ponselnya yang selalu menampilkan foto Suri di dalamnya.
Suri pun di kamarnya menatap rembulan yang telihat cerah, tak seindah kemarin namun cukup untuk menemani malamnya, dia terus menggenggam ponselnya menanti kabar dari Archie, dia tidak ingin kehilangan waktu sedikit pun, jika Archie meneleponnya atau memberinya pesan, dia ingin secepatnya tahu dan membalas hal itu.
Detik berganti menit, menit berganti menjadi jam, saling menatap rembulan yang sama, hanya jarak yang saling memisahkan, ternyata jarak paling jauh dari orang yang saling mencintai bukanlah kematian, namun dua hati yang saling terpaut cinta namun tak bisa bersama.
"Kau tidak ingin pulang?" sapa Ceyasa yang membubarkan lamunan Archie saat terpaku menatap rembulan yang entah sudah berapa jam dipandangnya.
Archie dengan wajah sendunya menatap ke bar itu, ternyata lampunya sudah banyak di matikan, seluruh meja sudah kosong, hanya tinggal mejanya, makanan dan minumannya juga sudah dibersikan oleh Ceyasa.
"Kau sudah selesai bekerja?" tanya Archie lagi, akhirnya membuka mulutnya yang dari tadi terkatup sangat erat, terasa sangat kaku.
"Ya, ini sudah jam 11, tempat ini tidak buka 24 jam," kata Ceyasa lagi menjelaskan.
"Baiklah," kata Archie, dia bangkit dan segera berjalan, Ceyasa segera membereskan tempat duduk Archie, lalu mereka keluar bersama.
__ADS_1
Archie membiarkan Ceyasa berjalan duluan, kali ini dia berjalan dengan perlahan, sesekali menendang batuan yang ada di sepanjang jalan, baik Archie maupun Ceyasa tenggelam dalam pikiran mereka masing- masing hingga tak terasa mereka sampai di rumah, Ceyasa membuka pintu itu dengan perlahan dan mereka masuk bersama.
"Ehm, aku akan membersihkan diri duluan dan tidur, aku sangat lelah," kata Ceyasa dengan nada lemah, Archie menatapnya, melihat Ceyasa yang tak menunggu jawaban Archie, dia hanya pergi dan segera masuk ke kamar mandi. Archie tidak ingin mengganggunya dan segera masuk ke dalam kamarnya.